Catatan Antroposen #4

Basis for Establishment of Geologic Eras, Periods, and Epochs
SA Elias (2018)

Penelusuran dan pengembangan pembagian skala waktu geologi tidak dapat terlepas dari proses intelektual filsuf alam ketika memahami dan menjelaskan dunia natural. Proses interpretasi tentang realitas dunia biologis memanglah tidak sempurna tetapi berkembang secara bertahap selama 4 abad terakhir. Systema Naturae (1758) karya Linnaeus mencoba untuk membagi organisasi menjadi dua kerajaan: Hewan dan Tanaman. Klasifikasi ini berdasarkan lima tingkatan: kingdom, kelas, ordo, genus, dan spesies. Hampir sekitar 10.000 spesies hewan dan tanaman diberi nama untuk diabadikan sebagai bagian dari investigasi biologis. Sedangkan di bidang geologi, skema klasifikasi formasi bebatuan di bumi muncul antara abad ke-18 dan ke-19.

Awal abad ke-19, ilmu pengetahuan sendiri berkembang sangat pesat. Banyak perubahan paradigma serta spesialisasi ilmu untuk mengantisipasi keberagaman objek ilmu termasuk mulai melepaskan diri dari pengaruh pemahaman religius. Pertama kali geologi lebih mengarah pada perbandingan kandungan mineral batuan tertentu sekitar abad ke-16 dan ke-17. Sistematisasi geologi membantu perkembangan pertambangan. Temuan pembagian skala waktu geologi tidak terlepas dari jasa Nicolas Steno (1638-1686) yang membang dua dasar prinsip geologi terkait sedimentasi bebatuan. Sejak itulah, strata kemewaktuan geologi mulai dibagi menjadi Primary, Secondary, Tertiary, dan Quternary oleh Giovanni Arduino (1714-1795). James Hutton (1726-1797) memperkenalkan tentang komposisi struktur dasar geologi dan representasi keteraturan peristiwa yang terulang dan saling mempengaruhi. Istilah ini sering dikenal sebagai Uniformitarianisme yang juga diperkenalkan oleh Charles Lyell sebagai seorang geolog sekaligus partner Charles Darwin terkait investigasi evolusi biologi. Barulah William Smith mengklasifikasikan horizon stratigrafik dan juga mempertimbangkan peran karakteristik fosil untuk membaca suatu masa geologi tertentu. Figure 1 memperlihatkan bagaimana era dan periode geologi berpijak pada karakteristik khas lingkungan biologis tertentu yang kemudian mengarahkan penamaan suatu masa secara formal. Misalnya, nama era Mesozoik artinya era geologi pertengahan dan nama periode Jura merujuk pada dominasi reptil raksasa.

Figure 1. Pembagian Era dan Periode berdasarkan karakteristik biologi dan lingkungan.
Figure 2. Perbandingan Geokronologi dan Kronostratigrafi.

Spesifikasi waktu juga diturunkan dari Periode ke Epos lalu ke Zaman (Age), misalnya sekarang manusia berada pada Periode Kuarter, Kala Holosen, dan Zaman Meghalayan. Selama hampir 150 tahun terakhir, perdebatan penadaan waktu geologis secara tepat dapat terbantu dengan adanya teknik penanggalan radiometrik yang merunut pada GSSPs (Global Stratotype Sections and Points). GSS dapat merunut pada dua hal, pertama secara Geokronologi (unit waktu) yang mengekspresikan pewaktuan atau suatu peristiwa paling unik sepanjang sejarah Bumi. Artinya, geokronologi lebih pada mengkualifikasikan bebatuan berdasarkan tingkatan interval waktu saat terbentuk, sedangkan Kronostratigrafi berkaitan dengan umur batuan dan penanggalan yang relatif (unit waktu-batuan) (Zalasiewicz et al., 2013).

Figure 3.  Beberapa lokasi “golden spike” GSSP di setiap situs. (A) Situs GSSP di Perbukitan Ediacara, Pegunungan Flinders, Australia Selatan. Perunggu plakat menandai paku emas yang menandai berakhirnya Era Prakambrium (foto dari Wikipedia); (B) situs GSSP di Taman Nasional Pegunungan Guadalupe, Texas, menandai awal zaman Wordian, bagian dari Zaman Guadalupian pada Zaman Permian yang mencakup selang waktu dari 268,8 hingga 265,1 juta tahun lalu (foto oleh National Park Service, Amerika Serikat; (C) Situs GSSP dekat Pueblo, Colorado, menandai dimulainya zaman Turonia, zaman kedua di Zaman Kapur Akhir, atau tahapan dalam seri Kapur Atas. Ini mencakup waktu antara 93,9 0,8 dan 89,8 1 juta tahun yang lalu (foto oleh Brad Sageman, Universitas Northwestern);  (D) Situs GSSP di Taman Nasional Pegunungan Guadalupe, Texas, menandai dimulainya zaman Capitanian, tepat di atasnya the Wordian age (foto oleh National Park Service, Amerika Serikat). (Sumber: Ellas, 2018: 14).

Catatan:

Melalui golden spike atau paku emas, GSSP dapat menetapkan batas paling mendasar dari semua tahapan geologi. GSSP dapat berdasarkan fosil diskrit dan peristiwa fisik yang berkorelasi baik dalam catatan batuan secara global. Sudut pandang Antroposen mungkin akan jauh brbeda dengan model pendekatan geologi secara klasik yang hanya menekankan dan bergantung dengan data di masa lalu. Antroposen menjadi sangat menarik karena melibatkan suatu kondisi yang sedang berlangsung dan belum final. Hanya saja, mungkin pendekatan yang harus dilakukan secara lebih komprehensif, misalnya menelisik tentang trajektori kepunahan sepanjang sejarah geologi termasuk sejarah manusia di dalamnya (Ceballos et al., 2015).

Referensi:

Ceballos, G. et al. (2015) ‘Accelerated modern human–induced species losses: Entering the sixth mass extinction’, Science advances. American Association for the Advancement of Science, 1(5), p. e1400253.

Zalasiewicz, J. et al. (2013) ‘Chronostratigraphy and geochronology: a proposed realignment’, GSA Today, 23(3), pp. 4–8.

Catatan Antroposen #3

History and Development of the Anthropocene as a Stratigraphic Concept

Grinevald, J. dkk (2019: 4-10)

Antroposen telah menjadi semacam perubahan paradigma di bidang geologi, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Antroposen merupakan konsep yang terbilang cukup lama sebagai sebuah perspektif tentang hubungan manusia dan bumi (Uhrqvist & Linnér, 2015). Gagasan lama ini merujuk pada tindakan kolektif manusia dalam konteks geomorfologi dan agensi geologi yang mempengaruhi atau mengubah bumi (Glacken, 1956), pandangan ini tidak terlepas dari kontribusi pandangan filsafati Rene Descartes dan Francis Bacon. Rasionalitas masa modern awal dan pencerahan ini mengarah pada bagaimana alam dapat ditundukan, mentrasformasi alam, tetapi tidak sampai berujung pada konteks skala waktu geologi dan proses biosferik. Apresiasi ilmiah pada konsep dualistik manusia dan alam ini baru mulai disadari pada awal tahun 2000an oleh Crutzen, didukung oleh AWG pada tahun 2008 oleh Zalasiewicz dkk, dan dilanjutkan pada pembahasan historis oleh (Steffen, Grinevald, Crutzen, & McNeill, 2011) termasuk komprehensivitas pembahasan yang lebih mendalam oleh (Davis, 2011; Hamilton & Grinevald, 2015).

            Pandangan tentang Antroposen juga bermuara dengan meningkatnya jumlah populasi manusia, terutama ketika munculnya penjelajahan dunia Barat, sekaligus pertama kalinya membuat formalisasi kronologis secara sistematis sebagai basis bukti geologis tentang pembagian skala waktu geologi. Buffon menulis tentang The Epochs of Nature (1778) (Terj. Zalasiewicz, dkk., 2018) yang merangkai tentang historisitas bumi dari sudut pandang geologi untuk pertama kalinya. Buffon menjelaskan tujuh tahap epos yang telah terjadi di bumi mulai dari perubahan formasi endapan bebatuan, sedimentasi, suhu, air laut, dan perbedaan bentuk kehidupan biologis yang tersebar. Manusia masuk pada epos terakhir termasuk bagaimana proses transisi dari manusia yang ‘bar-bar’ menuju masyarakat yang ‘beradab’. Manusia yang lebih maju ini juga memiliki dampak pada perubahan corak cocok tanam dan penggunaan bahan bakar fosil termasuk batu bara (comte de Buffon, 2018). Catatan Rudwick mengungkapkan bahwa pemikiran Buffon mempengaruhi masa intelektual tentang ‘gagasan zaman manusia’ sebelum era industrialisasi (Rudwick, 2005, 2010).

            Pemikiran manusia sebagai agen geologi mulai resmi dipublikasikan oleh para naturalis pertengahan abad ke-19. Thomas Jenkyn (1854) dikutip oleh (Lewis & Maslin, 2015), yang menulis tentang “epos manusia” atau Antropozoik. Gagasan Jenkyn dilanjutkan oleh Hughton (1865) dan geologi Stoppani (1873) yang mengaitkan sejak pasca zaman Kristiani bumi telah mengalami perubahan. Meskipun demikian, temuan Jenkyn dianggap tidak menjelaskan kebaruan di bidang geologi karena menyiratkan pandangan teologis di dalamnya. Charles Lyell menggunakan kata ‘terbaru’ untuk merujuk kondisi skala waktu geologi terkini sehingga Paul Gervais (1860) menyebutnya sebagai epos Holosen. Holosen lalu diadopsi oleh The Third International Geological Congress of 1885. yang telah menandai waktu pasca glasial Pleistosen dan peningkatan suhu air laut, tetapi masih merekogonisi pada aktivitas manusia secara lokal yang menjadi bagian karakteristik utama Holosen.

            Periode Quaternary (Gibbard & Head, 2009), secara keseluruhan merepresentasikan Zaman Es yang dibuktikan dengan munculnya diversitas manusia purba meskipun secara geologi dan ekologi tidak begitu signifikan pengaruhnya. Pada pertengahan abad ke-20, seorang geokimia dan geolog dari Soviet, Vladimir I. Vernadsky memberikan persamaan nama lain yang merujuk pada Antropogen, atau Antropozoik (versi Pavlov), atau Psikozoik (versi Schuchert), yang semuanya merujuk pada perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia.  

            Litostratigrafi menjadi penarikan awal Antroposen, yang melibatkan penelitian tentang perubahan sedimentasi batuan yang disebabkan oleh adanya penambangan yang juga terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil yang memicu perubahan temperatur Bumi. Analisis geologis ini dimulai pada awal abad ke-20, melalui temuan Mars, Sheclock dan Arrhenius. Temuan mereka telah memicu pandangan tentang perubahan iklim yang berbanding lurus dengan kemajuan teknologi pada pertengahan 1950an (Grinevald et al., 2019)

            Pengembangan konsepsi Antroposen dilirik oleh Pierre Teilhard de Chardin dan Edourad Le Roy pada kerangka filosofis tentang Biosfer dan Noosfer. Sebagaimana gagasan (Vernadsky, 1998) tentang noosfer yang mencakup antroposfer dan teknosfer, ide tentang “Wajah Bumi” yang diturunkan dari perubahan massif manusia pada awal abad ke-20 terutama pasca perang dunia kedua. Kompleksitas perubahan ini mendapat tanggapan dari sudut pandang hipotesis “Gaia” oleh (Lovelock & Margulis, 1974). Gaia membahas bahwa kehidupan dibumi bergerak secara bersamaan, saling mempengaruhi, dan saling mengubah satu sama lain, termasuk manusia yang telah mengubah wajah permukaan bumi. Konsep hipotesis ‘Gaia’ ini juga tidak bisa dilepaskan dengan percepatan perkembangan teknologi dan ilmu.

            Vernadsky juga menginspirasi Crutzen dan Stroermer (2002) sebagai bagian dari justifikasi tesis Antroposen. Para ahli geologi juga banyak mengikuti gagasan Crutzen tentang Antroposen tetapi dalam konteks penentuan titik-titik transisi Antroposen via penanggalan radiometrik yang sifatnya global. Uniknya, pembahasan Antroposen ini mendapatkan respons yang pro dan kontra di kalangan komunitas ilmiah baik geologi dan non-geologi. Misalnya, Adanya pandangan yang mengartikan bahwa Antroposen lebih mengarah pada sejarah awal manusia sehingga lebih dekat pada pembahasan Antropologi, Arkeologi, serta penulisan Sejarah (Stan C Finney, 2014; Stanley C Finney & Edwards, 2016).

            Formalisasi Antroposen tidak hanya berhenti menjadi sekedar wacana di antara komunitas ilmiah. Zalasiewicz dkk pada tahun 2008 memulai penelitian formal Antroposennya dengan membangun AWG (Anthropocene Working Group). AWG berfungsi sebagai komunitas ilmiah resmi yang meneliti tentang Antroposen. Tesis utama mereka mengarah pada pencarian global spike Antroposen sehingga secara tidak langsung mengakhiri penanggalan waktu Holosen. Zalasiewicz membawa pemahaman Antroposen secara formal dalam konteks geologi, melalui penelitian stratigrafi. Zalasiewicz menolak keras interpretasi Antroposen secara non-geologis karena hal ini akan menghadirkan kerancuan pada konteks interpretasi Antroposen (Zalasiewicz et al., 2018).

            Eksplorasi interpretasi non-geologi memberikan variasi pandangan tentang perubahan geologi dari sudut pandangan yang lebih mengarah pada ilmu sosial, humaniora, dan seni, sebagaimana diikuti oleh beberapa pemikir antara lain: (Altvater et al., 2016; Angus, 2016; Bonneuil & Fressoz, 2016; Chakrabarty, 2014; Clark & Yusoff, 2017; Davies, 2016; Hamilton, 2017; Hansen, 2013; Latour, 2017; McNeill, 2001; McNeill & Engelke, 2016; Turpin & Davis, 2015; Yusoff, 2018). Oleh karena itu, Antroposen kemudian dipahami sebagai sebuah ukuran tertentu mengenai kontekstualisasi ‘deep-time’ aktivitas antropogenik yang mengubah bumi beserta dampaknya. Pendekatan lain disebut sebagai ‘multi-proxy’ dalam riset stratigrafi sebagai indikator Antroposen (Steffen, Broadgate, Deutsch, Gaffney, & Ludwig, 2015; Steffen, Crutzen, & McNeill, 2007) serta pendekatan konsep batasan keplanetan ‘the planetary boundaries’ (Rockström et al., 2009; Steffen et al., 2016).

Pada akhirnya, formalisasi dan ratifikasi Antroposen masih berlanjut sampai sekarang, sebab tidak semua komunitas stratigrafi atau geologi menerima konsep itu. Antroposen masih perlu adanya pengembangan ilmiah lebih lanjut sehingga layak menjadi bagian dari Skala Waktu Geologi (GTS). Meskipun demikian, proposal Antroposen yang diajukan oleh AWG dalam Kongres Geologi Internasional pada tahun 2016 mendapatkan apresiasi dari ilmuwan gelogi terkait potensi unit waktu geologi Antroposen yang berpijak pada perubahan pertengahan abad ke-20 ataupun penanda utama terkait tes bom nuklir yang meninggalkan jejak radioaktif (Steffen et al., 2015; Wolff, 2013; Zalasiewicz et al., 2015).


Catatan:

Perdebatan Antroposen terbagi menjadi dua kubu yakni dari pendekatan geologis dan non-geologis. Keduanya sama-sama ingin menjelaskan apa itu Antroposen, kapan Antroposen dimulai, dan apa dampak paling signifikan atas eksistensi Antroposen. Walaupun demikian, konsepsi Antroposen tidak dapat terlepas dari estafet sejarah pengetahuan sejak abad ke-18 di mana pandangan mengenai relasi antara manusia dan bumi mulai mencuat namun tidak secara implisit dijelaskan dalam konteks geologi. Hari ini, Antroposen bukan konsepsi yang formal tetapi mendapatkan tempat yang layak untuk diperdebatkan ulang perihal suatu kondisi di mana ‘kita’ sebagai manusia terlibat langsung atas trajektori tersebut.

Bahan Rujukan:

Altvater, E., Crist, E. C., Haraway, D. J., Hartley, D., Parenti, C., & McBrien, J. (2016). Anthropocene or capitalocene?: Nature, history, and the crisis of capitalism. Pm Press.

Angus, I. (2016). Facing the Anthropocene: Fossil capitalism and the crisis of the earth system. NYU Press.

Bonneuil, C., & Fressoz, J.-B. (2016). The shock of the Anthropocene: The earth, history and us. Verso Books.

Chakrabarty, D. (2014). Climate and capital: On conjoined histories. Critical Inquiry, 41(1), 1–23.

Clark, N., & Yusoff, K. (2017). Geosocial formations and the Anthropocene. Theory, Culture & Society, 34(2–3), 3–23.

comte de Buffon, G. L. L. (2018). The Epochs of Nature. University of Chicago Press.

Davies, J. (2016). The Birth of the Anthropocene. In The Birth of the Anthropocene. https://doi.org/10.1525/9780520964334

Davis, R. (2011). Inventing the Present: Historical Roots of the Anthropocene. Earth Sciences History, 30(1), 63–84. https://doi.org/10.17704/eshi.30.1.p8327x7042g3q989

Finney, Stan C. (2014). The ‘Anthropocene’as a ratified unit in the ICS International Chronostratigraphic Chart: fundamental issues that must be addressed by the Task Group. Geological Society, London, Special Publications, 395(1), 23–28.

Finney, Stanley C, & Edwards, L. E. (2016). The “Anthropocene” epoch: Scientific decision or political statement. Gsa Today, 26(3), 4–10.

Gibbard, P., & Head, M. J. (2009). The definition of the Quaternary system/era and the Pleistocene series/epoch. Quaternaire, 20(2), 125–133.

Glacken, C. J. (1956). Changing ideas of the habitable world. In J. Thomas, W. L. (Ed.), Man’s Role in Changing the Face of the Earth (Vol. 1, pp. 70–92). The University of Chicago Press Chicago, IL.

Grinevald, J., McNeill, J., Oreskes, N., Steffen, W., Summerhayes, C. P. ., & Zalasiewicz, J. (2019). History and Development of the Anthropocene as a Stratigraphic Concept. In C. N. Waters, C. P. Summerhayes, J. Zalasiewicz, & M. Williams (Eds.), The Anthropocene as a Geological Time Unit: A Guide to the Scientific Evidence and Current Debate (pp. 1–40). https://doi.org/DOI: undefined

Hamilton, C. (2017). Defiant earth: The fate of humans in the Anthropocene. John Wiley & Sons.

Hamilton, C., & Grinevald, J. (2015). Was the Anthropocene anticipated? The Anthropocene Review, 2(1), 59–72. https://doi.org/10.1177/2053019614567155

Hansen, P. H. (2013). The summits of modern man. Harvard University Press.

Latour, B. (2017). Facing Gaia: Eight lectures on the new climatic regime. John Wiley & Sons.

Lewis, S. L., & Maslin, M. A. (2015). Defining the anthropocene. Nature, 519(7542), 171–180.

Lovelock, J. E., & Margulis, L. (1974). Atmospheric homeostasis by and for the biosphere: the Gaia hypothesis. Tellus, 26(1–2), 2–10.

McNeill, J. R. (2001). Something new under the sun: An environmental history of the twentieth-century world (the global century series). WW Norton & Company.

McNeill, J. R., & Engelke, P. (2016). The great acceleration: An environmental history of the Anthropocene since 1945. Harvard University Press.

Rockström, J., Steffen, W., Noone, K., Persson, Å., Chapin, F. S., Lambin, E. F., … Schellnhuber, H. J. (2009). A safe operating space for humanity. Nature, 461(7263), 472–475.

Rudwick, M. J. S. (2005). Bursting the limits of time: the reconstruction of geohistory in the age of revolution. University of Chicago Press.

Rudwick, M. J. S. (2010). Worlds before Adam: the reconstruction of geohistory in the age of reform. University of Chicago Press.

Steffen, W., Broadgate, W., Deutsch, L., Gaffney, O., & Ludwig, C. (2015). The trajectory of the Anthropocene: the great acceleration. The Anthropocene Review, 2(1), 81–98.

Steffen, W., Crutzen, P. J., & McNeill, J. R. (2007). The Anthropocene: are humans now overwhelming the great forces of nature. AMBIO: A Journal of the Human Environment, 36(8), 614–621.

Steffen, W., Grinevald, J., Crutzen, P., & McNeill, J. (2011). The Anthropocene: conceptual and historical perspectives. Philosophical Transactions of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences, 369(1938), 842–867.

Steffen, W., Leinfelder, R., Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Summerhayes, C., … Edgeworth, M. (2016). Stratigraphic and Earth System approaches to defining the Anthropocene. Earth’s Future, 4(8), 324–345.

Turpin, E., & Davis, H. (2015). Art in the Anthropocene: Encounters among aesthetics, politics, environments and epistemologies. Open Humanities Press.

Uhrqvist, O., & Linnér, B.-O. (2015). Narratives of the past for Future Earth: The historiography of global environmental change research. The Anthropocene Review, 2(2), 159–173.

Vernadsky, V. I. (1998). The biosphere. Springer Science & Business Media.

Wolff, E. W. (2013). Ice sheets and nitrogen. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 368(1621), 20130127.

Yusoff, K. (2018). A billion black Anthropocenes or none. U of Minnesota Press.

Zalasiewicz, J., Waters, C., Head, M. J., Steffen, W., Syvitski, J. P., Vidas, D., … Williams, M. (2018). The Geological and Earth System Reality of the Anthropocene.

Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Barnosky, A. D., Cearreta, A., Crutzen, P., … Grinevald, J. (2015). When did the Anthropocene begin? A mid-twentieth century boundary level is stratigraphically optimal. Quaternary International, 383, 196–203.

Catatan Antroposen #2

The Anthropocene: How the Great Acceleration Is Transforming the Planet at Unprecedented Levels

DellaSala dkk (2018: 1–7) https://doi.org/10.1016/B978-0-12-809665-9.09957-2

Penelusuran titik transisi antara kala Holosen menuju kala Antroposen masih menjadi perdebatan hangat di tengah-tengah komunitas ilmiah geologi. Uniknya, pembahasan Antroposen tidak hanya sekedar membicarakan tentang pembuktian skala waktu geologi semata tetapi juga membahas relasi antara manusia sebagai spesies dan alam sebagai lingkungan hidupnya secara historis. Manusia sebagai spesies makhluk hidup terbilang sangat unik tetapi tidak seutuhnya istimewa karena pada mulanya tetap mengalami proses evolusi kehidupan.

Manusia seringkali merayakan kejadian-kejadian spesial mulai dari yang paling membahagiakan hingga yang paling menyedihkan, ulang tahun dan kematian misalnya. Sejarah lini masa Bumi sama seperti perayaan manusia tersebut, ada masa di mana suatu fase kepunahan dan kelahiran baru, fase transisi satu era ke era lain, semua itu terangkum dalam jejak-jejak geologi. Manusia saat ini telah mencapai 7 Milliar populasi jiwa. Kemajuan teknologi dan sains menjadi faktor utama proses keberlangsungan dan kebertahanan hidup manusia sampai hari ini.

Salah satu tugas ahli geologi ialah merekam beragam kejadian besar di planet ini salah satunya transisi dari suatu kala waktu geologi tertentu. Pokok pembahasan bab ini ialah membaca ulang sejarah geologi Antroposen. Strategi yang dilakukan umumnya dengan cara menentukan kapan waktu paling tepat sebagai permulaan geologi Antroposen dengan menggunakan Global Boundary Stratotype Sections and Points (umumnya, disebut paku emas – titik transisi—golden spike). Kesepakatan pencarian titik emas ini memuat kerangka stratigrafi tertentu pada batasan terendah suatu stage yang menggambarkan suatu masa geologi tertentu. Antroposen dapat dikatakan menarik karena manusia sebagai subjek sekaligus objek dari penelitiannya sendiri tetapi tidak dapat terlepas dari akumulasi paku emas sebelumnya (secara historis), semacam tumpukan atau kelipatan kejadian geologi yang pernah terjadi.

Penelusuran ini dapat dimulai di Ethiopia, dua kerabat terdekat manusia yaitu Ardi (Ardipithecus ramidus) dan Lucy (Australopithecus afarensis). Awalnya Lucy (sekitar 3 juta tahun lalu) dianggap sebagai leluhur manusia pertama tetapi kemudian digantikan oleh Ardi (sekitar 4 juta tahun lalu). Afrika menjadi cikal bakal kelahiran ‘kemanusiaan’, di mana semuanya bermula, akan tetapi tidak cukup untuk mengasumsikan bahwa titik paku emas pertama di dorong oleh peradaban Afrika kuno. Sampai sekitar dua juta tahun kemudian, keturunan Ardi dan Lucy semakin cerdas untuk memulai menggunakan peralatan yang paling sederhana semacam kapak batu. Momen manipulasi itu menjadi salah satu kandidat golden spike lain di linimasa Antroposne. Alat bantu yang digunakan secara tidak langsung meningkatkan kemampuan beburu dan meramu. Sekitar 50.000 sampai 11.000 tahun lalu, manusia purba ikut berperan terhadap kepunahan massal megafauna yang di Amerika Selatan, Amerika Utara, dan beberapa wilayah Asia, tetapi tidak di Afrika (Sandom, Faurby, Sandel, & Svenning, 2014)

Fase Neolitikum, pengembangan peralatan berburu melahirkan sistem agrikultur di wilayaH Timur Tengah. Ekspansi lahan terjadi yang mengakibatkan perubahan struktur sedimentasi lahan dan perubahan saluran air untuk mendukung proses domestifikasi hewan dan tanaman. Proses ekstraksi nabati dan hewani semuanya dikelola secara teratur dari bahan mentah menjadi siap saji di atas meja makan.

Fig 1. Historistas akumulasi ‘golden spike’ Antroposen.

Figure 1 menjelaskan bagaimana akumulasi historis dari Revolusi Industri (1750-1900) berkontribusi besar terhadap perkembangan teknologi yang mengolah pembakaran bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi) secara efisien. Pertumbuhan manusia pada tahun 1804 mencapai 1 miliar jiwa bahkan melonjak secara drastis mencapai 7 miliar jiwa pada tahun 2011. Kebertahanan hidup manusia di bumi tidak dapat terlepas dari peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung kesehatan dan gaya hidup manusia. Menjadi semacam lompatan evolusioner manusia sebagai spesies yang unik.

Di sisi lain, jejak-jejak Antroposen dapat ditilik semenjak pasca perang dunia kedua, tepatnya setelah ledakan bom atom pertama di Nagasaki Hiroshima yang kemudian menggerakan kemajuan umat manusia. Pilihan membangun dunia baru disertai dengan percepatan teknologi, mekanisasi pertanian, dan yang tidak kalah penting ialah penggunaan plasik skla massal di seluruh dunia. Titik kemajuan baru manusia yang membuka globalisasi baru dapat disebut sebagai The Great Acceleration.

Catatan:

Paragraf sebelumnya telah menjelaskan probabilitas titik temu paku emas atau golden spike untuk geologi Antroposen dengan cara merujuk pada jejak-jejak antropogenik yang mengimplikasikan perubahan iklim, perubahan biodiversitas, kepunahan massal dan kontaminasi kimiawi yang ditarik sepanjang transisi awal kala Holosen. Strategi lain selain dari sudut pandang geologi, para ilmuwan maupun filosof dapat mengambil sudut pandang lain dari ilmu non-geologi misalnya etika, akan tetapi model pendekatan ini jarang digunakan karena tidak memberikan pembuktian ilmiah yang siginifikan. Artinya, mempelajari dan membahas Antroposen perlu memperlibatkan kembali keseluruhan aktivitas antropogenik secara historis dari masa ke masa.

Rujukan:

Sandom, C., Faurby, S., Sandel, B., & Svenning, J.-C. (2014). Global late Quaternary megafauna extinctions linked to humans, not climate change. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 281(1787), 20133254.

Catatan ‘Antroposen’ #1

“A General Introduction to the Anthropocene” Jan Zalasiewicz dkk. (2019: 2-4)

Zalasiewicz dkk (2014) memberikan pengantar umum tentang Antroposen. Konsep Antroposen memang diperkenalkan oleh Paul Crutzen (2000), namun seiringnya perkembangannya banyak kalangan ilmu geologi termasuk non-geologi mulai melirik konsep tersebut. Alhasil, popularitas Antroposen semakin meningkat Ketika penelitian Crutzen di Ilmu Sistem Bumi (Earth System Science – ESS) mulai membuat titik perbedaan antara Antroposen dan Holosen. 

Antroposen secara eksplisit ingin menjelaskan interval waktu geologi, sebagai sebuah epos atau kala baru yang dibedakan dari epos sebelumnya, yaitu Holosen. Tesisnya merujuk pada penelitian ESS yang membuktikan adanya perubahan secara global terutama ketika dimulainya revolusi industrial awal. Meskipun demikian, Antroposen bukanlah konsep yang final apalagi formal karena masih membutuhkan pembuktian atau ratifikasi secara ilmiah. Antroposen sampai hari ini masih menjadi semacam konsep epos geologi yang masih bergerak di tataran diskursus baik dari sudut pandang geologi maupun non-geologi. 

Setelah Crutzen memopulerkan Antroposen, the Stratigraphy Commission of the Geological Society of London menyatakan bahwa sangat dimungkinkan untuk memformalisasi geologi Antroposen. Simpulan SCGS London memberikan respons yang massif di antara komunitas ilmiah yang mengarahkan pada tesis ‘era manusia’. Sebetulnya, tesis ini telah ada sejak akhir abad ke-18 (Stoppani, 1873; Buffon, 2018), yang menempatkan manusia sebagai penyebab perubahan global. Menyadari hal tersebut, aktivitas antropogenik dianggap menjadi bagian dalam kerangka perubahan / evolusi bumi. Subcommission of Quaternary Stratigraphy (SQS) dari International Commision on Stratigraphy (ICS) membentuk Anthropocene Working Group (AWG) untuk meninvestigasi tesis geologi Antroposen dan memberikan laporan formal untuk proses ratifikasi kepada International Union of Geological Science (IUGS). 

Persoalan lain muncul terhadap diskursus Antroposen ialah pada kerangka interpretasi makna atas Antroposen itu sendiri. Dari sudut pandangan non-geologi membaca Antroposen sebagai wacana yang berbeda sekaligus dekat dengan aspek kemanusiaan. Zalasiewicz menolak banyak interpretasi atas Antroposen secara non-geologis karena akan sangat memungkinkan munculnya ambiguitas makna. Oleh sebab itu, penelitian yang disajikan sejauh dengan aturan-aturan formal untuk memenuhi persyaratan formalisasi atau ratifikasi antroposen untuk dapat dapat menjadi bagian dari ICS (International Chronostratigraphic Chart). Strategi atau pendekatan yang dimulai secara sinkronik daripada diakronik untuk menghindari interpretasi antropologi atau sejarah peradaban manusia. Fokus Antroposen lebih pada karakteristik geologi yang memperlihatkan perubahan secara signifikan yang sebelumnya tidak ada di Holosen, misalnya kenaikan level CO2 Atmosfer, Isotop Karbon dan Nitrogren, Perubahan biosfer, dan bahkan termasuk kepunahan spesies, atau jika adanya bukti geologis lain yang ada sejauh mendukung tesis tersebut.

A close up of a map

Description automatically generated
Figure 1. Kunci transisi dari Pleistosen akhir ke waktu sekarang. Catatan: Stabilitas Holosen akhir yang berubah ketika memasuki fase pertengahan abad ke-20 yang diidentifikasi sebagai titik Antroposen (Zalasiewicz dkk, 2018)

Catatan: Posisi ini membedakan Antroposen dari sudut pandang geologi dan non-geologi. Simpulan saya, Antroposen menjadi suatu format kala / epos yang belum final karena masih terus berkembang dan berlanjut.  

Waktu fiksi Alan Lightman

sumber: amazon.com

Alan Lightman menceritakan dua percakapan kecil antara Einstein dan Besso. Novel ini terbit pada tahun 1992, cukup lama. Saya mengenal novel ini di tengah-tengah pandemi ketika membuka acara TEDx yang menghadirkan Alan Lightman. Alan berbicara panjang lebar tentang relasi antara fisika dan seni. Keduanya memiliki kesamaan ketika memandang realitas, hanya saja yang membedakan bagaimana realitas itu diterjemahkan melalui kata yang bermakna puitis atau simbol matematis yang rigoris.

Bukan sepenuhnya ulasan, tetapi sekedar membaca hasil bacaan sendiri. Saya menyelami dunia yang berbeda dari novel Einstein’s Dream ini. Saya melihat narasi-narasi kecil di sekitar sudut kota, di dalam rumah kecil, di tengah perbincangan pasangan; yang semuanya merujuk dan merunut pada suatu konsepsi waktu tertentu. Tiap babnya menjelaskan bagaimana waktu dipahami oleh keberagaman sudut padang. Saya hampir mencari-mencari manakah konsep waktu yang relevan untuk diri saya sendiri. Akhirnya, saya menemukan beberapa poin penting, meskipun rasanya seperti membaca buku motivasi di tengah-tengah pandemi.

Pertama, waktu paralel. Waktu ini memungkinkan adanya diri saya yang lain. Saya yang sedang mengetik, saya yang sedang bermain gim, atau saya yang sedang meratapi kemalasan di tengah pandemi, atau bahkan kemungkinan tak terhingga untuk menjadi saya yang sedang melakukan sesuatu secara bersamaan. Waktu paralel seperti waktu pilihan untuk kita dalam memilih. Tidak ada yang salah dengan pilihan kita. Meskipun pada akhirnya, kita akan bertanya ulang apakah kehidupan kita sudah diatur sedemikian rupa? Apakah semuanya sudah ditakdirkan begitu saja? Apakah kita punya kehendak bebas? Apakah kehendak bebas itu ilusi? Tetapi mengapa kita bisa membaca masa depan?

Kedua, waktu terbagi menjadi dua: waktu mekanik dan waktu tubuh. Waktu mekanik bekerja sebagaimana kita melihat jam di tangan kita, jam di dinding, atau jam di pojok atas atau bawah desktop komputer kita. Waktu mekanik bekerja sangat formal. Saya memahami itu, sebagaimana kita harus berdiskusi via skype atau zoom pada waktu yang telah ditentukan. Waktu Indonesia Barat akan sedikit berbeda dengan Waktu Indonesia Timur, uniknya kita bisa bertemu pada waktu yang sama meski waktu pada jam tangan kita berbeda. Artinya, jam mekanik telah mengatur hidup kita sedemikian disiplinnya.

Waktu tubuh sangat lentur, dia bisa bergerak lebih cepat atau lebih lambat. Saat merasakan kecemasan atau ketakukan maka waktu akan berhenti begitu saja, sedangkan di saat merasakan kebahagiaan waktu seolah bergerak begitu cepat. Berbincang dengan orang lain atau duduk menyendiri akan memperlihatkan intensi waktu yang berbeda. Waktu begitu menubuh dengan diri. Seolah diri kita ingin tetap berada pada waktu yang terbaik, untuk menjadi selalu sehat, untuk menjadi selalu kaya raya, atau untuk dapat membaca buku filsafat dan novel favorit tanpa ada batasan. Keinginan lainnya, mungkin waktu bisa menghentikan rasa lelah.

Ketiga, bayangkan jika waktu itu berhenti. Mungkinkah kehidupan manusia akan berhenti pula? Semuanya berhenti, kita tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan masa depan. Untung, untuk mereka yang sedang bermain cinta atau mereka yang sedang merasa bahagia berada di atas puncak kejayaan dan waktu berhenti. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang berbalik arah?

Keempat, ada waktu di mana masa depan, masa kini, dan masa lalu menjadi prinsip pandangan hidup. Ada orang yang merasa terjebak pada masa lalu, atau di sisi lain, takut akan masa depannya. Ada orang yang merasa bahwa hidup di antara keduanya adalah pilihan terbaik.

Kelima dan seterusnya, adalah bagaimana kita menghayati waktu. Waktu yang terhayati menjadi relatif begitu saja. Bayangkan jika seluruh umat manusia memiliki hidup sekitar 1 hari sebelum semuanya punah. Pilihannya adalah untuk menjadi sangat baik dengan sekitar atau menyelesaikan urusannya dengan penuh gairah. Waktu sama seperti objek ruang, tetapi karena ruang lebih terhayati, waktu jadi hilang begitu saja. Kesadaran kita muncul setelah melewati suatu fase tertentu.

Sembari menyelesaikan beberapa poin di atas, saya mencatat satu kutipan yang sangat cocok untuk generasi pelamun seperti saya. 24 jam hidupnya terhubung dengan ruang dan waktu dalam jaringan. Waktu terasa lebih cepat. Maka, kemudian muncul bayang-bayang masa depan yang tak terduga.

“Bagi mereka yang telah melihat masa depan, inilah dunia dengan jaminan keberhasilan. Akibatnya, mungkin beberapa proyek dimulai tanpa berharap beroleh kemajuan karir. Beberapa perjalanan dilakukan tanpa kota tujuan. Pertemanan tidak harus dilanggengkan. Sejumlah gairah menjadi sia-sia. Bagi mereka yang belum beroleh penglihatan, inilah dunia yang tertunduk lesu. Merekalah orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap bayangan masa depan muncul dalam impian.”

Pada akhirnya, hanya kemewaktuan dengan kepastian yang dicari oleh hampir setiap manusia. Saya begitu optimis, 2020 adalah tahun yang pasti untuk melakukan penelitian, tetapi dugaan saya meleset, waktu prediksi masa depan kemudian berbalik arah. Tidak ada penelitian, perpustakaan ditutup, dan fasilitas dibatasi. Untung saja, saya tidak membuang konsep waktu. Meskipun kemudian kita bicara bahwa jangan-jangan waktu adalah kecemasan.

Atau….

Kecuali, saya benar-benar membuang semua konsepsinya tentang waktu. Waktu ialah ilusi dan tidak pasti, misalnya. Tetapi, saya rasa waktu dan ruang keduanya sama-sama menubuh. Sama seperti mimpi Einstein, mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara membaca waktu. Lantas, bagaimana jika Tuhan tidak mendekat meskipun kita telah membongkar apa itu waktu?

Antroposen dan Kepunahan Keenam

sumber: antinomi.org

Sebut aku manusia

Sekitar 200.000 tahun yang lalu, spesies tanpa nama muncul di bumi Afrika. Uniknya, makhluk ini tidak cukup kuat tetapi cerdas ketika beradaptasi dengan cara memanfaatkan segala bentuk sumber daya yang tersedia. Fase akhir zaman es, sekitar 11.700 tahun yang lalu, mereka terus berkembang dan terlepas dari fase kepunahan besar megafauna. Selepas masa itu, hasrat berkelana semakin besar, mereka menjelajah dan menjajah untuk dapat berkuasa atas apa yang disebut sebagai peradaban baru.

Seiringnya perjalanan waktu, masyarakat modern menyebut mereka sebagai Homo Sapiens—leluhur yang cerdas. Meskipun, sejak dulu kita sendiri memiliki ‘the madness gene’, suatu gen yang tidak pernah merasa berterima kasih, padahal mau tidak mau, manusia berutang banyak dengan Neanderthals atau bahkan primata purba tentang bagaimana cara menggunakan alat sederhana. Pilihannya, ialah dikuasai atau menguasai, prinsip yang masih dipegang teguh hari ini oleh sebagian dari manusia modern. Hasrat menguasai memang telah mendarah daging. Gen kegilaan memusnahkan primata purba, megafauna, dan bahkan sesamanya. Kita sebut mereka makhluk bar-bar—tidak ada budi, berbanding terbalik dengan definisi manusia yang diakui masyarakat modern dengan atribut bijaksana dan beradab. Itulah definisi manusia sejati, versi kemapanan moralitas.

Saya sendiri menyadari bahwa pembahasan tentang yang-baik dan yang-luhur semakin digembor-gemborkan hari ini, tetapi tidak berlaku untuk 11.000 tahun lalu. Melalui pandangan moral yang baik dan luhur, muncul harapan bahwa dahaga manusia modern dapat terpenuhi. Dunia modern hari ini dipandang sebagai sesuatu yang bermasalah, kering, dan tanpa makna. Padahal, jika kita sendiri berani menarik diri menuju perjalanan sejarah awal manusia, betapa tidak keringnya kehidupan manusia itu sendiri. Obrolan moral dan tanggung jawab manusia terhadap kerusakan yang ada, tidak kurang terjadi sekitar beberapa abad atau bahkan dekade lalu. Sudah sangat terlambat untuk menyadari bahwa peradaban manusia lahir tanpa memusnahkan yang-lain. Mengutip Elizabeth Kolbert, di masa depan, katakanlah 2050, keragaman ekologi sangat sulit ditemui, menjadi sangat ringkih dan punah, semua itu disebabkan oleh adanya pemanasan global dan perubahan iklim. Pelakunya ialah manusia itu sendiri. Skenario ini disebut apocalyptic.

Kepunahan yang menyejarah

Sedikit banyak kita berutang pemikiran kepada peletak studi ilmiah tentang kehidupan di Bumi, baik dari sudut pandang evolusi Darwin maupun geologi Lyell yang menjelaskan bahwa hilangnya suatu spesies terjadi secara perlahan dan berkelanjutan. Kepunahan bagi sebagian spesies mungkin barangkali menjadi keniscayaan, tetapi bagi spesies manusia, pilihannya hanya dua: menunda atau mempercepat kepunahan yang keenam setelah lima kepunahan sebelumnya. Jika kita melacak kembali sejarah pada skala waktu geologi maka mungkin saja kita mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana suatu kepunahan menjadi titik balik pergantian zaman geologi tertentu.

Pembabakan realitas pada dunia geologi selalu berdasarkan perubahan yang terjadi pada masing-masing era. Hari ini, secara formal, kita percaya bahwa kita masih menelusuri jalan epos Holosen, waktu ketika zaman es telah berakhir, yang berjalan sampai detik ini. Uniknya, bagi sebagian orang yang percaya bahwa manusia telah diberikan keberuntungan yang luar biasa karena dapat bertahan pada masa transisi itu (dari Pleistosen ke Holosen). Meskipun, kita tahu, bahwa pembebasan atau keajaiban itu mengorbankan banyak spesies lain. Terkadang naif bila merasa telah membebaskan diri dari batas-batas evolusi, kita manusia, mau tidak mau tetap saja akan bergantung pada sistem biologis dan biokimia Bumi. Hal itu telah kita sadari, saat sebagian besar manusia telah berteriak untuk kembali ke alam, mencari keseimbangan, atau bahkan menyelamatkan bumi. Apa yang ingin diselamatkan? Mungkinkah kita pernah benar-benar seimbang dengan Alam sejak awal? Padahal, kepunahan makhluk hidup merupakan sesuatu hal yang tidak asing bagi sejarah Bumi, hanya saja, manusia sebagai spesies yang merasa paling panik akan kepunahannya sendiri. Lantas, muncul tren untuk berlomba-lomba mencari strategi atas pembangunan peradaban yang berkelanjutan. Syukur-syukur bisa menghasilkan alternatif kondisi manusia dengan jalan energi yang tepat guna atau ramah ‘lingkungan’ tetapi juga tetap dapat mengeksploitasi lingkungan itu sendiri. Menarik!

Menurut saya, Kolbert ialah seorang yang lebih percaya pada gagasan Katastropisme. Pandangan yang berpijak dari suatu peristiwa yang menandai punahnya suatu spesies. Gagasan ini terinspirasi dari pemikir Prancis Georges Cuvier. Cuvier pada masanya melakukan kategorisasi 49 spesies yang telah punah termasuk Beruang gua (Ursus spelaeus), Kungkang raksasa (Megatherium), dan Pterodactyl. Artinya, teori evolusi yang sederhana bahwa perubahan suatu spesies sejalan dengan perubahan lingkungannya tidak cukup menjelaskan bagaimana kepunahan itu bekerja. Pada zaman es, mastodon Amerika pun ikut punah sebab perburuan besar-besaran oleh manusia. Kasus kepunahan beberapa spesies pada abad ke-19 juga melibatkan overeksploitasi manusia. Sama seperti halnya ketika Auk dan burung Dodo (Raphus cucullatus) dibunuh, jika merujuk pada teori evolusi yang sederhana, seharusnya mereka dapat bersembunyi dan menghindar untuk tidak dibunuh, tetapi manusia berbeda, mereka cukup kuat untuk menaklukan beragam spesies. Kaitan ini memperkuat temuan Kolbert bahwa beragam fosil yang belum ditemukan memiliki penanda relasi simbiotik antara manusia dan alam. Jika kita mau berani mengakui, maka relasi dan keseimbangan seperti apa yang ini kita raih?

Berbicara tentang kepunahan, secara umum, kita pasti akan merujuk pada peristiwa kepunahan dinosaurus. Pada tahun 1970an, Walter Alvarez dan Luis Alvarez menemukan iridium sebagai titik penanda kepunahan massal dinosaurus atau sektar 66 juta tahun yang lalu. Hantaman asteroid tidak hanya memusnahkan raksasa dinosaurus saja tetapi juga makhluk kecil bernama ammonit tidak dapat menghindar dari peristiwa itu. Kolbert lantas memberikan hipotesis bahwa kebertahanan hidup ammonit tidak hanya sekedar teori seleksi alam, tetapi juga bagaimana perubahan besar dapat mempengaruhi suatu kepunahan tertentu. Pada bab kelima tentang Antroposen, Kolbert menjadikan manusia sebagai titik temu perubahan besar sekaligus awal mula kepunahan selanjutnya.

Pada pembabakan geologi terdapat lima kepunahan yang pernah terjadi di Bumi sebelumnya. Kepunahan pertama terjadi saat zaman akhir Ordovisium (sekitar 450 juta tahun lalu) ketika kekacauan ekosistem terjadi termasuk kegagalan fotosintesis, yang disebabkan berkurangnya kandungan CO2 hampir 86 persen spesies punah termasuk beberapa organisme laut yang terdampak. Periode berikutnya, kepunahan kedua terjadi pada zaman Devon (sekitar 370 juta tahun lalu). Hujan meteor menyebabkan penurunan ekstrem oksigen yang menyebabkan kepunahan massal sampai 75 persen di samping meningkatnya perubahan iklim. Zaman Perm (252 juta tahun lalu), disebut juga sebagai bagian dari kepunahan besar ketiga, ketika hampir 96 persen spesies punah yang disebabkan karena perubahan iklim ekstrem, termasuk menipisnya oksigen, hujan asam, letusan gunung berapi, dan meningkatnya pemanasan global secara signifikan. Kepunahan keempat terjadi pada periode akhir Trias (200 juta tahun lalu), saat seluruh aktivitas vulkanik meningkat, yang diperkirakan melenyapkan 80 persen spesies. Terakhir, kepunahan paling populer sebab menyisakan banyak bukti geologis yang disebut sebagai kepunahan Zaman Kapur Akhir (Cretaceous-Tertiary Exctinction), sekitar 65 juta tahun lalu, penyebabnya karena tumbukan meteor besar di Teluk Meksiko (sekarang) yang menyebabkan kepunahan besar pada dinosaurus dan ammonit. Kelima kepunahan massal ini menjadikan kepunahan yang menyejarah sekaligus titik perubahan skala waktu geologi tertentu. Berkat kepunahan, keberagaman makhluk hidup dan tatanan geologi semakin berkembang. Memahami kepunahan bagi manusia merupakan suatu kengerian sekaligus ketakjuban tersendiri. Lantas, kapan kepunahan keenam akan terjadi?

Kepunahan Keenam untuk manusia

Hasil pembacaan saya terhadap Kolbert, memungkinkan posisi saya, bahwa Antroposen dapat menjadi suatu tesis untuk menjelaskan lebih jauh soal kepunahan berikutnya—kepunahan keenam. Meskipun Antroposen bukan epos formal geologi, tetapi usaha para ahli geologi (AWG—Anthropocene Working Group) telah memperjelas bahwa manusia sebagai faktor geologi terbesar hari ini. Kepunahan pertama sekitar 450 juta tahun lalu disebabkan karena perubahan iklim ekstrim (naik turunnya level karbon di atmosfer) atau kepunahan lainnya yang disebabkan karena terlalu rendahnya suhu bumi yang menyebabkan proses glasial secara besar, maka sangat mungkin saja apabila Bumi menuju pembalikan dari yang ‘stabil’ menjadi ‘ekstrem’. Hanya saja, manusia sebagai aktor utamanya, berkontribusi secara kontinu melalui perluasan lahan, peningkatan penggunaan bahan bakar fosil terlebih sejak awal eksplorasi revolusi industri.

Bukan suatu ramalan, tetapi semacam prediksi atau mungkin spekulasi terhadap apa yang mungkin saja terjadi di masa depan, dengan cara membandingkan dengan beberapa proses kepunahan massal sebelumnya. Berkaca pada kepunahan pertama dan seterusnya, di mana salah satu persoalannya ialah perubahan ekstrem iklim. Perubahan iklim yang terjadi juga menjadi catatan keterlibatan manusia sebagai kontributor setia terkait proses pengasaman air laut, yang secara langsung mengancam sebagian besar kehidupan laut. Silakan coba menyelam di Great Barrier Reef, Australia, paling besar kita akan menemukan coral bleaching (pemutihan pada karang), dan berandai-andai, mungkin saja,  sekitar 50 tahun ke depan ekosistem bawah laut akan mulai menghilang, penyebabnya lagi-lagi karena tingkat keasaman air laut karena emisi karbon yang dihasilkan peradaban manusia.

Pada posisi ini, saya tidak kemudian menyalahkan penggunaan emisi karbon, toh, sampai hari ini, saya masih punya komitmen untuk menggunakannya, karena di satu sisi, harga energi alternatif terbilang tidak murah untuk diaplikasi hari ini, terlebih untuk ‘dunia ketiga’. Akan tetapi, di satu sisi, saya semakin yakin pada skenario kepunahan massal, pasalnya keberagaman ekologi di tanah tropis semakin ringkih. Mungkin saja pada tahun 2050, skenario apokaliptik akan bekerja karena pemanasan global dan perubahan iklim. Saya cukup belajar dari Kolbert tentang konsep fragmentasi, ketika manusia sudah mulai bergerak dari meramu dan berburu, termasuk domestifikasi flora dan fauna. Pada saat itulah, disadari atau tidak, kita telah memecah belah lingkungan alam, alhasil, populasi makhluk spesies semakin terisolasi sekaligus semakin rentan terhadap kepunahan. Oleh karena itu, fragmentasi lahan yang tidak tersentuh pun disulap menjadi aliran pipa, jalan raya, aliran irigasi dan sebagainya. Keterpisahan lingkungan ini menyebabkan antar spesies kecil tidak dapat lagi bebas bermigrasi.

Gagasan fragmentasi ini menggambarkan bagaimana kemudian siklus ekologis berubah. Pada satu sisi, manusia telah menciptakan Pangea Baru, artinya, percepatan volume peradagangan atau retribusi dan distribusi global ikut memicu kepunahan sejumlah spesies. Setelah melakukan fragmentasi lahan serta mengisolasi ruang gerak spesies dari habitatnya, manusia bebas bergerak karena teknologi transportasinya. Atau kita bisa berbicara tentang bagaimana temuan teknologi berburu manusia semakin menjungkirbalikkan ‘rantai makanan’, sejak perburuan megafauna dimulai pada zaman glasial, hari ini, Badak Sumatra yang bernilai tinggi menjadi korban atas fragmentasi manusia terhadap ruang habitat alamiahnya. Atau, di satu sudut padang yang baik, bagian skenario terburuk, semua tindakan konservasi lingkungan manusia menjadi bagian dari ‘fragmentasi secara tidak langsung’, alhasil, hanya suatu tindakan penundaan atas kesia-siaannya terhadap laju kepunahannya sendiri. Kita sudah berusaha keras untuk mendaftarkan nama-nama makhluk hidup dalam ‘hipotesis spesies’, bukan sebagai entitas yang sungguh-sungguh adanya (sebagian punah), nama yang kita berikan hanya untuk memudahkan pembelajaran kita terhadapnya, termasuk konservasi terhadap mereka. Semoga saja, bukan menjadi kesia-siaan karena usaha fragmentasi yang baik itu.

Penutup

Dari tiga belas bab buku karya Elizabeth Kolbert, The Sixth Extinction: An Unnatural History, saya hanya mengambil hubungan antara tesis Antroposen dengan kepunahan keenam. Sangat mungkin, membaca Antroposen dari sudut pandangan kepunahan. Atau mungkin, tesis ini dapat dibantah dengan mudah, jika kita merunut kembali bagaimana zaman batu sedari awal telah mengambil peran penting ketika adanya usaha untuk merombak rantai makanan. Maka, pertanyaannya, manusia pada linimasa manakah yang patut kita apresiasi karena telah membawa perubahan besar? Bila merujuk pada tesis-tesis Antroposen modern, pilihannya hanya ada tiga: merujuk pada waktu manusia (Homo Sapiens) pertama mengintervensi alam, revolusi industri, atau the great accelaration. Bebas dipilih, toh, semuanya sama-sama berpotensi sebagai golden spike Antroposen. Tetapi, kembali lagi pada persoalan yang ditawarkan oleh Kolbert tentang kepunahan massal itu sendiri. Lagi pula, kita berutang banyak pada kepunahan sebelumnya. Saya akui, manusia merupakan anak dari kepunahan. Pertanyaan saya, apakah manusia juga akan berakhir pada trajektori yang sama, yaitu lahir dan berakhir di titik kepunahan.

Ulasan ini sudah diterbitkan di laman: https://antinomi.org/2020/07/03/antroposen-dan-kepunahan-keenam/

The Platform: Imaji Solidaritas Spontan

sumber: viewsology,com

Seorang pria bernama Goreng (Ivan Massagué) terbangun di ruang no. 48 bersama dengan Trimagasi (Zorion Eguileor). Saat itulah, bangunan vertikal seperti penjara—The Hole menyimpan alegori kesenjangan kelas-sosial lewat bagaimana setiap orang memiliki kesempatan 1 × 24 jam hanya sekadar untuk menikmati makanan (dengan waktu terbatas) yang telah disediakan oleh pengelola. Makanan turun dari lantai 0 menuju lantai paling dasar.

Goreng lalu berjalan untuk melihat sekeliling ruang dan menghitung setidaknya terdapat dua orang tiap ruangan. Ia memiliki alasan kuat mengapa dirinya secara sukarela mendaftarkan diri menjadi bagian dari ‘eksperimen sosial’ ini. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk menemukan ketenangan sekaligus kenikmatan saat membaca buku. Pengelola memberikan izin setiap volunter membawa satu barang kesayangannya, dan Goreng memilih Don Quixote karya Miguel de Cervantes.

 Apa yang dia mimpikan berbalik arah. Setiap satu bulan sekali, dua orang akan saling bertukar sekaligus menempati ruangan secara acak. Setiap makanan yang dihidangkan bergerak secara vertikal dari atas ke bawah. Goreng mengetahui alasan mengapa mereka yang berada di ruangan teratas memilih untuk menghabiskan porsi yang lebih banyak tanpa memikirkan kondisi mereka yang di bawah. Alasannya, mereka takut mati. Goreng mengamatinya berhari-hari sembari berpuasa karena merasa jijik sebab hidangan makanan yang sampai pada kamarnya telah berantakan dan rusak.

Trimagasi memberikan penjelasan bahwa aturan di penjara ini adalah menjadi tamak dan rakus untuk sekadar bertahan hidup. Trimagasi juga tidak mengetahui kapan dirinya akan mati kelaparan kemudian hari. Saat itulah, Goreng berusaha menyiasatinya dengan menyembunyikan makanan kecil. Anehnya, penjara itu tidak mengizinkan siapa pun untuk menyembunyikan makanan. Jika itu terjadi maka ruang penjara itu akan menjadi sangat panas atau sangat dingin. Entah bagaimana caranya, tata cara makan menjadi aturan paling otoriter. Pengelola hanya memperhatikan persoalan hidangan. Tidak ada yang lain. Apa pun cara yang dilakukan oleh setiap orang bukan menjadi tanggung jawab pengelola, sekalipun adanya tindak kanibalisme.

Alur cerita The Platform yang menawarkan sisi kelam, menjijikkan, dan sadis masih tetap mengutamakan ‘nilai’ tersembunyi tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak di tengah-tengah kelaparan yang disebabkan oleh segelintir kelompok. Saya melihat, The Platform berusaha menjelaskan fase-fase krisis kepercayaan diri Goreng dalam menyikapi situasi ‘distopia’ yang dihadapinya. Awalnya, Goreng merupakan seorang yang sangat altruis dan optimis bahwa sistem yang ada dapat diubah menjadi lebih baik. Goreng berusaha bernegosiasi dengan setiap orang, meskipun hanya melalui suara—entah terdengar atau tidak dari lantai paling atas sampai terbawah.

Fase berikutnya, ketika Goreng sangat percaya dengan idealisme dibenturkan dengan keadaan yang sangat lapar. Goreng terpaksa memakan sisa-sisa makanan yang menjijikkan itu. Makanan yang tak berbentuk, diinjak-injak, dan akan membuatnya mual apabila masih memikirkan penampilan dan cita rasa makanan itu sendiri. Namun, itu semua berubah saat dirinya menjadi bahan makanan cadangan Trimagasi. Saat itulah, idealismenya runtuh seketika. Dirinya yang pasrah jika akan dicincang secara lembut untuk mengganjal isi perut Trimagasi. Baginya, apa yang dilakukannya adalah persilangan antara berkorban untuk orang lain, mati kelaparan, atau tetap menjadi seorang yang idealis. Pada puncaknya, Goreng sendirilah yang membunuh Trimagasi.

Tidak berhenti, bulan berikutnya, Goreng terbangun di lantai 202 bersama dengan Imoguiri (Antonia San Juan), seorang yang mewawancarai dirinya sesaat sebelum memasuki penjara vertikal. Fase Imoguiri, merupakan titik tolak Goreng menyadari adanya harapan untuk melakukan perubahan. Imoguiri dan Goreng sepakat untuk melakukan persuasi dan pendekatan secara halus agar semua orang mau berbagi makanan dan setiap orang harus mau mengatur porsi makanannya. Cita-cita itulah yang disebut dengan solidaritas spontan. Imoguiri meyakini bahwa lubang penjara ini akan melahirkan solidaritas spontan untuk umat manusia di masa depan.

Fase terakhir, Goreng saat dirinya menempati lantai 5, makanan yang masih layak ada di depan matanya. Bersama dengan Baharat (Emilio Buale Coka), Goreng menginginkan perubahan radikal. Mereka berdua kemudian mengatur seluruh distribusi makanan yang ada. Mereka membaginya sampai lantai terdasar. Meskipun, faktanya mereka melakukan tindakan kekerasan dan membunuh sebagian orang yang tidak patuh pada perintah mereka. Akhir cerita, Goreng menemukan kebenaran atas enigma penjara. Padahal, tidak banyak yang dijelaskan oleh film ini tentang siapa pengelola, apa alasan mendirikan bangunan ini, mengapa ada anak kecil, mengapa lantai dasarnya berjumlah 333, dan banyak pertanyaan yang disisakan.

Secara teoretis, konsep solidaritas spontan ala Goreng dapat menjadi rumit bila mengikuti Hierarki Kebutuhan Maslow. Bagaimana mungkin Goreng dapat memenuhi kebutuhan atas aktualisasi diri (tingkat keenam), jika tingkat dasar fisiologis dan rasa aman Goreng belum cukup terpenuhi? Pilihannya pada film itu ialah: Goreng menahan diri dengan memakan beberapa halaman bukunya, memakan atau dimakan sesamanya, mati bunuh diri, atau memilih mati kelaparan tanpa mengambil risiko apa pun. Goreng sangat mendambakan agar seluruh orang dalam penjara itu dapat berteriak ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’. Persoalannya, bagaimana Goreng mampu mendistribusikan solidaritasnya untuk keberagaman pandangan setiap orang? Apakah solidaritas menyamaratakan setiap orang? Atau solidaritas adalah sekadar kepatuhan atas kuasa Goreng dan Baharat dalam mengatur distribusi makanan? Padahal, distribusi solidaritas itu sendiri belum terpenuhi.

Tidak heran, di tengah-tengah wabah global Covid-19, The Platform (Netflix) bisa dinikmati saat kalian semua sedang melakukan penjarakan fisik dan pembatasan sosial. Jika di film itu menggambarkan bagaimana distribusi makanan ‘yang ideal’ seharusnya dilakukan, hari ini, di seluruh dunia, masih memikirkan bagaimana seharusnya distribusi alat perlindungan diri atau dukungan kesehatan publik dapat berjalan dengan baik. Di samping itu, solidaritas spontan mungkin akan muncul saat krisis tiba seperti situasi saat ini. Setiap orang secara spontan (atau takut) berusaha berkomitmen untuk melakukan pencegahan penyebaran virus korona ini secara kolektif. Akan tetapi, entah sampai kapan ‘solidaritas spontan’ ini mampu bertahan, seandainya mereka lantas tidak dihadapkan dengan kelangkaan kebutuhan dasar, seperti halnya distribusi makanan untuk dirinya sendiri di tengah-tengah wabah ini.

The Platform | Main Trailer | Netflix

Artikel ini juga telah terbit di laman: https://antinomi.org/2020/04/01/the-platform-imaji-solidaritas-spontan/