Arguments for a formal Global Boundary Stratotype Section and Point for the Anthropocene
J Zalasiewicz dan CN Waters (2018) https://doi.org/10.1016/B978-0-12-809665-9.10011-4
Sejak Crutzen dan Stroermer (2002) mempromosikan Antroposen sebagai wacana informal geologi, atensi sejumlah pemikir geologi semakin meingkat tentang keberpihakannya pada tesis dampak aktivitas manusia dengan perubahan sistem Bumi (Waters et al., 2014; Zalasiewicz, 2011; Zalasiewicz et al., 2008). Faktanya, proses ratifikasi Antroposen tidak mudah untuk diterima begitu dan harus mengikuti persyaratan formal perumusan Skala Waktu Geologi baru yang memasukan perspektif dua waktu hirarki paralel, secara teknis melalui geokronologi dan/atau kronostratigrafi. Sedangkan untuk mendefinisikan Antroposen diperlukan verifikasi temuan geologi yang berpijak pada persyaratan GSSP. AWG selaku komunitas ilmiah yang bekerja untuk riset analisis status epos Antroposen telah menemukan setidaknya beberapa bukti antara lain:
- Mempertimbangkan Antroposen sebagai ‘realitas’ geologi yang bukti subtansialnya telah terbentuk (Zalasiewicz, 2011; Zalasiewicz et al., 2008).
- Pertimbangan dari segi determinasi titik awal yang menyarankan rentang waktu dari ‘Antroposen awal’ yang dimulai dari tingkatan waktu sekitar ribuan tahun lalu (Ruddiman, et al., 2015; Smith & Zeder, 2013); lantas berkembang sejak awal abad ke-17 dan disusul dengan masa penjelajahan (Lewis & Maslin, 2015); akhir abad ke-18 dan mulainya Revolusi Industri (Crutzen, 2016; Zalasiewicz et al., 2008); serta terakhir, pertengahan abad ke-20 dan ‘Great Acceleration’ atas percepatan aktivitas manusia dalam segala aspek kehidupan terutama sosial-ekonomi (Lewis & Maslin, 2015; Steffen et al., 2015; Steffen et al., 2016; Zalasiewicz et al., 2015).
- Pertimbangan level potensial unit Antroposen melalui hirarki straigrafik, misalnya sebagai age / stage atau subdivisi lain dari Holosen, atau epoch / series baru yang harus menggantikan Holosen sebagaimana tesis awal Crutzen (2002).
- Pertimbangan strategi bagaimana awal/base Antroposen dapat didefinisikan, entah melalui GSSP (golden spike): contoh batasan kronostratigrafi dalam Phanerozoik, atau dengan penaggalan numerik (numerical age) atau GSSA: contoh kasus batasan Prekambrian.
Fokus utama tesis Antroposen umumnya mengarahkan pada pembuktian level yang paling optimal untuk titik waktu sekitar pertengahan abad ke-20. Pada artikel ini, Zalasiewicz dan Waters (2018) tidak banyak mengungkapkan bagaimana Antroposen dapat diratifikasi melalui GSSP atau pencarian akan golden spike yang ada karena kesulitan pembuktian adanya kunci situs yang sinkronik dan global. Termasuk level penanda primer dan sekunder yang dapat diakses secara berkelanjutan. Pendekatan GSSP sangat cocok untuk meneliti ‘masa lalu’ yang telah membentuk stabilitas fosil dan sedimentasi batuan. Meskipun terdengar sulit tetapi AWG tetap berusaha keras untuk pembuktian GSSP dan GSSA yang secara ilmiah geologis dapat dipertanggung jawabkan.
Penandaan numerik GSSA dapat menjadi alternatif meskipun akan sangat rumit dan ambigu untuk mengarahkan potensi permulaan Antroposen berrlangsung. Zalasiewicz et al. (2014) mengajukan tesis sejak pertama kali bom atom diledakan pada 16 Juli 1945 di Alamogordo, Meksiko. Momen ini dianggap penting karena menandai diseminasi wujud radioaktif baru serta melahirkan awal the Great Acceleration (Steffen et al., 2015) yang akan mempengaruhi sistem Bumi selanjutnya. GSSA mungkin tidak secara normal stabil untuk memperlihatkan formalitas titik waktu Antroposen, namun akan sangat mudah untuk menandainya bahwa fase Antroposen telah ada. Oleh karena itu, untuk merespons ketidakstabilan GSSA maka diperlukan pendekatan khusus untuk membuktikan adanya potensi titik GSSP untuk geologi Antroposen.
Beberapa riset telah dilakukan untuk menspesifikasikan GSSP Antroposen. Pertama, tesis ‘awal’ mula Antroposen yang mengarah pada persebarasan lapisan tanah Antroposen oleh Certini and Scalenghe (2011). Tesis ini cukup bermasalah karena hilangnya potensi bukti yang stabil meskipun secara historis sangat memungkinkan mencari jejak-jejak persebaran peradaban prahistoris (Certini & Scalenghe, 2011). Kedua, tesis persitiwa Orbis oleh Lewis dan Maslin (2015) yang diasosiasikan dengan waktu kolonialisasi abad ke-17 yang secara signifikan memunculkan perubahan fase skilus CO2 di atmosfer. Tesis ini dianggap kurang ideal dan proposional karena kisaran variabilitasnya tidak begitu jauh dengan potensi yang ada di Holosen. Begitupun demikian dengan riset dari Wolfe et al (2013) tentang temuan 28 bagian danau utara yang ada di Zona Arktik dan pegunungan Amerika Utara untuk menunjukan transisi Holosen-Antroposen melalui perubahan sistematis antropogenik dalam isotop nitrogen dan mikrofosil yang dimulai ~1850 tetapi penanda ini semakin meningkat sejak ~1950 dan ~1980 (Wolfe et al., 2013). Rose (2015) menemukan distribusi fly-ash atau SCPs yang berpotensi sebagai penanda utama Antroposen, meskipun secara temuan kemunculan SCPs dapat dilacak sekitar tahun 1830an sebagai respons atas permulaan Revolusi Industrial akan tetapi peingkatan secara signifikan muncul sekitar tahun 1950an (Rose, 2015). Suksesi lain muncul terkait temuan distribusi radionuklida buatan yang tersebar secara global akibat uji coba bom nuklir dari 1950an (Waters et al., 2015) yang tercatat dalam sedimen lakustrin, sedimen pesisir, termasuk di salju kutub dan lapisan es (Wolff, 2014), bahkan adanya peningkatan produksi 14C (Karbon-14), yang mendendap di lingkaran pohon ‘tree rings’ (Lewis dan Maslin, 2015). Distribusi polutan organik yang baru juga memperkuat adanya sinyal Antroposen.
Catatan: Penutup Diskusi
Posisi yang paling rasional ialah menunda ratifikasi Antroposen atau mencari bukti yang ‘terlalu’ banyak tersebar. Alhasil, hanya menilik pertengahan abad ke-20 pada fase Great Accelaration akan sangat mungkin dipertimbangkan sebagai titik permulaan Antroposen. Hampir mayoritas kandidat stratotip Antroposen tersebar di wilayah daratan maupun sedimentasi lautan. Penanda lain juga dapat ditemukan dari sinyal antropogenik, seperti radionuklida buatan, SCPs, pestisida, plastik dan lain sebagainya.
Ratifikasi Antroposen akan terhambat apabila harus mengikuti aturan-aturan formal sebagaimana penulisan skala waktu geologi sebelumnya, tetapi akan sangat mungkin apabila seleksi GSSA dapat diprioritaskan terlebih dahulu daripada GSSP (Zalasiewicz et al., 2014). Fungsinya untuk mencari titik pewaktuan terlebih dahulu untuk kemudian mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung formalisasi Antroposen. Atau secara lebih radikal, GSSA dan GSSP dapat menjadi bagian komplementer atau pendukung data setelah eksplorasi jejak material yang dapat direkam melalui observasi dan pendokumentasian atas batas kalender tahun temporal (age atau subdivisi) untuk menghasilkan stratigrafi Antroposen yang efektif dalam konteks pengarsipan sejarah geologi manusia.
Referensi
Certini, G., & Scalenghe, R. (2011). Anthropogenic soils are the golden spikes for the Anthropocene. The Holocene, 21(8), 1269–1274.
Crutzen, P. J. (2016). Geology of mankind. In Paul J. Crutzen: A Pioneer on Atmospheric Chemistry and Climate Change in the Anthropocene (pp. 211–215). Springer.
Lewis, S. L., & Maslin, M. A. (2015). Defining the anthropocene. Nature, 519(7542), 171–180.
Rose, N. L. (2015). Spheroidal carbonaceous fly ash particles provide a globally synchronous stratigraphic marker for the Anthropocene. Environmental Science & Technology, 49(7), 4155–4162.
Ruddiman, W. F., Ellis, E. C., Kaplan, J. O., & Fuller, D. Q. (2015). Defining the epoch we live in. Science, 348(6230), 38–39.
Smith, B. D., & Zeder, M. A. (2013). The onset of the Anthropocene. Anthropocene, 4, 8–13.
Steffen, W., Broadgate, W., Deutsch, L., Gaffney, O., & Ludwig, C. (2015). The trajectory of the Anthropocene: the great acceleration. The Anthropocene Review, 2(1), 81–98.
Steffen, W., Leinfelder, R., Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Summerhayes, C., … Edgeworth, M. (2016). Stratigraphic and Earth System approaches to defining the Anthropocene. Earth’s Future, 4(8), 324–345.
Waters, C. N., Zalasiewicz, J. A., Williams, M., Ellis, M. A., & Snelling, A. M. (2014). A stratigraphical basis for the Anthropocene? Geological Society, London, Special Publications, 395(1), 1–21.
Wolfe, A. P., Hobbs, W. O., Birks, H. H., Briner, J. P., Holmgren, S. U., Ingólfsson, Ó., … Saros, J. E. (2013). Stratigraphic expressions of the Holocene–Anthropocene transition revealed in sediments from remote lakes. Earth-Science Reviews, 116, 17–34.
Wolff, E. W. (2014). Ice sheets and the Anthropocene. Geological Society, London, Special Publications, 395(1), 255–263.
Zalasiewicz, J., Waters, C. N., Williams, M., Barnosky, A. D., Cearreta, A., Crutzen, P., … Grinevald, J. (2015). When did the Anthropocene begin? A mid-twentieth century boundary level is stratigraphically optimal. Quaternary International, 383, 196–203.
Zalasiewicz, J., Williams, M., Haywood, A., & Ellis, M. (2011). The Anthropocene: a new epoch of geological time? The Royal Society Publishing.
Zalasiewicz, J., Williams, M., Smith, A., Barry, T. L., Coe, A. L., Bown, P. R., … Gibbard, P. (2008). Are we now living in the Anthropocene? Gsa Today, 18(2), 4.