David Chandler (2018) mengawali pembahasan artikelnya dengan mengkritik makna hope atau harapan ketika melihat realitas Antroposen. Harapan, hematnya, sering dikaburkan dengan ‘pandangan optimistik’. Secara filosofis, harapan seringkali dilihat sebagai kehendak afektif atas adanya alternatif hasil yang mungkin, yang tidak secara langsung dihubungkan dengan kepercayaan terhadap kemungkinan-kemungkinan.
Ada anggapan bahwa harapan sebagai hal yang irrasional. Sedangkan Kant menempatkan harapan sebagai sebuah kategori kompleks, kategori imperatif untuk percaya bahwa ada sebuah alasan yang masuk akal tetang kemungkinan perkembangan dunia yang lebih baik. Bahkan, apabila kita tidak dapat mencerapnya secara empiris, maka harapan dikonstruksikan sebagai kewajiban moral sehingga sangat mungkin harapan menjadi rasional. Berbeda dengan Kant, Ernest Bloch menawarkan konsep harapan sebagai sesuatu yang imanen, harapan layaknya state of being selalu ‘dalam-kemungkinan / in-possibility’. Chandler (2018) dengan tegas mengklaim bahwa term hope atau harapan sudah cukup usang di bawah kondisi Antroposen. Alasannya sederhana, Antroposen dapat mematahkan sihir imaji modernitas tentang progres dan sentralitas manusia serta pemisahan ontologis manusia dengan alam.
Kekecewaan pencerahan dan modernitas pernah menjadi fokus utama mazhab Frankfurt tertutama kritiknya tentang hegemoni dan kesalahan modernitas yang cenderung mendehumanisasi manusia. Menurut Tsing (2015) politik afirmasi Antroposen hanya mengafirmasi bahwa tidak akan ada akhir yang bahagia, akhir dari dunia (the end of the world). Mengapa kita (sekali lagi) perlu mengafirmasi Antroposen? Penjelasannya masih sama untuk menggugat batasan modernitas dan Pencerahan yang sangat linear, sangat biner, sangat abstrak, sangat reduksionis, sangat subjektif/orientasi-subjek, terlalu instrumental, terlalu rasional, terlalu percaya diri, sangat Eurosentris, sangat antroposentris, sangat totalitas… dan kiasan populer lainnya (bisa kamu tambahkan sendiri), kata Chandler di awal artikel.
Sejenak kita disadarkan bahwa upaya Chandler di sini (cukup berani) untuk menggugat pandangan mapan sebelumnya. Baginya, Antroposen tidak cukup dijelaskan hanya berdasarkan pada landasan filosofis ‘dunia’ sebelumnya. Dunia modern sepenuhnya dunia yang berbeda dengan dunia Antroposen hari ini. Kita tidak mungkin akan kembali mencari rumah yang sama seperti dulu. Harapan hanyalah omong kosong pada akhirnya jika tidak ada kejelasan apa yang dimaksud sebagai ‘harapan’ di dunia Antroposen.
Kritik Marx tentang masyrakat kapitalisme berlanjut sampai pada persoalan ekologis yang tidak ada titik terang. Harapan menjadi semu, semangat akan modernitas dan Pencarahan tidak lebih dari proses rekognisi ke-diri-an manusia sebagai spesies yang memiliki cita-cita untuk kebutuhannya sendiri. Jika teori kritis hanya menawarkan harapan untuk mengubah masyarakat dan melawan kapitalisme. Chandler mengutip Fredric Jameson (2003) yang berkata bahwa ‘lebih mudah kita semua membayangkan akhir dari dunia ini, daripada akhir dari kapitalisme’. Artinya, jika hanya mengandalkan teori-teori kritis yang mengembalikan lagi sepenuhnya pada dunia yang berpusat pada manusia dan tidak mempertimbangkan alternatif ‘dunia’ lain, persoalan modernitas tidak akan dapat berakhir. Hanyalah harapan-harapan ‘semu’ dan semangat yang ditawarkan. Tidak lebih.
Saya kemudian mengetahui bahwa maksud dari artikel ini ialah untuk mempertimbangkan kembali bahwa sejatinya, kita semua memiliki ‘kecemasan-tersembunyi’ tentang dunia yang akan datang. Jika saya sebut itu sebagai Antroposen dan segala masalah yang menyertainya, maka kecemasan sebenarnya merupakan inisiasi afirmasi terhadap Antroposen sebagai sebuah realitas. Sedangkan Chandler menyebutnya, setelah Kepunahan besar, setelah harapan, setelah kegagalan, akan muncul relasi baru. Relasi itu adalah proses afirmasi daripada terjebak pada warisan modern ‘Cartesian’—sang manusia rasional yang berharap memiliki akhir yang indah (happy ending), untuk menyelamatkan dunia (manusia) dan segenap isi planet. Klaim ini terkesan menjanjikan tetapi sebenarnya kosong dan hanya mengulang hal sama seperti apa yang telah diwariskan sebelumnya.
Pilihan mengafirmasi artinya mengakui secara berani bahwa kita tidak mungkin kembali seperti dulu dan imajinasi tetang kepunahan subjek adalah hal yang sangat mungkin kita akan hadapi. Hal yang dapat kita lakukan kemudian hanyalah memikirkan tentang ketahanan (resilience) kita untuk melakukan tindakan kritis-adaptif. Ketahanan politik bukan milik penguasa yang hanya menekankan pada ‘command-and-control’, mereka yang hanya memerintah dan mengontrol tetapi tidak pernah menyelesaikan permasalahan yang ada. Mengapa demikian? Karena ketika orientasi politik afirmasi hanya berputar pada warisan lama tanpa berani mempertimbangkan alternatif pendekatan ‘bottom-up’, lokal, potensi yang alamiah dan hanya mengklaim bahwa kekuatan besar perekayasaan dapat menyelesaikan masalah.
Harapan adalah bagian dari masalah dan bukan bagian dari solusi jika kita tidak tepat dalam mengafirmasi keadaan. Chandler memberikan contoh tentang Oystertecture sebagai urban resilience yang secara alamiah dapat dimanfaatkan untuk melindungi kehidupan di dermaga New York. Bahkan, kekuatan biologis dari tiram saja dapat melawan ancaman Antroposen lebih baik daripada merekayasan tanggul yang belum tentu efektif dan sangat mungkin dapat merusak ekosistem alamiah di sekitar.
Membuka kemungkinan alternatif yang lain merupakan strategi untuk mengafirmasi dunia ‘after the world’. Di dunia modern, tidak ada yang baru atau kreatif dari dunia, sebagai agen kuasa manusia hanya cukup mencoba mencari dan menelusuri harapan tersembunyi atau nalar dari dunia ini. Menurut Colebrook (2015) menolak harapan memaksa kita untuk tetap ‘tinggal dengan masalah’. Jika dunia telah tidak ada maka tidak akan mungkin ada lagi alternatif bahkan imajinasi, maka harapan tidak akan punya masa depan.
Dengan demikian, bagi saya, afirmasi Antroposen ialah sebuah pengakuan tegas bahwa dunia yang terberikan dan dialami saat ini sebagaimana adanya, tanpa harus banyak meromantisasi masa lalu dan menjanjikan banyak hal di masa depan.
Kate Orff: Reviving New York’s rivers — with oysters! (2010, TED)
Carles Sariano (2020) menyadari bahwa ESS (Earth System Science / Ilmu Sistem Bumi) menjadi salah satu ilmu yang mulai dilirik publik ilmiah sebagai suatu pendekatan yang dapat menjelaskan pemahaman tentang Sistem Bumi di epos Antroposen. Sebagai suatu Artikel ilmiah, saya merasa bahwa apa yang ditawarkan oleh Sariano ini tidak lebih dari suatu usaha ‘tawar menawar’ sehingga kemudian ESS juga perlu mempertimbangkan pentingnya peran ilmu sosial.
Sariano, menurut hemat saya, tidak begitu serius ketika mengeksekusi bagaimana keterlibatan ilmu sosial kelak di ESS ketika menjawab dan menjelaskan masalah krisis Antroposen. Namun demikian, ada hal yang perlu kita catat bersama bahwa usaha Sariano untuk memperkenalkan keterbatasan pemahaman krisis Antroposen hanya bersandar pada epistemik positivis dan idealis yang memiliki keterbatasan dan kemungkinan kontradiksi internalnya. Mengapa? Karena menurut Sariano, hal yang paling penting adalah menciptakan semacam pendekatan dialektis (dialectic) dan materialis untuk memahami dan mengatasi krisis keplanetan ‘secara transendental’. Hanya sampai di situ, saya rasa term yang ditawarkan Sariano terlalu membulat—bukan tahu bulat! Mari kita bedah satu persatu.
Di bagian pengantar, Sariano menuliskan bagaimana peristiwa Antroposen mempengaruhi perhatian publik dan komunitas ilmiah ketika memandang posisi manusia yang telah terlibat pada perubahan struktur geologis. Tren terkini yang muncul di kalangan peneliti Antroposen antara lain: i) mereka yang patuh dan memegang teguh atas sakralitas ilmu alam, hanya ilmu kealaman yang dapat menjelaskan fenomena Antroposen, ii) mereka yang menganggap Antroposen hanyalah historisitas sosial manusia, dan iii) mereka yang percaya bahwa ada semacam interseksi antara ilmu sosial dan ilmu alam. Bagaimanapun, mayoritas ilmuan dari ilmu alam kecewa jika adanya campur aduk (gado-gado) pendekatan untuk menjelaskan fenomena yang belum jelas ini. Mereka menganggap bahwa terlalu banyak pendekatan dapat merusak komunikasi ilmiah dan pemahaman tentang Antroposen. Dengan demikian, Sariano mulai menawarkan alternatif pandangan epistemik bahwa ESS perlu mengambil pendekatan dialektis dan materialis untuk memahami sisi objektif dan konkret dari sudut naturalis dan sudut sosial yang kemudian termanifestasikan pada sebuah tindakan untuk mengatasi krisis.
Pengetahuan ilmiah tentang Antroposen berdasarkan pada transformasi fenomena empiris yang terberi kepada peneliti, yang kemudian dijadikan abstraksi konsep konkret. Konfigurasi-konfigurasi ini dikonfirmasi dengan mendasarkan pada abstraksi empiris (induksi) dan diskripsi (deduksi), yang kemudian ditarik lebih jauh untuk menetapkan gagasan ‘Antroposen’ dengan pengalaman dan bahasa keseharian sepanjang proses historisitas-kultural dalam riset ilmiah. Saya sepakat, bagaimanapun, objek penelitian Antroposen adalah realitas material, eksis (ada) di luar dari ‘angan-angan’ subjektif dan bahkan mungkin konseptualisasi terhadapnya. Artinya, realitas secara niscaya termediasi oleh persepsi kita terhadap fenomena secara komprehensif lalu menjadi gagasan / pandangan yang dinalarkan (subjek mekanisme penalaran). Terakhir, termediasi sebagai sebuah kriteria kebenaran universal.
Meskipun kita sepakat, ilmu sosial dan ilmu alam telah mengalami pembagian formal sebab adanya semangat Neo-Kantian abad ke-19, akan tetapi, klaim bahwa interaksi manusia dengan realitas, tidak peduli sebagai ilmu alam maupun ilmu sosial, selalu berhadapan dengan yang kita sebut sebagai objektif dan dengan alasan ini, ‘itu’ dapat diketahui secara ilmiah. Di sini jelas, bahwa secara ontologis, Sariano menyamakan dasar objektivitas ‘Antroposen’ sebagai realitas material yang objektif, yang dapat diketahui secara universal tanpa memandang pembeda pendekatan, asal rujukannya adalah ‘apa yang disebut dengan Antroposen’. Anda dan saya, mulai merasa ada klaim besar di sini. Mari kita lanjutkan~
Alasan berikutnya, mengapa Sariano ingin agar ESS mempertimbangkan Ilmu Sosial sebagai pendekatan tambahan untuk Antroposen karena alasan sederhana tentang ‘labor’. Terinspirasi dari György Lukács (1980), Sariano menekankan bahwa aktivitas riil masyarakat sosial mentransformasi baik alam (secara eksternal) dan dirinya sendiri (asumsi internal) tidak dapat terlepas dari ‘labor’. Labor didefinisikan sebagai aktivitas praktis manusia yang dapat mengubah/mentransformasi realitas. Dari perspektif Antropologi, hal ini, sebagai tindakan yang dimiliki oleh manusia yang telah berkembang, secara historis, dan menjadi a social human being. Dengan demikian, pengetahuan ilmiah dapat dipahami sebagai produk sosial yang dilakukan oleh kolektivitas sosial sepanjang sejarah, dan individu berpartisipasi secara aktif. Mereka (ilmuwan) dipengaruhi oleh struktur sosial yang terberi, keterberian pengetahuan ilmiah yang sebelumnya juga ikut serta mempengaruhi pandangan dunia.
Sariano percaya bahwa ada semacam evolusi pengetahuan dari yang abstrak dan idealis (dasar mitos) menjadi lebih konkret dan pengetahuan-berdasar-materialitas sehingga realitas yang dipahami membuka potensi praktis serta interaksi di dalamnya secara riil. Untuk membedakan ilmu sosial dan ilmu alam, Sariano menempatkan skala-waktu (time-scales). Intinya, pembeda dari skala-waktu penelitian terhadap objek ilmiah yang kemudian memisahkan ilmu sosial dan ilmu alam. Ketika ilmu alam bekerja secara objektif, berpatokan dengan realitas ‘yang dianggap sama’ sepanjang skala waktu, maka ilmu alam hanya mengalami perbedaan dari sejauh mana peneliti memodifikasi bentuk fenomena berdasarkan pendekatannya. Tidak hanya itu, semakin berkembangnya ilmu kealaman, justru semakin mendekati kompleksitas dan sifat konkretnya. Contohnya, Alfred Wegener melalui Continental Drift atau Pergeseran Benua, awalnya abstraksi teori yang sederhana tetapi lebih melengkapi teori lempeng tektonik (plate tectonics).
Ilmu sosial justru sebaliknya, hal yang disebut objek itu bisa muncul dengan seiringnya waktu, contohnya ketika Aristoteles tidak memiliki konsep konkret tentang abstract labor, tetapi David Ricardo justru menambahkan abstract labor sebagai substansi nilai karena sebagai bagian dari rerata sosial yang mengonstitusikan realitas sosial dari produksi kapitalis. Hal tersebut karena, manusia dapat mengubah dan telah mengubah apa yang disebut mode organisasi sosialnya sepanjang sejarah, sehingga memahami keduanya—mode produksi sosial dan praktik transformasi terhadap mode produksi—adalah secara bersamaan terkondisikan.
Negosiasi sosial terhadap temuan hukum naturalis, semua temuan ilmiah ilmu kealaman tidak mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sebab ada batasan etis dan moral untuk melakukannya. Temuan nuklir, meskipun, kita tahu telah ditemukan (secara ilmiah) dan bahkan telah diuji coba sampai mengakibatkan kerugian material dan jiwa, pada akhirnya, regulasi (secara politis) batasan pengembangan nuklir muncul. Untuk alasan ini, pengetahuan ilmiah dan teknis tidak lagi netral. Di lain situasi, hukum alam tetap digunakan sebagai suatu kewajiban, saya sepakat soal ini, jika manusia ingin terbang dengan pesawat maka mereka secara ketat wajib mempertimbangkan hukum gravitasi. Teruntuk ilmu sosial, sadar tidak sadar, juga tidak dapat terlepas dari hukum alam, manusia pada akhirnya akan menyesuaikan dengan batasan alam, mode transformasi sosial dapat bekerja jika hukum aturan alam mendukungnya.
Pada bagian sub-bab, ‘epistemic paradigms of capitalist society’, Sariano mulai melakukan pendekatan akrobatik. Di sini, saya mencatat intinya bahwa dominasi pengetahuan ilmiah di masyarakat kapitalisme tidak berbeda dari verifikasi positivisme dan ide-ide abstrak idealisme. Kritik Sariano adalah keterbatasan dalam mengelaborasi totalitas realitas konkret yang terbentuk oleh interaksi determinasi keragaman dan objek yang dinamis sepanjang proses historis. Masyarakat kapitalisme hanya dipahami ahistoris sebagai mode produksi absolut, dan bukan sebuah sistem organik. Dengan contoh ini, Sariano melihat bahwa dengan demikian, krisis Antroposen sama halnya dengan krisis ekonomi yang sama saja tidak terselesaikan dan tidak terjelaskan. Mengapa ada krisis ekonomi kapitalisme, padahal sistem pengetahuan atomistik formalnya telah dibangun sedemikian rupa? Apa yang ditekankan hanyalah hasil dari fenomena produksi kapitalis sepanjang krisis ekonomi yang diatributkan kepada agregasi dari buruknya pilihan individu, tetapi tidak pernah menginvestigasi secara mendalam mode produksi. Asumsi inilah yang digunakan oleh Sariano kemudian untuk menolak positivisme dan idealisme dalam melihat satu sisi Antroposen dan memilih pendekatan dialektis materialisme.
Melalui pendekatan dialektis-materialismenya, Sariano mengkritik bahwa adanya hubungan pandangan epistemik masyarakat kapitalisme dengan krisis Antroposen yang mulai mengalami jalan buntu. Secara epistemik, Antroposen adalah konsep konkret atau konsep abstraksi yang dibentuk dari sintesis interaksi multi-determinasi baik secara natural maupun sosial. Krisis Antroposen merupakan krisis yang disebabkan oleh mode produksi kapital, secara historis krisis ini mulai dirasakan sekitar 200-300 tahun terakhir. Pada waktu yang sama, ketika ‘mesin’ produksi kapitalisme bekerja. Sariano mengklaim bahwa krisis Antroposen mulai terlihat sejak adanya demarkasi formal ilmu alam dan ilmu sosial yang menghilangkan aspek historis organisasi sosial. Kedua, klaim Antroposen hanya dimiliki oleh ilmu alam. Terakhir, tidak adanya usaha pembaruan epistemik tentang pendekatan Antroposen.
Sejalan dengan tiga gugatannya, Sariano menekankan bahwa untuk membuktikan materialisme dan dialektika alam Antroposen dapat ditelusuri melalui artikulasi internal dengan menilik sejauh mana kontradiksi reproduksi kapital dengan Alam dan dengan Manusia sebagai sebuah kerangka berpikir tentang Alam itu sendiri. Hal konkret yang dapat dilakukan adalah keluar dari sistem produksi kapitalis. Pertimbangan apa yang baik untuk menghadapi krisis Antroposen adalah dengan melihat aspek keberlanjutan, tanggung jawab moral dan sosial perusahaan, sirkulasi ekonomi, pertimbangan kerusakan ekologi dan ekonomi, degrowth, dan menelusuri sesat pikir dalam promosi ‘Ekonomi Hijau’. Bahkan, klaim ini ditunjukkan secara langsung (lih. Futureearth.org) yang tidak pernah mempertimbangkan pendekatan dialektis material untuk menghadapi krisis Antroposen.
Sebagai sebuah penutup, saya rasa ambisi dan klaim besar Sariano ini masih belum cukup memadai (inadequate) karena hanya menawarkan intergrasi ilmu alam dan ilmu sosial untuk pendekatan ESS, relasi antara logika masyarakat kapitalisme yang berdampak pada krisis Antroposen, dan terakhir, saya masih merasa ‘terganggu’ dengan istilah perspektif epistemik yang ditawarkan, belum selesai! Karena, bagaimanapun, Ilmu Alam punya laju pendekatannya sendiri, meskipun melalui pendekatan positivisme, kita berhutang banyak dengan positivisme, dan untuk pendekatan dialektis secara epistemik akan cukup sulit diterima apabila kesepakatan komunitas ilmiahnya tidak mengizinkan—problem kuasa pengetahuan. Menurut saya, lebih baik Sariano menjelaskan bahwa bagaimana ilmu sosial Antroposen itu bekerja dan agar tidak lagi bergantung dengan komunitas ilmiah di bawah ESS atau penyelenggara diskusi Antroposen di bawah ilmu alam. Meskipun saya tahu, niatan Sariano baik mengambil jalan integrasi.
Geologi Antroposen membutuhkan setidaknya beberapa pendekatan geologis secara formal dan ilmiah terkait titik poin di mana pertama kali aktivitas antropogenik mempengaruhi perubahan transisi skala waktu geologi. Adapun beberapa pandangan atau hipotesis/tesis pemikiran tentang pembuktian faktor utama aktivitas antropogenik yang dibagi mulai dengan intervensi awal manusia, penemuan artefak manusia pertama, revolusi agraria pertama, domestifikasi hewan dan tanaman, penambangan dan globalisasi awal. Selain itu, juga terdapat beberapa pandangan lain seperti halnya Pra Revolusi Industri, Industri Revolusi, dan fenomena the Great Acceleration. Dari beberapa pendekatan tersebut, bagaimana pun juga para ahli geologi harus tetap mengutamakan pembuktian fisik geologi yang stabil sebagai dasar pembuktiannya.
Validitas Geologi atas Antroposen
Zalasiewicz dkk (2019: 243) telah mengembangkan komunitas ilmiah AWG yang berfokus untuk meneliti Antroposen sebagai kasus material stratigrafi geologi. Tidak berbeda dengan pengamatan awal Crutzen dan Stroermer (20002), Zalasiewicz dkk (2019) melihat adanya suatu progres perubahan di Sistem Bumi yang merujuk terhadap aktivitas antropogenik. Antroposen dapat divefikasi sebagai suatu skala waktu geologi baru dengan melihat beberapa potensi dasarnya. Pertama, melalui bukti rentang stratigrafi dari jenis-jenis mineral baru (artifisial), jenis batuan, sedimentasi yang terbentuk karena adanya aktivitas pertanian, dan bahkan perubahan biosfer yang menyebabkan kepunahan massal bagi keberagaman hayati. Kedua, potensi temuan artefak teknologi atau teknofosil sebagai hasil dari aktivitas teknosfer yang juga berhubungan meningkatnya unsur kimia baru. Hal ini berpotensi memacu percepatan kenaikan air laut, perubahan iklim, pemanasan global, dan siklus kriosfer. Oleh karena itu, justifikasi Antroposen tetap harus melalui GSSA dan GSSP dengan catatan ikut menyertakan bukti-bukti fisik stratigrafi yang lambat laun menjadi sedimensi global baru, yang dapat menjelaskan skala intervensi manusia atas perubahan Sistem Bumi selama ini.
Jejak Stratigrafi Awal Manusia
Williams dan Odada (2019: 243-246) menjelaskan bahwa tesis intervensi awal manusia sangat memungkinkan untuk membantu rekonstruksi Antroposen purba. Bukti adanya fosil-fosil purba dan temuan beragam artefak purba peninggalan spesies Homo awal seperti Homohabilis dan Homorudolfensis yang tersebar di Afrika, termasuk persebarannya dari Afrika ke Eurasia yang telah tercatat secara rapi oleh paleontologi dan geokronologi. Migrasi Homo juga dikenal sebagai titik balik perkembangan peradaban yang mulai menyentuh banyak regional di dunia. Namun, sayangnya bukti ini tidak cukup kuat meskipun bukti kebudayaan zaman batu telah berkembang dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Karakteristik tesis ini secara esensial terletak pada perspektif Antroposen yang lebih menekankan pada perilaku evolusi manusia yang sifatnya diakronik daripada sinkronik. Sedangkan, pada satu sisi, Geologi lebih menekankan pada pendekatan sinkronik. Alasannya, untuk mencegah adanya tumpang tindih penelitian antara riset geologi dengan riset arkeologi. Peristiwa penting perkembangan evolusi Homo ditandai dengan kapasitasnya yang begitu kuat dalam mengembangkan artefak fisik dan alat bantu psikologi untuk dapat bertahan di akhir Pleistosen. Kompleksitas peradaban yang digabung ketika merespons perubahan interglasial iklim Pleistosen-Holosen menjadikan peluang tersendiri atas adanya bukti Antroposen ‘non-formal’.
Tesis Pra-Revolusi Industrial
Wagreich dkk (2019: 246-250) memilih kondisi geologis sebelum revolusi industri berkembang untuk batas transisi Holosen-Antroposen. Hal tersebut dikarenakan beberapa perubahan yang disebebkan karena adanya proses modifikasi ekosistem antropogenik awal, persebaran sisa pembakaran batu bara, munculnya beragam konstruksi arsitektur bangunan, awal dimulainya penjelajahan globalisasi, dan perkembangan sistem pertambangan awal. Pertimbangan tersebut sejalan dengan tesis Foley (2013) yang menawarkan tesis ‘Paleoantroposen’. Tesis tersebut untuk menjelaskan rentang waktu kemunculan pertama genus Homo sampai perkembangan awal Industrial Revolusi (Foley et al. 2013). Spekulasi ini mengarah pada kemungkinan intervensi manusia secara signifikan terhadap perubahan ekosistem yang buktinya dapat ditelusurui sejak manusia mulai menguasai penggunaan api, merombak sistem pertanian, domestifikasi hewan, urbanisasi, sampai pada industrialisasi. Akan tetapi, semua bukti dampaknya hanya bersifat kemewaktuan transgresif atau diakronik yang basisnya regional.
Pada fase Pleistosen akhir, mungkin sekitar 60.000 tahun lalu (Balter 2013) menjelaskan awal mula epos Holosen yang inheren dengan proses kapitalisasi manusia terhadap ekosistem untuk pertama kalinya. Selain karena adanya dampak pembukaan lahan secara masif (deforestasi), dampak perburuan massal, dan pembakaran biomassa. Adanya revolusi agraria juga menjadikan perkembangan peradaban manusia semakin luas yang secara signifikan menyisakan beragam tekno-fossil mulai dari jenis keramik sampai alat bantu berburu-bercocok tanam. Meskipun tesis ini menarik, gagasan Foley dkk (2013) tentang Paleoantroposen hanya dapat diakui informal dan non-kronostratigrafi sebab memungkinkan adanya tumpang tindih data antara perubahan corak agrikultur (revolusi) dan fase awal pertukaran modern (globalisasi), serta mengaburkan batas antara Holosen dan ‘awal mula’ Antroposen.
Glikson (2013) berspekulasi bahwa kemampuan evolusi manusia ketika mulai mampu mengusai kegunaan api sebagai semacam titik balik sekitar 1.8 juta tahun lalu (Pleistosen) menjadikkan kemungkinan dimulainya ‘Early Anthropocene’ atau Antroposen Awal. Jejak sisa-sisa arang pembakaran dapat dilacak pada beberapa situs arkeologi (Glikson 2013). Akan tetapi, bukti ini kemudian memunculkan pertanyaan lebih lanjut untuk melacak kembali bukti-bukti sisa fosil arang yang secara murni karena intervensi manusia yang sifatnya sinkronik-global. Untuk saat ini, intervensi manusia terhadap api hanya dapat menjadi bukti antropologis tentang sejarah peradaban manusia.
Tesis Konstruksi Relung Manusia atau (Human Niche Construction) sebagai suatu pendekatan yang sering diadaptasi oleh para arkeologi (Erlandson 2013; Smith and Zeder 2013) dengan cara menentukan catatan perekayasaan antropogenik via interval waktu tertentu misalnya 11.000 sampai 9.000 tahun lalu. Transisi ini sering dikenal dengan istilah Revolusi Pertanian Neolitik, ditandai adanya transisi dari berburu-meramu menjadi bercocok tanam, buktinya dari catatan fosil kultivar yang tercatatan secara transgresif sekitar 11.000 tahun lalu (Ruddiman 2013). Globalisasi pertanian kemudian mulai menyebar dan berkembang dengan beragam corak tanaman (misalnya jagung di Amerika, beras di Asia, dan juga gandum di sekitar Timur Tengah) serta domestifikasi hewan sebagaimana kalkun dan ilama di Amerika, babi dan ayam di Asia Timur, kambing dan domba di sekitaran wilayah Fertile Crescent atau Hilal Subur/Bulan Sabit Subur (wilayah Mesopotamia, kawasan sungai Nil). Beragam bukti tersebut masih tidak cukup sebagai penanda awal Antroposen. Penanda sinyal titik acuan tersebut semakin mengaburkan kepunahan megafauna Pleistosen/Holosen dan tesis Ruddiman tentang ‘Antroposen Awal’. Hal ini karenakan tanda yang muncul sifatnya terrestial-diakronik dan sangat sedikit bukti di wilayah perairan.
Observasi tesis Ruddiman tentang Antroposen Awal setidaknya membantu improvisasi atas penyelidikan konsentrasi peningkatan level metana dan karbon di Atmosfer. Tesis ini menyelidiki bahwa sejak awal Holosen sekitar 7000 tahun lalu telah terjadi peningkatan karbon dan disusul dengan peningkatan metana sekitar 5000 tahun lalu. Hal tersebut didasarkan dengan hipotesisnya terkait persebaran dan perkembangan revolusi pertanian pada masa itu. Secara tidak langsung, pengaruh deforestasi akan meningkatkan CO2 serta model pertanian dan perternakan baru yang mulai berkembang di Asia dan Afrika mampu meningkatkan konsentrasi CH4di atmosfer. Sayangnya, meskipun penelitian Ruddiman membuktikan adanya potensi penanggalan waktu awal Antroposen yang dapat dideteksi di dalam inti es, tetapi saja tidak cukup memberikan bukti yang dapat menggantikan epos Holosen karena peristiwa perubahan iklimnya sudah tercatat di tiga sub-divisi Holosen (peristiwa ~8.2 ka ‘Northgrippian’ dan ~4.2 ka ‘Meghalayan’).
Beralih pada temuan polutan antropogenik yang ditemukan dari inti es Kutub Utara yang berasal dari konsentrai logam-berat, merekognisi temuan riset beberapa geolog terkait kemungkinan penanda awal Antroposen yang disebabkan oleh aktivitas tambang dan peleburan logam (Bobrov et al. 2011; Gałuszka, Migaszewski, and Zalasiewicz 2014; Radivojević et al. 2010). Krachler et al. (2009) juga menyertakan bukti bahwa terdapat kontaminasi di belahan Bumi Utara yang disebabkan karena aktivitas peleburan biji sulfida oleh peradaban kuno. Jejak polutan logan telah ditemukan di beberapa arsip geologis ‘Antroposen awal’ (Marx, Rashid, and Stromsoe 2016), termasuk danau, inti es, ombrotrophic peat bogs, sedimentasi muara dan pantai. Beberapa bukti geologis tersebut pada akhirnya tetap harus mengikuti batasan dari subdivisi Holosen (Walker et al. 2012). Artinya, di masa depan sangat memungkinkan muncul temuan mayor terkait perturbasi karbon, nitrogen, dan siklus fosfor sebagai keberlanjutan dari hasil tambang dan peleburan logam berat.
Munculnya semangat penjelajahan pada konteks awal era modern melahirkan kolonialisasi dan globalisasi awal yang dikenal sebagai (Pertukaran Kolumbus). Peristiwa itu telah memberikan ruang bagi perubahan aktivitas antropogenik secara geologis (Lewis and Maslin 2015) atau terhadap dampak sosial ekonomi (Fischer-Kowalski, Krausmann, and Pallua 2014). Pertukaran Kolumbis pada akhirnya hanya memperkuat aspek kolonialisasi dunia baru (Rubino et al. 2016) daripada membuktikan adanya satu titik sinkronik geologi Antroposen secara kronostratigrafi (Zalasiewicz et al. 2015).
Beberapa temuan di atas secara umum mengarah telah membuktikan adanya jejak antroposen yang terekam di sedimentasi tanah, akan tetapi mengapa kemudian basis jejak Antropogenik di tanah tidak cukup menjadi bukti geologi Antroposen? Hal ini dapat dijelaskan melalui empat persoalan fundamental yang muncul. Pertama, penanda stratigrafi pada tanah selama ribuan tahun lalu sifatnya transgresif sehingga sulit menjadi dasar penentuan GSSP. Kedua, terlalu banyak karakteristik strtaigrafi tanah termasuk persebaran tanah secara regional, adanya sisa artefak, kandungan kimiawi dan bioturbasi pada tanah. Ketiga, strata tanah tidak selamanya mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu. Keempat, kemungkinan adanya sifat tanah yang erosif. Oleh karena itu, tesis pra-revolusi industri belum cukup memadai sebagai titik skala waktu geologi Antropoen.
Tesis Revolusi Industri
McNeill (2019: 251-254) mencatat kemungkinan tesis revolusi sebagai titik potensial geologi Antroposen. Revolusi industri telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap peradaban manusia terutama temuan mesin uap. Revolusi Industri juga telah membuka jalan terhadap penggunaan energi secara besar-besaran dalam rangka mendukung sistem sosial-masyarakat dan sistem ekonomi kapital baru. Industrialisasi semakin berkembang yang berdampak pada tingkat spesialisasi kerja, pertukaran, produksi, dan konsumsi. Pengaruh sistem kerja mesin up mengunci ketergantungan konsumsi batu bara.
Menurut Wrigley (2010) jantungnya Revolusi Industri adalah revolusi energi sebagaimana revolusi pertanian neolitik yang dimulai di Syria sekitar 11.000 tahun lalu, Revolusi Industri telah memperbesar kuantitas penggunaan energi yang berasal dari bahan bakar fosil dan batu bara (Wrigley 2010). Perubahan dari energi kimia dari bahan bakar fosil menjadi energi mekanik sepanjang awal industrialisasi. Pada abad ke 18, mesin uap telah bekerja sangat efektif dan menyebabkan peningkatan kebutuhan akan batu bara. Sebab adanya pembakaran batu bara dan aktivitas limbah produksi industri mengakibatkan besarnya kontaminasi air, udara, dan tanah secara lokal. Selain itu, semua aktivitas industrialisasi beserta pembakaran batu bara ikut melepas karbondioksida dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer.
Figure 1. Kenaikan Emisi CO2 sejak awal Revolusi Industri
Revolusi Industri memang telah mendapatkan perhatian khusus sejak istilah Antroposen dideklarasikan oleh Paul Crutzen pada awal abad ke-21. Pertimbangan ini berdasarkan adanya bukti (lih. Figure 1), yang memperlihatkan adanya dampak yang sangat siginifikan kenaikan emisi CO2 secara global. Revolusi Industri memang sangat berpotensi menjadi preferensi terkait titik awal Antroposen melalui kerangka pembuktian GSSP. Pada rentang waktu akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 telah meyisakan bukti empiris munculnya SPCs yang disebabkan oleh adanya proses pembakaran batu bara atau minyak dalam skala massif. Akan tetapi, temuan kenaikan SPCs baru diverifikasi secara independen oleh (Rose 2015) dan (Swindles et al. 2015) sekitar tahun 1950an tidak dapat terlepas dari hasil akumulasi emisi pada masa revolusi industri. Data mengenai SPCs sangatlah berpotensi untuk menjelaskan bukti empiris Antroposen karena buktinya yang sangat mendekati level sinkronik. Oleh karena itu, pendefinisian Antroposen dapat diambil dari dua titik yakni di sekitar waktu Revolusi Industrial akhir abad ke-18 dan pertengahan abad ke-20 ditandai dengan munculnya The Great Acceleration.
Tesis The Great Acceleration
Waktu kemunculan Revolusi Industri mungkin lebih tepatnya menjadi dasar bangunan bagi peristiwa The Great Acceleration (Percepatan Luar Biasa) yang terjadi hampir segala lini kehidupan manusia yang berkembang secara global. The Great Acceleration menandai percepatan pengaruh manusia sekitaran pertengahan abad ke-20 yang telah dikelompokkan oleh beberapa ilmuwan sebagai suatu penanda bagi epos Antroposen di sekitaran tahun 1950an (McNeill and Engelke 2016; Steffen, Crutzen, and McNeill 2007). The Great Acceleration dijelaskan dalam beberapa indikator tren pada bagan (Lih. Figure 2 dan Figure 3). Steffen dkk (2015) membagi dua model indikator tersebut berdasarkan tren sosio-ekonomi dan tren Sistem Bumi. Keduanya sama-sama menunjukkan adanya satu titik potong (tahun 1950) yang menandai peningkatan pada setiap aspek/indikator yang dirujuk dan saling memiliki tautan satu sama lain (Steffen et al. 2015).
Figure 2. Tren Sosio-EkonomiFigure 3. Tren Sistem BumiFigure 4. Tren Sosio-Ekonomi dengan pembagian tiga grup negara
Malm dan Hornborg (2014) mengkritik bahwa tidak semua manusia yang ada di dunia ini bertanggung jawab atas peristiwa ‘Antroposen’—sejauh merujuk pada The Great Acceleration (Malm and Hornborg 2014). Kritik Malm dan Hornborg (2014) kemudian direspons oleh Steffen dkk (2015) dengan memberikan detail lebih lanjut bahwa tren The Great Acceleration ini tergantung pada ketiga grup negara: negara maju (OECD), negara besar dengan percepatan pertumbuhan ekonomi (BRICS), dan negara di luar OECD/BRICS, termasuk negara tertinggal/miskin (Lih. Figure 4). Di sisi lain, data tersebut tidak mengacu pada perspektif sosial terkait model ekonomi kapitalistik tetapi hanya sekedar memberikan gambaran term data stratigrafis. Keberagaman bukti yang muncul dari indikator The Great Acceleration sangat mungkin menjadi data pembuktian geologi Antroposen sebab pada titik itulah ledakan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dunia sangat terlihat sejak tahun 1950an (Zalasiewicz et al. 2017). Pada satu sisi, Steffen (2019: 260-266) mengajukan proyeksi tren berdasarkan skenario akselerasi sosio-ekonomi, peningkatan konsentrasi emisi gas rumah kaca, perubahan iklim global, perubahan sistem biosfer (tren homogenisasi flora dan fauna), peningkatan pemutihan karang global dan acaman kepunahan massal.
Hirarki Antroposen
Kala Antroposen untuk saat ini masuk ke dalam daftar skala waktu geologi non-formal. Meskipun demikian, Antroposen tetap memiliki hirarkinya berdasarkan klasifikasi kronostratigrafi (strata) dan geokronologinya (Lih. Figure 5). Pada Figure 5 menjelaskan adanya kemungkinan posisi Antroposen pasca ratifikasi. Proses ratifikasi juga membutuhkan verifikasi data berdasarkan GSSA atau GSSP yang telah disepakati. Persoalan berikutnya ialah bagaimana penjelasan ‘pasti’ mengenai Antroposen sekali lagi bergantung pada apa yang akan terjadi di masa depan. Banyaknya pembuktian yang telah diajukan oleh AWG sebagai komunitas ilmiah Antroposen dan non-AWG dalam proses investigasi, penelitian, dan kritik ilmiah sudah cukup kuat sebagai suatu proses filosofis daripada proses geologis. Setidaknya, muncul kesadaran baru tentang apa yang telah terjadi dan kemungkinan yang akan terjadi dengan kondisi masyarakat dunia saat ini dengan segala kehendak antropogeniknya.
Figure 5. Hirarki geologi Antroposen
Penutup: Peluang Masa Depan Antroposen
Mengamini Antroposen sebagai sebuah epos baru bukan berarti kita harus sepakat dengan diskursus baru geologi. Akan tetapi, hal itu semacam keputusan epistemik kita untuk lebih memahami kembali tentang perubahan sistem bumi yang secara geologis nyata telah mengalami perubahan secara signifikan sejak transisi Holosen. Perubahan ini telah dibuktikan secara ilmiah meskipun hampir mendekati titik global-sinkronik sejak pertengahan abad ke-20. Penanda ini tidak dapat terlepas dari adanya Great Acceleration pertumbuhan manusia, industrialisasi, dan globalisasi. Interval waktu Antroposen mungkin hanya sejauh sepanjang rentang sejarah tentang kemanusiaan. Informasi biostratigrafi yang ada pula tidak dapat terlepas dari kompleksitas sejarah trans-global antropogenik yang kini telah mulai mendominasi wilayah darat dan laut. Bahkan, usaha AWG yang bekerja layaknya komunitas arkeologi dalam rangka meneliti artefak/teknofosil patut diapresiasi sebagai alternatif untuk menentukan kronologi waktu Antroposen.
Telepas dari itu semua, pemahaman epistemik Antroposen tidak hanya dinyatakan secara geologi, bahkan beragam disiplin ilmu non-geologi ikut serta dalam perumusan definisi Antroposen. Meskipun kemudian pada akhirnya, kita harus berani menegaskan bahwa problem Antroposen ialah tantangan terhadap formalisasi baru dalam stratigrafi geologi, yang artinya harus sangat membutuhkan ketelitian ilmiah atas pertimbangan nama ‘Antroposen’, sehingga istilah itu tidak digunakan secara ‘serampangan’ atau name dropping.
Referensi
Balter, Michael. 2013. “Archaeologists Say the ‘Anthropocene’Is Here—but It Began Long Ago.”
Bobrov, V. A., A. A. Bogush, G. A. Leonova, V. A. Krasnobaev, and G. N. Anoshin. 2011. “Anomalous Concentrations of Zinc and Copper in Highmoor Peat Bog, Southeast Coast of Lake Baikal.” P. 1152 in Doklady Earth Sciences. Vol. 439. Springer.
Erlandson, Jon M. 2013. “Shell Middens and Other Anthropogenic Soils as Global Stratigraphic Signatures of the Anthropocene.” Anthropocene 4:24–32.
Fischer-Kowalski, Marina, Fridolin Krausmann, and Irene Pallua. 2014. “A Sociometabolic Reading of the Anthropocene: Modes of Subsistence, Population Size and Human Impact on Earth.” The Anthropocene Review 1(1):8–33.
Foley, Stephen F., Detlef Gronenborn, Meinrat O. Andreae, Joachim W. Kadereit, Jan Esper, Denis Scholz, Ulrich Pöschl, Dorrit E. Jacob, Bernd R. Schöne, and Rainer Schreg. 2013. “The Palaeoanthropocene–The Beginnings of Anthropogenic Environmental Change.” Anthropocene 3:83–88.
Gałuszka, Agnieszka, Zdzisław M. Migaszewski, and Jan Zalasiewicz. 2014. “Assessing the Anthropocene with Geochemical Methods.” Geological Society, London, Special Publications 395(1):221–38.
Glikson, Andrew. 2013. “Fire and Human Evolution: The Deep-Time Blueprints of the Anthropocene.” Anthropocene 3:89–92.
Grinevald, Jacques, John McNeill, Naomi Oreskes, Will Steffen, Collin P. .. Summerhayes, and Jan Zalasiewicz. 2019. “History and Development of the Anthropocene as a Stratigraphic Concept.” Pp. 1–40 in The Anthropocene as a Geological Time Unit: A Guide to the Scientific Evidence and Current Debate, edited by C. N. Waters, C. P. Summerhayes, J. Zalasiewicz, and M. Williams. Cambridge: Cambridge University Press.
Krachler, Michael, Jiancheng Zheng, David Fisher, and William Shotyk. 2009. “Global Atmospheric As and Bi Contamination Preserved in 3000 Year Old Arctic Ice.” Global Biogeochemical Cycles 23(3).
Lewis, Simon L., and Mark A. Maslin. 2015. “Defining the Anthropocene.” Nature 519(7542):171–80.
Malm, Andreas, and Alf Hornborg. 2014. “The Geology of Mankind? A Critique of the Anthropocene Narrative.” The Anthropocene Review 1(1):62–69.
Marx, Samuel K., Shaqer Rashid, and Nicola Stromsoe. 2016. “Global-Scale Patterns in Anthropogenic Pb Contamination Reconstructed from Natural Archives.” Environmental Pollution 213:283–98.
McNeill, John Robert, and Peter Engelke. 2016. The Great Acceleration: An Environmental History of the Anthropocene since 1945. Harvard University Press.
Radivojević, Miljana, Thilo Rehren, Ernst Pernicka, Dušan Šljivar, Michael Brauns, and Dušan Borić. 2010. “On the Origins of Extractive Metallurgy: New Evidence from Europe.” Journal of Archaeological Science 37(11):2775–87.
Rose, Neil L. 2015. “Spheroidal Carbonaceous Fly Ash Particles Provide a Globally Synchronous Stratigraphic Marker for the Anthropocene.” Environmental Science & Technology 49(7):4155–62.
Rubino, M., D. M. Etheridge, C. M. Trudinger, C. E. Allison, P. J. Rayner, I. Enting, R. Mulvaney, L. P. Steele, R. L. Langenfelds, and W. T. Sturges. 2016. “Low Atmospheric CO 2 Levels during the Little Ice Age Due to Cooling-Induced Terrestrial Uptake.” Nature Geoscience 9(9):691–94.
Ruddiman, William F. 2013. “The Anthropocene.” Annual Review of Earth and Planetary Sciences 41:45–68.
Smith, Bruce D., and Melinda A. Zeder. 2013. “The Onset of the Anthropocene.” Anthropocene 4:8–13.
Steffen, Will, Wendy Broadgate, Lisa Deutsch, Owen Gaffney, and Cornelia Ludwig. 2015. “The Trajectory of the Anthropocene: The Great Acceleration.” The Anthropocene Review 2(1):81–98.
Steffen, Will, Paul J. Crutzen, and John R. McNeill. 2007. “The Anthropocene: Are Humans Now Overwhelming the Great Forces of Nature.” AMBIO: A Journal of the Human Environment 36(8):614–21.
Swindles, Graeme T., Elizabeth Watson, T. Edward Turner, Jennifer M. Galloway, Thomas Hadlari, Jane Wheeler, and Karen L. Bacon. 2015. “Spheroidal Carbonaceous Particles Are a Defining Stratigraphic Marker for the Anthropocene.” Scientific Reports 5(1):1–6.
Walker, Mike J. C., Max Berkelhammer, Svante Björck, Les C. Cwynar, David A. Fisher, Antony J. Long, Jone J. Lowe, Rewi M. Newnham, Sune O. Rasmussen, and Harvey Weiss. 2012. “Formal Subdivision of the Holocene Series/Epoch: A Discussion Paper by a Working Group of INTIMATE (Integration of Ice‐core, Marine and Terrestrial Records) and the Subcommission on Quaternary Stratigraphy (International Commission on Stratigraphy).” Journal of Quaternary Science 27(7):649–59.
Wrigley, Edward Anthony. 2010. Energy and the English Industrial Revolution. Cambridge University Press.
Zalasiewicz, Jan, Will Steffen, Reinhold Leinfelder, Mark Williams, and Colin Waters. 2017. “Petrifying Earth Process: The Stratigraphic Imprint of Key Earth System Parameters in the Anthropocene.” Theory, Culture & Society 34(2–3):83–104.
Zalasiewicz, Jan, Colin N. Waters, Mark Williams, Anthony D. Barnosky, Alejandro Cearreta, Paul Crutzen, Erle Ellis, Michael A. Ellis, Ian J. Fairchild, and Jacques Grinevald. 2015. “When Did the Anthropocene Begin? A Mid-Twentieth Century Boundary Level Is Stratigraphically Optimal.” Quaternary International 383:196–203.
The Stratigraphy of Plastics and Their Preservation in Geological Records
Reinhold Leinfelder and Juliana Assuncao Ivar do Sul (2019: 147-155)
Plastik menjadi salah satu temuan paling memukau bagi umat manusia sepanjang akhir abad ke-20 sampai hari ini. Karakteristik plastik yang ringan, kuat, dan mudah diproduksi menjadi beragam varian yang menjadikannya semakin populer. Plastik mulai diproduksi secara massal dan menyebar ke seluruh dunia setelah perang dunia kedua. Kebutuhan akan plastik lambat laun merambat menjadi bagian esensial dari beragam barang-barang yang mendukung kehidupan manusia. Plastik sangat mungkin menjadi penanda utama stratigrafi untuk Antroposen, terlebih lagi mayoritas limbah plastik akan menjadi tekno-fossil di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) (Tansel and Yildiz 2011).
Plastik sebagai kelompok tekno-fossil pembeda dari fosil lainnya karena plastik tergantung pada komposisi penyusunnya. Plastik mungkin akan sangat mudah terurai atau sangat sulit terurai pada setiap proses dekomposisinya. Plastik juga membawa konsekuensi atas pelepasan gas beracun serta menyerap molekul organik maupun anorganik sebagaimana persistent organic pollutants (POPs), seperti dioksin (Lithner, Larsson, and Dave 2011) dan logam, seperti Kadmium (Cd) dan Timbal (Pb) (Massos and Turner 2017).
Proses pembuatan plastik sebagai produk polimerisasi sintetik maupun semi-sintetik tetap membutuhkan sekitar 10 % dari produksi minyak dan gas tahunan. Proses produksi ini melibatkan banyak komponen fisik teknosfer termasuk penggunaan energi bahan bakar fosil sebagai bagian inti dari proses produksinya. Plastik sangat jelas dapat ditemukan hampir diseluruh belahan dunia yang berarti dapat menjadikannya indikator utama Antroposen. Kita semua bisa menemukan plastik tidak hanya di suatu pemukiman padat penduduk tetapi juga telah menyebar di sepanjang aliran sungai, pedalaman hutan dan permukaan lautan juga mengendap di tanah-tanah pertanian. Mulai dari proses produksi sampai fungsi kegunaannya, plastik telah ikut berkontribusi meningkatkan CO2 Antropogenik. Sebagai bagian dari teknosfer, plastik di masa depan tidak hanya terdistribusikan secara global tetapi juga dapat mempengaruhi proses erosi dan re-sedimentasi yang letaknya tidak jauh dari tempat pembuangan akhir (Geyer, Jambeck, and Law 2017; Zalasiewicz et al. 2016).
Figure 1. Model konseptual transportasi plastik dari hulu ke hilir.
Produksi dan degradasi material plastik dari plastik makro menjadi mikro-plastik dipengaruhi oleh proses ‘siklus’ yang secara berkelanjutan dari proses produksi, penggunaan, dan penyebaran limbahnya. Plastik menyebar tidak hanya di daratan tetapi juga lautan yang terbagi menjadi bagian permukaan sampai laut terdalam yang membentuk sedimentasi mikro-plastik tersendiri. Kesulitan lain meneliti siklus plastik ialah pada tataran dimensi ukuran plastik yang mengalami proses siklus secara terartur. Umumnya, plastik akan terutai ketika terkena radiasi UV dalam waktu lama di permukaan perairan laut (Andrady 2011) yang kemudian menyebabkan plastik semakin terurai menjadi komponen yang paling kecil atau mikroplastik (< 5 mm) (Zalasiewicz et al. 2016). Produksi plastik tahunan meningkat lebih dari 100 kali dari 2 juta metrik ton pada tahun 1950an sampai 322 metrik ton di tahun 2015. Keseluruhan produk plastik mengandung beragam kandungan kimia seperti PET, polyamide, dan polyarcrylate plymers. Temuan terbaru bahkan menunjukan bahwa proses penguraian plastik tidak hanya terjadi berhenti menjadi mikro-plastik bahwan mengarah menjadi nano-plastik yang diproduksi secara intens pada banyak produk-produk kecantikan maupun kesehatan (Hanvey et al. 2017). Artinya, terdapat tantangan baru bagi para ahli Antroposen untuk melihat kembali bagaimana proses fragmentasi plastik pada suatu wilayah sedimentasi geologi tertentu.
Proses redistribusi plastik tidak dapat terlepas dari peran manusia saat proses penggunaannya. Plastik tidak seperti material kaca, logam, atau keramik yang proses berpindahnya bergantupada intervensi manusia, plastik dapat berpindah hanya karena adanya arus aliran air atau bahkan angin (Gasperi et al. 2015). Isu ini semakin diperkuat karena timbulnya beragam masalah lingkungan yang disebabkan karena adanya limbah-limbah plastik. Temuan mikro-plastik dapat diekstrasi dari air dan sedimentasi melalui penyaringan atau pemisahan kepadatan menggunakan sentrifus dan solusi high-desity (Corcoran et al. 2015; Hanvey et al. 2017; Nuelle et al. 2014; Woodall et al. 2014). Distribusi mikroplastik lebih banyak di laut daripada darat (Eerkes-Medrano, Thompson, and Aldridge 2015; Rillig 2012; Thompson et al. 2009). Sedangkan, nanoplastik (< 100 nm) sangat mungkin mempengaruhi pertumbungan dan reproduksi beberapa invertebrata air (Besseling et al. 2014; Della Torre et al. 2014; Velzeboer, Kwadijk, and Koelmans 2014). Partikel nano-plastik sangat sulit untuk menelitinya secara teknis karena dimensinya yang begitu kecil dan tidak mudah terisolasi pada sedimen tertentu.
Sedimentasi yang mengadung plastik juga ditemukan tidak hanya di tempat pembuangan akhir (Ford et al. 2014) tetapi juga hampir merata sampai ke permukaan tanah pemukiman (Rillig 2012; Thompson et al. 2009) dan pertanian (Hussain and Hamid 2003). Mikroplastik juga muncul di beberapa tempat akuatik seperti sungai dan danau yang terbawa karena angin, badai dan limbah pertanian (Eriksen et al. 2013; Free et al. 2014; Imhof et al. 2013; Morritt et al. 2014; Zbyszewski, Corcoran, and Hockin 2014). Temuan di sungai menunjukan bahwa kantong plastik seringkali terjebak di lapisan sedimen sungai sedangkan mikroplastik cenderung ikut terbawa arus sampai ke laut (Corcoran et al. 2015; Zbyszewski et al. 2014). Fenomena ini telah terjadi semenjak plastik mulai diproduksi secara global dan massal yang dampaknya secara langsung mempengaruhi kehidupan ekosistem laut dan darat. Temuan mikroplastik bahkan sudah sampai di lautan es kutub utara yang terbawa dari Samudera Pasifik (Obbard et al. 2014).
Figure 2. Material penyusun plastik
Hasil penelitian (Waters et al. 2016; Zalasiewicz et al. 2015, 2017) menyarankan bahwa plastik menjadi kandidat indikator yang baik untuk mengindentifikasi endapan sedimentasi Antroposen, sejak kemunculannya paska-Perang Dunia kedua sampai sekarang (Figure 2). Skala waktu ‘kehidupan’ satu plastik dapat bertahan lama, tidak hanya sekedar digunakan untuk memudahkan aktivitas manusia lalu menjadi limbah tetapi juga dapat mempercepat degradasi karena proses pembakaran maupun paparan sinar ultraviolet. Plastik juga memiliki keunikan tersendiri di mana sangat sulit terurai oleh mikrobiologi. Tidak hanya mencemari lingkungan, plastik juga dapat menjadi ‘fosil’ baru yang terurai dengan matris organik, tulang, dan kayu atau menjadi fosil-plastiknya sendiri.
Penutup
Plastik sekarang tidak dapat terlepas dari kehidupan sehari-hari. Plastik yang telah digunakan pada umumnya mulai masuk ke dalam sedimen endapan tidak hanya di daratan tetapi juga perairan, yang pada akhirnya membentuk sedimen Antroposen sendiri sebagai tekno-fossil dengan beragam variasi bentuk, ukuruan, dan komposisi kimia. Catatan yang harus kemudian dilakukan ialah menganalisis persebaran atau distribusi plastik dari hulu ke hilir. Pada saat yang sama, permukaan sedimen yang mengandung plastik dapat menjadi titik sumber horizon global yang memiliki korelasi sinkronik untuk membantu menentukan titik waktu Antroposen. Selain itu, beragam jenis plastik mempu merepresentasikan subdivisi baru dalam endapan Antroposen (lih. Figure 2). Terlepas peran plastik sebagai bentuk riset Antroposen terbaru, plastik juga menimbulkan ancaman baru bagi organisme termasuk manusia. Acaman ini terbukti dari sulitnya menghilangkan jejak plastik baik di dalam sedimen maupun proses daur ulang pada jangka waktu yang lama. Plastik akan menjadi dua indikator baru bagi manusia yaitu untuk mendefinisikan Antroposen dan sekaligus untuk memantau potensi keberhasilan manusia dalam mengurangi dampak plastik terhadap lingkungan di masa depan. Oleh karena itu, di masa depan sangat mungkin akan ditemukan zona pos-plastik untuk menjelaskan sub-divisi baru Antroposen.
Referensi
Andrady, Anthony L. 2011. “Microplastics in the Marine Environment.” Marine Pollution Bulletin 62(8):1596–1605.
Besseling, Ellen, Bo Wang, Miquel Lürling, and Albert A. Koelmans. 2014. “Nanoplastic Affects Growth of S. Obliquus and Reproduction of D. Magna.” Environmental Science & Technology 48(20):12336–43.
Corcoran, Patricia L., Todd Norris, Trevor Ceccanese, Mary Jane Walzak, Paul A. Helm, and Chris H. Marvin. 2015. “Hidden Plastics of Lake Ontario, Canada and Their Potential Preservation in the Sediment Record.” Environmental Pollution 204:17–25.
Eerkes-Medrano, Dafne, Richard C. Thompson, and David C. Aldridge. 2015. “Microplastics in Freshwater Systems: A Review of the Emerging Threats, Identification of Knowledge Gaps and Prioritisation of Research Needs.” Water Research 75:63–82.
Eriksen, Marcus, Sherri Mason, Stiv Wilson, Carolyn Box, Ann Zellers, William Edwards, Hannah Farley, and Stephen Amato. 2013. “Microplastic Pollution in the Surface Waters of the Laurentian Great Lakes.” Marine Pollution Bulletin 77(1–2):177–82.
Ford, Jon R., Simon J. Price, A. H. Cooper, and Colin N. Waters. 2014. “An Assessment of Lithostratigraphy for Anthropogenic Deposits.” Geological Society, London, Special Publications 395(1):55–89.
Free, Christopher M., Olaf P. Jensen, Sherri A. Mason, Marcus Eriksen, Nicholas J. Williamson, and Bazartseren Boldgiv. 2014. “High-Levels of Microplastic Pollution in a Large, Remote, Mountain Lake.” Marine Pollution Bulletin 85(1):156–63.
Gasperi, Johnny, Rachid Dris, Cécile Mirande-Bret, Corinne Mandin, Valérie Langlois, and Bruno Tassin. 2015. “First Overview of Microplastics in Indoor and Outdoor Air.”
Geyer, Roland, Jenna R. Jambeck, and Kara Lavender Law. 2017. “Production, Use, and Fate of All Plastics Ever Made.” Science Advances 3(7):e1700782–e1700782.
Hanvey, Joanne S., Phoebe J. Lewis, Jennifer L. Lavers, Nicholas D. Crosbie, Karla Pozo, and Bradley O. Clarke. 2017. “A Review of Analytical Techniques for Quantifying Microplastics in Sediments.” Analytical Methods 9(9):1369–83.
Hussain, Ikram, and Halim Hamid. 2003. “Plastics in Agriculture.” Plastics and the Environment. Wiley, Hoboken 185–209.
Imhof, Hannes K., Natalia P. Ivleva, Johannes Schmid, Reinhard Niessner, and Christian Laforsch. 2013. “Contamination of Beach Sediments of a Subalpine Lake with Microplastic Particles.” Current Biology 23(19):R867–68.
Lithner, Delilah, Åke Larsson, and Göran Dave. 2011. “Environmental and Health Hazard Ranking and Assessment of Plastic Polymers Based on Chemical Composition.” Science of the Total Environment 409(18):3309–24.
Massos, Angelo, and Andrew Turner. 2017. “Cadmium, Lead and Bromine in Beached Microplastics.” Environmental Pollution 227:139–45.
Morritt, David, Paris V Stefanoudis, Dave Pearce, Oliver A. Crimmen, and Paul F. Clark. 2014. “Plastic in the Thames: A River Runs through It.” Marine Pollution Bulletin 78(1–2):196–200.
Nuelle, Marie-Theres, Jens H. Dekiff, Dominique Remy, and Elke Fries. 2014. “A New Analytical Approach for Monitoring Microplastics in Marine Sediments.” Environmental Pollution 184:161–69.
Obbard, Rachel W., Saeed Sadri, Ying Qi Wong, Alexandra A. Khitun, Ian Baker, and Richard C. Thompson. 2014. “Global Warming Releases Microplastic Legacy Frozen in Arctic Sea Ice.” Earth’s Future 2(6):315–20.
Rillig, Matthias C. 2012. “Microplastic in Terrestrial Ecosystems and the Soil?”
Tansel, Berrin, and Banu Sizirici Yildiz. 2011. “Goal-Based Waste Management Strategy to Reduce Persistence of Contaminants in Leachate at Municipal Solid Waste Landfills.” Environment, Development and Sustainability 13(5):821–31.
Thompson, Richard C., Charles J. Moore, Frederick S. Vom Saal, and Shanna H. Swan. 2009. “Plastics, the Environment and Human Health: Current Consensus and Future Trends.” Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences 364(1526):2153–66.
Della Torre, C., E. Bergami, A. Salvati, C. Faleri, P. Cirino, K. A. Dawson, and I. Corsi. 2014. “Accumulation and Embryotoxicity of Polystyrene Nanoparticles at Early Stage of Development of Sea Urchin Embryos Paracentrotus Lividus.” Environmental Science & Technology 48(20):12302–11.
Velzeboer, I., CJAF Kwadijk, and A. A. Koelmans. 2014. “Strong Sorption of PCBs to Nanoplastics, Microplastics, Carbon Nanotubes, and Fullerenes.” Environmental Science & Technology 48(9):4869–76.
Waters, Colin N., Jan Zalasiewicz, Colin Summerhayes, Anthony D. Barnosky, Clément Poirier, Agnieszka Gałuszka, Alejandro Cearreta, Matt Edgeworth, Erle C. Ellis, and Michael Ellis. 2016. “The Anthropocene Is Functionally and Stratigraphically Distinct from the Holocene.” Science 351(6269).
Woodall, Lucy C., Anna Sanchez-Vidal, Miquel Canals, Gordon L. J. Paterson, Rachel Coppock, Victoria Sleight, Antonio Calafat, Alex D. Rogers, Bhavani E. Narayanaswamy, and Richard C. Thompson. 2014. “The Deep Sea Is a Major Sink for Microplastic Debris.” Royal Society Open Science 1(4):140317.
Zalasiewicz, Jan, Colin N. Waters, Juliana A. Ivar do Sul, Patricia L. Corcoran, Anthony D. Barnosky, Alejandro Cearreta, Matt Edgeworth, Agnieszka Gałuszka, Catherine Jeandel, and Reinhold Leinfelder. 2016. “The Geological Cycle of Plastics and Their Use as a Stratigraphic Indicator of the Anthropocene.” Anthropocene 13:4–17.
Zalasiewicz, Jan, Colin N. Waters, Mark Williams, Anthony D. Barnosky, Alejandro Cearreta, Paul Crutzen, Erle Ellis, Michael A. Ellis, Ian J. Fairchild, and Jacques Grinevald. 2015. “When Did the Anthropocene Begin? A Mid-Twentieth Century Boundary Level Is Stratigraphically Optimal.” Quaternary International 383:196–203.
Zalasiewicz, Jan, Mark Williams, Colin N. Waters, Anthony D. Barnosky, John Palmesino, Ann-Sofi Rönnskog, Matt Edgeworth, Cath Neal, Alejandro Cearreta, and Erle C. Ellis. 2017. “Scale and Diversity of the Physical Technosphere: A Geological Perspective.” The Anthropocene Review 4(1):9–22.
Zbyszewski, Maciej, Patricia L. Corcoran, and Alexandra Hockin. 2014. “Comparison of the Distribution and Degradation of Plastic Debris along Shorelines of the Great Lakes, North America.” Journal of Great Lakes Research 40(2):288–99.
Pendekatan stratigrafi tradisional telah membantu mendefinisikan suatu skala waktu geologi tertentu selama ini. Zalasiewicz dkk (2014, 2017) memberikan satu contoh kemungkinkan munculnya tekno-stratigrafi yang dapat digunakan guna menjelaskan bukti stratigrafi pada artefak teknofosil. Teknofosil berbeda dengan jejak fosil pada umumnya di mana sebagai materialnya tidak muncul atau diproduksi secara alamiah seperti halnya alumunium atau plastik. Teknofosil sering ditemukan dari material yang memiliki durabilitas jangka-panjang secara geologis. Alasan inilah yang membawa pertimbangan pengembangan tekno-stratigrafi lebih memungkinkan daripada hanya menjelaskan ‘tekno-fosil’ dari sudut pandang biostratigrafi.
Jejak-jejak teknofosil dapat dilacak berdasarkan perkembangan peradaban Homo spp., di mana temuan penanda awal biostratigrafi mengarah pada tubuh fosil Pliosen akhir di Ethiophia (antara 2.8 dan 2.75 juta tahun) (Villmoare et al., 2015). Selain itu, perkembangan penggunaan batu dan kayu yang masuk dalam peradaban purba telah berkembang dalam konteks arkeologi yang menjadi bagian dari material kebudayaan. Pada kasus karakteristik tekno-fossil kita tidak dapat terlepas dari beragam istilah kultural seperti: Paleolitik, Oldowan, Acheulean, Mousterian, Aurignacean, atau Zaman Perunggu dan Besi. Uniknya, beragam artefak tersebut memiliki signifikansi-waktu untuk menggambarkan secara lugas bagaimana tekno-fosil terbentuk. Jejak tekno-fosil juga dapat dilacak pada kemampuan manusia pra-sejarah dalam mengelola api sebagai sumber bagian dari kerja domestiknya (Karkanas et al., 2007).
Keberagaman tekno-fosil semakin meningkat di selama tahap Ionian di Epos Pleistosen (sekitar 126.000 sampai 11.700 tahun lalu) yang sudah menyaratkan artefak berkualitas abstrak-estetik sebagaimana adanya potongan, pola ukiran dan manik-manik yang ditemukan di Gua Blombos di selatan Afrika sekitar 75.000 tahun yang lalu (d’Errico et al., 2005; Henshilwood, d’Errico and Watts, 2009), ukiran telur burung unta Diepkloof sekitar 55.000 tahun yang lalu (Rigaud et al., 2006), Lukisan pra-sejarah di Eropa dan Indonesia sekitar 40.000 tahun yang lalu (Aubert et al., 2014), serta beragam seni batung dari gading mammoth di Eropa sebelum 30.000 tahun yang lalu (Conard, 2009).
Perkembangan penanda stratigrafi tekno-fosil juga tersebar di akhir Pleistosen ketika munculnya penggunaan bahan baku keramik yang umurnya sekitar 30.000 tahun lalu di Eropa (Farbstein et al., 2012). Perkembangan penggunaan keramik juga tersebar di sekitaran Asia Timur sebagai bagian dari tembikar alat masak 20.000 tahun yang lalu di Cina (Wu et al., 2012), sementara di Jepang, tembikar dari Periode Jōmon sekitar 15.000 tahun yang lalu (Craig et al., 2013). Perubahan fase penggunaan gerabah keramik sebagai bahan penyimpanan dan pengolahan bahan baku makanan berkembang secara mandiri di hampir seluruh wilayah gografis dunia selama fase Pleistosen akhir dan Holosen. Perkembangan ini menunjukkan morfologi teknofosil yang meningkat secara dramatis yang sebelumnya tidak pernah ada secara alamiah. Prosesi temuan morfologi teknofosil juga didukung dengan temuan campuran logam langka, bebatuan antropogenik (batu bata dan beton), kaca, dan beragam material plastik awal. Beragam jenis teknofosil ini menujukkan adanya transgresif waktu yang mampu menjelaskan pola interval waktu tertentu meskipun tidak secara formal dapat diterima terutama secara stratigrafis. Hal ini mungkin akan sangat berbeda ketika kita melihat tekno-fosil sekitaran abad ke-20 di mana telah terjadinya produksi massal terkait teknologi tertentu. Ambil contoh satu mengenai komersialisasi plastik pasca perang dunia yang mulai menyebar di seluruh belahan dunia dan mulai mengendam menjadi sedimentasi-sedimentasi permukaan baru.
Figure 1. Stratigrafi Teknosfer dari akhir budaya paleolitik sampai saat ini (Williams et al., 2016).
Sebagaimana pada Figure 1., diperlihatkan bahwa tekno-fossil sangat mungkin memiliki ‘taksonomi’nya sendiri sebagaimana pembagian diversitas biologi (Zalasiewicz et al., 2017). Hal ini digunakan untuk memudahkan para ahli geologi dalam meneliti kembali sejauh mana pengaruh tekno-fosil terhadap perubahan tingkat strata sedimentasi mulai dari yang paling termuda sampai tertua atau dari lapisan terluas sampai lapisan terdalam. Pada akhirnya, contoh paling sederhana ialah melihat bagaimana produksi massal Iphone pertama kali yang muncul pada tahun 2017 sangat mungkin memiliki tekno-fossilnya sendiri meskipun kita tahu bahwa perusahan Apple memiliki kaidah pengelolaan akhir yang ketat, akan tetapi ada hal yang tidak bisa dihapus yakni titik situs tempat pengeloaan akhir. Artinya, sangat mungkin apabila Iphone menjadi bukti sinkronik global untuk tekno-fossil meskipun kita harus menunggu berapa ribu tahun lagi, atau pilihan lainnya kita melacak kembali pada tekno-fossil yang telah ada di epos sebelumnya.
Referensi
Aubert, M. et al. (2014) ‘Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia’, Nature. Nature Publishing Group, 514(7521), pp. 223–227.
Conard, N. J. (2009) ‘A female figurine from the basal Aurignacian of Hohle Fels Cave in southwestern Germany’, Nature. Nature Publishing Group, 459(7244), pp. 248–252.
Craig, O. E. et al. (2013) ‘Earliest evidence for the use of pottery’, Nature. Nature Publishing Group, 496(7445), pp. 351–354.
d’Errico, F. et al. (2005) ‘Nassarius kraussianus shell beads from Blombos Cave: evidence for symbolic behaviour in the Middle Stone Age’, Journal of human evolution. Elsevier, 48(1), pp. 3–24.
Farbstein, R. et al. (2012) ‘First Epigravettian Ceramic Figurines from Europe (Vela Spila, Croatia)’, PloS one. Public Library of Science, 7(7), p. e41437.
Henshilwood, C. S., d’Errico, F. and Watts, I. (2009) ‘Engraved ochres from the middle stone age levels at Blombos Cave, South Africa’, Journal of human evolution. Elsevier, 57(1), pp. 27–47.
Karkanas, P. et al. (2007) ‘Evidence for habitual use of fire at the end of the Lower Paleolithic: Site-formation processes at Qesem Cave, Israel’, Journal of human evolution. Elsevier, 53(2), pp. 197–212.
Rigaud, J.-P. et al. (2006) ‘Stillbay and Howiesons Poort stone tool techno-complexes. South African Middle Stone Age chronology and its implications’, Comptes Rendus Palevol. ELSEVIER FRANCE-EDITIONS SCIENTIFIQUES MEDICALES ELSEVIER 23 RUE LINOIS …, 5(6), pp. 839–849.
Villmoare, B. et al. (2015) ‘Early Homo at 2.8 Ma from Ledi-Geraru, Afar, Ethiopia’, Science. American Association for the Advancement of Science, 347(6228), pp. 1352–1355.
Williams, M. et al. (2016) ‘The Anthropocene: a conspicuous stratigraphical signal of anthropogenic changes in production and consumption across the biosphere’, Earth’s Future. Wiley Online Library, 4(3), pp. 34–53.
Wu, X. et al. (2012) ‘Early pottery at 20,000 years ago in Xianrendong Cave, China’, Science. American Association for the Advancement of Science, 336(6089), pp. 1696–1700.
Zalasiewicz, J. et al. (2014) ‘The technofossil record of humans’, The Anthropocene Review. SAGE Publications Sage UK: London, England, 1(1), pp. 34–43.
Zalasiewicz, J. et al. (2017) ‘Scale and diversity of the physical technosphere: A geological perspective’, The Anthropocene Review. SAGE Publications Sage UK: London, England, 4(1), pp. 9–22.
The Technosphere and Its Relation to the Anthropocene
Peter Haff et al., (2019: 138-144)
Konsep Teknosfer dianggap memiliki relasi yang inheren dengan Antroposen. Relasi ini terjalin karena munculnya suatu entitas baru yang sebelumnya tidak ada atau diciptakan dari alam, misalnya material plastik. Plastik sebagai artefak manusia meninggalkan jejak fisik yang dapat diinvestigasi melalui teknosfer. Teknosfer sendiri menjadi bagian ‘geosfer’baru dengan otonomi sistemnya secara global. Sistem strukturnya berkelindan dengan manusia, sistem sosial, dan gerak teknologis. Sebagaimana dicontohkan dua skenario yang telah ditemukan terkait persoalan global percepatan teknologi (technological acceleration) dan respons sosial terhadap pemanasan global. Adapun penanda ‘sinyal stratigrafi’ dapat ditelusuri sekitar 2 juta tahun lalu dengan pembuktian artefak manusia atau teknofosil modern sebagaimana objek material terbuat dari plastik yang disinyalir dapat menjadi high-resolution penanda stratigrafi Antroposen.
Sekilas tentang Teknosfer
Teknosfer merupakan suatu sistem global yang mungkin setara dengan geosfer lainnya karena memiliki sistem, struktur, dan siklusnya sendiri. Teknosfer selalu terkait dengan sistem teknologis yang tidak hanya berwujud material tetapi juga dapat berwujud semacam institusional yang selama ini berkelindan dengan aktivitas sosial manusia, mulai dari sistem transportasi sampai sistem birokrasi politik. Sebagai sebuah sistem geologi baru, teknosfer tidak dapat terlepas dari peran keempat ‘geosfer’ lainnya yaitu atmosfer, hidrosfer, litosfer, dan biosfer bekerja. Berpijak pada investigasi ilmiah, teknosfer tidak dapat disamakan dengan aktivitas total antroposentris. Teknosfer sebagai sebuah sistem yang dinamis dapat bekerja tanpa adanya campur tangan manusia, meskipun di satu sisi keterkaitan manusia tidak dapat terlepas dari aspek intensionalitas.
Dua Perspektif: Antroposen Sosial dan Antroposen Geologi
Ada beragam perspektif tentang Antroposen di lingkaran akademisi. Secara umum, terbagi menjadi dua perspektif yakni sosial dan geologi. Geologi Antroposen menginvestigasi struktur fenomena skala waktu geologis berdasarkan potensi penanda stratigrafi, distribusi, komposisi, tekstur, struktur, preservasi, keunikan, dan penanggalan suatu peristiwa tertentu (Steffen et al., 2016). Bukti dari geologi Antroposen berpijak pada temuan fisik geologis tertentu misalnya hirarki bebatuan yang membentuk epos Antroposen. Sedangkan, dunia sosial Antroposen berkebalikan, melihat Antroposen sebagai sebuah intensi dan determinasi manusia terhadap dunia yang membentuk suatu percepatan perubahan sistem bumi dan juga membentuk rekonseptualisasi posisi manusia di dunia (Emmett and Lekan, 2016). Respons kritis yang menolak interpretasi bebas antroposentrisme di Antroposen merujuk pada status manusia sebagai bagian dari produk bumi itu sendiri (Garrett, 2014; Haff, 2014a; Haff, 2014b; Zalasiewicz et al., 2014). Interpretasi ini membawa konsekuensi bahwa manusia tidak berbeda dengan konsepsi fisik yang ada di Sistem Ilmu Bumi di mana efek yang dihasilkan oleh manusia pada akhirnya sama dengan spesies lainnya atau peristiwa fisik geologi sebelumnya. Oleh karenanya, jika manusia diasumsikan sebagai bagian dari produk bumi, maka perubahan struktur bumi sendiri menjadi self-evident bahwa Antroposen ialah suatu sistem waktu geologi yang indepeden dan tidak terjebak pada interpretasi spekulatif bebas yang mengarah pada antroposentrisme.
Teknosfer dapat menjadi contoh bahwa manusia tidak dapat langsung mengontrolnya secara penuh. Seluruh fenomena global yang terjadi termasuk siklus energi teknosfer yang berkembang tidak dapat ditahan laju perubahannya oleh manusia. Kondisi Teknosfer saat ini memberikan perspektif masa depan yang tidak pasti bagi geosfer yang lain, yang berada di dua ambang batas: antara mendominasi sirkulasi siklus geosfer lainnya dan ketergantungan teknosfer pada aktivitas manusia. Hampir seperempat populasi di dunia saat ini telah menempatkan prioritas teknologi secara penuh.
Karakteristik perilaku Teknosfer bersifat mandiri secara intrinsik karena kemunculannya sebagai sebuah sistem mekanisntik tidak bergantu pada intervensi manusia secara penuh. Manusia mungkin menjadi bagiannya dalam konteks ‘bertujuan untuk perkembangan mekanisme’ tetapi tidak bersifat teleologis. Artinya, bukti efisiensi penjelasan ‘sebab-akibat’ yang secara umum dipahami tidak dapat diterapkan pada konstruksi fisikal (gambaran non-antroposentris) dari suatu sistem Teknosfer yang terbentuk. Ada aktivitas yang bertujuan dan aktivitas yang memiliki peristiwa konstitutif di mana keduanya tidak dapat diletakan hanya pada satu entitas yakni manusia sebagai agen intrinsik-bertujuan nya. Secara kesuluruhan aktivitas kolektif manusia membantu mendukung sistem intrinsik-bertujuan yang ada pada Teknosfer. Tidakan kolektif manusia hanya mengubah posisi dirinya sebagai subjek atas objek teknologis menjadi subjek sebagai bagian dari agensi teknosfer. Oleh karena itu, muncul dua trajektori Teknosfer yang membentuk percepatan teknologi maka hanya akan memberikan ruang adaptasi bagi manusia untuk memproyeksikan bagaimana teknosfer di masa depan akan bekerja.
Teknosfer sudah selayaknya komoditas yang termanifestasikan pada perangkat, metode, dan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia untuk mempercepat atau mengefisiensikan suatu kerja tertentu. Akibat dari efektivitas teknosfer ini, mengakibatkan siklus energi yang bekerja pada teknosfer tidak dapat dihindari. Persoalan manusia dikemudian hari ialah bagaimana strategi yang dilakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tak-disadari terhadap lingkungan dan disrupsi sosial. Teknosfer juga menjadi semacam termostat sosial yang mengukur skala tindakan kolektif manusia yang berpengaruh terhadap kejadian global termasuk juga pemanasan global dan kerusakan ekologis lainnya. Perspektif non-antroposentris di sini menempatkan teknosfer sebagai sebuah sistem yang independen di mana juga memiliki nilai metabolismenya, nilai disipasi energi. Teknosfer juga tidak peduli dengan lingkungan yang tidak ramah dengan kehidupan manusia. Sebagaimana siklus geosfer yang lainnya, Teknosfer memiliki sistem metabolismenya sendiri termasuk sistem pengelolaan limbah yang secara langsung akan mempengaruhi status makanan, air, dan transportasi masyarakat secara luas.
Penutup
Teknosfer memperkuat bukti bahwa teknologi dengan sendiri menjadi bagian dari evolusi geologi yang mengendap dan bahkan membangun sistem-agensinya sendiri. Pandangan umum atas sebab-akibat pada kerangka Antroposen tidak dapat dipertahankan secara penuh karena bagaimanapun juga banyak sekali aspek / entitas yang membangunnya. Jika hanya meletakan manusia sebagai penyebab dari Antroposen maka simpulan tersebut sangatlah terburu-buru. Antroposen sosial tidak dapat dijadikan acuan untuk ratifikasi Antroposen sebab kerangka sebab-akibat Antroposen tidak sekedar berpijak pada prinsip teleologis tetapi juga dibutuhkan penedekatan analitik dan kapabilitas operatif. Kedua pendekatan ini untuk menjelaskan bahwa tidak ada teknologi yang sangat murni dapat menjadi jawaban atas keragaman wajah Antroosen. Hal yang perlu dilakukan manusia saat ini ialah merekognisi teknologi sebagai agensi yang berbeda dari agensi yang kita miliki.
Referensi
Emmett, R. and Lekan, T. (2016) ‘Whose Anthropocene’, Revisiting Dipesh Chakrabarty’s “Four Theses.” RCC Perspectives Transformations in Environment and Society.
Garrett, T. J. (2014) ‘Long‐run evolution of the global economy: 1. Physical basis’, Earth’s Future. Wiley Online Library, 2(3), pp. 127–151.
Haff, P. K. (2014a) ‘Humans and technology in the Anthropocene: Six rules’, The Anthropocene Review. SAGE Publications Sage UK: London, England, 1(2), pp. 126–136.
Haff, P. K. (2014b) ‘Technology as a geological phenomenon: Implications for human well-being’, Geological Society, London, Special Publications. Geological Society of London, 395(1), pp. 301–309.
Steffen, W. et al. (2016) ‘Stratigraphic and Earth System approaches to defining the Anthropocene’, Earth’s Future. Wiley Online Library, 4(8), pp. 324–345.
Zalasiewicz, J. et al. (2014) ‘The technofossil record of humans’, The Anthropocene Review. SAGE Publications Sage UK: London, England, 1(1), pp. 34–43.
The Utility of Formalisation of the Anthropocene for Science
Davor Vidas et al., (2019: 31-40)
Antroposen tidak hanya menjadi topik pembahasan hangat di kalangan komunitas ilmiah geologi tetapi juga melintasi beragam disiplin lain. Ilmu sosial dan humaniora melihat Antroposen sebagai titik tolak kemewaktuan manusia yang mengawali pengaruhnya terhadap keadaan, dinamika, dan masa depan sistem Bumi. Perspektif non-geologi menyadari adanya pergeseran trajektori geologi yang lebih mengarah akan potensi dominasi aktivitas manusia terhadap alam. Ada dua tugas AWG yakni menganalisis dan menjustifikasi bukti geologi Antroposen, serta menjelaskan kegunaan formalisasi Antroposen bagi komunitas ilmiah geologi maupun lintas disiplin lainnya. Pada artikel ini, Davor lebih melihat AWG sebagai ruang ilmiah yang dapat memperluas aspek penelitian Antroposen tidak hanya secara geologi tetapi melampauinya atau lebih tepatnya pendekatan alternatif lainnya.
Pertama, sebagai ‘scientific utility’ Antroposen membuka potensi penelitian Antroposen di luar geologi. Kedua, dengan adanya kegunaan ilmiah ini, Antroposen telah dijustifikasi secara tidak langsung dari sudut pandang non-geologi. Tantangan dan penolakan muncul dari sejumlah pihak (Autin and Holbrook, 2012; Gibbard and Walker, 2014; Klein, 2015; Finney and Edwards, 2016) yang menganggap Antroposen tidak secara penuh valid dan dapat dipertanggung jawabkan pada konteks geologi akan tetapi pada akhirnya direspons oleh (Zalasiewicz et al., 2017). Sedangkan pada sudut pandang lain, Antroposen diyakini dapat diteliti sebagaimana realitas geologi lainnya melalui multi-stratigrafi termasuk memperkuat adanya bukti atas temuan unit stratigrafi baru (contohnya: anomali isotop karbon, radionuklida artifisial, plastik, fly-ash, dan partikel non-natural lainnya). Pendukung gagasan Antroposen mengarahkan pada permulaan waktu pasca revolusi industri yang berpuncak pada the great acceleration di pertengahan abad ke-20, yang juga ditandai dengan munculnya perturbasi karbon, nitrogen, fosfor, dan siklus lainnya yang telah mempengaruhi lingkungan.
Pendekatan diakronik yang melihat suatu kejadian dari suatu wilayah tertentu ke wilayah lain telah membuktikan bahwa kenaikan CO2 di Atmosfer telah berlangsung sekitar 7000 tahun yang lalu sejak dimulainya revolusi agrikultur secara massif. Penanda kondisi interglasial Holosen juga memberikan inspirasi tersendiri bagi geologi Antroposen dalam mempertimbangkan beberapa potensinya antara lain: i) dampak fisik (artificial ground / urban strata) yang telah mengendap di lapisan tanah akibat adanya pembangunan fisik oleh manusia; ii) perubahan iklim yang menyebabkan asidifikasi (pengasaman) air laut karena perubahan siklus karbon di mana perubahannya setara dengan kejadian PETM (awal epos Eosen); iii) dampak biologis atas kepunahan massal, invansi, dan redistribusi spesies. Pemetaan potensi jangka-panjang Antroposen akan sangat berguna untuk memperkuat bukti-bukti empiris-geologis yang ada termasuk bagaimana peran aktivitas antropogenik dalam membangun endapan strata baru yang berbeda dengan aktivitas natural geologi sebelumnya. Sehingga mampu memperlihatkan bagaimana jejaring pembeda antara endapan Holosen dan endapan antropogenik Antroposen terbukt (Zalasiewicz, Williams and Waters, 2014)
Wacana Antroposen ikut berkontribusi atas munculnya pendekatan baru di geologi yang dikenal dengan istilah Ilmu Sistem Bumiatau Earth System science (ESS) (Crutzen and Stoermer, 2000). Komunitas ESS sendiri bekerja untuk membuktikan bahwa Antroposen tidak dapat dibantah secara perspektif melainkan hanya perlu dibuktikan secara ilmiah seiring kemunculan bukti-bukti baru. Komunitas ilmiah ini bergerak untuk menyelidiki adanya dampak pergeseran paradigma Antroposen melalui beragam temuan transdisiplin. Pemahaman yang terbentuk berdasarkan konsep stratigrafi untuk mencari base/awal mula sikronisasi global Antroposen. Pendekatan ESS kurang lebih mirip dengan pendekatan waktu antropologis yang meletakan konsep ‘arkeosfer’/ archaeospher (Edgeworth, 2014; Edgeworth et al., 2015). Konsep ini yang secara inheren diakronik dan inter-regional dengan melibatkan hasil dari litostratigrafi dan biostratigrafi. Pendekatan ESS ini dianggap bermasalah karena membangun waktu kalendar bumi yang sulit untuk dibuktikan bahkan melalui penanggalan radiometrik. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pendekatan Antropologi justru lebih menemukan adanya ‘Anthropocene deposite’ yang tersebar secara regional-global diakornik, seperti halnya penelitian tipologi terkait temuan bukti artefak/teknofossil.
Hipotesis Antroposen juga telah melampaui kajian umum ilmu alam di mana melahirkan semacam pemahaman baru mengenai relasi antara manusia dan perubahan alam. Relevansi Antroposen semakin menguat ketika munculnya kesadaran atas perubahan ekstrim yang terjadi di bumi akibat aktivitas besar-besaran manusia. Perubahan planet bumi yang paling mendasar dapat diketahui mulai dari hilangnya sebagian besar biodiversitas, kerusakan landskap, polusi, dan perubahan iklim. Penerimaan Antroposen juga akan berdampak pada bagaimana analisis politik bekerja. Pada artikel ini terdapat dua contoh utama yakni dari sudut pandang ilmu kesehatan dan ilmu hukum.
Sudut pandang ilmu hukum membawa persoalan Antroposen tentang bagaimana kemudian para ahli dan akademisi berpegang teguh pada tesis ‘kestabilan’ Antroposen. Perkembangan tujuan utama hukum dan hubungan internasional tidak hanya sekedar mengacu pada indikator stabilitas keamanan tetapi juga mulai memperhatikan pentingnya kajian kelingkungan (Vidas, 2011; Vinuales, 2016; Biber, 2017). Antroposen memiliki potensi jangka pendek-panjang tentang perumusan undang-undang internasional yang tidak hanya mengatasi konflik geopolitik tetapi juga perumusan aturan untuk mengawal kelestarian ekosistem laut (DeConto and Pollard, 2016). Itu artinya, Antroposen berperan juga sebagai aturan normatif dan narasi kultural.
Contoh lain dari ilmu kesehatan utamanya kebijakan kesehatan publik yang melihat relasi antara kondisi lingkungan manusia berbanding lurus dengan tingkat kesehatannya. Richard Horton (2013) merumuskan konsep planetary health yang menggabungkan unsur pendekatan planetary boundaries dengan ide Antroposen dan diwujudkan dengan membentuk Komisi Kesehatan Keplanetan beserta laporan ilmiah berjudul ‘Safeguarding Human Health in the Anthropocene’. Laporan Lancet tentang kesehatan dan Antroposen membuktikan setidaknya terdapat pengaruh besar atas besaran perturbasi karbon, perubahan siklus nitrogen, kerusakan lahan, polusi udara, dan perubahan iklim global yang berkorelasi dengan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat dunia (Whitmee et al., 2015). Hasil penelitian (Landrigan et al., 2018) juga membuktikan bahwa polusi global membawa korelasi negatif terhadap ketahanan tubuh manusia yang disebabkan karena adanya karbon hitam dan polutan organik persisten yang mencemari lingkungan secara langsung.
Penutup-Catatan
Beragam catatan di atas menunjukan bahwa potensi formalisasi Antroposen memiliki kebergunaan bagi masyarakat luas atau sebagai pisau-analisis illmiah non-geologi (sosial-humaniora). Kedua potensi tersebut mendapatkan kritik sebagaimana Antroposen hanya jatuh pada konsepsi agenda politik atau ideologi tertentu di dalam geologi (Baskin, 2015). Menurut saya, tidak menjadi masalah apabila konsep Antroposen sangat relevan untuk merespons kondisi masyarakat tertentu atau bahkan menjadi semacam paradigm-shift bagi komunitas ilmiah tertentu. Potensi pertama nyatanya lebih terlihat sebab dapat membantu meningkatkan kepekaan masyarakat atas perubahan yang terhadap di bumi saat ini. Lagipula, kita semua tahu bahwa proses formalisasi atau ratifikasi Antroposen juga tidak dapat terlepas dari campur tangan politis. Bagi kebijakan kesehatan publik Antroposen sangat menyakinkan untuk melihat pentingnya manajeman kesehatan. Artinya, relevansi Antroposen dengan kehidupan masyarakat tidak hanya sebagai respons politik tetapi juga membangun kesadaran sosial. Putusan-putusan politik akan sangat berpengaruh terkait bagaimana wacana Antroposen kemudian terbentuk. Saat ini, pilihan implikasi kebijakan politik di antara ‘Holocene preserving’ atau ‘Anthropocene introducting’. Keduanya sama-sama memiliki implikasi politis dan normatif tertentu. Kembali pada aturan formal geologi, Antroposen mau tidak mau tetap wajib mengikuti prosedur ‘aturan stratigrafi’ untuk segera membangun komponen hirarki ‘golden spike’ yang komprehensif. Proses ini harus dilakukan secara ketat dan ilmiah jika ingin segera diratifikasi atau pilihannya ‘setidaknya’ Antroposen menjadi bagian dari kosa kata ilmiah informal atau mungkin menjadi semacam ‘narasi kebudayaan’.
Referensi
Autin, W. J. and Holbrook, J. M. (2012) ‘Is the Anthropocene an issue of stratigraphy or pop culture’, GSA Today, 22(7), pp. 60–61.
Baskin, J. (2015) ‘Paradigm dressed as epoch: the ideology of the Anthropocene’, Environmental Values. White Horse Press, 24(1), pp. 9–29.
Biber, E. (2017) ‘Law in the Anthropocene epoch’, Geo. LJ. HeinOnline, 106, p. 1.
Crutzen, P. J. and Stoermer, E. F. (2000) ‘Global change newsletter’, The Anthropocene, 41, pp. 17–18.
DeConto, R. M. and Pollard, D. (2016) ‘Contribution of Antarctica to past and future sea-level rise’, Nature. Nature Publishing Group, 531(7596), pp. 591–597.
Edgeworth, M. (2014) ‘The relationship between archaeological stratigraphy and artificial ground and its significance in the Anthropocene’, Geological Society, London, Special Publications. Geological Society of London, 395(1), pp. 91–108.
Edgeworth, M. et al. (2015) ‘Diachronous beginnings of the Anthropocene: The lower bounding surface of anthropogenic deposits’, The Anthropocene Review. SAGE Publications Sage UK: London, England, 2(1), pp. 33–58.
Finney, S. C. and Edwards, L. E. (2016) ‘The “Anthropocene” epoch: Scientific decision or political statement’, Gsa Today, 26(3), pp. 4–10.
Gibbard, P. L. and Walker, M. J. C. (2014) ‘The term ‘Anthropocene’in the context of formal geological classification’, Geological Society, London, Special Publications. Geological Society of London, 395(1), pp. 29–37.
Klein, G. D. (2015) ‘The ANTHROPOCENE: what is its geological utility?(Answer: It has none!)’, in Episodes Forum, p. 218.
Landrigan, P. J. et al. (2018) ‘The Lancet Commission on pollution and health’, The lancet. Elsevier, 391(10119), pp. 462–512.
Vidas, D. (2011) ‘The Anthropocene and the international law of the sea’, Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. The Royal Society Publishing, 369(1938), pp. 909–925.
Vinuales, J. E. (2016) ‘Law and the Anthropocene’, Jorge E. Vinuales,’Law and the Anthropocene’, C-EENRG Working Paper, 4.
Whitmee, S. et al. (2015) ‘Safeguarding human health in the Anthropocene epoch: report of The Rockefeller Foundation–Lancet Commission on planetary health’, The Lancet. Elsevier, 386(10007), pp. 1973–2028.
Zalasiewicz, J. et al. (2017) ‘Making the case for a formal Anthropocene Epoch: an analysis of ongoing critiques’, Newsletters on Stratigraphy. E. Schweizerbart’sche Verlagsbuchhandlung, 50(2), pp. 205–226.
Zalasiewicz, J., Williams, M. and Waters, C. N. (2014) ‘Can an Anthropocene Series be defined and recognized?’, Geological Society, London, Special Publications. Geological Society of London, 395(1), pp. 39–53.
Skala Waktu Geologi dibentuk berdasarkan bukti biologi, kimia atau fisik yang ada di batu dengan strata tertentu. Penentuan skala waktu geologi tidak dapat terlepas dari pendekatan stratigrafi tertentu. Stratigrafi digunakan untuk menyimpulkan sejarah geologi melalui jejak bebatuan yang ada. Bukti strata berdasarkan dua klasifikasi yaitu melalui geokronologi (penentuan interval waktu dengan melihat peristiwa tertentu) dan kronostratigrafi (klasifikasi material yang terekam membentuk strata tertentu). Contoh geokronologi: Periode Kuarter muncul sebab adanya peristiwa glasial yang muncul di belahan bumi selatan dan utara. Contoh kronostratigrafi: menyimpulkan Sistem Kuarter dibentuk karena strata-strata geologi selama Periode Kuarter.
Perubahan unit waktu juga dapat berubah ketika adanya temuan bukti-bukti yang mendukung, misalnya perubahan waktu permulaan Pleistosen yang terjadi sekitar 2.6 juta tahun lalu menggantikan waktu lama sekitar 1.8 juta tahun lalu secara formal (Gibbard et al., 2010). Perubahan ini lantas secara simultan akan menggeser waktu Epos Pleistosen dan Seri Pleistosen. Artinya, penandaan waktu geologi dapat berubahan kapanpun sering temuan bukti material baru yang mendukung. Hal ini juga berlaku bagi Antroposen yang memerlukan bukti material untuk membentuk epos dan serinya secara baik.
Untuk saat ini, Antroposen mungkin ditempatkan pada skala waktu yang lain, meskipun kita memahami bahwa Skala Waktu Geologis selalu bersifat hierarkis yang tersusun dari unit skala waktu terkecil yang lalu dikelompokkan secara bersamaan menjadi unit yang terbesar lihat Figure 1. Unit geokronologi terbesar adalah eons dengan eonothems sebagai pasangan kronostratigrafi materialnya. Saat ini kita hidup di Eon Fanerozoikum (~ 541 juta tahun lamanya) yang awalnya terkait dengan kemunculan diversitas organisme metazoa. Eon dibagi lagi menjadi era sehingga eonothems menjadi erathems. Era Kenozoikum adalah era yang bermula ketika meteorit besar mengakhiri dunia Mesozoikum di mana dinosaurus non-unggas di daratan dan ammonit di lautan sekitar 66 juta tahun lalu mengalami kepunahan. Setalah itu, lebih kecil lagi kita hidup di periode Kuarter di mana interval waktu sistem Bumi yang lebih dinamis dari fase glasial (Epos Pleistosen) menuju ke Epos Holosen. Seri Holosen tidak banyak tolak oleh ahli geologi karena bukti-buktinya sebagian besar dapat ditemukan di sedimentasi bebatuan, delta, dan es yang mengendap dan dapat dibedakan selama proses interglasial yang terbentuk. Alhasil, catatan Holosen lebih kaya secara arkeologis dan geologis. .
Skala Waktu Geologi membutuhkan beragam klasifikasi melalui pendekatan stratigrafi tertentu antara lain unit litostratigrafi, biostratigrafi, kemostratigrafi, dan magnetostratigrafi. Litostratigrafi mencari basis unit karakteristik fisik misalnya tubuh batuan yang sifatnya sinkronik (misalnya berdasarkan lapisan abu vulkanik) atau sifatnya diakronik (pengendapan yang progresif). Biostratigrafi lebih mengarah pada korelasi suatu strata berdasarkan kemunculan atau kepunahan suatu spesies tertentu yang berpijak pada temuan fosil tertentu. Kemostratigrafi menekankan perbedaan pola kimiawi pada strata dengan cara membandingkan stabiltas isotop misalnya isotop karbon atau isotop oksigen. Terakhir, magnetostatigrafi melihat pola pembalikan medan magnetik bumi. Beberapa pendekatan di atas digunakan untuk membangun analisis yang saling berkorelasi untuk menentukan suatu titik waktu secara valid.
Strategi yang paling menentukan untuk menentukan skala waktu geologi Antroposen ialah dengan cara membandingkan suatu pola kejadian di waktu masa lalu dengan masa kini. Artinya, Antroposen mungkin untuk dapat meminjam pola kejadian yang ada misalnya penanda kimia, temuan fosil tertentu, perubahan isotop global, dan pemanasan global. Secara umum, unit kronostratigrafi di Antroposen lebih melihat effect daripada cause, yang menjadikan tantangan tersendiri di mana pola Antroposen harus lebih memperlihatkan segi ‘dampak’ daripada penyebab yang ada. Sayangnya, kita selalu menempatkan manusia sebagai penyebaban.
Semisal kita mencari dampak yang terjadi maka yang sangat mungkin ialah melihat kembali bagaimana batasan antara Pleistosen-Holosen itu terjadi. Sedangkan untuk penamaan, Antroposen tidak menjadi masalah secara esensial karena beberapa nama skala waktu geologi juga terinspirasi dari suatu dominasi peristiwa atau spesies tertentu, misalnya unit waktu Kuarter yang terbagi menjadi Pleistosen yang artinya ‘still more new’ dan Holosen ‘fully new’ sudah menandakan bahwa penanda nama tidak menjadikan masalah bagi investigasi ilmiah geologi. Artinya, Antroposen sangat mungkin untuk diratifikasi asalkan memiliki bukti-bukti geologi yang kuat walaupun faktanya ada banyak ragam nama yang menunjukan potensi aktivitas antropogenik misalnya Antrosen (Revkin, 1992), Homogenosen (Samways, 1999), Myxosen (Pauly, 2010), Plastisen, Pyrosen, Plantationosen, Kapitalosen, Chthulusen (Haraway, 2015), dan lain sebagainya.
Perumusan Antroposen sudah sejatinya mengikuti kaidah geologi yang ada di mana berdasarkan ciri unit kronostratigrafi kapan awal mula Antroposen berlangsung (secara waktu fromal geokronologi) dan basis (secara paralel atas unit waktu-batu formal kronostratigrafi) serta harus selaras atau sinkronik dengan suatu peristiwa global yang dapat dibuktikan menurut ‘holy-trinity’: batu, fosil, dan waktu. Dengan demikian, Antroposen tidak lagi bergantung pada kerja aktivitas manusia tetapi lebih harus melihat pada aspek bukti geologinya misal melihat suatu perubahan global yang signifikan dari sudut pandang disrupsi atau perturbasi karbon dan siklus nitrogen.
Figure 2. Batas Peristiwa Kambrium dengan persitiwa kemungkinan batas Antroposen (Williams et al. 2014 dalam Zalasiewicz et al., 2019).
Adapun beberapa contoh pendefinisian unit skala waktu geologi dan perbandingannya untuk melihat sejauh mana potensi geologi Antroposen. Pertama, transisi dari Prakambrium (secara teknis dari Eon Proterozoik) ke Eon Phanerozoik yang disebabkan karena kemunculan bioturbasi atau pelapukan sedimen secara biologi di dasar laut sedangkan bila dibandingkan dengan transisi Holosen ke Antroposen maka yang sangat dimungkinkan adanya ‘antroturbasi’ karena aktivitas antroponik di permukaan atau bawah tanah. Kedua, transisi Ordovisium-Silurian sebagaimana teerjadinya perubahan secara drastis yang mengarah pada interglasial, kenaikan air laut, dan kepunahan massal di lautan. Apabila merujuk pada transisi terebut, Antroposen juga memiliki ciri khas yang kurang lebih sama di mana terjadinya peningkatan isotop karbon sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil sejak Revolusi Industrial serta berlanjut ditemukkannya material baru yang tidak pernah ada sebelumnya seperti plasik dan novel chemical—artificial radionuclides. Ketiga, transisi batas Mesozoik-Kenozoik memperlihat bagaimana pengaruh kepunahan kelima terjadi yang meninggalkan jejak level maksimal iridium yang meninggalkan jejaknya pada beberapa temuan fosil dan bebatuan. Artinya, jejak percobaan nuklir di pertengahan abad ke-20 sangat memungkinkan sebagai bentuk penanda waktu geologi baru. Keempat, transisi Paleosen-Eosen terkait teori Paleocene-Eocene Thermal Maximun (PETM) yang mempengaruhi proses perturbasi global dan pengasaman air laut di mana peristiwa tersebut juga sedang berlangsung di epos Antroposen. Terakhir, batasan Pleistosen-Holosen sebagai waktu geologis terdekat sehingga sangat memungkinkan untuk melihat lebih mendalam bagaimana proses aktivitas antropogenik ikut berperan aktif meskipun tidak secara dominan mempengaruhi transisi tersebut. Pada batasan yang terakhir, mulai terlihat peran manusia misalnya sejak masa berburu dan meramu: manusia ikut bertanggung jawab atas ‘kepunahan sebagian spesies purba’.
Penutup-Catatan
Hal yang dapat kita pelajari bersama yakni proses ratifikasi bukanlah perkara sederhana. Diperlukan banyak bukti tidak hanya secara konseptual tetapi juga secara ilmiah-geologis untuk menunjukkan di mana letak ‘golden spike’ Antroposen. Untuk saat ini, Antroposen dapat diterima sebagai konsep, wacana, atau bahkan pegangan bagi siapapun yang telah menyadari bahwa waktu saat kita membaca artikel ini akan berbeda dengan waktu 11.700 tahun lalu. Antroposen nyata sebagai realitas ‘keberadaan relasi manusia dan geologi’ tetapi tidak sebagai realitas unit waktu geologi yang utuh.
Referensi
Gibbard, P. L., Head, M. J., & Walker, M. J. C. (2010). Formal ratification of the Quaternary System/Period and the Pleistocene Series/Epoch with a base at 2.58 Ma. Journal of Quaternary Science, 25(2), 96–102.
Haraway, D. (2015). Anthropocene, capitalocene, plantationocene, chthulucene: Making kin. Environmental Humanities, 6(1), 159–165.
Pauly, D. (2010). 5 easy pieces: the impact of fisheries on marine ecosystems. Island press.
Revkin, A. (1992). Global warming: understanding the forecast. Abbeville Press New York.
Samways, M. (1999). Translocating fauna to foreign lands: here comes the Homogenocene. Journal of Insect Conservation, 3(2), 65–66.
Sejak Crutzen dan Stroermer (2002) mempromosikan Antroposen sebagai wacana informal geologi, atensi sejumlah pemikir geologi semakin meingkat tentang keberpihakannya pada tesis dampak aktivitas manusia dengan perubahan sistem Bumi (Waters et al., 2014; Zalasiewicz, 2011; Zalasiewicz et al., 2008). Faktanya, proses ratifikasi Antroposen tidak mudah untuk diterima begitu dan harus mengikuti persyaratan formal perumusan Skala Waktu Geologi baru yang memasukan perspektif dua waktu hirarki paralel, secara teknis melalui geokronologi dan/atau kronostratigrafi. Sedangkan untuk mendefinisikan Antroposen diperlukan verifikasi temuan geologi yang berpijak pada persyaratan GSSP. AWG selaku komunitas ilmiah yang bekerja untuk riset analisis status epos Antroposen telah menemukan setidaknya beberapa bukti antara lain:
Mempertimbangkan Antroposen sebagai ‘realitas’ geologi yang bukti subtansialnya telah terbentuk (Zalasiewicz, 2011; Zalasiewicz et al., 2008).
Pertimbangan dari segi determinasi titik awal yang menyarankan rentang waktu dari ‘Antroposen awal’ yang dimulai dari tingkatan waktu sekitar ribuan tahun lalu (Ruddiman, et al., 2015; Smith & Zeder, 2013); lantas berkembang sejak awal abad ke-17 dan disusul dengan masa penjelajahan (Lewis & Maslin, 2015); akhir abad ke-18 dan mulainya Revolusi Industri (Crutzen, 2016; Zalasiewicz et al., 2008); serta terakhir, pertengahan abad ke-20 dan ‘Great Acceleration’ atas percepatan aktivitas manusia dalam segala aspek kehidupan terutama sosial-ekonomi (Lewis & Maslin, 2015; Steffen et al., 2015; Steffen et al., 2016; Zalasiewicz et al., 2015).
Pertimbangan level potensial unit Antroposen melalui hirarki straigrafik, misalnya sebagai age / stage atau subdivisi lain dari Holosen, atau epoch / series baru yang harus menggantikan Holosen sebagaimana tesis awal Crutzen (2002).
Pertimbangan strategi bagaimana awal/base Antroposen dapat didefinisikan, entah melalui GSSP (golden spike): contoh batasan kronostratigrafi dalam Phanerozoik, atau dengan penaggalan numerik (numerical age) atau GSSA: contoh kasus batasan Prekambrian.
Fokus utama tesis Antroposen umumnya mengarahkan pada pembuktian level yang paling optimal untuk titik waktu sekitar pertengahan abad ke-20. Pada artikel ini, Zalasiewicz dan Waters (2018) tidak banyak mengungkapkan bagaimana Antroposen dapat diratifikasi melalui GSSP atau pencarian akan golden spike yang ada karena kesulitan pembuktian adanya kunci situs yang sinkronik dan global. Termasuk level penanda primer dan sekunder yang dapat diakses secara berkelanjutan. Pendekatan GSSP sangat cocok untuk meneliti ‘masa lalu’ yang telah membentuk stabilitas fosil dan sedimentasi batuan. Meskipun terdengar sulit tetapi AWG tetap berusaha keras untuk pembuktian GSSP dan GSSA yang secara ilmiah geologis dapat dipertanggung jawabkan.
Penandaan numerik GSSA dapat menjadi alternatif meskipun akan sangat rumit dan ambigu untuk mengarahkan potensi permulaan Antroposen berrlangsung. Zalasiewicz et al. (2014) mengajukan tesis sejak pertama kali bom atom diledakan pada 16 Juli 1945 di Alamogordo, Meksiko. Momen ini dianggap penting karena menandai diseminasi wujud radioaktif baru serta melahirkan awal the Great Acceleration (Steffen et al., 2015) yang akan mempengaruhi sistem Bumi selanjutnya. GSSA mungkin tidak secara normal stabil untuk memperlihatkan formalitas titik waktu Antroposen, namun akan sangat mudah untuk menandainya bahwa fase Antroposen telah ada. Oleh karena itu, untuk merespons ketidakstabilan GSSA maka diperlukan pendekatan khusus untuk membuktikan adanya potensi titik GSSP untuk geologi Antroposen.
Beberapa riset telah dilakukan untuk menspesifikasikan GSSP Antroposen. Pertama, tesis ‘awal’ mula Antroposen yang mengarah pada persebarasan lapisan tanah Antroposen oleh Certini and Scalenghe (2011). Tesis ini cukup bermasalah karena hilangnya potensi bukti yang stabil meskipun secara historis sangat memungkinkan mencari jejak-jejak persebaran peradaban prahistoris (Certini & Scalenghe, 2011). Kedua, tesis persitiwa Orbis oleh Lewis dan Maslin (2015) yang diasosiasikan dengan waktu kolonialisasi abad ke-17 yang secara signifikan memunculkan perubahan fase skilus CO2 di atmosfer. Tesis ini dianggap kurang ideal dan proposional karena kisaran variabilitasnya tidak begitu jauh dengan potensi yang ada di Holosen. Begitupun demikian dengan riset dari Wolfe et al (2013) tentang temuan 28 bagian danau utara yang ada di Zona Arktik dan pegunungan Amerika Utara untuk menunjukan transisi Holosen-Antroposen melalui perubahan sistematis antropogenik dalam isotop nitrogen dan mikrofosil yang dimulai ~1850 tetapi penanda ini semakin meningkat sejak ~1950 dan ~1980 (Wolfe et al., 2013). Rose (2015) menemukan distribusi fly-ash atau SCPs yang berpotensi sebagai penanda utama Antroposen, meskipun secara temuan kemunculan SCPs dapat dilacak sekitar tahun 1830an sebagai respons atas permulaan Revolusi Industrial akan tetapi peingkatan secara signifikan muncul sekitar tahun 1950an (Rose, 2015). Suksesi lain muncul terkait temuan distribusi radionuklida buatan yang tersebar secara global akibat uji coba bom nuklir dari 1950an (Waters et al., 2015) yang tercatat dalam sedimen lakustrin, sedimen pesisir, termasuk di salju kutub dan lapisan es (Wolff, 2014), bahkan adanya peningkatan produksi 14C (Karbon-14), yang mendendap di lingkaran pohon ‘tree rings’ (Lewis dan Maslin, 2015). Distribusi polutan organik yang baru juga memperkuat adanya sinyal Antroposen.
Catatan: Penutup Diskusi
Posisi yang paling rasional ialah menunda ratifikasi Antroposen atau mencari bukti yang ‘terlalu’ banyak tersebar. Alhasil, hanya menilik pertengahan abad ke-20 pada fase Great Accelaration akan sangat mungkin dipertimbangkan sebagai titik permulaan Antroposen. Hampir mayoritas kandidat stratotip Antroposen tersebar di wilayah daratan maupun sedimentasi lautan. Penanda lain juga dapat ditemukan dari sinyal antropogenik, seperti radionuklida buatan, SCPs, pestisida, plastik dan lain sebagainya.
Ratifikasi Antroposen akan terhambat apabila harus mengikuti aturan-aturan formal sebagaimana penulisan skala waktu geologi sebelumnya, tetapi akan sangat mungkin apabila seleksi GSSA dapat diprioritaskan terlebih dahulu daripada GSSP (Zalasiewicz et al., 2014). Fungsinya untuk mencari titik pewaktuan terlebih dahulu untuk kemudian mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung formalisasi Antroposen. Atau secara lebih radikal, GSSA dan GSSP dapat menjadi bagian komplementer atau pendukung data setelah eksplorasi jejak material yang dapat direkam melalui observasi dan pendokumentasian atas batas kalender tahun temporal (age atau subdivisi) untuk menghasilkan stratigrafi Antroposen yang efektif dalam konteks pengarsipan sejarah geologi manusia.
Referensi
Certini, G., & Scalenghe, R. (2011). Anthropogenic soils are the golden spikes for the Anthropocene. The Holocene, 21(8), 1269–1274.
Crutzen, P. J. (2016). Geology of mankind. In Paul J. Crutzen: A Pioneer on Atmospheric Chemistry and Climate Change in the Anthropocene (pp. 211–215). Springer.
Lewis, S. L., & Maslin, M. A. (2015). Defining the anthropocene. Nature, 519(7542), 171–180.
Rose, N. L. (2015). Spheroidal carbonaceous fly ash particles provide a globally synchronous stratigraphic marker for the Anthropocene. Environmental Science & Technology, 49(7), 4155–4162.
Ruddiman, W. F., Ellis, E. C., Kaplan, J. O., & Fuller, D. Q. (2015). Defining the epoch we live in. Science, 348(6230), 38–39.
Smith, B. D., & Zeder, M. A. (2013). The onset of the Anthropocene. Anthropocene, 4, 8–13.
Steffen, W., Broadgate, W., Deutsch, L., Gaffney, O., & Ludwig, C. (2015). The trajectory of the Anthropocene: the great acceleration. The Anthropocene Review, 2(1), 81–98.
Steffen, W., Leinfelder, R., Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Summerhayes, C., … Edgeworth, M. (2016). Stratigraphic and Earth System approaches to defining the Anthropocene. Earth’s Future, 4(8), 324–345.
Waters, C. N., Zalasiewicz, J. A., Williams, M., Ellis, M. A., & Snelling, A. M. (2014). A stratigraphical basis for the Anthropocene? Geological Society, London, Special Publications, 395(1), 1–21.
Wolfe, A. P., Hobbs, W. O., Birks, H. H., Briner, J. P., Holmgren, S. U., Ingólfsson, Ó., … Saros, J. E. (2013). Stratigraphic expressions of the Holocene–Anthropocene transition revealed in sediments from remote lakes. Earth-Science Reviews, 116, 17–34.
Wolff, E. W. (2014). Ice sheets and the Anthropocene. Geological Society, London, Special Publications, 395(1), 255–263.
Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Barnosky, A. D., Cearreta, A., Crutzen, P., … Grinevald, J. (2015). When did the Anthropocene begin? A mid-twentieth century boundary level is stratigraphically optimal. Quaternary International, 383, 196–203.
Zalasiewicz, J., Williams, M., Haywood, A., & Ellis, M. (2011). The Anthropocene: a new epoch of geological time? The Royal Society Publishing.
Zalasiewicz, J., Williams, M., Smith, A., Barry, T. L., Coe, A. L., Bown, P. R., … Gibbard, P. (2008). Are we now living in the Anthropocene? Gsa Today, 18(2), 4.
Untuk mengakhiri perdebatan Antroposen maka diperlukan suatu legitimasi pendekatan geologi. Salah satunya melalui pencarian golden spike atau titik paku emas yang dapat didefinisikan melalui Global Stratotype Sections and Points (GSSPs). GSSP membangun batas bawah (lower boundaries) semua tahap geologi berdasarkan fosil diskrit serta peristiwa fisik yang saling berkorelasi dan terekam pada jejak bebatuan (Gradstein and Ogg, 2005). Setiap GSSP menjelaskan pembagian waktu geologi. Misalnya, lebih dari 25 tahun lalu telah ditemukan golden spike pertama yang membatasi Devonian dan Silurian yang berlokasi di Ceko. Mengapa GSSP diterima para ahli geolog? Karena GSSP dapat dijelaskan dengan multi kriteria yang sifatnya sinkronik secara global. Adapun beberapa kriterianya antara lain: pembalikan geomagnetik, perubahan nilai isotop global, dan kemunculan taksa fosil yang menggambarkan persebaran makhluk hidup tertentu secara luas. Sedangkan pada kasus Antroposen, tidak semua kriteria dapat dipenuhi, namun ada satu kriteria paling menonjol yang muncul pada sejak tahun 1950an. Perubahan global dalam nilai isotop stabil (dan radioaktif), sangat jelas menandai perubahan dramatis dalam sistem bumi. Tetapi, perlu menjadi catatan bahwa fenomena yang baru ini tidak dapat didukung dengan sejumlah catatan sisa-sisa fosil makhluk hidup tertentu terlebih pada aspek kriteria perubahan medan magnetik yang menandai perlintasan Holosen-Antroposen. Lantas, apakah epos Antroposen dapat diterima begitu saja?
Perlu bukti GSSP formal?
Menurut Remane et al., (1996) The International Commission on Stratigraphy telah memberikan perincian kriteria terkait standar kronostratigrafi global sebagai berikut:
GSSP harus menjelaskan batas terbawah (the lower boundary) dari suatu tahap geologi tertentu.
The lower boundary dapat dijelaskan dengan penanda utama atau primary marker, tetapi juga dapat dengan pendanda sekunder (secondary markers) yang mendukung seperti misalnya: fosil, kimia, atau penanda geofisik lainnya.
Horizon penanda batas seharusnya dapat ditandai secara radiometrik.
Penanda harus secara regional dan secara global cosynchronous
Sedimentasi harus berkelanjutan
Urutan (sequence) tidak dipengaruhi oleh tektonik dan gerak sedimentasi serta metamorfosisme.
Dapat diakses secara terbuka, berlokasi secara jelas, dan dalam kondisi baik untuk secara ekstensif cukup untuk penelitian berkelanjutan (Remane et al., 1996).
Berpijak pada standar kriteria GSSP, untuk kasus Antroposen, Ellias (2018) hanya menegaskan tidak semua (tujuh standar kriteria) ada pada tesis Antoposen. Pertama, titik golden spike Antroposen masih diperdebatakan, hal itu dikarenakan keunikan epos Antroposen yang masih berproses dan belum dapat diprediksi kapan berakhirnya. Kedua, penanda utama batas Antroposen belum dapat dipastikan secara jelas, termasuk penanda sekunder seperti fosil yang hanya dapat diaplikasikan pada epos sebelumnya, sedangkan Antroposen masih berproses. Salah satu aspek ini yang memaksa para ahli geologi untuk ‘think outside the box’ di mana harus mampu menggali kembali aspek yang baru atau di luar standar kriteria yang ada, misalnya dengan menyilangkan temuan non-geologis lainnya. Ketiga, penanggalan radiometrik secara formal harus dimiliki oleh Antroposen agar tidak jatuh hanya pada penjelasan diskriptif. Penanda ini dapat ditemui dari jejak-jejak pasca perang dunia kedua terlebih saat uji-coba nuklir.
Keempat, penanda Antroposen lebih cenderung pada temuan-temuan yang sifatnya sedimentasi lingkungan tertentu yang secara regional lebih terlihat namun secara global belum dapat disimpulkan saling bertalian atau sinkronik. Artinya, bukti Antroposen sangatlah beragam dan banyak maka perlu adanya pendekatan khusus untuk memilah milih kembali. Kelima, keberpanjutan sedimentasi menjadi kesulitan tersendiri bagi epos Antroposen sendiri, karena secara umum semua epos geologi ialah prehistoris. Investigasi jejak rekam geologi akan sulit jika belum menemukan kapan Antroposen dimulai. Keenam, karena Antroposen baru dimulai maka jejak-jejak sedimentasinya masih belum terganggu karena proses tektonik atau metamorfosis. Simpulan yang muncul terhadap GSSP epos Antroposen ialah bahwa Antroposen tidak secara penuh dapat cocok dengan model klasik yang selalu mengarah pada peristiwa masa lalu. Antroposen mungkin akan tepat jika representasikan dengan perubahan iklim global saat ini, sebagaimana masa transisi Pleistosen akhir ke Holosen, atau mencari bukti-bukti kepunahan massal yang sedang terjadi saat ini, meskipun secara geologis bukti kepunahan massal tidak dapat diterima begitu saja.
Pencarian Bukti Geologi
Geologi Antroposen secara intuitif memiliki ‘sinyal’ kuat tetapi tidak secara penuh dapat direkoginisi melalui pendekatan geologi. Adapun beberapa temuan ‘sinyal’ akan bukti-bukti geologi Antroposen. Pertama, bukti Antroposen dimulai merujuk pada keunculan polutan kimiawi yang memberikan dampak negatif pada lingkungan sejak tahun 1950an. Tesis ‘1950’ dipertahankan karena telah ditemukan beragam isotop baru termasuk dua isotop plutonium 239Pu dan 240Pu. Selain itu, juga meningkatnya penggunaan nitrogen dalam pupuk kimia sejak tahun 1950an yang mengarahkan pada perubahan siklus nitrogen, Persistent organic Polutants (POPs), polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), serta polychlorinated Biphenyls (PCBs) juga mempengaruhi bentukan sedimentasi baru yang semuanya berasal dari limbah pestisida atau penggunaan perlengkapan rumah tangga elektrik. Bukti kedua, ialah perubahan struktur lahan yang disebabkan karena aktivitas antropogenik, mulai dari alih fungsi lahan untuk limbah, reklamasi lahan, dan termasuk pertanian. Hal ini juga disebabkan karena meningkatnya jumlah populasi manusia sehingga perubahan fungsi lahan semakin signifikan. Contoh paling menarik yakni mega-proyek The London Crossrail Project yang mengubah struktur dasar tahan tidak hanya permukaan tetapi masuk hingga sejauh 40 meter di bawah tanah.
Figure 1. Cross-section tanah dan sekuensi lapisan tanah yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Ketiga, adanya tanda isotopik khas yang muncul selama perkembangan peradaban manusia mulai dari penggunaan timah dan belerang sampai temuan tambang batu bara. Isotop belerang misalnya dapat digunakan untuk melacak polusi karena alam berasal dari letusan gunung berapi atau kebakaran hutan, namun aktivitas antropogenik muncul dari adanya pembakaran batubara di pembangkit listrik yang meningkatkan jumlah fly-ash. Meningkatnya isotop karbon dan nitrogen sejak Revolusi Industri terlebih sejak tahun 1950an yang bersumber dari konsumsi bahan bakar fosil serta produksi pupuk yang meningkat. Tingkat keasaam air laut ikut berubah seiring meningkatnya siklus kimiawi antropogenik secara drastis sejak 50 juta tahun terakhir. Keempat, spherical carbonaceous particles (SCPs) sebagai penanda Antroposen lainnya sebagai bagian dari fly-ash yang terbentuk dari pembakaran suhu tinggi bahan bakar fosil sebagaimana minyak dan batu bara yang digunakan untuk mendukung suplai energeni termasuk listrik. Hari ini listrik menjadi kebutuhan utama manusia. Kelima, siklus hidrologi, permintaan sumber daya air di seluruh dunia sangatlah besar dan tidak sebanding dengan siklus air atau pemerataan sumber mata air ang ada. Bukti Antroposen dapat dilacak melalui perubahan siklus hidrologis termask bukti material antropogenik yang dapat ditemukan di lapisan sedimentasi es di Antarika dan Greenland. Terakhir, ialah perubahan landaskap yang mengarahkan pada relasi antara perkembangan peradaban manusia dan perubahan atau transformasi landaskap yang ada, selain itu karena adanya perubahan landaskap ini maka secara tidak langsung telah mengubah habitat makhluk hidup lain yang menyebabkan rusaknya rantai kehidupan. Kerusakan ini membawa dampak pada kelangkaan sumber daya alam dan juga potensi atas kepunahan-kepunahan massal berikutnya.
Catatan Penutup
Semua skema klasifikasi geologi sejatinya ialah artifisial atau buatan yang dikonstruksikan oleh manusia yang hanya digunakan untuk memudahkan kita memahami dunia geologi. Lagipula, argumentasi tentang transisi waktu geologi Antroposen tidak dapat ditolak semena-mena tanpa mempertimbangkan kondisi faktual yang ada saat ini. Kita semua menyadari bahwa peruahan besar sedang terjadi dan berskala global. Aktivitas antropogenik juga telah berkontribusi meningkatkan level gas rumah kaca sejak lima juta tahun yang lalu. Perubahan ini mirip ketika masa transisi dari Paleosen ke Eosen sekitar 56 juta tahun lalu. Temuan plastik oleh manusia juga telah mengubah horizon permukaan terestrial bumi dan sedimen laut. Basis ‘horizon plastik’ iuni sangat mungkin sebagai penanda awal Antroposen yang berciri khas sinkronik dengan layer isotop radioaktif yang ada diseluruh dunia sebab adanya uji coba senjata nuklir. Potensi titik tersebut tidak berbeda dengan temuan atas batas K-T penandanya karena temuan iridium sejak tumbukan asteroid meninggalkan jejak di Bumi sekitar 65 juta tahun lalu. Oleh karena itu, pembuktian Antroposen yang terbaik dan sangat mungkin berpusat pada tahun 1950an. Antroposen masih terus berproses sejak 50 tahun terakhir. Antroposen untuk saat ini tidak dapat dijelaskan secara formal, namun secara kerangka intutif semua orang dapat menerima bahwa kita semua telah bertransisi pada satu titik waktu tertentu. Setidaknya ada konsekuensi lain jika Antroposen benar-benar diratifikasi maka akan muncul banyak perspektif baru termasuk perspektif akan bahaya kepunahan umat manusia itu sendiri.
Referensi: Gradstein FM and Ogg JG (2005) Time scale. In: Selley RC, Cocks RM, and Plimer IR (eds.) Encyclopedia of geology, pp. 503–520, Amsterdam: Elsevier
Remane J, Bassett MG, Cowie JW, Gohrbandt KH, Lane H, et al. (1996) Revised guidelines for the establishment of global chronostratigraphic standards by the International Commission on Stratigraphy (ICS). Episodes 19: 77–81