Selamat datang di laman pribadi saya, seutuhnya laman ini akan saya gunakan sebagai tempat sampah pikiran saya sendiri. Seutuhnya pribadi, beberapa di ambil dari catatan, hasil bacaan, dan diskusi tentang filsafat, antroposen, dan pembahasan lain yang menarik (bagi saya).
Tiga bulan pertama setelah kedatanganku di Glasgow, Skotlandia tidak banyak berubah selain harus beradaptasi dengan iklim yang menyebalkan.
Nampaknya aku sudah lebih baik. Buktinya aku mulai menulis catatan hidup acakku di sini. Memang lebih banyak tidak baik daripada baiknya. Bukankah begitu?
Nanti malam menjadi waktu pergantian tahun. Sepertinya aku memilih untuk berdiam diri di kamar sambil sesekali bermain gim, menonton sinema, dan membaca komik.
Mari kita ingat-ingat kembali apa yang sudah ku lakukan beberapa bulan terakhir. Ini sepertinya untuk semacam memamerkan hasil kerja-kerja akademik yang baru saja aku sadari ternyata jauh dari apa yang disebut sebagai kerja akademik sungguhan.
Sialnya, aku baru mengetahui itu setelah aku memulai studi ku di sini. Namun, aku perlu sekali lagi mengapresiasi apa yang sudah aku kerjakan setahun belakangan ini.
Perlu aku tekankan, kerjaku ini bukan kerja sendiri. Ada banyak pihak membantuku. Mulai dari mendiskusikan ide sampai merealisasikan dalam bentuk tulisan. Mereka ialah teman, kolega, dan beberapa mahasiswaku di Yogyakarta. Jadi, kerjaku ya kerja kolektif pada akhirnya.
Seingatku, aku sudah menulis 7 jurnal internasional, 4 jurnal nasional, 2 bunga rampai, 2 prosiding, dan juga 5 artikel di beberapa laman media juga 1 opini media massa.
Oh ya, ada juga satu esai untuk majalah baru, kami sebut Sensibilia, satu majalah yang diinisiasi oleh beberapa alumni filsafat. Kalian wajib menantikannya!
Aku juga menulis satu puisi aneh. Ini dampak dari suramnya Glasgow!
Selain itu, aku masih ingat pertama kalinya aku menjadi keynote speaker untuk suatu konferensi filsafat di Filipina. Aku merasa inferior sekali saat itu, jujur. Terlebih lagi, bahasa inggrisku yang pas-pasan pula. Juga, dua kali menjadi presenter di konferensi internasional. Bagian menjadi presenter biasa saja itu justru yang lebih menyenangkan.
Selain itu, aku juga diundang bersiniar ria—podcast—bareng Chronicles. Entahlah, hancur sudah muka ini tak kenal arah ngomong ngalor-ngidul. Memang aku tidak berbakat untuk berbicara penuh karisma, dan boro-boro mengajak banyak orang untuk melakukan revolusi. Pun, belum ada bayangan buat jadi hero, kan ku bilang, untuk sekadar menyelamatkan diri sendiri saja masih terbata-bata.
Sepertinya, aku bukan orang yang bisa diajak berkomitmen dengan hal-hal besar.
(ii)
Mari ku kenalkan dua pembimbingku yang bersedia menerimaku di Glasgow. Entah apa yang memotivasi mereka. Tapi, aku merasa bersyukur memiliki dua pembimbing (supervisor) yang berbeda dalam merawat kegilaanku sebagai mahasiswa baru. Aku merasa untuk berjalan saja masih sulit, apalagi berlari.
Pertama, aku kenalkan terlebih dahulu Profesor Christopher Philo. Kami akrab memanggilnya Chris atau kalau aku senang memanggilnya Eyang Philo. Mengapa Philo? Bagiku dia lebih filsafat daripada geografi. Mengapa tidak? Coba saja kalian buka google akademianya.
Awalku menjajaki School of Geographical and Earth Sciences, di University of Glasgow, aku tidak berani sedikitpun menyapanya. Waktu itu, minggu kedua Oktober menjadi waktu untuk induction. Kegiatan ini serupa semacam perkenalan kampus dan sekolah kita akan belajar. Mengenali kehidupan kampus juga hiruk pikuk di dalamnya.
Saat induction, aku harus melaluinya sendiri. Kedua pembimbingku sedang tidak ada di tempat. Bukan tanpa alasan, mereka berdua orang yang sangat sibuk. WKWK~
Untungnya, aku masuk ke dalam kelompoknya Profesor Deborah Dixon. Ya, seperti anak ayam tersesat. Tapi aku menikmatinya. Deborah menanyakan latar belakang dan arah penelitianku. Aku dengan yakin hanya menjawab, sepertinya saya ingin menulis tentang,
“Ya… ide pembeda antara dunia (world) dengan bumi (earth) dalam pembabakan kajian geologi Antroposen dan juga filsafat”.
“…Apa menariknya? Apa yang kamu kamu cari?”, balas Deborah.
“…..” seketika aku hanya terdiam. Aku merasa, iya juga ya, apa yang aku cari semuanya sudah jelas begitu saja. Tinggal aku cari literatur, ku duduk dan baca selesai. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang tertinggal.
Lalu, Deborah menarik seseorang dari bidang geologi murni. Ia memperkenalkan seorang geolog kepada ku. Deborah memintaku berdiskusi dengannya.
Saat itulah, ke-sok-maha-tahu-anku berbicara. Aku bahkan menduga-duga banyak hal tentang konsekuensi putusan kegalalan ratifikasi akhir Antroposen yang penuh dengan praduga politis dan sosiologis. Dengan entengnya, geolog itu menjawab, “Secara sederhana, karena ia (Antroposen) sangat minim bukti dibandingkan epos lainnya”. Lalu aku lanjutkan diskusi ini sampai berakhirnya sesi induction.
Satu minggu kemudian, aku akhirnya bertemu dengan Chris Philo. Saking takutnya terlambat aku mengetuk pintu 10 menit sebelum waktu yang kami sepakati, yakni 13.00.
Tok-tok-tok, aku mencoba mengetuk pintunya.
Chris menjawab,”Iya, silakan…”
Aku mencoba membuka pintu dan bilang, “Apakah saya boleh masuk?”
“Waduh! Kita masih akan berjumpa 10 menit lagi ya, ini saya selesaikan berkas kecil saja”.
…..
10 menit kemudian, tepat pukul 13.00, kami bertemu. Aku mencoba memperkenalkan diri. Aku bahkan bilang bahwa aku tidak punya pengalaman sebagai peneliti di bidang geografi apalagi geologi. Aku murni dari filsafat. Aku pun jujur aku tidak punya latar belakang ilmiah yang baik. Hidupku di akademia hanya dihabiskan untuk sekadar mengajar di Fakultas Filsafat. Jadi ya, hanya bisa membaca buku filsafat, tetapi belum berfilsafat.
Chris mengamati aku berbicara. Kakinya diangkat ke meja yang lebih pendek dari tinggi kursi yang kita duduki. Chris bertubuh besar dan tinggi. Bagi diriku yang pendek ini, melihatnya seperti algojo bagi para spekulatif sepertiku. Ku pikir dia akan memarahiku oleh sebab latar belakangku yang sangat jauh dari kata i-l-m-i-a-h.
Kami menghabiskan hampir satu jam berbicara tentang orientasi riset dan kehidupan minggu keduaku di Glasgow. Aku melihat Chris sebagai sosok yang lebih banyak mendengar, mengapresiasi, dan mencoba mencari titik temu dari hal-hal yang mungkin saja mustahil untuk dipertemukan.
Chris bahkan selalu bilang, mengapa dirinya menyukai filsafat karena ada hal yang ia percaya.
“Thinking of thinking…”
Begitulah satu hal yang ia sampaikan kepadaku sembari mencari-cari buku tentang riset dan metode geografi. Aku sangat terkesan dengan rak bukunya. Isinya penuh dengan buku-buku filsafat kontemporer dan kontinental. Terlebih lagi, Chris ialah pembaca Michel Foucault yang baik. Semua riset-riset Chris hampir bersinggungan dengan geografi sejarah, politik, kuasa, sosiologi, dan bahkan rumah sakit jiwa. Chris meneliti cukup banyak terkait geografi “kegilaan”. Bahkan, di buku terakhirnya, ia mencoba melihat geografi imajinatif dalam proyeksi politik fasisme. Ia membangkitkan Adorno dari kuburnya!
Layaknya, eyang kakung. Chris berperan banyak sebagai pendengar. Ia juga sebagai supervisor keduaku. Menariknya, ia juga bercerita kalau anaknya pun masuk jurusan filsafat di University of Edinburgh.
Chris sempat pusing tujuh keliling. Ruangannya penuh dengan buku-buku. Menurutku bukunya terlalu banyak. Ia sempat berpikir juga bagaimana caranya membawa buku-buku filsafat dan geografinya ketika ia akan pensiun kelak. Musim panas tahun depan ia akan emeritus sebagai guru besar.
Aku mencoba menambahkan, “Artinya, itu petanda baik, bahwa buku-buku filsafatmu akan kamu wariskan kelak kepadanya”.
Ia tersenyum cukup lebar dan berkata.
“Aku pikir, ia tersesat di jalan yang benar”.
(iii)
Sebulan kemudian, kami hanya berbicara melalui email dan sesekali bertemu saat weekly meeting di bawah naungan agenda Human Geography Research Group (HGRG) di kampus. Profesor Hester Parr menjadi penanggung jawab untuk HGRG. Aku pernah bertemu beberapa kali di acaranya Hester. Hester sesekali berbicara tentang masa depan HGRG. Terkadang ia merasa bahwa acara mingguannya ini begitu sepi dari peminat. Di pertengahan November aku berbincang banyak dengannya, dan di satu titik kami mendiskusikan tentang Seasonal Affective Disorder (SAD).
Awalnya aku terheran-heran, mengapa Prof Hester berbicara banyak tentang hal-hal psikologis daripada geografis. Ternyata, riset Hester lebih banyak membicarakan hubungan antara geografi dan mental kognitif seseorang. Ia bahkan menyarankan aku untuk mencari pencahayaan yang lebih. Ia tahu betul bagaimana rasanya menjadi orang yang hidup di dunia penuh dengan cahaya matahari harus mengalami perubahan ekstrim secara mendadak.
Dan memang benar apa yang ia katakan. Aku mengalami fase-fase yang sangat depresif. Kita semua tahu cuaca di Glasgow tidak dapat diprediksi. Satu jam panas cerah, satu jam hujan, satu jam kemudian gelap. Glasgow bagiku ialah kota hujan. Lebih banyak mengenal hujan, angin, dan badai.
Jangan tanyakan kepadaku kalau aku sudah melihat Aurora akhir bulan lalu atau mengalami selancar salju atau membuat boneka salju yang lucu itu. Toh, di sini hanya ada hujan rintik berkabut saja.
Selesai bertemu Hester, aku melanjutkan untuk menghubungi Garfield Tait untuk menanyakan peminjaman laptop selama studi di sini. Mahasiswa di Glasgow berhak untuk meminta hotdesk komputer atau laptop selama berstudi doktoral. Tentunya, aku memilih laptop. Hematku karena lebih simpel saja.
Beberapa orang mengenal Garfield parubaya penjaga IT kampus. Jika kalian pergi ke ruangannya, ada poster kucing oyen gembul ikonik Garfield. Ruangnya berada di gedung East Quad, University of Glasgow. Aku sering menyebutnya Gedung Pusat. Ya benar, di situ juga sekaligus School of Geographical and Earth Sciences berada. Layaknya gedung tua. Aku lebih memilih untuk bekerja di perpustakaan daripada di ruangan itu. Terlalu sendu dan galau, menatapi langit gelap, dentingan suara lonceng, burung gagak di setiap sore langit menuju pentang. Gedung itu selalu lebih cepat sepi dari pada bangunan-bangunan lain.
Tapi aku akan kembali, suatu saat, mungkin beberapa waktu ke depan setelah aku menemukan apa yang harus aku tulis. Oh ya, mengenai Garfield, ia adalah pribadi yang sangat serius, fokus dengan rangkaian perkakas komputernya. Ia tinggal sendirian di ruangan kecil penuh dengan komputer tua itu. Ku pikir aku akan sulit berbicara dengannya sebab sebagian orang bilang, Garfield sukar ditemui apalagi diajak bicara.
Aku memberanikan diri untuk mengetuk ruang kerjanya. Selang beberapa detik, ada suara orang di dalam. Aku pikir dia mempersilakanku masuk. Aku buka dan dia bertanya dengan logat Glaswegiannya. Aku seperti biasa nampak bengong. Ngang-ngong. Aku hanya bisa menjawab, “Saya pikir saya membutuhkan laptop untuk bekerja, oh ya, saya mahasiswa di sini, salam kenal”.
Dengan cekatan ia mengambilkan dus laptop baru di samping mejanya. Ia katakan, “baik saya siapkan untukmu… kamu tunggu saja di sini”. Seperti biasa, aku bingung dan canggung. Membayangkan hanya berdiam diri dan menunggu proses penginstalan yang mungkin saja lebih dari satu jam ini. Ada bayang-bayang bahwa orang ini sepertinya sukar diajak berbicara. Aku coba beranikan diri, “Glasgow dingin sekali ya…”.
Ia memandangiku dengan senyum tipisnya.
“Oh ya?”, “Lantas mengapa kamu masih menggunakan jaket tebalmu?, saya pikir ruangan ini sudah saya atur agar hangat”.
“Ehem, saya pikir masih cukup dingin, saya baru beberapa minggu di Glasgow, suhu di sini sangat berbeda dengan di Indonesia”.
Aku pikir obrolanku cukup aneh. Justru, di titik itulah karena kita berdua bosan akan diam dan saling memandang layar yang tak kunjung selesai mengunduh aplikasi untuk protokol awal laptop kampus itu. Spontan, ia malah bercerita banyak tentang pengalamannya pernah pergi ke daerah-daerah tropis. Ia merasakan kesulitan beradaptasi. Ia pikir aku akan lebih mudah untuk beradaptasi daripada dirinya. Ia dari lahir sampai setua ini hanya mengenal rasa dingin.
Aku tak menyangka, obrolan ini terlalu panjang akhirnya. Garfield menceritakan hobinya mengendarai motor. Setelah aku menunjuk beberapa poster motor-motor jadul yang ia pajang di ruangan kerjanya. Ia bercerita banyak. Mengenang masa lalunya sebagai bagian dari geng motor. Sayangnya, sekarang ia sudah tak bisa mengendarai motor akibat cedera kaki pasca kecelakaan motor. Spontan, aku coba mengajaknya untuk mencoba pergi ke Indonesia, untuk melihat banyak motor-motor aneh. Ia tertawa.
Sembari menunggu proses instalasi akhir, Garfield menceritakan banyak kepadaku tentang apa yang menarik dari Glasgow. Mungkin bagi sebagian orang Glasgow terlalu suram, namun baginya aku disarankan untuk pergi menjelajah, pergi ke museum dan tempat-tempat seni lainnya. Ia juga memperkenalkanku makanan tradisional khas Glasgow yaitu Haggis. Makanan ini semacam puding yang bahan dasarnya terbuat dari jeroan domba. Katanya, aku diminta untuk jangan membayangkan ketika akan memakannya. Pura-pura saja tidak tahu.
Sampai di sini, ia masih bercerita asal-usul makanan, macam Haggis itu, atau sajian keong di Paris. Ia percaya bahwa makanan tradisional itu akibat “kreativitas” teknik meramu makanan bagi kaum proletar pada masanya. Namun, sekarang komodifikasi makanan bisa mengubah citra makanan.
Lalu, kami mempunyai semacam kesepakatan bersama bahwa rasanya sulit mencari jenis makanan mana yang terbebas dari ide-ide kapitalisasi dan kolonialisasi hari ini. Namun, kami juga sepakat terkadang makanan bisa membawa perdamaian. Atau, revolusi juga dimulai dari hal yang paling materialis sekalipun, semacam minimal logistik dalam perut.
“… ku pikir laptopnya sudah selesai, silakan kamu coba”, kata Garfield.
“Ah ya, terima kasih Pak!”, aku juga menambahkan, “Ku pikir mengapa dalam cerita-cerita surgawi seperti Adam dan Hawa diajarkan untuk bagaimana cara makan yang baik dan benar, tidak bisa dipungkiri ya?”.
“… tapi begini, tapi mengapa masih banyak orang kelaparan di dunia ini ya, jika katakanlah makanan berlimpah, ke mana perginya semua makanan itu?”, Garfield dan aku saling pandang sembari mengerutkan dahi satu sama lain.
(iv)
Selama bulan November, aku hanya melakukan diskusi secara daring dengan Adam Bobbette sebagai pembimbing utamaku. Aku benar-benar kacau sebab sepanjang dua bulan kami berdebat, aku dan Adam, kami tak kunjung menemukan titik temu.
Singkatnya, aku telah mengganti topik risetku sebanyak tiga kali. Awalnya aku pikir, aku akan melakukan eksperimentasi metodis untuk memperkuat kajian metode geologi dan geografi. Selain itu, mempertemukan kajian filsafat dan non-filsafat (geologi/geografi) dalam wacana Antroposen ku pikir sangat menarik. Sayangnya, aku mengalami deadlock. Ku pikir apa bedanya aku di sini hanya mengandalkan pendekatan filosofis saja?
Itu persis ketika aku bertemu dengan Adam di Jogja. Ia bicara kepadaku bahwa aku harus lulus tidak sebagai filsuf, melainkan sebagai geografer atau geolog. Jujur aku sangat terbebani dengan ekspektasi itu.
Adam bahkan sempat mempertanyakan kembali kesiapanku.
“Apakah kamu merasa sudah bosan dengan Antroposen?”
“Benar, aku sangat bosan dengan tema ini”.
“Baik, bagaimana kalau kamu melupakannya saja?”
“Akan aku coba, aku pikir aku harus mengalihkan pandanganku terhadap Antroposen”.
Di sinilah aku mencoba eksplorasi baru tentang ide-ide pemikiran kepulauan, archipelagic thinking.
Posisi Adam yang sedang academic leave sehingga tidak hadir secara langsung di Glasgow membuatku harus memutar ide dan mencari titik temu. Akhirnya, aku memulai kajian baru di bidang island studies atau kajian pulau. Kajian ini sangat minim. Di geografi saja masuk sub-kajian baru. Selama bulan November aku mengikuti beberapa kelas fundamental, salah satunya master research. Di kelas itu, aku mempelajari banyak tentang metode-metode yang lazim digunakan di geografi.
Adam bahkan mencoba menghubungkanku dengan Farai Chipato. Farai ialah dosen dan juga peneliti Antroposen sekaligus pengkaji black geographies. Aku bertemu dengan Farai. Aku menceritakan semua kebuntuanku dalam mencari titik temu antara filsafat dan non-filsafat. Kami banyak berdiskusi antara pendekatan yang mungkin bisa dikaji untuk memahami asal-usul ide kepulauan di Indonesia, bagaimana tautan sejarahnya dari era kolonial sampai pascakolonial, dan bagaimana pendekatan ini mampu membawanya sampai ke kajian Antroposen. Farai terus mendorongku untuk melakukan pendekatan yang mirip dilakukan oleh David Chandler (Westminster) dan Jonathan Pugh (Newcastle), dengan alasan sebab mereka melahirkan ide tentang Anthropocene Island.
Benar yang dikatakan Farai, aku bisa belajar banyak dari mereka. Namun, aku menekankan kembali fakta bahwa kajian mereka yang berorientasi pada Karibia akan sangat berbeda jika ditarik ke kajian Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Sayangnya, aku tidak menemukan apa yang aku cari, karena aku sadari masih sangat abstrak dan jauh dari pendekatan yang lebih empiris daripada sebelumnya. Farai justru memberikanku buku yang ditulisnya tentang kajian ras dalam Antroposen.
Minggu demi minggu, aku mencoba mengumpulkan bukti-bukti, hasil bacaan tentang studi kepulauan. Berbagai sumber yang menyebutkan sejarah-sejarah. Mencoba membaca sastra tentang semangat eksplorasi kepulauan dan sebagainya. Sampai pada akhirnya, aku berhasil menuliskan tentang archipelagic thoughts.
Ini adalah tantangan Adam kepadaku. Aku harus menulis setidaknya 5000 kata dalam satu bulan dengan minimal referensi yang sangat terbatas, tidak lebih dari 10 rujukan. Aku tahu ini adalah caraku belajar banyak, harus lebih banyak membaca, membaca, dan menulis. Intinya, ini baru permulaan. Aku juga sadari betul bahwa kemampuanku membaca dan menulis sangatlah buruk. Untuk itulah, Adam menantangku dengan pendekatan ini. Mungkin saja, beberapa orang merasa apa yang lakukan oleh Adam sebagai supervisi sangat berbeda, penuh tekanan, dan kritik.
Sampai akhirnya, aku selesai menuliskannya.
Aku kirimkan ke Adam. Namun sepertinya, aku banyak melakukan kesalahan dalam menjelaskan ideku. Masih terlalu abstrak. Jauh dari kata mudah dipahami untuk banyak orang.
Inilah kegagalan pertamaku. Aku gagal meyakinkan ideku sendiri kepada Adam. Adam mempertanyakan banyak hal. Sayangnya, aku belum menemukan jawaban yang tepat. Aku masih saja terus menerus memberikan pendekatan yang lebih abstraksi alih-alih empiris. Lebih membicarakan normativitas daripada deskripsi-eksplanasi secara lebih terarah.
Awal Desember, menjadi awal yang buruk bagiku. Aku ingin menyerah saat itu. Ku pikir, aku tidak cukup baik untuk belajar di sini.
(v)
Puncaknya, aku merasa aku gagal. Di sela-sela kebutuan ini. Aku ingat kalimat Farai sebelum mengakhiri percakapan singkat kami. Aku sempat bertanya tentang mengapa kamu mengajar di sini? Padahal kamu bukan seorang geograf. Farai menekankan, “Bagi saya yang berlatar belakang kajian sosial humaniora seperti ilmu politik tidak menjadi masalah, kita hanya perlu menyesuaikan diri saja”.
Kalimat Farai menjadi tamparan bagiku. Apakah aku harus menjadi seorang geolog? Atau menjadi seperti geograf? Aku mencoba mempelajari semuanya. Ironisnya, hanya menjadi catatan-catatan yang tidak pernah benar-benar selesai. Aku hanya menuruti ego-kecilku saja. Untuk menjadi seseorang yang lain.
Di minggu kedua, aku memiliki jadwal terakhir untuk bertemu dengan pembimbing kedua, Eyang Philo. Kami memilih kafetaria kampus sebagai tempat pertemuan untuk menutup tahun sebelum liburan musim dingin. Jika sebelumnya aku datang terlalu awal, kali ini aku datang terlambat lima menit dari waktu yang sudah disepakati. Aku berjalan cepat dari kos menuju kampus. Terlebih lagi, kampus Glasgow itu seperti perbukitan kecil, tidak terlalu tinggi tetapi cukup melelahkan jika harus berlarian kecil untuk naik ke atasnya. Saat itu, udara begitu dingin dan hanya kabut tebal yang menyelimuti kampus. Aku berasa hidup di dunia fiksi Silent Hill.
Kami bertemu dengan nafas terbata-bata. Aku takut bahwa ideku buruk lalu mungkin saja tidak dapat diterima olehnya. Namun, kata pertama yang keluar dari Chris justru,
“Saya sangat senang membaca tulisanmu ini, kamu berhasil meyakinkanku soal Archipelagic Thoughts”.
Aku yang mendengarnya hanya terheran-heran. Benarkah demikian?
Lalu kami memesan kopi di pagi yang dingin itu. Kami mendiskusikan ide-ide abstraksi ini. Chris sangat terkesan dengan pemikiran filosofisku. Bahkan aku bercerita kepadanya bahwa aku merasa gagal di school ini. Aku sulit mempelajari hal-hal teknis macam rumus geologis sampai pemetaan geografis. Aku ungkapkan perasaan apa adanya.
Chris mendengarkan dengan seksama. Ia malah memberikanku pandangan yang berbeda.
“Saya pikir kamu tidak harus menjadi geograf atau geolog. Jadilah filosof seperti apa adanya saja. Saya pikir kamu paham apa yang saya katakan sampai sini”.
“Kamu bisa menggunakan pendekatan onto-epistemologi untuk memahami kajian-kajian di kampus ini. Kamu bahkan bisa coba untuk menelaah kembali bagaimana pandangan para geograf dan geolog di sini, kenapa tidak kamu coba?”
Aku hanya terdiam. Aku sangat terharu pada saat itu. Tentu saja, aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku. Aku hanya merasa tervalidasi sesaat oleh perasaan ini.
Aku pikir ini semacam hadiah natal dari Chris. Aku hanya agak sedih saja jika membayangkan musim panas tahun depan, Chris sudah tidak lagi mengajar di Glasgow. Ia akan pensiun, menjadi emeritus. Ia akan lebih banyak membaca buku filsafat sebagaimana ia katakan kedua kalinya.
“Ingat, Rangga. Saya mencintai filsafat sepanjang karir akademisi ini sebab saya mencoba selalu memikirkan cara berpikir”.
Satu jam berlalu dengan cepat. Seperti biasa, Chris ialah orang sibuk. Jadwalnya terlalu padat. Sebelum pergi, Chris memelukku.
Aku hanya terdiam dan menahan rasa haru biru. Setelah ia pergi, pandanganku menjadi kabur. Semacam muncul kabut dari mataku.
Eyang Philo mencoba ngepuk-puk pundak HAHA.
(vi)
Meskipun perasaan percaya diri ini pelan-pelan muncul, sisa-sisa perjalanan depresi kecil sebab hidup dalam kesendirian membuatku memutuskan untuk menghubungi Adam.
Aku akan memperkenalkan siapa si Adam ini. Adam Bobbette merupakan dosen politik geologi di Glasgow. Di Indonesia ia malah menjadi intelektual selebriti baru berkat bukunya yang diterjemahkan oleh Marjin Kiri, Denyut Nadi Bumi. Itu yang selalu aku katakan ke Adam. Terkadang, ia justru bercerita kepadaku bahwa ia tak suka banyak sorot kamera atau banyak orang bertanya kepadanya. Itu membuatnya sangat lelah.
Jika orang mengenal Adam pribadi yang dingin, pendiam, tegas, dan lugas dalam berbicara. Aku mengenalnya sebelum pandemi COVID-19, tepatnya di sekitar tahun 2018 akhir. Saat itu, Adam sedang menyelesaikan proyek penelitiannya di Merapi. Temanku bernama Owi menjadi orang yang pertama kali memperkenalkan Adam kepadaku. Owi memiliki alasan sebab aku adalah orang yang iseng mempelajari perdebatan Antroposen. Pertama kalinya, aku memperkenalkan Adam ke Fakultas Filsafat. Aku memintanya untuk memberikan semacam seminar kecil di tahun 2019. Ia memberikan ceramah tentang onto-geologi. Saat itu, aku sangat terkesan dengan pemikirannya ketika menghubungkan antara problem geologis dengan pendekatan ontologis yang lebih luas.
Ketika COVID-19 pecah, Adam pun kembali ke Australia untuk menyelesaikan tanggungan risetnya. Kami hanya berhubungan melalui email dan sesekali dengan WA. Pandemi membuatku lebih gila lagi. Aku harus menyelesaikan studi masterku. Ada banyak cerita di baliknya sampai akhirnya aku lulus dari studiku itu. Aku bilang ke Adam bahwa aku ingin mencoba mencari pekerjaan di Indonesia, mungkin menjadi peneliti atau pengajar. Adam tertawa. Ia bilang,
“Kamu yakin menjadi dosen di Indonesia? Apakah kamu nanti ada waktu untuk menulis dan membaca?”.
Saat itu, aku hanya bermodal percaya diri menjawab,
“Aku pikir, aku bisa Mas! Lihat saja nanti ya!”
Di saat bersamaan, Adam menjadi dosen di Glasgow. Ia mengajakku untuk melanjutkan studi saja di Glasgow atau memulai karir akademik di Glasgow. Namun, aku memilih menjadi dosen di Filsafat. Aku tahu bahwa menjadi dosen di Indonesia tidak terlepas dari urusan administrasi dan beban-beban sosial yang tidak terlihat lainnya.
Aku pikir ada benarnya juga apa yang disangsikan Adam. Menjadi dosen di Indonesia akan sangat minim waktu membaca dan menulis. Namun, aku mencoba untuk pelan-pelan melawan, meski terkadang harus mengorbankan waktu tidurku.
Adam mulai fokus dengan kehidupan barunya sebagai dosen di Glasgow. Begitu pula diriku. Sesekali, setahun sekali ketika Adam kembali ke Jogja. Aku bertemu dengannya. Hanya untuk sekadar untuk sama-sama meluangkan waktu untuk memberikan sumpah serapah lelahnya menjadi pengajar. Adam merasa kelelahan harus mengajar ratusan orang di kelas pengantar. Begitu pun aku, aku lebih merasa kelelahan dengan iklim dramatisasi seremonial akademik di Indonesia. Aturan baru, akreditasi baru, ahh sudahlah. Kita bahas di lain waktu, ya!
Sebagaimana tertuang di kontrak kampus, aku harus segera mencari tempat untuk melanjutkan S3. Aku mencoba dua beasiswa. Satu beasiswa di Universitas Wina di bidang Filsafat dan satu lagi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) di tahun 2024. Saat itu, di tahun 2023, aku mulai mencari kampus. Aku mencoba menghubungi berbagai peluang untuk studi lanjut, mulai dari Belanda, Swiss, Jerman, dan Australia. Aku hanya memikirkan untuk mencoba ke Inggris setelah pencarianku buntu. Aku menghubungi dua kampus yakni University of Bristol, Inggris dan University of Glasgow, Skotlandia, Inggris. Keduanya sama-sama School of Geography. Aku mendapatkan kesempatan untuk kedua kampus tersebut. Namun, pada akhirnya, aku memilih di Glasgow bersama Adam. Alasannya mengapa? Akan aku ceritakan ke kalian lain waktu juga!
Satu bulan sebelum berangkat ke Glasgow, Adam sempat mampir ke Jogja kami menuju lereng Merapi.
Singkat cerita, kedekatanku dengan Adam sudah cukup emosional. Aku merasa Adam itu seperti saudara kakak sendiri, like a brother. Jika Eyang Chris ialah pendengar yang afirmatif. Adam justru pembimbing yang sangat kritis dan kontra atas ide-ideku. Bukan untuk menjatuhkan melainkan untuk menguji secara konsisten ide besarkan. Tiga kali aku berganti haluan. Ini membuatku gila.
Sampai akhirnya, aku meminta Adam untuk bertemu sesekali sebelum libur panjang natal dan tahun baru. Tiga hari sebelum natal, Adam mengajakku ke sebuah pub sekitaran kampus. Selama perjalanan aku hanya ingin membicarakan ide-ideku yang mengalami jalan buntu. Aku merasa agak sedikit gila waktu itu.
Ketika kami bertemu, Adam memberikanku ide sederhana tentang pandangan dia soal kemungkinan teori lempeng tektonik pasca kemerdekaan di Indonesia. Entah mengapa, aku merasa ada kesamaan hal yang ingin aku bicarakan ke Adam. Aku ingin membicarakan soal keterbatasanku dalam riset ini, terutama tentang bantuan dana hibah penelitian dari penyelenggara beasiswaku.
Aku bilang ke Adam, awalnya risetku akan berbicara tentang fundamental kajian archipelagic di Asia Tenggara dimulai dari Indonesia. Kita bisa mulai dari studi-studi arsip tentang jejak-jejak kolonial dan hubungannya dengan friksi awal mula kapitalisme global. Pulau-pulau wilayah jajahan kolonial awal merupakan bagian penting dari titik mulai akumulasi kapital awal sebelum era revolusi industrial. Proyek ini menjadi sangat ambisius. Kita bisa mulai menapaki jejak-jejak kepulauan kapital dari Banda, katakanlah. Atau kita coba bandingkan saja dengan kepulauan seribu yang sangat unik latar belakang sejarahnya.
Tesis utamaku ingin membuktikan bahwa studi kepulauan Antroposen dapat kita mulai dari Asia Tenggara selain Karibia sebagaimana telah dilakukan oleh David dan Johnatan sebelumnya. Ku pikir ini menjadi kontribusi utamaku untuk perdebatan global kepulauan Antroposen. Bagaimana orang-orang poskolonial juga merasakan perubahan dunia dan bumi sekaligus akibat dari dampak perubahan sirkulasi kapital dan globalisasi. Aku mulai mempelajari sedikit banyak teori-teori kepulauan, oseanografi sampai ide tentang pendekatan abbysalgeography.
Tentu saja, ide ini tidak semudah dari bayanganku. Aku perlu lebih banyak sumber daya finansial. Lalu, aku memutuskan untuk membicarakan ini ke Adam. Tapi, aku terheran-heran, layaknya telepati tersembunyi. Adam memberikan ide untuk menganalisis dasar samudra dari tarikan teori lempeng tektonik di Indonesia melalui jalur patahan kedalaman Sunda-Jawa. Lalu ia memberikanku beberapa buku bapak geologi Indonesia, John A. Katili. Aku bergegas memotong obrolan ini.
“Adam! Mengapa kamu bisa tahu kalau aku sedang buntu memikirkan pendanaan risetku? Padahal aku belum sempat bilang bahwa sepertinya aku akan lebih banyak kajian arsip, wawancara, dan studi lapangan singkat”.
“Aku pikir risetku lebih sederhana dan lebih mudah untuk dilakukan”.
“Aku merasa tugasku di sini hanyalah untuk belajar, setidaknya belajar bagaimana menulis dan membaca yang baik dan benar terlebih dahulu”.
Adam dengan senyum ramahnya menjelaskan kembali pandangan dia tentang bukunya yang belum selesai. Aku lalu menambahkan sepertinya aku tertarik untuk melihat lebih jauh politik dan geologi di Indonesia pasca-kemerdekaan. Kita mungkin bisa lihat dari Katili, geolog pertama yang menerapkan teori lempeng tektonik dan bagaimana hubungannya dengan Orde Baru. Obrolan kami berlanjut. Ini kali pertama kami berbicara lebih banyak. Aku sangat mengamini hari itu, sampai akhirnya aku bilang ke Adam.
“Mas, tahukah kamu? Aku membenci melakukan ini semua. Aku bosan membaca. Aku lelah harus kembali menelusuri hal-hal yang tidak pernah aku yakini. Aku bosan harus hidup terkurung di dalam kotak-kotak ruangan di flat atau sekadar hidup di perpustakaan setiap harinya”.
Adam terdiam. Lalu ia menanyakan opiniku tentang iklim Glasgow.
“Aku juga merasakan hal lain, aku merasa tidak cocok dengan Glasgow. Glasgow terlalu suram untukku. Aku hanya bisa hidup dengan matahari yang lebih panjang. Namun, aku hanya mencintai kultur seni di Glasgow, sisanya aku membencinya. Apalagi makanan! Tentu aku rindu makanan bertabur rempah di Indonesia, dan…”.
Adam memotong pembicaraanku yang emosional itu. Ia malah memberikan jawaban yang jauh berbeda dari pada Eyang Chris. Layaknya saudara yang blak-blakan.
“Kamu sudah benar, mas!”
“… itulah menjadi akademisi, kamu akan lebih banyak merasa kesepian, merasakan kebosanan mendalam.”
“Artinya, kamu sudah memulainya…”
Aku terkesan dengan jawaban dia yang lebih realistis daripada memupuk banyak harapan palsu. Aku mengenal Adam adalah pribadi yang aneh. Aku katakan sekali lagi, ia adalah orang aneh.
Betapa tidak, Adam dapat hidup berjam-jam untuk membaca dan menulis. Adam lebih mencintai buku-bukunya. Ia menolak untuk hidup bersosialisasi terlalu lama. Ia tipikal dosen yang selesai mengajar lalu mengunci diri di ruangannya. Ia lebih senang dan bahagia dengan menulis.
Menurutku, Adam orang yang baik. Ia hanya memiliki kehidupan sosial yang berbeda. Adam juga meyakini banyak orang yang tidak suka dengan tindakannya. Namun, ia tidak begitu memedulikannya. Ia hanya fokus dengan apa yang ia cintai.
Aku pikir lagi, orang seperti Adam pasti sulit diterima di iklim kampus di Indonesia. Kita bisa bayangkan, kampus-kampus di Indonesia lebih suka seremonial, suka kumpul-kumpul ngobrol ngalor-ngidul kagak jelas. Kalau nda gosip ya omong-kosong politik. Memutar di situ saja. Orang seperti Adam akan dianggap nda gaul atau kasarnya anti-sosial. Aku hanya membayangkan saja. Di Glasgow saja, ia mungkin dianggap aneh dan berbeda. Tapi aku mengerti sekali apa yang dia lakukan juga untuk kebaikan kampus. Ketika ia menulis, nama kampus akan muncul di jurnal-jurnal bereputasi atau penerbit dunia kelas wahid.
Adam sangat serius dengan apa yang ia cintai. Apa yang dia pilih. Menjadi peneliti sekaligus menjadi pengajar. Bahkan untuk urusan waktu, Adam sangat penuh perhitungan. Lalu aku mencoba untuk meyakinkan ke Adam.
“Memang benar… toh kita tidak bisa memaksakan semua orang harus menyukai kita. Apalagi sosial! Terkadang memang ya Mas, sosial itu suka memaksakan kehendaknya”
Setelah berbincang cukup panjang, satu setengah jam terlewati. Kami merencanakan pertemuan selanjutnya di perjamuan makan malam Natal. Adam memelukku sambil berkata dengan keras di depan pub.
“Semangat mas! Nikmati Glasgow, cobalah berpetualang, waktumu tidak banyak di sini…”
(vii)
Malam natal tiba. Adam mengajak anjing kesayangnya Rennie untuk menemani diriku berjalan di sekitar daerah Partick. Aku mencoba menawarkan pembacaanku atas apa yang telah Adam sarankan beberapa hari lalu. Kami menemukan titik kesamaan. Lalu setelah beberapa kali putaran, kami kembali masuk ke flatnya.
Pertama kali masuk, Candice menyapaku dengan hangat. Ia mempersilakanku duduk dan menawarkan minum kepadaku. Candice ini istri Adam. Ia adalah seorang penulis. Jika kalian pernah dengar bukunya berjudul Chinese Parents Don’t Say I Love you, ia adalah penulisnya. Lalu aku pikir memilih teh panas sebagai pilihan yang tepat.
Candice memintaku untuk sedikit melihat almari di dapur. Ia menunjuk beberapa pilihan teko dan gelas. Aku terkejut karena ada seperangkat alat teh khas Jogja dengan desain warna hijau putih itu. Teko-teko tradisional benar-benar mengingatkanku akan Jogja.
“Apakah kamu suka memasak Rangga?” Candice bertanya kepadaku.
“Umm, aduh, aku tidak bisa memasak tapi okelah aku coba ya..” sambil berjalan ke dapur mereka. Adam sibuk mempersiapkan bumbu sementara Candice sibuk menata meja makan. Aku mencoba menghitung jumlah piring.
“Kenapa ada lima piring? Bukannya kita hanya bertiga?”
“Tentu tidak, malam natal ini akan ada dua teman Adam yang kemarin”
“Oh, begitu…”
Candice bertanya banyak hal. Aku mulai menyukai rumah Adam. Ada banyak kesamaan antara aku dan Candice menurut Adam.
“Mas, kamu tahu tidak? Apa masakan kesukaanmu selama di Glasgow?”
“Apa ya mas? Aku lebih memilih mencari nasi goreng di warung Korea atau membuat sendiri di rumah, tapi aku lebih suka mendadar telur”
“Itu sama sepertiku, aku suka telur dadar juga”, sahut Candice.
“Iya, aku hampir setiap hari memasak telur dadar, sebab memasak ini mengingatkanku pada almarhumah Ibu”, aku menjawab dengan spontan.
Candice melajutkan ceritanya bahwa ia juga hampir setiap hari memasak telur dadar. Ia bilang itu sama seperti kesukaan Ibunya. Adam lalu menunjukkanku buku Candice itu.
“Lihat mas, halaman cover nya saja telor, meski diceplok, hehe”, Adam menyela pembicaraan kami.
Di tengah-tengah kehangatan obrolan kami bertiga. Suara ketukan pintu terdengar. Kedua teman Adam datang. Kami memulai jamuan makan malam, membicarakan dunia politik sampai membicarakan segala hal. Seperti biasa pula, Adam lebih memilih mondar-mandir mengurus dapur. Candice sesekali mendengarkan obrolan acak kami bertiga.
Selama perjalanan pulang, aku membicarakan kembali rasanya bebek bakar ala-ala buatan Adam.
“Tuan-nona sekalian, ini saya hanya buat dua bebek bakar yaa, satu untuk Rangga yang rindu dengan Yogya, dan satu untuk Anna yang memilih bebek”, ucap Adam sambil mempersilakan hidangnya.
Aku bilang ke Adam, kamu cocok untuk membuka warung angkringan atau semacam Lamongan dengan varian bebek bakar spesial Glasgow ditambah dengan sambel. Kata Candice Adam juga suka membuat sambal. Ia terinspirasi selama tinggal di Jogja.
Adam bilang dalam sebuah pesan.
“Adalah ide bagus untuk rencana resign dari Glasgow dan membuat angkringan di Jogja”
Aku jawab kembali,
“Boleh tapi asal kamu tunggu aku selesaikan PhD!”
Aku pikir tidak lucu dong, setelah Eyang Chris pensiun musim panas depan, Adam juga memilih pensiun dini dan membuka angkringan di sekitaran alun-alun Kidul. Waduh! Bisa jadi aku lebih tersesat haha.
(viii)
Lihat saja! Semua kembali ke basic kan?
Beberapa jam lagi akan tiba malam pergantian tahun menuju 2026. Orang-orang di luar sana sedang menyalakan kembang api. Aku lebih memilih untuk tidur lebih awal dan mengunggah catatan kecil ini. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan ke kalian, termasuk bagaimana ceritaku bertemu dengan “bandar narkoba” yang aneh. Namun bukan sekarang, akan tiba waktunya nanti jika kita bertemu kembali.
Selama tiga bulan di Glasgow aku berutang banyak oleh mereka semua yang terus aku repotkan. Di sini, aku memiliki grup perkumpulan anak-anak S3 di Glasgow, ada Shulhan, Fura, Ika, Ari, Tata, dan Atina. Mereka semua baik kepadaku. Tugas utamaku hanya menghabiskan makanan yang mereka buat. Sisanya, mungkin hanya merepotkan saja. Tapi aku senang, mereka menganggapku sebagai bagian dari keluarga di Glasgow selama empat tahun kedepan. Mereka memiliki tanggungan yang sama, baik secara akademis, hubungan dengan keluarganya sendiri, juga penuh dengan rintangan yang serupa atau malah mungkin lebih rumit. Namun, aku selalu berdoa untuk kebaikan mereka semua.
Tidak hanya itu, ide disertasiku tidak datang tiba-tiba ada banyak orang yang aku ajak diskusi. Kita mulai dari Carl Olsson. Carl adalah filsuf dan geografer. Sekarang Carl bergabung dengan Centre for Anthropocene Studies and Geophilosophy (cas-geo.org). Suatu pusat studi non-profit yang sedang coba aku bangun bersama secara kolektif. Carl memberikan banyak ide perjumpan pengalaman dia sebagai seorang geograf yang lalu memutuskan untuk menjadi filsuf di akhir studinya. Selama berdikusi, Carl menyambut baik ide-ide obskurku untuk medekonstruksi pemikiran geografis. Kedepan akan lebih banyak hal seru lainnya yang ingin aku bicarakan dengannya.
Lalu ada Raisa Kamila (mahasiswa doktoral di SOAS University of London). Aku sering memanggilnya Mba Raisa. Aku mengenalnya karena ia sebagai alumnus di Filsafat. Aku bertukar pikiran banyak tentang gagasan tentang orientasi kepulauan dan sejarahnya. Ia memberikan sudut pandang daerah Sumatera dan sejarahnya. Awalnya aku pikir ini sesuai dengan draft proyek keduaku, sebelum akhirnya berubah haluan. Saat ini, Raisa sedang disibukkan dengan penulisan akhir disertasinya. Terlebih lagi, Sumatera sedang dilanda duka mendalam. Ada banjir yang lebih banyak campur tangan kepentingan oligarki yang tak bertanggung jawab. Untuk saat ini, aku ingin memberikan jarak empati terlebih dahulu, hal ini tidak mudah tentunya, apalagi lemahnya tanggap bencana di negara kita.
Tidak hanya Raisa, Geger Riyanto (Antropolog Universitas Indonesia) memberikan pandangan menarik soal tradisi dan kajian kepulauan. Sepanjang pertemuan daring, aku lebih banyak curhat tentang kiat-kiat kehidupan selama menjalani studi. Geger mendorongku untuk membaca arsip tentang kajian kepulauan di Jawa sebagai gugus dominan dan beberapa pulau di wilayah timur Indonesia. Pandangan Geger sedikit banyak mendorongku untuk melihat lebih jauh riset kepulauan dikemudian hari.
Di bidang sejarah, Nathanael Pribady (mahasiswa master Columbia University) sedikit banyak mengajakku diskusi untuk masalah keIndonesiaan akhir-akhir ini. Apalagi ketika Brian Melchior (mahasiswa doktoral di Princeton University) yang memiliki kajian minta sejarah intelektual Indonesia masuk melalui zoom kami, suasana diskusi lebih pecah lagi. Melalui Brian dan Nathan, aku mendiskusikan banyak hal, terutama mengenai kemungkinan besar titik temu ide soal pandangan kepulauan atau setidaknya sejarah pengetahuan geologis sepanjang pergulatan sejarah Indonesia.
Tidak lupa pula, Sukianto Khurniawan, mantan dosen geologi Universitas Indonesia yang sekarang menyibukkan diri menjadi kurator seni. Suki lebih banyak membicarakan proyek paleontologinya. Dari Suki, aku mengenal Louie Buana (mahasiswa doktoral di Leiden University). Louie banyak mengajarkanku soal arsip-arsip kuno di Belanda. Awalnya aku pikir ini berguna untuk menelusuri kembali ide-ide lampau soal dimensi pemikiran archipelagic. Bagaimana ide kepulauan berubah dari zaman kolonial sampai kontemporer. Keduanya memberikanku pemahaman baru tentang kajian yang selama ini berputar di bidang sejarah dan antropologi. Filsafat apalagi geografi dapat masuk ke dalamnya. Setidaknya, menurutku melihat pemetaan pemikiran barunya.
Di bidang hukum internasional, aku mencoba berbicara banyak dengan Aristyo Rizka Darmawan (mahasiswa doktoral di Australian National University). Aristyo memberikanku banyak buku-buku bacaan menarik mulai asal usul perdebatan UNCLOS sampai pandangan tentang archipelagicstate. Sebelum bertemu Aristyo, aku mencoba menghubungi kembali konco satu perguruan silat. Bukan, maksudku kolega di UGM, tak lain dan bukan adalah Bachtiar W. Mutaqin, geograf andalan UGM. Bersamanya aku diarahkan untuk mulai memahami perbedaan secara ukuran geografis masing-masing pulau. Aku berpikiran anjuran meneliti kepulauan seribu menarik, selain secara administratif bagian dari Jakarta, kompleksitas budaya dan problematika di dalamnya tidak kalah seru untuk ditelusuri. Sayangnya, ide itu harus berakhir sebagai draft awal.
Gerry van Klinken (KITLV) juga turut aku hubungi kembali. Perjumpaanku dengan Eyang Gerry sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Eyang Gerry aku menyapanya sekarang menjadi bagian dari cas-geo juga. Ia membantuku untuk membaca ulang sejarah pemikiran archipelagic. Beberapa arsip menarik aku dapatkan berkatnya. Kami juga memiliki proyek serupa di Bacaan Bumi di bawah naungan InsideIndonesia.
Berbeda dengan Gerry, Fathun Karib yang sedang bekerja sebagai posdoktoral di Asia Research Institute, NUS ini justru menjadi “lawan” diskusiku tentang perkembangan Antroposen. Karib bahkan memiliki untuk melanjutkan regu baca bersama tentang kajian kepulauan di waktu yang akan mendatang. Sayangnya, aku masih belum bisa mengalokasikan tenaga dan waktuku yang tepat. Padahal draft kurikulumnya sudah siap.
Ada banyak hal tidak selesai selama tiga bulan terakhir ini.
Beberapa nama lain seperti teman-teman di Baca-Baca Random seperti Jagad, Sosi, Dyl, Albert, dan Bayu sedikit banyak menemaniku mengisi waktu setiap minggu untuk benar-benar membaca secara acak. Buku yang sedang kami baca Capitalism and Sea saat ini.
Lebih sering lagi, aku mengontak Dyl untuk masalah kemampuan bertahan hidup di sini. Bukan tak mudah memang, Sosi memberikan pandangan visi yang menarik dalam melihat celah dari suatu isu ilmiah. Sedangkan Jagat menjadi pemantik diskusi menyoal laut dan seisinya. Selain itu, Albert dan Bayu lebih banyak mendengarkan progres dari cas-geo di tahun 2026. Kami ada rencana untuk membaca dari awal karya-karya Gilles Deleuze. Semoga terlaksana!
Selama bulan November, ZeNo dan Antinomi sedang merajut majalah baru dan selama bulan itu juga, Kim dan Arya sedikit banyak berdiskusi denganku tentang kelanjutan tahap kedua tulisan kami di Environmental Sociology. Kami berharap segera ada putusan editorial yang baik.
Ada banyak hal-hal lain yang mungkin belum tertuang dalam catatan kecil ini, seperti hutang-hutang revisi jurnal dan sesekali harus meninjau tulisan orang lain yang harus ku selesaikan selama tiga bulan terakhir.
(ix)
Akhirnya, aku selalu mengingat kembali dari mana aku berasal. Apa yang membuatku berjalan sampai sejauh ini.
Aku selalu merindukan rumah, itu saja.
Aku merasakan bahwa ada dua orang yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan di sini. Meskipun aku lebih sering sakit-sakitan di sini. Walaupun Hester dan Adam menyarankanku untuk membeli VitaminL, lampu khusus penderita gangguan perubahan cuaca iklim sepertiku. Aku merasa lebih baik hanya dengan menatap cahaya artifisial ini.
Ada kalanya aku membayangkan apabila seandainya Tara ada di sini, pasti dia akan sangat senang melihat bus dan berbagai kendaraan keren di sini. Mobil-mobil yang terparkir rapi dengan ragam warnanya. Aku ingat betul ketika Ainu mengajakku ke pusat kota, aku langsung membeli PS4. Aku hanya ingin mengobati rasa rinduku dengan si baby anthropocene itu. Jadi, aku pilih membeli Grand Turismo 7, sebuah gim simulator balapan. Hanya sekadar melihat mobil-mobilnya saja. Sama persis, virtualitas ketika aku mendadar telor, seolah-olah ada Ibu yang memasakan sarapanku. Terkadang, aku lebih banyak memikirkan keluargaku sendiri juga, saudara perempuanku atau keadaan bapakku di sana.
Kekuatan terbesar lainnya, muncul di setiap jam-jam malamnya Glasgow dan paginya Indonesia. Sesekali dan hampir setiap hari, Cae menghubungkanku dengan Tara. Di balik itu semua, Cae adalah wanita yang hebat, terlampau bijaksana bagiku. Ia bahkan masih sempat mendengarkan keluh kesah juga celotehan absurdku. Terkadang sangat depresif bahkan. Dan di saat itulah, pilihanku untuk menuliskan Indonesia semakin kuat.
Aku mengusulkan proposal baru kepada Adam. Bagaimana sejarah politik geologi di Indonesia mampu mendorong perubahan arah suatu negara. Mulai dari patahan Sunda-Jawa, nasionalisasi proyek kolonial, penerapan teori lempeng tektonik di era 1960an, juga mulai dari sejarah pergolakan geosains di Indonesia, sampai akhir aku mulai menyadari dua hal.
Geologi di Indonesia, hanyalah berbicara pertambangan dan kebencanaan. Tidak lebih.
Ide-ide tentang ground dan groundless ini akan menjadi pendekatan baru untuk memastikan pandangan politis kita sebagai bagian dari bangsa poskolonial yang selalu mengandalkan fetis akan keberlimpahan (abundance) sumber daya alamnya, namun sekaligus sedang mengalami kemiskinan (poverty) ekologis.
Mungkin klaim ini cukup bold, namun sekali lagi, ini menurut keyakinan saya.
*
**
***
Baru saja, Adam mengirimkan ku pesan singkat tentang proses dan progresku.
“…Selamat tahun baru brother, 2026 is your year to grow into your own voice. You’re brilliant, you’re going to break new ground. I love and respect your humility and persistence and willingness to take risks. You’ve moved to Glasgow, so far away from friends and family and thrown yourself into another world, it’s unfamiliar and difficult, but you’ll learn so much from it as a scholar and a person. I’m so happy to be here for you as a guide at a distance. Semangat, the fire is in you 🌋.”
Dan…sepertinya aku harus segera menyudahi tulisan ini.
Foto pertama sampai di Glasgow, hanya sebagai pengingat.
**I wrote this note as part of Writing Concept monthly under my supervisors (Adam & Chris). Here is the draft and unfinished version.
Introduction
As an academic living within the dense wilderness of (speculative) philosophy, I often encounter difficulties when examining “archipelagic thoughts” through very limited readings. My readings that ultimately must be strengthened by an approach that is more geographical than merely abstract. Yet these difficulties do not deter me. Living in Indonesia, as my personal experience, and even as known as an archipelagic state with its thousands of islands, it means that discussing archipelagic thoughts is akin to speaking of hundreds, thousands, even hundreds of thousands of possibilities for defining what “archipelagic thoughts” might be. For me, it becomes a way of thinking about and with islands, archipelagos, or what are often referred to as isolated lands, small islands, and insular islands.
In philosophy, we believe that thinking about archipelago or archipelagic thoughts cannot leave from Deleuzian’s dogma. According to Gilles Deleuze (2004) that islands do not represent the egg of birth so much as the egg of re-birth: a place where we (speaking of Western subjects, at least) imagine that we can recreate ourselves anew. It is because Deleuze compares a ‘desert island’ to an ‘egg’, that is, a metaphor for ‘body without organs (Gōda, 2018, p. 300). And for me, following my previous experience in understanding archipelagic thoughts, I began when I read Gilles Deleuze’s (2002/2004) Desert Islands and Other Texts 1953–1974.
The essay called “Desert Island”, translated by Michael Taormina and edited by David Lapoujade in 2004 or original Deleuze version wrote about “Causes Et Raisons Des Îles Désertes” (2002) or literally I translated as “Causes and Reasons of Desert Islands”. Deleuze’s idea here according to Koizumi’s interpretation (2018, p. 268) that he attempted to “presents a mythological and scientific vision in which new islands and new humanity emerge from the opposition between the land and sea in desert islands”. However, what Deleuze cannot explain is how such new territory and people are produced and reproduced while rejecting old and conventional generational ways.
Moreover, speculatively, Deleuze distinguishes two forms of islands:
“Continental islands are accidental, derived islands. They are separated from a continent, born of disarticulation, erosion, fracture; they survive the absorption of what once contained them. Oceanic islands are originary, essential islands.” (Deleuze, 2004, p. 9)
Deleuze then adds:
“Some islands drifted away from the continent, but the island is also that toward which one drifts; other islands originated in the ocean, but the island is also the origin, radical and absolute.” (Ibid, p. 10)
Evidently, Deleuze is referencing Carl Schmitt’s distinction between the “nomos” of the land and that of the sea (Koizumi, 2018, p. 272). However, he moves beyond Schmitt’s framework by conceptualizing islands as entities that arise and evolve precisely from this tension. In this divergence, Deleuze envisions islands detaching from both ocean and continent, and foresees a new humanity forged through this very opposition
This is how Deleuze invites us to imagine the desert island: a way of dreaming a different kind of island. Of course, this is merely a mythological dream. One filled with intensity, utopian motivation, even a certain mystification of a space entirely other than what we assume.
As I believe, Deleuze (2004, p. 12) further turns to a literary-philosophical approach:
“One would have to show exactly how in this sense mythology fails and dies in two classic novels of the deserted island, Robinson and Suzanne. Suzanne and the Pacific emphasizes the separated aspect of islands, the separation of the young woman who finds herself there; Robinson Crusoe, the creative aspect, the beginning anew….”
Not only about such a path as imaginative dreaming of island(s), but he also elaborates two stories about desert islands: Robinson Crusoe, and Suzanne and the Pacific for explaining the separation from the continent logic. In other words, Koizumi (2018, p. 280) added that we can think like this even though we live on old continents and islands as old animals. There is so much we should think about: the deterritorialising and reterritorialising of the continent, ocean and islands; the creation of concepts, the instauration of planes, and the reterritorialising of people and land.
Perhaps, in more Indonesian literature context, what I might recall is GadisPantai (The Girl from the Coast, 1962) a beautiful novel written by Pramoedya Ananta Toer. If Robinson and Suzanne narrate quests for self-discovery and the spirit of geographical adventure, Gadis Pantai instead tells the story of a 14-year-old fisherman’s daughter who is taken as a concubine by a Javanese nobleman (Bendoro) under Dutch colonial-era feudalism. The entire narrative unfolds through the girl’s perspective, framed by the vast horizon of the land-sea or coastal landscape. In this novel, the sea becomes a metaphor for freedom, or something as Deleuze call as “de-subjectivity” in the desert island that can never be fully articulated.
In Gadis Pantai landscape, I articulate from Gōda (2018, p. 290) argumentation of an affirmation of the world as process or as archipelago in Deleuzian worldview. It is not even a puzzle whose pieces adjust one to another and form a totality. They are both isolated and floating relations, both islands and inter-islands, both mobile points and winding lines. Thus, an island is always an archipelago or archipelagos; every archipelago as well as all archipelagos are always only one island.
Gōda’s (2018, p. 289) conceptualization positions the archipelago as a model of “nomadic distribution,” directly engaging with Deleuze-Guattari dichotomy between sedentary and nomadic space. Unlike a state’s centralized, grid-like territory, an archipelago emerges through dynamic, relational forces like tectonics and currents, forming a decentralized “smooth space” where islands act as contingent points in an open field. This structure inherently operates through “transversality,” a mode of relation that rejects hierarchical (vertical) and deterministic (linear) connections in favor of diagonal, creative linkages that navigate between isolated points, forging unpredictable alliances. Consequently, the archipelago embodies a principle of “radical discontinuity”. Each island is a distinct, isolated world, yet this very separation paradoxically hides a submerged continuity, not as a solid foundation but as a connective medium (the sea) that is itself fissured by “bottomless rifts” (trenches, depths). The archipelago thus becomes a figure for a reality that is neither unified nor simply fragmented, but a field of heterogeneous elements held in a tense, productive unity by a connective tissue that is perpetually unstable and full of gaps.
As we may know well, the word ‘archipelago’ is derived from the Greek word archipelagus, which means ‘the first, principal sea’. Similarly, like Friedrich Hölderlin’s poem “The Archipelago” (Der Archipelagus), written around 1800–1801, is a lyrical and elegiac work exploring the harmonious relation between divine nature and human culture in ancient Greece, while contrasting this idealized past with the fragmentation and suffering of Hölderlin’s present, yet still expressing hope for future renewal. It reminds me that “hope and the future” form one of the essential possibilities for speaking about “the Archipelago,” or how the “Archipelagic” may be understood as a mode of thinking—a more way in exploring the very ontological possibility of the island itself.
Thinking Like an Archipelago
In this second part, I am really interested with Édouard Glissant’s worldview in his idea of Poetic of Relation. To understand concerning Glissant’s works, I learned much from secondary resources from Michael Wiedorn (2018) and Leupin et al. (2021). They discussed deeply Glissant’s paradox philosophy and the idea of archipelagic thinking. Glissant’s works known well with some key terms that were immanent to the Caribbean discourse: creolization, archipelagic thought, or the Tout-monde.
What means by creolization is not hybridity, the melting pot, crossbreeding, a juxtaposition of cultures that tolerate each other in the indifference of partitionings and the lack of all contact that a culture of selfishness produces; these representations are only passing phenomena, an expectation of something that does not express itself because it lies in the future (Leupin et al., 2021, p. 20). Following Glissant’s readings of the past, Leupin et al. (2021, p. 252) note in the first place how much the geography of Pre-Socratic thought is archipelagic and decentered, albeit within a monolingual framework: “The Ionian archipelago in ancient Greece, well before Alexander, divined both East and West together”.
However, Glissant also repeated many times for decades, “the entire world is becoming an archipelago and creolizing” (Wiedorn, 2018, p. xxv). Glissant’s claim as to what the world is becoming is rooted in the geographical model of the archipelago. As mentioned by Wiedorn (2018, p. 7), “…Le monde entier . . . s’archipélise, of course, does not mean that the world is becoming a cluster of islands in a sea”.
The paradox according Wiedorn (2018) that Glissant has repeatedly sighted in the Caribbean archipelago is consistent and unified, but also multiple, shifting, at one and the same time. Or, in original terms is called as “archipelagic thinking”, in using it as a lens through which to reread the play of paradox and contradiction, both willed and unwilled, in Glissant’s oeuvre. Thus, meditations on archipelagoes reflect the central importance of landscape to his thought.
For Glissant, archipelagoes by definition are a group of islands with no center, with each island related to, relaying to, each other island. The very idea of an archipelago is, in a sense, itself somewhat paradoxical, in that it uses one word to describe a multiplicity. In other words, in the archipelago form a group of disparate and diverse islands exhibits sufficient interconnection and coherence such that a singular descriptor can be used to describe their multiplicity. In that sense, the archipelago is exemplary of the notion of unity within diversity. Or, it clearly says that archipelagic thinking being is being the thinking of the ambiguous compared a dominant of continental thinking.
In Poetic of Relation or Philosophy of Relation, Glissant (1990/1997) refers to the “thought” or “thinking” of archipelagoes, then, requires something of a suspension of disbelief and also provoking our imagination with or for the world.
“That was the imagination of the world, which is so beautifully or crudely of continental inspiration. The imaginary of the world would be entirely different. The imaginary foresees, divines, finds, it predicts nothing in terms of relationships, it accompanies neither possession nor knowledge. It in no way concludes. It supposes in an archipelago (en archipel)” (more emphasized by Wiedorn, 2018, p. 112).
Not only Glissant’s archipelagic thinking, more interestingly, Jonathan Pugh (2013) also explores that “thinking with the archipelago” is not merely reflective but he actively contributes to the spatial turn in geographical view. Pugh pushes this further through his concept of metamorphosis, describing how island-to-island movements reinterpret, transform, and generate new cultural, political, and material forms. This idea echoes long-standing maritime traditions in the archipelagic world, where creativity does not imitate a distant center but emerges through hybridization, circulation, and the continual reworking of inherited forms.
Pugh’s own questions illuminate this shift: “we live, increasingly, in a world of island–island movements and not static forms,” and even “continental forms like Canada and Australia are in fact archipelagos composed of thousands of island movements” (2013, p. 9). The central question thus arises: “What does it mean to think with the archipelago?” For Pugh, archipelagic thinking “denaturalizes the conceptual basis of space and place” and thereby directly engages the spatial turn (p. 9). Western culture, Pugh argues, not only thinks about islands but “thinks with them,” revealing that island studies generate forms of thought that exceed the study of islands themselves (p. 9). To think with the archipelago means, then, to re-envision space as inter-connective, generative, and continually in transit—what Pugh calls “transfigurative originality” (p. 10), where island movements “adapt, transfigure and transform their inheritances into original form.”
Highlighting this requires moving beyond reductive binaries such as land/sea or island/mainland, categories that obscure “ways of being, knowing and doing—ontologies, epistemologies and methods” that reveal islands as mutually constituted, co-constructed, and inter-related (Pugh, 2013, p. 10). As further Pugh notes, despite the rise of island studies, “the archipelago remains one of the least examined metageographical concepts.” Thinking with the archipelago, therefore, foregrounds how island movements open cognitive spaces of metamorphosis—material, cultural, and political—and positions the archipelago not as an inert geography but as a vibrant method of thought.
I conceived that “thinking with the archipelago” extends a long-standing tradition in which the world is framed not as discrete “islands of the world” but as a “world of islands”. This shift signals a profound reorientation: instead of isolating islands as bounded entities, archipelagic thinking encourages us to understand island spaces as inherently relational, always in movement, and mutually constituted. In this regard, I see that Pugh also reads Deleuze as proposing the archipelago as a model of “a world in process” rather than a world in stasis—a world defined less by fixed forms than by ongoing transformations. Here, island spaces appear not as solitary units but as “interrelated, mutually constituted and co-constructed: as island and island” (Pugh, 2013, p. 12).
At this point, it may be tempting to associate Pugh’s argument with Benítez-Rojo’s (1996) concept of the “repeating island,” yet Pugh resists this connection. For him, the idea of repetition risks suggesting that islands simply reproduce shared experiences across a chain. While the Caribbean indeed shares a foundational archipelagic experience—slavery. He insists that Derek Walcott offers a more compelling conceptualization of inheritance, one that foregrounds contingency, variation, and specificity rather than repetition. Within Walcott’s formulation, the true force of the Caribbean archipelago lies not in repetition but in metamorphosis: an ongoing process of invention, creation, and re-creation (Pugh, 2013, p. 17).
Pugh further enriches this argument by turning to Kamau Brathwaite’s celebrated term “tidalectic”, which he contrasts with dialectical thinking. Brathwaite (1999) proposes tidalectics to describe how island movements mirror the movements of the tide (non-cyclical, ever-changing, and transformative). Rather than returning an archipelago to the same state, tidalectic forces foreground slow, subtle processes of adaptation, suspension, questioning, and renewal (Pugh, 2013, p. 17). As Brathwaite famously writes, tidalectic forces move “from one continent/continuum, touching another, and then receding (‘reading’) from the island(s) into the perhaps creative chaos of the(ir) future…” (Brathwaite, 1999, p. 34; cited in Pugh, 2013, p. 17). Tidalectics, therefore, is not an either/or logic but a mode in which territorial and deterritorializing forces operate simultaneously, shaping island worlds through conjunction rather than opposition (Pugh, 2013, p. 18).
Island Studies and Its Archipelagic Turn
After I learned the basic idea of “archipelagic thinking” that mostly coming from Carribean and Pacific Islands inspirations, I then expand my exploration to several development of island studies as the way of understanding beyond of geo(morpho)logical instability in the archipelago discourse or then we more discussing related to “island”. Recall again, according to Stratford et al. (2023, p. 13), “…islands are not simply a locus but a focus, and in this vein, what gets imbricated in the plot are archetypes of their islandness—boundedness by water; relatively small size/scale, insularity, and isolation; remoteness and the impulse to mobility; or singularity and archipelagicity”. Geologically speaking, however, islands are ephemeral: created today, destroyed tomorrow. Also, most people understand islands intuitively: pieces of land larger than rocks but smaller than continents, surrounded by water on all sides, even at high tide.
“Rethinking island methodologies also means being open to islands’ spectacular diversity of natural and cultural forms. Islands are home to a significant part of global biodiversity resulting from high levels of species endemism, distinctive functional traits, and evolutionary patterns such as adaptive radiations. For similar reasons, islands are theatres to a dramatic number of extinctions, particularly of bird species, that often occur because of our species’ encroachments. In many fields spanning diverse approaches, islands are a form of synecdoche: real-world models and systems that appeal analytically because their size seems manageable when compared with continents… So, then, islandness is a condition and, combined with qualities such as location, relative smallness, and distance from mainlands, that condition creates habitats that throw up cultural and social specificities in place, across spaces, and over time: distinct languages and dialects, rituals and practices, or architectures and cuisines.” (Stratford et al., 2023, p. 9).
Stratford et al. (2023) remind us that islands resist simple classification. They describe islands, whether islets or isles, as paradoxical spaces: at once absolute and relational, bounded and porous, isolated yet profoundly connected. Islands are “absolute entities surrounded by water but not large enough to be a continent,” and yet they also constitute “relational spaces—archipelagos, (inter)dependent, identifiable,” shaped through networks of exchange, mobility, and shared histories (p. 13). Their spatiality is relative: territorially bounded yet culturally permeable; sites that are simultaneously isolated and colonised, connected and postcolonial.
Islands are not merely geophysical units but imaginaries, and it aligns with Deleuzian’s thesis of desert island, performative landscapes saturated with meaning, vulnerable to linguistic, cultural, and ecological transformations, yet also robust, adaptive, and capable of modifying the forces that shape them. They anchor themselves within regions, nation-states, and global systems, while also functioning as paradisiacal, utopian, dystopian, or touristic imaginaries, as well as ecological refugia. In this expansive sense, islands become conceptual frames through which interdisciplinary inquiry and dialogue can take place.
This complexity stands in stark contrast to the “disarmingly simple and stock definition” of an island as “a piece of land surrounded by water, larger than a rock, but smaller than a continent, which remains visible even at high tide”—a definition that almost absurd in its reductiveness as found by Stratford et al. (2023, p. 23). Such a definition reveals the inadequacy of purely physical criteria for capturing the lived, symbolic, political, and relational dimensions of islandness. It renders the task of justifying why islands matter to thought and scholarship “ridiculous and useless,” precisely because it reduces islands to a static, geographically bounded form, detached from the dynamic histories and movements that constitute them. To disrupt this reductive framing, Stratford et al. point to more provocative claims. Such as the idea that the only “real islands” on the planet are tectonic plates themselves, drifting, colliding, and reconfiguring over geological time (2023, p. 23).
In some good points, I sum that Stratford et al. (2023) provide at least six debates in the island methodology: (i) artificial island, (ii) tourism, (iii) territories, (iv) privatisation of islands, (v) island as microcosm or the fallacy of small-scale island, and (vi) small island states in global policy. Meanwhile, Carter (2020, p. 225) expands the notion of “Decolonising Governance: Archipelagic Thinking” that pointing out “..history as archipelagic production”. It is similar with Stratford et al. (2023, p. 92) statement that “…decolonized research methodologies acknowledge the primacy of islands and islanders over and above a long history of imposed assumptions that viewed and treated islands as ideal colonies and prisons.” Especially significant for researchers is the ongoing objectification of islands and islanders according to durable perceptions of islands as ideal laboratories and ready-made case studies. We can track back to naturalists of the empire and colonial era that are historically connected through their work in mapping, collecting, and classifying specimens for scientific knowledge, often intertwined with imperial goals in exploring “The New World”.
Moreover, historically speaking, the obvious contribution of archipelagic thinking has been to the theory of evolution. In Wallace’s classic formulation, for instance, the ‘Malay archipelago’ favoured the discovery of ‘development’ – a tropical exfoliation of” species and types – because it possessed a near infinity of coastlines, linear zones that at once separated island from island and offered a landing place or site of re-assembly (see Carter, 2020, p. 56-58). Thus, in decolonising governance, the archipelago is a more-than geographical concept. Even, in the case of Indonesia as “world’s largest archipelagic state” still remains the problem of homogenisation of Indonesian cultural diversity and trapped on colonial gaze-complexity. In other words, the supposed unity of the nation state, like Indonesia, as Carter (2020, p. 222) states, “…whether colonial or postcolonial, depends on the erasure of local and regional self-organising social practices to produce an absolute fragmentation of non- or even anti-colonial relationships. Internally, considered as a social contract, the nation state is a random collection of human islands bound together by nothing more than self-interest…”. Thus, I draw an archipelago of shapeless islands cannot be separated to much conceptual work on the radical insight and potential of relational ontologies that overturn Western binaries that have shaped the perception of islands and their politics, ecologies, histories, economies, well-being, and even survival.
Drawing back to Deleuze’s rhizomatic approach, the process of archipelago is constantly displacing origins and centres. Furthermore, a continent, when released from the fixed imaginaries of cartographic solidity, can be re-seen as an archipelagic formation: not a singular and stable mass but a constellation of heterogeneous parts in slow, perpetual mutation. The world of islands or Island of Islands or even many new worlds are imagined as islands.
To be clear, I revisit O’Keefee (2020) article talks about “the philosophy between land and sea”. In terms of philosophical debates, specifically during history of philosophy, the idea of terrestrial and maritime alike, has never been considered, let alone attempted or carried out.
“….But if a philosophically thought-out history of terrestrial and maritime discoveries is at stake, the matter involves gaining conceptual purchase not just on “discovery” but also on “land” and “sea,” especially “sea.” For the capital moment occurred when sea voyages took primacy over trips taken on land (O’Keeffe, 2020, p. 350).
In this situation, I would say that Kant, Hegel, and Heidegger are still trapped with the orientation of the anti-maritime landscape with which the rational mind ties itself to the perspectives of deep-rooted, terran-regional self-assertion or as Kantian term “topographically”—thinking of place and space and building dwelling that brings “land-being” thus Philosophy missed, or ignored all of this out-of-land. O’Keeffe (2020) clearly provides “Land, Sea, World, Island, and Outerspace” philosophical transition and geographical landscapes, to encounter “one-world-modern thinking” inspired by European colonialist, that is limited by universal fixed minded, and forget to remind that we are having infinite possibilities, for a human being’s worlding exist, in many truth possibilities, are always available to many worlds. This, I argue, represents a significant reconstitution of the ‘outside’ of state form that fundamentally explain that islands are not, simply passive and neutral whether through nature, magic or simply by engendering extreme or unusual forms of social interaction, actively transforms those cast up upon them.
Concluding Remarks
Before ending this discussion, Stephens and Martínez-San Miguel (2020) edited the most fundamental “contemporary archipelagic thinking” collected works and chapters. Starting from most personal experiences who live in small islands, they explain an archipelagic poetics as the space of solidarity with other peoples, places, and species who have similar struggles and experiences. In short, it points out a more flexible definition of the archipelago. In our understanding, the archipelago calls for a meaning-making and rearticulation that responds to human experiences traversing space and time (p. 3). Yet they can also become an episteme, an imaginary, a way of thinking, a poetic, a hermeneutic, a method of inquiry, a system of relations. Even it borrows from its ambiguity, its fragility, its derivative drift.
For Glissant and Walcott, as Stephens and Martínez-San Miguel (2020, p. 6) mentioned that “…the archipelagic is conceived of as a framework to theorize multiplicity and difference, while undoing central tenets in historical (root, teleology) and literary (the epic) studies and embracing the multifocal, multisited articulation of human experience.” In other words, this anthology explores the archipelagic as both a specific and a generalizable geohistorical and cultural formation, occurring across various planetary spaces, including the Mediterranean and Aegean Seas, the Caribbean Basin, the Malay Archipelago, Oceania, and the creole islands of the Indian Ocean. Generally, Archipelagic thinking, grounded as it is in assemblages of island, continent, and sea, requires a conceptualization of the global that is forced to do more, geographically, geohistorically, and geopolitically, to differentiate islands from each other while theorizing their connectivities and commonalities (p. 7).
From this stance, we also cannot merely romanticise the past, like how powerful Bandung Praxis as part of the famous Bandung Conference of Asian and African leaders in 1955 in discussing “the island of free man”. Based in the Indonesian archipelago, this conference is functioned to bring conference-goers (these islands of free men) into an archipelagic relationality with one another, archipelagizing them in a way allied, described as the Bandung Conference’s effect of “de-islanding” in the wake of colonialism. The several hundred distinct linguistic traditions on thousands of inhabited islands constituted the archipelago’s discontinuity, while the national language was set forth as the archipelago’s overlay of conjunction (p. 88-90).
I conclude that “the archipelago paradigm” is focusing instead on island-to-island relationships and not only about a cluster or group of islands. For instance, Indonesian and Japanese reconnects to the Caribbean that share some similar kinds of historical, political, social, and environmental features. Thus, thinking with the archipelago, highlights the geosocial locations for “the production of knowledge” in multiple and relational ways. As a process of rethinking geography and history with archipelago, it also implicates abstract notions of space and time, of topology and temporality.
Lastly, Chandler and Pugh (2021, p. 395) examine how the island as a liminal and transgressive space has facilitated Anthropocene thinking, working with and upon island forms and imaginations to develop alternatives to hegemonic, modern, ‘mainland’, or ‘one world’ thinking. By approaching relational entanglements to debunk under older European and modern thought, the island was often understood as insular, isolated, and backward, when compared to continental, mainland, reasoning. Islands are held to exemplify how all life is relationally entangled and co-dependent. Not only that, Islands mirrors the rise of non-modern, relational, non-linear, and more-than-human thinking. Unfortunately, in more recent debates about climate change, islands are still often reductively framed in Western and modernist fantasies of control; understood as backward, helpless, vulnerable, and in need of saving by others. Islanders are ‘often portrayed as passive victims waiting to be saved from their sinking islands (p. 397).
I can say, intensely personal archipelagic imagination, perhaps:
“…there is no world after the end of the island…”
I witness how my beloved archipelagic state governs many small-islands (but capital-oriented potential) not as living constellations of relation, but as isolated units of state-control—insular islandness which mobilised and controlled to merely sustain global capitalism and oligarchy power under the banner of nationalism.
References
Carter, P. (2020). Decolonising Governance Archipelagic Thinking. Routledge.
Chandler, D., & Pugh, J. (2021). Anthropocene islands: There are only islands after the end of the world. Dialogues in Human Geography, 11(3), 395–415. https://doi.org/10.1177/2043820621997018
Deleuze, G. (2004). Desert islands and other texts, 1953-1974. Semiotext(e) ; Distributed by MIT Press.
Koizumi, Y. (2018). From Dreaming of Desert Islands to Reterritorialising Philosophy. Deleuze and Guattari Studies, 12(2), 268–282. https://doi.org/10.3366/dlgs.2018.0308
Leupin, A., Brown, A., & Leupin, A. (2021). Édouard Glissant, philosopher: Heraclitus and Hegel in the whole-world. SUNY Press.
Pugh, J. (2013). Island Movements: Thinking with the Archipelago. Island Studies Journal, 8(1), 9–24. https://doi.org/10.24043/isj.273
Stephens, M., & Martínez-San Miguel, Y. (2020). Contemporary archipelagic thinking: Toward new comparative methodologies and disciplinary formations. Rowman & Littlefield.
Stratford, E., Baldacchino, G., & McMahon, E. (2023). Rethinking island methodologies. Rowman & Littlefield Publishers. https://doi.org/10.5040/9798881813659
Wiedorn, M. (2018). Think like an archipelago: Paradox in the work of Édouard Glissant. State University of New York.
It’s getting worse and worse to study a new field, but hopefully, I can survive.
A week after I arrived in Glasgow, I feel everything all at once; happy, sad, frustrated, a storm between joy and exhaustion. I try to enjoy the game.
Being a PhD student in a new field is hard— harder than I imagined. I cannot follow everything and everything is running out the way, especially when I’m learning something called Geographical and Earth Sciences. I am not really confident. I don’t know—the feeling of “impostor syndrome”—catch me out!
During Induction week, I went alone. My supervisor was in Paris, finishing his new book. So, I knew, in this time, I must go through it alone, prepare for a new step in silence.
Idham, he showed me to find the university building. At least, he saved my life for a first day coming.
Idham, my roommate, has been my quiet strength. He taught me how to find good food, how to cook, how to spend limited scholarship money wisely in Glasgow. He’s in his third year now; next year, he’ll go home to meet his wife and little girl. He is a a real fighter!
For first time, we (Ika and I) arrived at the Glasgow airport. Looks so tired after a long flight.
And then there’s Ika. We flew to Glasgow together. She, too, struggles with distance, being far from her children, her husband. But she told me, “This is my time alone, a time to meditate with God, to meet myself again.” Now she smiles more than before.
Like them, I am far away from my little boy—Tara, and my super wife—Nia. I miss them so much, and Indonesian food too, especially Gudeg Palagan or Nasi Goreng. I miss when we ate together, enjoying those foods.
He wonders about anything, but he really loves to see a car or a bus.
Sometimes I feel frustrated, learning new things I barely grasp. But still, I will enjoy.
Let’s see what happens next week. I will write again, every week, two weeks, or a month; to ensure that I am still alive here.
Edinburgh Waverley Station. -Ainu
And there’s good news, last week, Ainu came to Glasgow to see me. We shared stories of dwelling in other cities, he studies in philosophy at Univeristy of Liverpool. We went to Edinburgh, to compare the two. We also met with Rakhmat and his family, and bought many books and went to National Museum. It was really good!
Ainu got sleeply for a while. He tried to find out “Humean words”.
Edinburgh is cheerful, but Glasgow— Glasgow promises something stranger, deeper, half-philosophy, half-geology, and something quietly calling my gloomy soul.
Goodbye Philosophical Works!
Greetings from 9 South Woodside Road, Glasgow Mahaswa
***Esai refleksi untuk pemantik diskusi kolaboratis bersama Tales of Belonging from the Last Place on Earth, Silabus Mini: Kisah-Kisah tentang Kemelekatan di Ekosistem Leuser. “Sesi 2: Kosmologi yang Berakar & Ekologi yang Tersemat”. Rabu, 21 Mei 2025.
(i) Alam yang Selaras atau Alam yang Sengkarut
“Kearifan lokal” (local wisdom) acap kali menjadi kata ajaib yang digunakan oleh kebanyakan peneliti ‘budaya’ ketika mencoba menjustifikasi bahwa di suatu tempat ada semacam kebijaksanaan yang masih terjadi. Kemurnian ini terjaga oleh tradisi kultural tertentu—-yang percaya diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sayangnya, kearifan lokal yang dirujuk kemudian menyisakan pertanyaan kembali: Apakah yang local pasti memiliki wisdom? Apakah semua yang “arif” itu benar-benar memiliki ke-“arif”- an? Apakah semua pengetahuan yang terberi dan dipercaya dari satu generasi ke generasi adalah benar-benar pengetahuan yang hidup atau justru pengetahuan yang dipolitisasi oleh kepentingan tertentu? Sayangnya, pengetahuan yang kita hidupi tidak selamanya benar-benar “pengetahuan didapat secara langsung” (direct knowledge). Bisa jadi, justru, pengetahuan yang dimanipulasi oleh kepentingan politik, mulai dari politik kolonialisme sampai kapitalisme pengetahuan.
Jika kita merujuk ke cerita-cerita leluhur masa lalu, mereka selalu melukiskan alam sebagai sesuatu hal besar, indah, takjub, penuh gairah, harmonis, dan bahkan senantiasa selaras dengan kehidupan manusia. Alam menjadi keberkahan. Alam adalah kehidupan itu sendiri. Manusia di zaman dulu dianggap selalu selaras dengan alam. Manusia “ramah” dengan alamnya.
Gambaran alam yang harmonis itu sendiri tidak selalu menjadi keniscayaan yang sempurna. Secara geologis, kehidupan manusia relatif singkat bila kita bandingkan dengan usia bumi yang sudah mencapai 4,54 miliar tahun ini. Manusia saja baru mengembangkan peradaban “hebatnya” sekitar 11.700 tahun terakhir ketika manusia masuk ke epos geologi Holosen. Selayang pandang, Holosen sendiri adalah titik balik dalam menandai berakhirnya zaman es panjang Pleistosen. Artinya, periode interglasial telah menubuh menjadi kehidupan yang sedang kita jalani. Kita bisa merefleksikan kembali beberapa kejadian bencana luar biasa yang telah dihadapi oleh manusia secara alamiah; mulai dari gempa bumi, tsunami, tornado, longsor, letusan gunung berapi, badai salju, sampai kekeringan.
Anehnya, skenario katastrofik ini selalu dianggap sebagai bentuk destruktif alam. Alam adalah penghancur. Alam sedang membalaskan dendam. Inilah bentuk metafora-antropomorfisme yang tidak dapat terlepas dari cara pandang kita sebagai manusia. Lalu, bagaimana bencana di abad ke-20 oleh karena ledakan bom nuklir (reaksi kimia-fisika artifisial) atau abad ke-21, seperti pandemi (relasi nir-manusia) sampai ledakan limbah plastik. Apakah alam sudah selaras dengan manusia?
Menariknya, fakta (r)evolusi spesies manusia menunjukkan bahwa kita semua selalu mencoba untuk melampaui keterbatasan (alamiah): baik secara biologis, fisiologis, bahkan ekologisnya. Perkembangan manusia dari masa berburu meramu, masa bercocok tanam, sampai masa penjelajahan dunia baru tidak terlepas dari bagaimana manusia menciptakan “teknologi”. Teknologi tidak hanya hadir sebagai alat (instrumentalis) atau perpanjangan dari tubuh manusia (antropologis).
Martin Heidegger (1977) menyebut teknologi sebagai modus “penyingkapan kebenaran” (revealing the truth). Lalu, kebenaran seperti apa yang kita ciptakan kemudian? Apakah kebenaran yang menyenangkan atau menyeramkan bagi kita semua? Oleh karena data peneliti iklim hari ini, kita dengan mudah dapat membayangkan trajektori perubahan iklim hari ini yang semakin hari semakin memprihatinkan. Sebagai contoh, kenaikan suhu bumi disertai dengan kenaikan muka air laut.
Kebenaran ini bisa lahir dari cara teknologi menyingkap lintasan “dunia yang tidak pernah terjamah” (terra incognita). Sebelum ada teknologi seperti teleskop atau mikroskop, komunitas ilmiah kita memiliki keterbatasan untuk mengakses dunia yang kasat mata (bakteri, virus, mikroorganisme) sampai luasannya sistem tata surya (lahirnya revolusi ilmiah dari geosentrisme menuju heliosentrisme). Di samping itu, sains dan teknologi sebenarnya telah melahirkan ragam dunia (many worlds) yang mampu dicerap oleh kemampuan epistemik manusia. Sayangnya, semangat modernisasi kemudian mengaburkan cara kita merayakan keberagaman dunia ini.
(ii) Antroposentris(me) dan Narsisme Spesies
Modernisme dan pembangunan(isme) dunia ketiga terjadi tak pernah lepas dari dampak kolonialisme dan imperalisme yang berkepanjangan. Identitas ontologi sosial dibuat seolah-olah harus serupa dengan cetak biru semangat zaman dunia Barat. Semangat modernitas dan pencerahan merupakan puncak dari humanisme baru. Ini adalah humanisme yang sepenuhnya menempatkan kembali manusia sebagai jangkar dari segala-galanya. Ketika rasionalitas menjadi panglima pengetahuan, di situlah ragam-dunia direduksi menjadi satu-dunia, yakni dunia hanya dan untuk manusia. Namun, pertanyaannya, manusia yang manakah yang kita rujuk? Manusia dengan identitas warna kulit, kebudayaan, kehidupan-keseharian, teknologi, sampai politik ekologi yang seperti apa? Bagaimana ciri-ciri manusia modern itu? Nampaknya, warisan penyakit modernitas salah satunya adalah antroposentrisme, yaitu manusia sebagai pusat realitas yang tanpanya semua menjadi tidak bermakna. Dari antroposentrisme (kuat) ini, kemudian, lahirlah semacam dominasi narsisme dalam rupa “pengecualian bagi manusia” (human exceptionalism).
Beberapa pandangan tafsir teologis juga tidak dapat memisahkan dari perspektif yang cukup antroposentris. Alam dan segala isinya diciptakan oleh [T]uhan untuk kepentingan manusia. Sayangnya, pandangan ini lalu dimaknai bahwa segala-galanya diperuntukkan untuk manusia. Manusia diberikan akal untuk menciptakan teknologi. Teknologi menjadi mesin hasrat bagi masyarakat modern untuk terus menerus menghabisi kehidupan selain dirinya. Alam merupakan persediaan, ia siap pakai untuk memenuhi hasrat keserakahan manusia.
Selain itu, simtom lainnya, seperti “heroisme” dan “juru selamat”, mulai terlihat ketika sumber daya alam sudah sangat terbatas. Orang-orang terkaya di dunia, sebagai para raksasa kapitalisme global, dengan penuh ambisi selalu mencari-cari cara keluar dari Bumi. Visinya, mencari kemungkinan kehidupan baru di luar sana. Berharap ada planet lain selain planet Bumi. Sejauh ini, Mars menjadi pilihan wahana suaka lintas keplanetan bagi para triliuner. Ambisi yang naif ini tidak lebih dari perwujudan kekalahan antroposentrisme, tetapi secara terus menerus selalu diperkuat oleh reproduksi wacana tentang semangat perjuangan manusia, menjaga bumi, sampai mencari sumber daya baru terbarukan.
Pertanyaannya, memang sumber daya alam di bumi tidak lebih dari cukup? Tidak! Seharusnya akan selalu berlebih. Atau, merunut peristilahan Kohei Saito (2022), “sumber daya alam asalinya selalu berlimpah”, hanya saja kapitalisme membuatnya menjadi semakin langka. Kelangkaan (atau sengaja dibuat agar langka) menjadi strategi kapitalisme untuk menciptakan fetisisme komoditas baru. Katakanlah produk yang ramah lingkungan. Ketika kita membeli produk-produk tersebut, seolah-olah kitalah menjadi penyelamat bumi. Atau jargon-jargon semu seperti, go green, recycle product, sampai eco-friendly, yang hanya menjadi tempelan semu di antara produk-produk limbah mereka. Jika itu barang alam, kenapa harganya terlampau mahal? Jawabannya, tak lebih dan tak kurang, ialah ketika kita membeli “barang mahal” itu, seolah-oalah kita telah menyelamatkan bumi, atau telah mempercayakan produk yang kita beli untuk ditukarkan dengan ‘ilusi pohon yang ditanam’ oleh perusahaan kelak.
Kita perlu mengakui bahwa sikap-sikap modernisme Barat yang membuat sains dan teknologi ter-uni-fikasi pada satu tujuan untuk menciptakan universalisasi dunia patut untuk dikritisi kembali. Antroposentris sendiri telah mendapatkan kritik dari pada penggawa etika lingkungan. Mereka menyebut dirinya sebagai gerakan non-antroposentris—ekosentrisme, biosentrisme, sampai zoosentrisme. Namun, bagi saya, seluas-luasnya cara kita untuk menegasikan “kemanusiaan” kita, kita akan senantiasa kembali merunut nilai-nilai atau moralitas kemanusiaan kita. Hanya saja, nilai kemanusiaan manakah yang kita rujuk? Barat, Timur, Indonesia, Nusantara, atau dalam angan-angan?
Mari kita runut kembali mengapa antroposentris(me) selalu menghantui kita bahkan ketika kita sudah susah payah merumuskan berbagai meta-etika lingkungan yang kontra dengannya. Pertama, kita awali dengan menelisik kembali keterbatasan etika non-antroposentrisme yang hanya menolak manusia sebagai jangkar ontologis, epistemik, serta aksiologis—atau bahkan moralitas—dan menegaskan bahwa alam memiliki nilai intrinsik dalam dirinya sendiri. Namun, sayangnya, pendekatan ini tetap menggunakan berbagai kerangka ilmiah seperti biologi sampai ekologi yang syarat akan nilai-nilai manusia untuk menilai dan menentukan apa yang bernilai secara moral.
Kedua, perihal “kekeliruan epistemik” (epistemic fallacy), ketika terjadinya kesalahpahaman dengan menyimpulkan hal-hal ontologis melulu berkutat berdasarkan pengetahuan manusia. Ketika etika non-antroposentris menempatkan keberadaan atau nilai sesuatu (non-manusia) ditentukan, justru hanya berdasarkan pada apa yang dapat diketahui atau dipahami oleh manusia.
Ketiga, perihal “kekeliruan antropik” (anthropic fallacy), yakni terjadinya kecenderungan untuk memperluas perhatian etis hanya semata ke sistem kehidupan (biosentrisme), ekosistem (ekosentrisme), dan hewan (zoosentrisme), tetapi tetaplah manusia yang menentukan kriteriayang pantas untuk dipedulikan dan tidak. Artinya, non-antroposentris tetap beroperasi dalam logika penalaran batas-batas antropos sebagai pusat penilai. Sebaliknya, antropomorfis-reduktif ini menjadi simtom dari bentuk lain non-antroposentris, yang terbatas pada cakupan entitas apa yang dianggap bernilai dan tidak berdasarkan nilai, pengetahuan, dan bahkan keputusan manusia itu sendiri. Alhasil, non-antroposentris gagal keluar dari kerangka antropik yang selama ini coba dikritiknya sendiri.
Menjadi catatan reflektif tentang perjalanan peradaban manusia Barat yang penuh dengan konflik kekerasan pun menciptakan trauma sosial yang berkepanjangan. Mereka tidak hanya mencoba untuk mendominasi dunia nir-manusia melalui ekstraktivisme, eksploitasi, eksplorasi, dan bahkan penundukan inter-spesies, tetapi bahkan manusia itu sendiri. Dengan sesamanya, kita manusia tidak segan-segan untuk saling mendominasi dan melakukan sub-ordinasi represif, seperti halnya perbudakan sampai bentuk-bentuk kekerasan berdasar gender, ras, dan identitas kultural. Jika “Pertukaran Kolombus” (Columbian Exchange)di abad ke-15 telah menciptakan berbagai bentuk homogenisasi flora-fauna lintasbenua akibat pertukaran perdagangan yang penuh dengan kekerasan itu, maka domestifikasi alam yang liar dan sosial yang diperadabkan juga sedang terjadi beriringan. Itulah catatan sejarah Antroposen (ala) Barat yang selama ini dapat kita telusuri. Selanjutnya, bagaimana dengan sejarah lingkungan hidup dunia kita? Dunia yang dianggap ketiga dan terakhir, mereka yang selalu dianggap terpinggirkan, tertinggal, dan mereka yang tidak memiliki sejarah.
(iii) Mistifikasi Masyarakat Modern
Apakah masyarakat modern tidak dapat terlepas dari forma mistifikasi dalam kehidupan kesehariannya? Ironisnya, manusia modern hari ini masih terjebak oleh segudang pertanyaannya sendiri, mulai dari asal-usul sampai akhir dari segala sesuatu. Meskipun, dengan penuh kesadaran, kita selalu mencoba merangkai ribuan atau bahkan jutaan kemungkinan pertanyaan melalui bingkai-bingkai saintifik yang ketat, perspektif filosofis yang radikal, atau geliat sastrawi yang penuh makna mendalam. Salah satu pertanyaan menarik adalah apakah kehidupan hari ini memiliki pengetahuan keseharian (everyday knowledge) yang sepenuhnya berbeda? Apakah manusia modern selalu berpikir rasional dan berpijak pada tatanan kemanusiaan yang penuh dengan simbol-simbol peradaban baru?
Tepatnya pasca-Perang Dunia Kedua yang mendorong industralisasi dan globalisasi menjadi simbol baru dominasi manusia atas segala hal. Selain itu, berkat akselerasi sains dan teknologi hari ini, manusia modern dapat melampaui keterbatasannya “alamiah”-nya, tetapi di saat yang bersamaan mereka menciptakan mitos-mitos budaya baru. Mistifikasi ini merujuk pada bagaimana struktur sosial, budaya, ekonomi, dan politik di era modern justru menciptakan berhala pengetahuan yang ilusif dan penuh dengan tipu daya. Mistifikasi ini melibatkan berbagai manipulasi, kesadaran kolektif, sampai ideologi melalui berbagai wahana masyarakat modern; seperti teknologi, media, birokrasi, dan kapitalisme.
Mistik keseharian masyarakat modern dapat kita lihat dari munculnya fetisisme komoditas yang lahir di tengah pesatnya penetrasi kapitalisme dalam kehidupan keseharian. Manusia modern sangat percaya pada hal-hal yang berbasis pada prediksi-prediksi angka statistik (pasar saham atau ramalan cuaca) yang acap kali juga menipu. Pada ideologi-ideologi retoris nan semu yang tidak pernah menyentuh akar rumput. Pada invisble hand ekonomi global yang mengagung-agungkan cateris paribus antara permintaan dan penawaran tanpa melihat akar-akar ketimpangan ekonomi dasar. Tidak hanya itu, jika manusia modern lebih menekankan aspek logos daripada eros apalagi mitos, maka sesungguhnya mereka telah melahirkan mitos-mitos baru. Logos yang tidak sepenuhnya masuk akal. Jika logos mampu menuntun kesejahteraan bagi banyak orang, mengapa justru irasionalitas lebih didahulukan dalam mengambil keputusan apalagi kebijaksanaan bagi banyak orang. Keserampangan epistemik yang berbasis pada emosional tanpa arah sering kali melahirkan amarah dan kebencian. Terburu-buru dalam mempercayai informasi di tengah-tengah tsunami fakta yang ambigu ini semakin mempertegas keabsurdan antara “kebenaran” (truth) dan “pasca-kebenaran” (post-truth).
Berbeda dari logos yang lebih menekankan pada rasio, mitos bekerja pada tataran kepercayaan. Sakralitas mitos di masa lalu berbeda. Masa lalu menempatkan folklore (cerita rakyat atau legenda) sebagai pengetahuan berorientasikan tradisi lisan. Bagaimana dengan masyarakat modern? Mereka meninggalkan mitos-mitos lama yang diwujudkan dalam berbagai simbol-simbol kebudayaan—berbentuk totemisme, animisme, dan dinamisme—yang dipuja-puji untuk menegaskan hubungan manusia dan alam. Ketika alam yang tidak terjamah itu sudah dikuasai oleh rasionalisasi sains dan teknologi, alam lantas hanya dipandang sebagai bagian dunia lama yang sudah usang. Alam hanya dijadikan sebagai sumber daya untuk semakin mendorong jurang keterpisahan ontologis (Dualisme Cartesian) antara yang-alamiah dan yang-kultural.
Masyarakat modern diam-diam mendorong kelahiran mistifikasi baru dari artefak-artefak teknologi yang diciptakannya sendiri. Kita dapat melihatnya dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI—Artificial Intelligence) sampai robotika. Mereka tidak hanya membantu pekerjaan manusia melainkan sudah mulai menggantikan eksistensinya. Robot dipersonifikasi sesuai dengan preferensi kita. Tidak dapat dipungkiri pula, AI yang kita latih setiap harinya masih menyisakan bias-bias pilihan politik dan kebudayaan tertentu. Begitu pula dengan robot yang selalu ditampilkan sebagai model dari antropomorfisme manusia. Robot yang baik adalah robot yang memiliki “roh kecerdasan” bagaikan manusia. Bukankah ini bentuk totemisme baru? Memuja-muji dirinya sendiri (manusia) atas keberhasilan menduplikasi kecerdasannya sendiri. Lingkaran mistifikasi baru dimulai. Namun, perlu diingat kembali bahwa seberapa besar dan megahnya teknologi kontemporer hari ini sekalipun, teknologi akan tetap bergantung pada persediaan sumber energi dari alam.
(iv) Mitos Bukan Metafora, Lantas?
Modernitas Dunia Ketiga di Indonesia telah mempengaruhi cara pandang kita ketika membicarakan tentang mitos. Mitos hanya dianggap sebagai cerita-cerita kuno yang berisi berbagai simbol-simbol budaya yang menggambarkan hubungan antar manusia, alam, dan kekuatan supranatural. Beberapa di antaranya pun mengategorisasikan mitos hanya sebatas warisan kisah-kisah sakral yang bersifat kolektif dan berfungsi sebagai pedoman hidup dalam budaya setempat. Aliran strukturalisme yang diprakarsai oleh Claude Lévi-Strauss (1978) pun demikian, ia memandang mitos semacam bahasa simbolik dan metaforik, bukan fakta literal tetapi juga bukan sekadar omong kosong belaka.
Berbeda dengan Lévi-Strauss, Eduardo Viveiros de Castro (1998) justru menempatkan posisi ontologis untuk membicarakan hubungan antara manusia (culture) dan alam (nature). Lebih dari sekadar itu, de Castro menegaskan adanya reposisi baru entitas adikodrati (super-nature) yang dapat ditemui di berbagai masyarakat asli di berbagai belahan dunia. de Castro memberikan contoh pendekatan “perspektivisme” suku Amazon yang memandang bahwa cara berpikir kosmologinya telah menjungkirbalikkan pemikiran modern tentang keterpisahan dualisme antara manusia dan alamnya. Perspektivisme ini memosisikan semua makhluk memiliki “kesadaran” dan “perspektif subjektif”. Manusia di sini bukan sekadar agen biologis yang eksklusif semata namun ia terhimpun dari berbagai bentuk kesadaran yang hidup bersama. Dunia sendiri menciptakan banyak subjek-perspektival yang sangat aktif, bukan terbentuk dari objek-objek yang mati. Keterbatasan manusialah yang menjadikannya justru pasif, tak berdaya, dan menjadi objek yang selalu tersubordinatkan.
Kita mulai dengan cara mengingat kembali apa yang telah terlupakan di masa-masa Indonesia pasca-Pandemi Covid-19. Ada pelupaan sesaat dari cara masyarakat lokal kita memahami alam bukan hanya semata lewat kajian sains atau kebijakan, tetapi melalui cerita, ritual, ingatan, dan roh-roh yang menjelma dalam berbagai bentuk kehidupan kosmik. Cerita-cerita folklore di Aceh yang baru saya baca beberapa waktu terakhir, membuat saya semakin yakin bahwa pemaknaan realitas masa lampau tidak dapat terlepas dari pra-kondisi geografisnya. Kisah-kisah Si Keramin tentang perjalanan spiritual perantauan, Si Layar dan Beru Dinem yang menggambarkan hutan bukan lagi terra incognita karena adanya eksistensi roh (sang penjaga kehidupan di hutan), cerita Tengku Guru Leman tentang perjuangan melawan kolonialisme van Daalen, sampai Si Tungel Belang dan Si Tangang Malam yang digambarkan sebagai sosok penjaga belantara Tanah Gayo Lues. Kisah ini juga dianggap sebagai sumber kearifan lokal dan “epistemologi yang hidup” (living epistemology) yang bersumber dari mistisisme dan diturunkan melalui tradisi lisan.
Coba kita lihat kembali cara pengonstruksian hubungan antara gunung, dataran, pesisir, dan laut telah memberikan cara orang-orang terdahulu menerjemahkan penciptaan dengan sangat baik. Mari mulai dari Sunda Wiwitan dengan kosmologi lokalnya: Sasaka Pusaka Buana, lalu melintas ke Jawa dengan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dalam Jagat Cilik dan Jagat Gedenya. Tidak hanya itu, misal kita ambil kosmologi asal-muasal Dalihan Na Tolu dari Batak atau La Galigo yang menceritakan epos penciptaan epik dari Bugis-Makassar, dan juga Tri Hita Karana di Bali.
Adam Bobbette (2022) dengan tegas menarik kembali kondisi dunia geo-spiritual Jawa, tepatnya Merapi pada tahun 1920-an dan 1930-an ketika jalur-jalur ritual merapi juga turut membentuk ilmu kebumian modern. Bobbette (2022) menyebutnya sebagai Antroposen Jawa. Antroposen bukan hanya milik orang Barat saja. Para pekerja, penduduk asli, sampai kuli angkut Jawa juga senantiasa menemani para ilmuwan dan melakukan pekerjaan ilmiah bagi mereka juga mengajarkan nama-nama tradisional serta silsilah situs-situs suci, yang kemudian dimasukkan oleh para ilmuwan sebagai toponimi dalam survei ilmiah mereka.
Observatorium gunung berapi pertama yang bersifat ilmiah sering kali dibangun di atas atau dekat dengan bukit dan tanjung suci, karena tempat-tempat tersebut memberikan pandangan terbaik terhadap kaldera. Sebagai bagian dari penelitian mereka, para ilmuwan menggunakan catatan dari kesusastraan (serat atau babad) yang dihasilkan di wilayah kesultanan—kesusastraan yang sama yang menjelaskan silsilah para dewa—untuk merekonstruksi bencana alam purba, termasuk banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi. Artinya, sesuatu yang kini sering dianggap sebagai mitos sebenarnya menjadi dasar bagi sejarah alam ilmiah modern. Pengetahuan ilmiah kolonial (meskipun para ilmuwannya sendiri tidak selalu menyadarinya) dimungkinkan dan dibentuk oleh geografi spiritual yang telah lebih dulu hadir di Jawa bahkan sebelum kedatangan mereka.
Senada dengan Bobbette, adalah mungkin kita dapat menerjemahkan mitos dengan pendekatan yang lebih luas lagi. Matthew Joseph Minarchek (2019) yang menulis disertasi berjudul Militarized Ecologies: Science, Violence, and The Creation of Sumatra’s Leuser Ecosystem(Indonesia), 1890-1945 dapat menjadi contoh menarik dalam upaya saintifikasi ekologi pada masa kolonialisme yang tidak dapat terlepas dari kekerasan sosial, budaya, dan bahkan ekologis di bawah senjata militer kolonial. Alam hanya dipandang sebagai ruang untuk mereproduksi pengetahuan-pengetahuan tentangnya, tetapi cara-cara kita memahaminya acapkali tidak terlepas dari berbagai bentuk kekerasan. Mitos dan logos, pada akhirnya, akan selalu berkelindan, mereka tidak dapat dipisahkan, sekalipun digunakan untuk memahami bagaimana dunia ini bekerja. Selalu saja ada misteri yang tersisa di antara puing-puing rasa takjub, takut, dan penasaran manusia.
(v) Krisis Iklim Antroposen dan Kegagalan Konservasi Manusia
Setelah mencoba untuk menelaah beberapa pandangan kosmologi modern yang berusaha memisahkan manusia dan alamnya, ternyata tidak membuat peradaban manusia menjadi lebih baik, selain proyek pencerahan sains dan teknologinya. Kegagalan perekayasaan alam oleh sains dan teknologi menunjukkan suatu kondisi yang paradoksal. Alih-alih mencapai puncak kejayaan peradaban, manusia justru dihantui oleh ancaman kepunahan massal ke-enam. Sepanjang sejarah deep time geologi, proses perubahan struktur bumi berlangsung secara gradual, dinamis, dan berlangsung dalam proses waktu yang sangat lama. Waktu bumi tentu berbeda dengan waktu “subjektif manusia”. Doktrinnya adalah tentang “masa kini adalah kunci memahami masa lalu”. Artinya, apabila krisis iklim dan bencana alam di masa lalu yang pernah terjadi, akan sangat mungkin terjadi dalam waktu yang dekat.
Krisis iklim Antroposen ini menjadi bom waktu bagi kita semua. Apabila katastrofisme geologi hanya memberikan gambaran cara terjadinya perubahan skala waktu geologi karena adanya bencana yang luar biasa, maka di epos Antroposen bencana itu datangnya tidak dari alam semata tetapi dari manusia itu sendiri. Itulah keberkahan yang diberikan untuk kita, manusia. Kita dapat menciptakan kehancuran bahkan bagi diri kita sendiri.
Haruskah manusia dihapus dari sejarah bumi? Apakah manusia hanya merusak? Apakah mereka tidak mencoba untuk mengonservasi dirinya sendiri, sebagai satu spesies yang akan punah? Daripada memikirkan hal tersebut, kita justru terjebak pada kecenderungan narsistik-heroisme. Kita merasa telah dengan susah payah mengonservasi dunia non-manusia tetapi masih tetap saja ada sebagain besar dari ‘kita’ melakukan ekspansi-eksploitasi baik bagi sesamanya atau kehidupan yang-lain (the other). Untuk memahami bagian ini lebih jauh, saya mencoba untuk menawarkan pendekatan pos-antroposentris ketika memahami bagaimana krisis iklim Antroposen merupakan bagian dari obskuritas onto-epistemologi manusia saat ini. Kita perlu melakukan ‘reposisi’ subjek manusia, non-manusia, dan multi-spesies dalam trajektori Antroposen yang semakin mencekam.
Manusia telah mengalami kegagalan ketika mereka mencoba untuk memahami dirinya sendiri, terlebih lagi dimensi subjek non-manusia atau multi-spesies yang ada di dalam atau di luar dari tubuh manusia itu sendiri. Manusia telah melewati berbagai perubahan alam dan budaya. Dirinya telah mengalami evolusi untuk membentuk versi terbaik dari kemanusiaannya. Namun, manusia tidak dapat berdiri sendiri secara bebas. Justru sebaliknya, kondisi alam yang “selaras” inilah yang memungkinkan manusia dapat berkembang. Perkembangan ini terjadi di saat periode Pleistosen akhir ke Holosen sebagai bukti kemampuan bertahan hidup umat manusia, mitos akan keseimbangan dan keselarasan dengan alam selalu kemudian diklaim secara semena-mena melalui kekerasan simbolik-implisit yang diwariskan secara turun temurun lintasgenerasi.
Pandangan tentang alam yang liar itu seolah-oalah dapat ditaklukkan oleh manusia selama ratusan ribu tahun. Nyatanya, krisis iklim keplanetan Antroposen justru membalikkan “kepercayaan” siklus harmoni antara manusia-alam ini. Manusia tadinya menganggap dirinya sebagai penjelajah dan pahlawan atas pembebasan wilayah yang tidak terjamah (terra incognita). Namun, manusia sekarang justru mengalami pembalikan ontologis yang ironis. Mereka kini menjadi penyintas dan pencari suaka iklim baru (climate refugees). Ketika deru derap kerusakan alam yang meliputi seluruh semesta dunia manusia, maka di situlah kegagalan “konservasi” manusia bagi dirinya sendiri telah gagal.
(vi) Kita bagian dari Alam, tapi Alam bukan lagi kita
Saya percaya kita perlu bersama-sama membongkar lagi “kemanusiaan” yang selalu kita agung-anggungkan itu. Saya sangat skeptis, jangan-jangan “kemanusiaan” yang kita gadang-gadang itu ialah kemanusiaan berorientasi pada kolonialisasi antar subjek-subjek. Saya ingin mempertegas lagi tawaran filosofis saya yang mungkin berguna untuk diskusi forum ini, yakni dengan adagium.
“Kita bagian dari Alam, tapi Alam bukan lagi kita”.
Kalimat yang tersusun itu merupakan ekspresi emosional saya dengan kondisi krisis yang sedang kita alami. Krisis itu padahal sangat nyata ada di sekitar kita. Kita abai begitu saja. Kita pikir Alam akan selalu menyediakan persediaan sumber daya untuk memenuhi hasrat paradoks manusia. Sampai di sini, kita perlu untuk melakukan semacam reposisi subjek-subjek. Subjek non-manusia dalam kerangka gerak sejarah Antroposen atau pra-Antroposen bahkan bukan lagi sekadar pajangan ontologis. Mereka juga selalu hidup membersamai kita. Menjadi agen kolaborasi, saling-terjalin-dalam-ragam-kesetangkupan bersama. Mereka memberikan kontribusi yang juga tidak kalah signifikan terhadap peristiwa geologi Antroposen. Di sinilah politik ekonomi multi-spesies perlu untuk dikembangkan. Alam yang kita hidupi saat ini terjadi karena proses stratifikasi dan re/de-teritorialisasi eksistensi dari berbagai macam dunia di bumi.
Kita pun dapat berandai-andai bagaimana cara untuk menggugurkan antroposentrisme kuat itu. Semisal terjadi bencana perang nuklir, mungkin saja, tidak menutup kemungkinan para kecoa dan bakteri anaerob justru yang lebih mampu bertahan hidup untuk melanjutkan evolusi kehidupan selanjutnya. Di sinilah, manusia bukan lagi jangkar realitas terhadap gerak peristiwa geologi Antroposen. Pilihannya kemudian membentuk model etika lingkungan dengan memosisikan antroposentrisme yang lebih moderat, dengan memberikan kesempatan subjek non-manusia untuk mulai diakui eksistensinya, sekaligus mencoba untuk membentuk semacam integrasi lintas agensi dalam bingkai multi-spesies
“Alam bukan lagi kita, kita (menjadi) bagian dari Alam baru”
Sebelum melanjutkan ke bagian babak akhir dari esai reflektif ini, saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa pemisahan modern dari Yang-Alam dan Yang-Sosial ini hanyalah pembagian cara pandang (dimensi epistemik) bukan dalam kerangka mengalami secara eksistensial terhadap realitas yang semestinya (dimensi metafisik). Dalam wacana teori-teori kritis misalnya, kolonialisme dan kapitalisme dianggap sebagai masalah utama pemisahan ontologis ini. Kapitalisme selalu memproduksi bentuk-bentuk sosial baru yang semakin menjauhkan alam sebagai penyusun material dari sistem produksi dan reproduksi komoditas. Ontologi monisme yang seharusnya terjadi adalah “alam termediasi oleh sosial”, sekaligus “sosial dimediasi oleh alam”, tetapi dalam sistem kapitalisme global, alam dibuat terbatas untuk meningkatkan hasrat sosial atas kelangkaan yang dibuat-buat. Semakin langka barang maka semakin mahal sesuatu hal. Kelangkaan hanya berlaku dalam dunia ekonomi, tetapi tidak dimaknai setara dalam dunia ekologi.
Saya ingin menegaskan kembali bahwa masalah krisis kesadaran ekologis kita dapat dilihat dari bagaimana kita memaknai alam dan manusia. Ada prinsip identitas bahwa manusia adalah bagian dari alam dan tertanam di dalam sistem metabolisme alam yang teratur. Namun di saat bersamaan, prinsip non-identitas ini menguat karena terjadi pemisahan antara alam dan manusia secara kualitatif dari masyarakat itu sendiri. Padahal, dalam kondisi krisis, logika seperti ini tidak dapat dipertahankan lagi.
Mengapa tidak dapat dipertahankan? Ketika krisis terjadi, logika ini hanya menghilangkan satu aspeknya bukan keseluruhan yang ada, antara siapa yang harus dihilangkan terlebih dahulu: alamnya atau sosialnya. Kita dapat mengambil contoh pada peralihan lahan alih fungsi, dari hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Saat terjadi bencana banjir, maka orientasi kita hanya terfokus pada aspek ekologisnya semata, padahal transisi krisis itu sudah terjadi sejak pertama kali proses alih fungsi lahan terjadi. Atau, pengaruh krisis iklim global yang meningkatkan muka air laut secara ekstrem telah menghilangkan batas-batas teritorial kepulauan, budaya masyarakat pesisir pun lambat laun akan hilang ditelan oleh pasang air laut.
Karl Marx memosisikan manusia sebagai species-being, sebagai satu subjek penahu. Namun, apakah semua yang kita tahu dapat direduksi pada pembeda dari kerja-kerja kita sebagai diri (subjek) manusia dengan yang non-manusia (material, alat, teknologi, bahan mentah, hewan, tanaman, tanah, minyak bumi, air, dsb.). Pengetahuan tentang alam dan [A]lam itu sendiri berbeda. Pengetahuan tentang alam itu lebih dekat dengan wilayah kerja-kerja produksi manusia untuk setidaknya menghasilkan barang dan jasa. Pada konteks ekologis, Marx pun belum secara sempurna memikirkan relasi yang baik antara manusia-alam. Hanya saja, di akhir usianya, Marx merasakan kecemasan yang mendalam terhadap akses kita yang sangat terbatas terhadap alam, tetapi cara-cara kita “merampok” alam akan melahirkan apa yang ia sebut sebagai “keretakan metabolis”. Jika kita tidak segera memikirkan kembali bagaimana politik ekologi seharusnya diterapkan, maka jurang keretakan metabolisme ini hanya bekerja pada alam saja melainkan juga pada dunia sosial manusia dikemudian hari—untuk apa yang kita sebut sebagai “ketidakadilan lintas generasi”.
(vii) Dari Etika Kepedulian sampai Politik Kekerabatan Pluri-spesies
Bagian akhir refleksi ini, saya kembali mengusulkan untuk membangun kemitraan yang merawat dalam proyek-proyek konservasi di masa depan. Etika kepedulian (ethic of care) yang pernah ditawarkan oleh Maria Puig de la Bellacas Matters of Care: Speculative Ethics in More Than Human Worlds (2017) dapat menjadi rujukan utama untuk menolak bentuk etika universalitik dan impersonal ala-ala Kantianisme atau Utilitarianisme. Dalam ranah ekologis, serupa dengan pengalaman konkret manusia dalam merawat kehidupan, etika kepedulian ini mencoba untuk lebih berani menggeser perhatian kita dari relasi dominasi yang timpang menuju relasi yang penuh dengan afeksi dan empati, di mana alam dan segala isinya tidak lagi diposisikan sebagai sumber daya alam yang pasif, melainkan menjadikannya subjek yang layak untuk dirawat dan didengarkan kembali.
Namun, etika kepedulian saja tidaklah cukup. Kita perlu memperluasnya menjadi bentuk politik baru, yakni politik kekerabatan pluri-spesies, yang mulai membongkar batas-batas demarkasi kaku antara mausia dan alam. Para antropolog kontemporer, aliran materialisme baru, dan bidang kajian poshumanis telah banyak mengusulkan ide serupa bahwa kita hidup dalam jaringan kehidupan yang saling terkait dan saling membentuk. Gagasan yang menekankan pentingnya kekerabatan bukan hanya dengan sesama manusia, tetapi juga dengan hewan, tumbuhan, jamur, bahkan bakteri dapat dipertimbangkan ulang.
Inilah situasi dan kondisi multi-spesies dalam dunia-lebih-dari sekadar-manusia (more-than-human worlds) ini yang kemudian dapat menjadi lebih tegas menolak dualisme antara alam dan manusia. Antroposen bukan lagi dipahami sebagai cara narsisme yang mendominasi bumi, tetapi memberikan penekanan dan tanggung jawab sebagai manusia untuk berani merengkuh keterwujudan atas subjek sekaligus subjekvitas manusianya dan hal-hal yang menjadikannya sang-liyan juga tidak kalah penting (othernes matter).
Kita dapat membayangkan Antroposen sebagai bumi. Bumi sedang mengalami krisis iklim global. Perubahan iklim berubah menjadi hiper-objek, suatu objek yang tidak dapat diintervensi oleh manusia secara langsung, manusia membutuhkan alat atau instrumen seperti perekayasaan iklim. Perubahan iklim ada dan nyata, ia mempengaruhi subjektivitas manusia. Subjekvitas yang terpengaruh oleh adanya perubahan iklim tentu akan terbelah, tidak lagi menjadi subjek-tunggal melainkan subjektivitas-xenologis (xenological subjectivity). Subjektivitas yang mengakui adanya pluralitas ganda (atau lebih), melampaui taksonomi tunggal-universal. Pergeseran dualisme tradisional ke arah keterbukaan atas yang-lain, menjadikan subjektivitas diri lebih memiliki aspek keramahtamahaman (hospitality) yang berarti mengakui (recognition) bahwa keragaman dunia menjadi niscaya terdiri dari ragam diferensiasasi yang ada.
Selanjutnya, politik pluri-spesies tidak hanya bersifat simbolik atau metaforis. Ia menuntut perubahan nyata dalam kebijakan, tata ruang, dan sistem produksi. Radikalisasi ide-ide pluriverse misalnya yang ada di belahan Amerika Selatan telah mampu dijadikan sebagai sebuah kekuatan gerakan akar rumput baru. Berbeda dengan kearifan lokal kita, mereka hanya dijadikan sebagai klangenan (bentuk romantisasi) di masa lalu. Glorifikasi tentang masa lalu yang pernah ‘akrab’ dengan alam tidak lantas menjadikan masa kini dan masa depan kita lebih baik. Ketika kita mencoba membayangkan kekerabatan lintas spesies juga menantang cara kita memahami identitas, subjek, dan komunitas masih sangat terbatas. Keterbatasan inilah sebagai sikap politik. Politik baru ini harus berani membuka pada kemungkinan untuk melihat dunia bukan sebagai medan eksploitasi, tetapi sebagai rumah bersama (common world), di mana keberlangsungan hidup bergantung pada kemampuan kita untuk hidup bersama secara adil dan saling merawat.
Itulah mengapa? Kondisi obskuritas relasional antara manusia dan non-manusia memang suatu keniscayaan. Untuk melampui kritik antroposentris kuat maka kita harus kembai melibatkan manusia namun sebagai subjek yang sangat terbatas ini. Akan tetapi, subjektivitas manusia tentang bagaimana dirinya (subjek) terkondisikan oleh sosial dan budaya atau terdekonstruksi oleh bencana krisis sekaligus termediasikan dengan dirinya sendiri, sang-liyan (non-manusia), dan dunia secara serentak dan seragam. Keserentakan inilah yang akan melahirkan multi-kausalitas dan multi-rekognisi terhadap perwujudan entitas non-manusia yang lainnya yang sedang bersama-sama mengalami krisis.
Setelah melakukan reposisi relasi multi-spesies sebagai Yang-Lain dalam konteks keterlibatan intensional-material terhadap gerak sejarah Antroposen, permasalahan lainnya lantas terbuka. Bukan soal siapa yang harus menjadi sentris melainkan menjadikan subjektivitas yang melampaui cara pandang modern yang sangat menutup dirinya untuk melibatkan kolektivitas multispesies dalam menetapkan konfigurasi status antroposentrismenya dalam bingkai krisis Antroposen. Akhirnya, dari etika kepedulian hingga politik kekerabatan pluri-spesies, kita mulai diajak untuk membayangkan ulang moralitas dan politik dalam kunci interdependensi dan keintiman ekologis baru yang sudah terlanjut carut-maruk oleh kritis yang kita ciptakan sendiri. Seruan moralitasnya kemudian tidak lebih menjadi semacam: ini bukan sekadar soal “menyelamatkan lingkungan,” tetapi tentang menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua bentuk kehidupan—manusia dan yang-lebih-dari-manusia—melalui relasi yang penuh hormat dan tanggung jawab.
Tidak seperti biasanya, secara acak, aku ingin menuliskan sesuatu hal tentang hari. Betul! Sekarang adalah Rabu 11 Desember 2024. Tepat setahun lalu, kami menyibukan diri untuk memesan sebuah bucket bunga anggrek putih, lengkap dengan pot dan seisinya.
“Nok, bolehkah kamu memesan satu set bunga anggrek putih dengan kualitas terbaik?” pesanku kepada istriku sehari sebelum hari itu tiba.
“Iya… nanti ku pesankan, besok setelah pulang bekerja, kita antar bersama-sama ke rumah Ibu”, jawabnya.
Mungkin di hari ini, sebelas Desember sebagian dari kita pernah ingat sebagai Hari Gunung Internasional. Perasaan indie ku bergejolak. Terlintas sepotong lirik Cerita Tentang Gunung dan Laut, karya Payung Teduh (2010).
“Tak perlu tertawa atau menangis”
“Pada gunung dan laut”
“Karena gunung dan laut”
“Tak punya rasa”
Kurang lebih demikian. Hari ini, kita tidak akan membicarakan geofilosofi di balik Cerita tentang Gunung dan Laut. Karena toh, perasaan romantis tentang alam raya megah yang ditopang oleh tingginya gunung atau dalamnya lautan tidak lagi berlaku bagi kita—manusia modern.
Apa yang kita sebut sebagai romantisasi bayangan tentang alam yang murni, hanyalah sekelumit sejarah di belahan benua Eropa selama abad ke-18, atau yang kita kenal sebagai zaman pencerahan (Enlightenment). Manusia hari ini sudah memusnahkan semua takhayul cerita di balik seramnya hantu-hantu gunung atau monster di dalam palung-palung samudera sana. Tidak ada lagi terra incognita, yang ada hanya terra recognition.
“Selamat hari kelahiran, Bu!” Seru kami saat memberikan anggrek putih yang menawan itu.
“Mengapa kalian harus repot-repot membawakan Ibu anggrek?” tanya Ibu.
“Ya, mau bagaimana lagi Bu, toh itu adalah sesuatu hal yang paling Ibu sukai” jawabku dengan santai.
“Memang benar, Ibu sangat suka dengan berbagai tanaman, anggrek salah satunya” jawabnya kembali.
“Semoga ini bukan jadi hadiah yang terakhir ya, Bu…” sembari mata kiriku berkaca-kaca.
Aku tidaklah munafik. Perasaanku mengatakan bahwa aku butuh validasi dari seorang Ibu atas keberhasilanku.
“Tapi, Ibu banggakan?” sahutku.
“Sudah tidak perlu ditanyakan, apapun itu bentuknya, prinsipnya, Ibu bangga dengan apapun yang telah kamu capai. Nanti jikalau kamu sudah punya anak, pasti akan merasakan hal serupa…” Ia menjawab dengan penuh semangat.
Jika diingat kembali, terkadang aku melihat sosoknya bagaikan makhluk ciptaan semesta dengan tatapan yang sangat menakutkan, namun jujur saja, bahwa aku tak mampu melepas pandanganku terhadapnya.
Jika monster itu ada, mengapa aku mencintai monster itu?
Ia cukup konservatif. Bahkan, Ia salah satu orang yang paling tidak berkenan ketika aku masuk jurusan filsafat. Namun kemudian, Ibu mempercayai jalan yang anaknya sendiri ambil. Iya, benar. Ibu selalu bertanya kepadaku saat dua semester pertama ku, kurang lebih begini:
“Untuk apa ambil filsafat? Di Indonesia, filsafat bisa apa?”
Aku jawab dengan entengnya, “bisa jadi apa saja”.
Sejujurnya, ada hal yang paling aku sembunyikan sejak dulu kepadanya, yakni tentang mengapa aku memilih filsafat. Jawabannya, aku hanya ingin mengundurkan diri. Istilah indie nya, merenungi jalan sunyi. Ternyata, lucunya, kebohonganku ini malah berbanding terbalik. Setelah belajar filsafat, justru sebaliknya, jalanannya begitu bising.
Betapa bisingnya belajar filsafat. Baru membuka lima sampai sepuluh halaman pertama saja, aku sudah disibukkan dengan mendengar keluh kesah pemikiran banyak orang lintas peradaban. Semuanya ingin membicarakan dirinya sendiri, dunianya, dan permasalahan yang menghantuinya setiap hari.
Filsafat itu hantu yang sulit untuk dijinakkan. Semakin dipikirkan semakin melawan. Filsafat benar-benar membentuk nalar yang memberontak. Aku ingat betul, kelucuan saat awal-awal semester pertama dan kedua di Filsafat.
Ada saja “pemberontakan kecil-kecilan” dimunculkan. Mulai dari menempelkan seruan “kebenaran” di pojok-pojok kampus sampai sibuk melancarkan serangan siber dengan membuat puluhan akun “anonymous”—untuk sekadar bilang, A.C.A.B! All Cat Are Beautiful ~
Meaoww~
ah…
Sayangnya, tahun ini tidak ada lagi bunga anggrek untuknya, atau strategiku untuk sekadar mencuri-curi cara agar memvalidasi perasaanku sendiri.
Saat ini, aku sedang membolak-balik kembali catatan yang telah ku kumpulkan setelah Ibu pergi, tepatnya April 2024 lalu. Catatan itu seputar tentang berduka, kematian, dan hal-hal kecil lainnya. Namun juga terselip kisah tentang kelahiran cucu pertamanya, satu bulan setelah kepergiannya.
Potongan catatan itu membicarakan tentang, bagaimana manusia cenderung menciptakan realitas di mana mereka dalam mengetahui dirinya sendiri. Ernest Becker melalui The Denial of Death (1973), ia pernah membicarakan hal serupa tentang mengapa kematian, meskipun realitasnya tak pernah terungkap sampai tuntas, tapi di situlah manusia selalu mencari cara untuk memahaminya.
Aku sangat tertarik berbicara tentang kematian. Namun, aku masih takut terhadapnya. Lagi pula, mau tidak mau, kami (ada dan ketiadaan) pasti bersua kembali.
Itulah alasan, mengapa beberapa bulan ini, membicarakan tentang akhir yang tak terhingga menjadikanku bersemangat. Di satu sisi, ia menakutkan tetapi juga menakjubkan.
But the dead shouldn’t assault the living. That’s no good. The same goes for the living. They should never do anything to mock the dead. Trample into their territory disrespectfully, and you can only blame yourself for your death. (Dan Da Dan, episode 4).
Jika masih ada waktu, aku akan mencoba untuk menuliskannya kembali, menyoal thanatology, dengan penuh semangat melalui laman ini.
Saya sedang mempersiapkan sekaligus menginisiasi proyek jangka panjang tentang Pusat Studi Antroposen (PSA). Sedangkan Regu Baca Materialisme Baru merupakan bagian dari proyek PSA di masa depan yang berjalan secara paralel dengan agenda-agenda PSA ke depannya, seperti Baca-Baca Random (BBR) yang telah tayang di youtube bersama Sosiawan Permadi dan Gilang Mahadika sebagai pemantik diskusi.
Selanjutnya, Regu Baca Materialisme Baru (RBMB) dibentuk dalam rangka mewadahi teman-teman pembaca (readers) yang sedang tertarik mendalami isu-isu Materialitas dalam kajian Marxisme, Filsafat Berorientasi Objek, Pos-kontinental, dan tentunya isu Antroposen Berorientasi Filsafat. RBMB bukanlah merupakan kelas kuliah atau kursus filsafat yang memberikan pengantar atau bertujuan untuk memberikan materi pengajaran bagi awam. RBMB ditujukan bagi mereka yang memiliki komitmen untuk membaca dengan serius, kritis, dan tentunya menyenangkan.
Agenda RBMB dengan topik Antroposen Bulan September-Oktober 2024:
Kamis, 19 September 2024, BAB 1-2 (Pengantar Spinoza)
Kamis, 26 September 2024, BAB 2-5 (Spinoza dan Pikiran)
Kamis, 3 Oktober 2024, BAB 6-8 (Spinoza dan Antroposen).
Regu Baca Antroposen/Materialisme Baru dimulai setiap Kamis (tentatif), berbeda dengan Baca-Baca Random (setiap Selasa/Rabu Malam). Regu Baca Materialisme Baru dilaksanakan setiap Kamis Siang 14.00-16.00 WIB, secara daring (link GoogleMeet)/luring, Lt 5 Ruang Jurnal Filsafat, Fakultas Filsafat, UGM.
Sabtu (10/08) kemarin, departemen kami merumuskan titik pijak rumpun keahlian atau disiplin yang sesuai dengan orientasi pengembangan keilmuan dan karier seorang dosen. Tentunya dibersamai dengan sedikit perdebatan di antara kami. Di bidang filsafat pemilihan rumpun pengembangan ilmu tentu tidak semudah dan tidak serumit yang dibayangkan. Sebelumnya, posisi rumpun disiplin keahlian saya ditempatkan di filsafat teknologi sebab saya mengajar filsafat teknologi dan atau dapat berganti ke filsafat ilmu kealaman dengan catatan keberadagaan mata kuliahnya serta proyeksi disertasi ke arah wacana geologi atau geografi sebagai bagian dari ranah ilmu kealaman.
Secara singkat, saya mencoba untuk mempertegas diri memilih ‘geofilosofi’ atau geophilosophy sebagai ranting ilmu di Departemen Filsafat Barat. Entah benar atau tidak pilihan nyeleneh saya ini, dan tentu saja saya tahu konsekuensi apa yang ambil ke depannya. Meskipun dengan catatan bahwa ranting ilmu ini tidak ada kaitannya dengan bagaimana mata kuliah yang saya ampu, melainkan lebih banyak membicarakan keterhubungan pada luaran penelitian dan capaian akumulasi capaian kerja. Ya, terlepas dari peraturan yang berubah-ubah, serba tidak pasti—sebagaimana ketidakpastian pada pilihan nyeleneh ranting ilmu yang saya pilih, geofilosofi.
Pada kesempatan ini, saya ingin mencoba untuk memperkenalkan Apa itu Geofilosofi? Dan mengapa Geofilosofi dapat menjadi rumpun pengembangan disipilin ilmu filsafat dan sejauh mana proyeksi geofilosofi di masa depan. Apakah mungkin ada peluang baru ketika mempelajari dan mengembangkan geofilosofi? Curhatan ini akan terbagi menjadi beberapa bagian terupdate secara berkala, tetapi di bagian pertama ini saya akan mencoba untuk memperkenalkan secara singkat tentang re/posisi geofilosofi dalam sudut pandang pribadi saya.
Geo/Filsafat?
Geophilosophy atau Geo/filsafat atau geofilosofi merupakan kajian yang mengembangkan konsep spasial dalam membayangkan ulang sebuah perkembangan disiplin filsafat sebagai tubuh pengetahuan. Awalnya, istilah Geofilosofi populer setelah diperkenalkan oleh Gilles Deleuze (1925–1995) dan Félix Guattari (1930–1992), yang tentu saja bahwa istilah ini tidak sebagai bagian dari kontribusi pengembangan formal disiplin ilmu geografi. Sebaliknya, awalan kata ‘geo’ menawarkan sebagian besar tantangan terhadap keluasan pandangan bahwa philosophy atau filsafat selalu (i) berkaitan dengan kemajuan sejarah dan pengembangan nalar maupun akal budi manusia serta (ii) Upaya pencarian kebenaran ‘transenden’. Yang artinya, sejarah filsafat tidak terlepas dari jalan yang memutar (detour) dan kontingensi atau kemungkinan-kemungkinan (contingency), sebagaimana Deleuze dan Guattari (1994) mengartikan filsafat mampu menciptakan berbagai sistem atau konsep yang terdistribusi secara spasial, yang masing-masing keterciptaannya bersifat ‘imanen’, munculnya dari situasi yang kompleks. Arti sempitnya, pencarian kebenaran transenden (top-down), sedangkan kemunculan konsep lebih sebagai yang imanen (bottom-up).
Dari sini agaknya mulai nampak membingungkan bukan (?), namun bila ditelaah lebih lanjut apa yang menyituasikan terjadinya suatu konsep tidak terlepas dari komponen relasional dari ‘yang-internal’ dan ‘yang-eksternal’; manusia dan dunianya. Sebagaimana Deleuze dan Guattari (1994) pernah menegaskan “[T]hinking takes place in the relationship of territory and the earth” atau secara harfiah dapat dipahami bahwa [B]erpikir tidak dapat terlepas dari hubungan kita dengan berbagai batas-batas kewilayahan dan bumi. Berpikir selalu memiliki konteks, latar belakang, dan berbagai tapal batas aturan yang tertulis maupun tak tertulis. Dengan demikian, Geofilosofi menaruh perhatian pada ide-ide filsafat yang sangat abstrak, semisal tentang konsep, tetapi tidak melihat suatu gagasan sebagai bentuk generalisasi yang terlepas dari ruang-spasial tertentu bahkan sampai ‘keserampangan materialitas’ yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, dikarenakan tidak menjadikan konsep geofilosofi sebagai generalisasi maka geofilosofi bersifat ‘diferensial’ di mana kemunculan konsep ada dari berbagai kemungkinan yang disebabkan adanya keanekaragaman perjumpaan dan perbedaan sosiospasial, antara kedekatan dan keterikatan dalam hubungan material(itas) yang sangat dinamis.
Perkembangan geofilosofi tidak secara formal dimunculkan sebagai rumpun disiplin pengembangan filsafat setelah karya What is Philosophy (1994) diterbitkan. Berbagai leksikon geografis selalu mengarah pada karya Anti-Oedipus (1969) dan A Thousand Plateaus (ATP)(1980) sebagai titik pijak berberapa konsep penting atau kunci untuk mengonfigurasi ulang konsep-konsep pra- ‘geofilosofi’ yang lebih luas, terutama ide tentang de/re/teritorialisasi, lanskap, serta milieu atau gagasan tentang abstraksi spasial (garis, bidang, lengkung, lurik, dsb). Lebih lanjut, proyeksi abstrak pada karya ATP lebih banyak mencoba untuk mengidentifikasi praktik pemetaan (mapping) bukan penelusuran (tracing) terhadap berbagai elemen konsep yang terkait dengann perbedaan (different) dan keterbukaan (opennes). Semua hal ini diterapkan untuk mengatasi dan mengubah sudut pandang isu-isu filosofis dalam pengembangan teori dan praktik geografi ke depannya.
Hal tersebut memang nampak bahwa bidang ilmu geografi, setelah kebangkitan geografi kritis (critical geography) di era 60-70an dengan studi urban Marxisme, pandangan Deleuze dan Guattari tentang geofilosofi muncul diawal paruh waktu 2000an di mana mereka dianggap sebagai bagian dari pengembangan filsafat ‘pos-strukturalis’, alih-alih sebagai bagian pengembangan dari geografi kritis. Namun, geofilosofi Deleuzian selalu memosisikan sebagai ‘diferensial’ atau ‘pembeda’ yang mendorong berbagai turunan variasi konsep dan teori yang sangat kompleks. Untuk alasan inilah, para geografer tidak pernah memasukan geofilosofi sebagai bagian dari glosari mereka karena berbagai istilah dan konsep yang dianggap membingungkan, seperti halnya teori minor, teori ruang-tubuh, teori afek, teori non-representasional, dan telaah ‘palingan ontologi’ yang khas mewarnai berkembangan pendekatan geografi baru terhadap sudut pandangyang berbeda terhadap pemahaman geografi atas relasi manusia dan lingkungannya, yang sedikit banyak terinspirasi dari materialisme baru, vital materialisme, dan istilah Deleuze terhadap hubungan antara manusia dan non-manusia dalam ‘zones of indiscrenibility’ atau zona yang tidak dapat dibedakan—kabur dan menjadi.
Filsafat dan Geografi?
Sebenarnya istilah Geofilosofi tidak sendiri sebagai sebuah nama yang berkembangan di khazanah perkembangan cabang ilmu abad dua puluh. Ada banyak percobaan konsep yang diterapkan dengan menambahkan prefix ‘geo’ di awal disiplin non-geografi. Sebagaimana istilah ‘geopolitik’ yang banyak diadopsi untuk menurukan berbagai oleh perjumpaan berbagai disiplin keilmuan mulai dari kajian kekuasaan politik sampai hubungan internasional, atau ‘geohistori’ yang dipopulerkan oleh Ferdinand Braudel dan selanjutnya diadaptasi oleh François Tosquelles dengan istilah ‘geopsikiatri’.
Kajian geohistori misalnya sangat fokus pada kajian sosio-spasial yang terjadi berulang, secara repetitif dalam kehidupan keseharian sosial di ruang yang berbeda namun dalam jangka waktu yang relatif panjang. Braudel (1972) memberikan contoh pada kondisi sosio-spasial masyarakat kapitalisme. Geografi bagi Braudel dapat membantu untuk menemukan Kembali realitas struktural secara spasial yang mungkin dalam sejarah terabaikan. Pada kasus masyarakat Kapitalisme misalnya, melalui pendekatan sosio-struktural, geohistori dapat memandu arah gerak sejarah kapitalisme, kapan dan mengapa Kapitalisme dapat langgeng di Eropa padahal kondisi di wilayah non-Eropa atau tempat lain tidak pernah ada. Pemetaan ini yang memudahkan Braudel dalam membaca kompleksitas geografi sosial dan fisik serta menghindari pembacaan narasi telelologis pada suatu periode sejarah yang panjang.
Lantas bagaimana dengan geopsikiatri? Menariknya psikater Portugis Tosquelles mengadopsi antara hubungan sosiospasial di suatu komunitas lokal untuk tujuan psikoterapi. Selama Perang Dunia II, ia membawa membawa para pasiennya keluar dari tembok insitusi, alih-alih bersembunyi, mereka didorong untuk berani membenamkan diri pada masyarakat di sekitarnya. Konteksnya rumah sakit yang terintegrasi dengan kegiatan komunitas lokal, klinik psikiatri eksperimental inilah yang kemudian mewarisi pendangan Deleuze melalui Guattari setelah melihat adanya keterhubungan antara konteks geospasial dengan terapi, atau yang dikenal sebagai ‘terapi lingkungan’ atau ‘milieu therapy’.
Terinpisrasi dari geohistori Braudel, Deleuze dan Guattari menyatakan bahwa filsafat adalah geofilosofi. Ide ini mulai menginspirasi mereka untuk menolak ide bahwa sejarah filsafat Barat sebagai bentuk satu-satunya keistimewaan historisitas atas akal budi dan nalar, respons ini melahirkan konsep contingency. Hal tersebut diungkapkan bahwa lahirnya filsafat tidak lebih dari peristiwa kebetulan yang terlahir dari banyak kemungkinan keterhubungan relasi sosiogeografis yang pernah terjadi sebelumnya. Mereka mencontohkan minimnya konflik dan kondisi geografis Yunani Kuno yang menjadikan keistimewaan bagi masyarakatnya untuk dapat melahirkan berbagai ide pemikiran kreatif, kritis dan filosofis tentang kebudayaan, politik, dan ilmu pengetahuan.
Namun perlu diingat, bahwa sejarah pemikiran filsafat Pra-Sokrates tidak terlepas dari peran para penjelajah yang sekedar transit di Yunani atau mereka para filosof Pra-Sokrates yang belajar sampai ke Mesir untuk kemudian pengetahuan mereka dikembangkan di Yunani Kuno. Apa yang mereka pelajari di Mesir, semisal konsep imanensi, pertemanan, dan argumentasi-opini, dan dikembangkan di Yunani menjadi gagasan tentang otonomi politik dan kerja sama merupakan bukti bahwa pengetahuan Filsafat Barat tidak dapat terlepas dari produk kecelakaan sejarah sampai kemungkinan kedekatan wilayah pengetahuan-geografisnya. Contoh deteritorialisasi (pengetahuan tentang otonomi politik) serta the milieu of immanence—yang mendorong terjadinya sirkulasi pengetahuan dan pertukaran pengetahuan yang terjadi saat itu. Lingkungan imanensi ini yang mungkin membuat para filosof merasakan ketidaknyamanan dalam berpikir sehingga mereka selalu mencari-cari cara bahkan ketika harus berpindah dari satu teritori ke teritori lain.
Meskipun sejarah filsafat penting bagi segelintir ahli geografi, banyak yang menganggap penting implikasi yang lebih luas dari pembacaan geofilosofis ini. Hal ini menunjukkan bahwa filsafat bukanlah produk dari abstrak murni, struktur sejarah pemikiran atau armchair thinking. Suatu konsep filsafat tidak dapat terlepas dari hubungan yang kompleks dan berkaitan seiringan dengan kehidupan sosiospasial, yang tujuannya untuk membebaskan pemikiran dari kepura-puran bahwa klaim naif hanya ada satu pengetahuan yang unik dan khusus di satu wilayah. Pengetahuan seperti ‘kearifan lokal’ atau keistimewaan ‘kebijaksanaan Barat’ akan menjadi mungkin cukup problematik jika diklaim hanya sebagai satu-satunya pengetahuan yang lahir begitu saja. Sedangkan, menurut Deleuze dan Guattari, Geografi lebih dari sekadar pembicaraan tentang fisik dan manusia, tetapi juga tentang mental dan lanskap. Bumi sebagai sebuah bidang atas tempat konsep dan material menyusun dirinya sendiri, ia menciptakan sistem, memantapkan bentuk tatanan baru dan bahkan meluluhlantakan apa yang sudah ada. Geografi menunjukkan bahwa sejarah pemikiran tidak sekadar atas pemujaan yang berlebihan akan kebutuhan pemenuhan kebenaran yang super-absolut tetapi jarang mempertimbangkan adanya ‘the irreducibility of contingency’ atau kontingensi yang tidak dapat direduksi.
Geofilosofi?
Kontingensi memiliki peran penting dalam perkembangan geofilosofi. Geofilosofi selalu mempertimbangkan peran proses spasial terhadap cara seorang filosof merumuskan konsep. Konsep yang dilahirkan tidak terlepas dari hubungan ‘multiplisitas’ yang terkonstitusikan antara berbagai hal, seperti halnya rhizomes atau peta, yang saling terhubung, sedangkan konsep dianggap sebagai ‘singularitas’, jika maknanya secara spesifik merujuk pada elemen konstitutif partikular tertentu. Di sisi lain, konsep juga memiliki relasi eksternal, yang selalu mendekati atau berjarak dari konsep lainnya. Tentunya, Deleuze dan Guattari tidak mengidentifikasikan geofilosofi dengan geohistori, tetapi lebih mendekatkan relasi terdekat dari elemen internal ‘geo’ yang disematkan. Geofilosofi tentu memiliki tantangan di mana ‘a plane of immanence’ atau ranah imanen yang merujuk pada ‘image of thought’—cara berpikir/gambar pikir yang mendorong terjadinya intuisi pra-filosofis atau non-philosophical given, sebelum konsep-konsep filsafat terbentuk.
Selama ini, para filosof menciptakan ‘masalah baru’ yang lahir untuk membentuk ranah imanen baru, seperti halnya Descartes ketika pertama kali memformulasikan prinsip filsafat pertamanya: cogito ergo sum atau [A]ku berpikir, maka [A]ku ada. Gagasan ini menciptakan cara berpikir baru tentang relasi antara pikiran dan eksistensi yang terberi begitu saja (intuisi pra-filosofis) tentang status ‘I’ atau [A]ku. Ranah Imanensi Descartes ini kemudian menciptakan berbagai konsep tentang [A]ku atau ‘I’ sebagai sebuah konsep filsafat yang mendapatkan perhatian bagi para filosof Pasca-Descartes, misalnya Kant atau Sartre.
ATP menjadi gambaran tentang bagaimana multiplisitas berbagai teori sosial yang selalu mencoba untuk merepresentasikan kompleksitas dunia ke dalam berbagai kategori struktur yang lebih sederhana. Deleuze dan Guattari sering menyebutnya sebagai plateaus atau planes of consistency, yang secara harfiah artinya ‘dataran tinggi atau pegunungan’ semacam ranah atau bidang yang lebih konsisten dari pada penjelasan sebelumnya, tentang ranah imanensi. Mereka kemudian beralih ke berbagai disiplin ilmu untuk menelusuri kembali berbagai perbedaan antara pemikir (philosopher atau scientist) beserta gagasan atau konsep-konsepnya. Hal tersebut terwujud dari bagaimana potongan-potongan kecil dari multiplisitas dan variasi yang saling berlawanan dari satu pemikiran minor dengan lainnya juga saling memiliki kesamaan satu dengan lainnya, meskipun dalam bentuk repetisi yang sederhana dalam alur pemikiran dari berbagai disiplin ilmu. Sebagaimana contoh Dune karya Frank Herbert, dalam karya itu terdapat garis transversal berbagai formasi sosial politik, geografis, kebudayaan, dan ideologi yang anti-statistik namun saling bertemu, menyilang, tidak teratur serta beririsan.
Gambaran konsep geografis yang sangat fisik kealaman tentu tidak dapat disamakan dengan bagaimana geofilosofi bekerja. Saya meyakini ketika Deleuze mencoba untuk mengulang artikel yang ditulis oleh Michel Foucault tentang Questions on Geography (1980), di mana lanskap fisik tidak terlepas dari sistem semiotik serta aparatus kekuasaan ketika sudah bertalian dengan urusan politik kemanusiaan. Geografi kritis menjadi tujuan dari Deleuze dan Guattari mengembangkan geofilosofi. Pembalikan transversal inilah yang membolak-balikan bentuk tradisional geografi di Prancis saat itu—misalnya tentang teritorialisasi (kewilayahan) menjadi de- atau re-teritorialisasi. Geofilosofi memuat serangkaian konsep spasial tentang kebertubuhan (organisme, materialitas, dan bahkan konsep) yang dikonstitusikan oleh teritorialisasi atas suatu ruang/spasialitas. Dengan demikian, konsep transversal non-linear tidak hanya berhenti pada relasi geografis semata, tetapi juga melihat bagaimana konsep non-lanskap bekerja, seperti afek-afek (affects) yang berdampak pada tubuh—aliran kapital (non-alami) melintasi Bumi, atau doktrin ideologis pada riset-riset lapangan sosial, malah mungkin saja pada pikiran kita sendiri. Atau, tawaran revolusionernya sebagai potensi terciptanya ‘Bumi Baru’ dari geofilosofi, dengan ‘Manusia Baru’ di dalamnya.
Kembali kepada periode puncak aliran pos-strukturalis, terutama Michel Foucault dan Jacques Derrida yang menempatkan subjek geografi kritis sebagai palingan kultural bersamaan dengan dasar pendekatan epistemologi dan semiotika yang begitu kuat. Alasannya karena terkait dengan ‘politik etis’ yang mengartikan bahwa dominasi keistimewaan white males yang cenderung mengartikan universalitas pengalaman serta tendensi fasisme pengetahuan yang dominan. Alasan inilah yang menggeser isu ontologi menjadi isu epistemologi, tentang masalah sirkulasi kekuasaan yang dikaitkan dengan bahasa, tanda, dan wacana. Pada posisi inilah, saya menolak sepenuhnya bahwa ketika Deleuze diartikan serupa. Deleuze tidak terlepas dari posisi filsafatnya sebagai seorang metafisikus alih-alih seorang epistemolog, kecuali ketika Deleuze setelah bertemu dengan Guattari, mereka yang mulai bermain-main di ranah politik dan etika, atau semiotika dan psikologi.
Secara singkat, untuk mengakhiri bagian pertama ini, saya ingin menunjukkan bahwa perkembangan geofilosofi dalam kurun waktu 20 tahun terakhir masih berhenti pada wacana dan kritik dari wacana Deleuzo-guattarian tentang Geofilosofi. Saya menemukan beberapa karya penting yang dapat menjustifikasi orientasi palingan ontologis dari geofilosofi, antara lain:
Manuel DeLanda menerbitkan A Thousand Years of Nonlinear History (1997) sebagai perluasan konsep geofilosofi dan relasinya dengan konteks sains.
Mark Bonta dan John Protevi memetakan glosari tentang Deleuze and Geophilosophy (2004).
Ben Woodard, On an Ungrounded Earth: Towards a New Geophilosophy (2013), merupakan karya paling absurd, yang mencoba menelaah geofilosofi baru tanpa dan dengan Deleuze-Guattari.
Rodolphe Gasché, Geophilosophy: On Gilles Deleuze and Felix Guattari’s What Is Philosophy? (2014), Gasché membongkar kembali asal-usul geofilosofi pada karya What is Philosophy?
Ali Shobeiri Place: Towards a Geophilosophy of Photography (2021) mencoba memahami teori Deleuze tentang pembeda dalam ruang, tempat, dan gambar dalam fotografi yang selalu menjadi.
Caterina Resta, Geophilosophy of the Mediterranean (2024), merupakan karya terjemahan filosof Italia Caterina Resta. Karya ini mulai secara serius menerapkan antara konsep geofilosofi sebagai lanskap analisis tentang wilayah Laut Tengah sebagai lanskap sosio-geografis.
Selain buku, edisi khusus dua jurnal terkemuka dalam studi geofilosofi antara lain, (i) Jurnal Deleuze and Guattari Studies, Vol. 10(4), November 2016 dengan tema Deleuze and Guattari in the Anthropocene, (ii) Jurnal Subjectivity Vol. 15(3), September 2022dengan tema Geophilosophies. Kedua jurnal tersebut mengkaji perkembangan terkini dari konsep, wacana, perdebatan, sampai implementasi praksis dari geofilosofi.
Selain karya-karya di atas, terdapat berbagai karya turunan dari geofilosofi seperti halnya pada gerakan materialisme baru sampai materialisme vital di sekitaran 2010an dalam rangka menguncang binaritas ontologis dari manusia/non-manusia atau kehidupan/sosial dan lain sebagainya. Berbagai konsep turunan geofilosofi tidak terlepas dari bagaimana pengaruh cara berpikir Deleuze dan Guattari saat menciptakan berbagai konsep assemblages atau sekumpulan agensi yang menampilkan keberadaan karakteristik, misal kompleksitas Kumpulan bahan organik dan anorganik. Hal ini telah mengilhami beberapa ahli geografi untuk mempertimbangkan implikasi sosio-lingkungan hari ini, misalnya berbagai perusahaan teknologi dan pemerintah ketika mengembangkan konsep biomimicry atau bioinspired. Perekayasaan teknologi atau robotika sepenuhnya meniru bagaimana organisme biologis bekerja. Contoh ekstrem lainnya, jika kita mencoba menerapkan kerja kapitalisme pada lintasan multisiplitas di antara garis keragaman planes atau ranah (baik biologis, teknik, dan sosial), di mana tekno-sains dalam bio-mimikri selalu berpotensi terlibat dan mengontrol gerak fisiologis suatu organisme—baik secara mikro (individu) atau makro (Masyarakat).
Bumi Baru?
Akhirnya, pada bagian pertama refleksi tentang geofilosofi masih menyisakan banyak pertanyaan mendasar. Ini bukan berarti bahwa geofilosofi tidak menawarkan pendekatan apapun. Geofilosofi justru membumi dalam kontingensi dan imanensi, geofilosofi tidak dapat menawarkan konsep transenden yang sangat preskriptif. Masalahnya kemudian geofilosofi masih memiliki pertanyaan besar tentang New Earth dan New People seperti apakah yang dibayangkan oleh Deleuze dan Guattari kemudian. Namun, bagi saya pribadi, geofilosofi merupakan petanda untuk menjadikan filsafat tidak lagi menjadi legitimasi naif atas cara memandang dunia melainkan mulai mengubah dunia, meskipun itu hanya dunia-kehidupan yang jaraknya hanya sejengkal dari kehidupan kita yang sangat membosankan ini.
Lebih jauh lagi, keberanian untuk menjadikan filsafat sebagai proyek lapangan menjadikan filsafat lebih mumpuni dalam mengkaji masalah-masalah kontingensi dan pembeda yang ada. Filsafat bukan lagi tentang kekuasaan atau keistimewaan dalam berpikir, lagi pula filsafat selalu berperang tanpa perlawanan, namun rute strategi gerilya-nya inilah yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Gambar 1. Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Selasa Legi, 23 Juli 2024. (Sumber: foto WAG).
Apa yang menarik dari berita di beberapa portal berita Yogya ialah menyoal gerakan masyarakat bertajuk ‘Organikkan Jogja’. Gerakan ini menyasar setidaknya 23.750 kepala keluarga. Inilah bentuk dari keyakinan kuat Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta beserta tim penggerak PKK beserta Forum Bank Sampah untuk mengubah cara pengelolaan sampah rumah tangga secara aktif dan bahkan berkelanjutan. Terlepas dari inisiasi gerakan masyarakat ini, yang tentu saja masih ada kaitannya dengan isu-isu penumpukan sampah di sejumlah titik fasilitas publik selama kurang lebih 2021-2024 sebab terdampak penutupan TPA Piyungan.
Gerakan ini diklaim sebagai bentuk dari ‘perekayasaan sosial’ bagi masyarakat agar dapat menyesuaikan pola kebijakan desentralisasi pengelolaan dan pengurangan muatan sampah yang terjadi di beberapa titik TPA di Yogyakarta, termasuk Piyungan. Gerakan ini pun berorientasi mengembangkan proses pemilihan sampah organik dan anorganik dengan menggunakan biopori ataupun lodong sisa dapur (losida). Meskipun demikian, program ini disinyalir akan mulai berjalan akhir tahun 2024, dengan tujuan setidaknya mampu mengolah sampah organik menjadi bahan yang lebih ramah lingkungan untuk pertanian organik pula. Dapat dicontohkan, bahan organik sisa makanan dan sayuran dapat menjadi pakan magot misalnya, tutur salah satu PIC dari progam ini.
Saya rasa pemilihan istilah dari suatu gerakan yang dijuluki ‘organik-kan Jogja’ menyimpan beberapa hal yang perlu dijelaskan sebagaimana problem yang ada pada ‘Hauntologi Sampah’. Namun, sebelum beranjak ke isu Hauntologi Sampah, ada satu karya sejarawan urban Amerika Patricia Melvin berjudul “The Organic City: Urban Definition and Neighborhood Organization 1880–1920” (1987). Karya klasik ini mengambil sudut pandang pada akhir abad kesembilan belas di mana telah terjadi perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat di New York, Milwaukee, Cincinnati Amerika.
Terdapat permasalahan terkait kesenjangan antara definisi ‘kota lama’ dengan kota baru, termasuk sejarah bentang alamnya sampai sistem ekologi yang menopang suatu citra kota baru. The Organic City (1987) hanya merujuk tentang cara kita menyelesaikan masalah dislokasi dalam kehidupan perkotaan di mana orientasi ‘kota organik’ sudah tiada, ia hanya kemudian digantikan oleh model kooperatif (penyelesaian konflik dan friksi antar kelompok berkepentingan) secara kompetitif.
Belajar dari dislokasi Kota Organik ini sepertinya ketika kita memastikan suatu gerakan Organik-kan Jogja hanya sebagaimana bagian kecil dari sebuah konsentrasi Kota Organik yang sesungguhnya. Di sisi lain, Jogja setelah mendapatkan pengakuan dari UNESCO tentang Sumbu Filosofis Yogyakarta sebagai warisan dunia yang harus dilestarikan, menjadikan kota ini selalu bernegosiasi untuk mempertahankan ciri tradisional dengan model kota yang modern. Intinya, kenyamanan kunjungan turis di nomor satukan. Citra baik dan bersih menjadi ujung tombak dari pelestarian sebuah situs wisata.
Identitas ‘yang-bersih’ dan ‘yang-kotor’ inilah menjadi indikator dalam kita membaca hauntologi sampah. Proses gerakan Organikkan Jogja hanya berbasis pada perubahan aktivitas berbudaya setiap keluarga yang ada, bukan berorientasi pada tata perubahan kota yang ‘organik’. Sayangnya, istilah organik ini tidak terlepas dari semboyan yang biasa kita gunakan jikalau ingin menegaskan bahwa kita orang baik dan bermoral terhadap lingkungan. Misalnya, penghijauan atau menghijaukan Bumi (greening the Earth)–Go Green, pokoknya Green Washing. Begitu pun, sesuatu hal yang organik selalu menarik bagi masyarakat Urban Perkotaan.
Bagi masyarakat urban, kehidupan yang semakin anorganik tetapi sulit untuk ditanggalkan inilah yang membuatnya nyaman. Justru, apa yang organik memiliki nilai jual yang sepenuhnya berbeda. Dalam mode produksi sistem kapital, organik ini memiliki nilai-lebih yang pada proses valorisasinya mendapatkan tempat menggantikan yang-anorganik. Padahal, dualitas antara organik dan anorganik sempat disinggung oleh Manuel De Land dalam A Thousand Years of Nonlinear History (1997, hal 25):
““We live in a world populated by structures-a complex mixture of geological, biological, social, and linguistic constructions that are nothing but accumulations of materials shaped and hardened by history” (DeLanda, ATY, hal. 25)
Jikalau kita menerjemahkan secara bebas maka dapat dikatakan apa yang dimaksud oleh DeLanda ialah bahwa kita saat ini hidup di dunia yang tercampur-aduk oleh banyak hal. Dunia yang kita rujuk pada dimensi urban ialah akumulasi material yang dibentuk dan diperkokoh oleh sejarah. Sejarah ini artinya pengetahuan yang bergerak baik secara material maupun immaterial. Apa yang kita rujuk pada kata Urbanisasi misalnya, perpindahan atau transisi dari model kota tradisional menjadi kota modern pun tidak terlepas dari dunia organik.
Sejarah non-linier ala DeLanda mempercayai bahwa dunia organik yang awalnya berdasar pada jaringan lunak hingga ratusan juta tahun menjadi bentuk tulang yang termineralisasi. Mineralisasi tulang ini menjadi faktor pengendali dunia baru. Metafora ini membentuk berbagai mineralisasi lain dengan ekstra-(eksoskeleton) urban sebagaimana tulang. Tulang-tulang ini saling menyusun serta mengontrol kehidupan ‘dinding-dinding kota’ baru. Artinya, dari dua-kaki berjalan sampai mengatur pasokan barang dan berita inilah menjadi dasar infrastruktur urban. Sedangkan populasi manusia saat ini yang semakin padat memiliki fungsi atas pengendalian gerakan tulang-tulang terhadap bagian tubuh kita.
Daging perkotaan yang sudah semakin membusuk inilah yang selalu ditopang oleh ekstra-piranti seperti teknologi yang asal muasalnya pun tidak sepenuhnya organik. Kita ambil contoh sederhana, bagaimana ciri khas Hauntologi Sampah ini bekerja sebagaimana gambar di bawah ini.
Gambar 2. Tangkapan Gambar Sampah Plastik Daur Ulang untuk Alasan duduk (Sumber: Kiriman WA Bayu).
Apa yang menarik dari gambar plastik daur ulang berspirit eco-friendly adalah memanfaatkan kembali limbah atau sampah sisa penggunaan kita. Tetapi pada akhirnya ia-secara ontologis-akan kembali menjadi sampah. Ia dibuang begitu saja. Seolah-olah inkonsistensi nilai-guna ini menjadi bermakna gamang. Pada bagian ini tidak akan saya jelaskan terlalu panjang perihal perubahan nilai guna yang bekerja pada barang-barang komoditas pasca-konsumsi. Selanjutnya pada Gambar 3 dan 4 bagaimana menariknya potongan plastik yang dikumpulkan dapat menjadi barang baru dengan nilai guna pada penggunaan sekaligus pada hasrat kepuasaan telah menyelamatkan dunia.
Gambar 3. Tampilan Jual-Beli Bahan Eco-Brick (Sumber: Shope, 2024).
Gambar 4. Hasil dari Eco-Brick berbentuk Kursi (Sumber: Mediapijar).
Saya memiliki seorang teman, Ia adalah pecinta lingkungan juga seorang Hattanian. Ia pernah memiliki proyek untuk membuat kursi berbasis limbah plastik yang ia konsumsi setiap harinya. Kata teman saya, suatu saat saya akan membuat sebuah kursi yang serba guna berbasis sampah. Singkatnya selama beberapa tahun dalam proses hoardingnya, ia menyerah. Sampah ialah sampah. Bujukan dan tekanan dari teman sebayanya membuat gerakan lingkungan lumpuh.
Baiklah, semoga gerakan Meng-organikan Jogja tidak padam seperti apa yang dibayangkan teman saya itu. Pemerintah Jogja punya optimisme, agar warganya tidak bergantung pada pengepul sampah atau setidaknya mampu menekan timbulan sampah berlebih. Selalu saja, para politisi ini berkata bahwa gerakan penglolahan sampah seperti kecentilah 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) agar diimbau kalau perlu dipaksakan kembali. Selalu saja begitu…
Ya.. tapi yang di Re- itukan objek material non-manusia, mungkin kalau 3R ini diterapkan pada pejabat yang sudah usang dan siap jadi pupuk akan cukup bermasalah. Tentu saja tidak mungkin. Proses 3R hanya bisa melalui sistem demokrasi, itupun kalau tidak dikorupsi.
Bahkan melalui curhatan ini pun, Mengornikkan Jogja sebagai gerakan belum masuk dalam pendekatan Hauntologi. Masih jauh, saya masih merasa dihantui oleh pra-gerakan ini. Ya, semoga sosialisasinya berjalan dengan lancar jaya…
Harapan lainnya, semoga tidak seperti apa yang dilakukan oleh Forum Pemuda Peduli Sampah Kabupaten Sintang yang telah melakukan aksi protes dengan membuang 4 truk berisi sampah ke halaman Kantor Bupati dan Kantor DPRD, Selasa, 23 Juli 2024. Tepat seperti KR merilis istilah gerakan masyarakat Meng-Organik-kan Jogja.
Video. Akibat Sampah Menumpuk, Warga Buang Sampah di Kantor Bupati dan DPRD Sintang – iNews Pagi 24/07. (Sumber: Youtube.com).
*NB: Saya akan menambahkan beberapa hal, mungkin nanti… saya mau ikuti dulu sosialisasi meng-Organik-kan sampah, semoga tabiat buruk saya dan kebiasaan lama saya bisa direkayasa dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Oh ya satu lagi: Saya pernah di satu waktu, sekitar 1 minggu yang lalu, ketika mengisi acara ekoliterasi, tak sengaja saya bertemu dengan petani di daerah Utara Jogja, dia berkata bahwa masalah sampah itu pada industri, perhotelan, dan pasaraya. Tetapi mengapa selalu limbah rumah tangga yang dikambing hitamkan. Ia percaya sebagai seorang petani sudah berlaku organik bahkan sebelum gerakan itu muncul.
Oleh Rangga Kala Mahaswa, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada.
*Esai ini merupakan Materi untuk Diskusitentang “Filsafat Kritis Dan Krisis Ekologi”, Jumat 12 Juli 2024 bersama Prof. dr. Gerry van Kliken dan Gilang Mahadika, MA.
Sampah dan Keseharian
Dalam politik keseharian bermasyarakat terdapat pemahaman umum bahwa sampah menjadi objek yang pada dasarnya bersifat sementara dan juga instan. Mereka (limbah sampah terakumulasi) menimbulkan ambiguitas pemaknaan dari semakin banyaknya kita menemukan objek-objek yang kita sebut sebagai sampah—objek yang kehadirannya cepat berlalu begitu saja (Kennedy, 2007). Benda-benda sekali pakai kita temukan setiap harinya. Misalnya, dalam suatu konferensi ilmiah, panitia menyediakan gelas kopi sekali pakai, bungkus gula, pengaduk, dan pipet yang digunakan hanya untuk satu kali pembuatan kopi. Dengan berbagai alasan tentang kebersihan dan higenisitas bagi kita objek sampah barang sekali pakai pasti digunakan hanya sekali lalu membuangnya dan melupakannya.
Namun, sementara sebagian besar barang-barang sekali pakai tampak sama sebelum dan sesudah penggunaannya, secara ontologis sampah menjadi objek yang selalu diorientasikan untuk digunakan sampai pada titik tertentu ia menjadi sampah. Apa yang menjadikan sesuatu sebagai sampah ialah karena benda tersebut tidak lagi digunakan atau setidaknya tidak bernilai. Namun, bagaimana dengan tubuh kita? Atau makhluk hidup yang kemudian menemui ajalnya dan berubah bentuk dalam proses dekomposisi. Dengan demikian, tidak ada satupun entitas yang pada dasarnya sampah, sekaligus semua entitas bisa saja berpotensi menjadi sampah.
Beberapa bulan terakhir, tepatnya di Yogyakarta, masalah tentang pengelolaan sampah terpadu menjadi berita hangat di hati masyarakatnya. Apa yang membuatnya menarik ialah tentang bagaimana sampah yang selama ini tersembunyi atau meskipun disembunyikan keberadaannya tetap saja mencuat. Karena keterbatasan tempat penampungan sampah pusat serta tendensi pemerintah kepada masyarakat untuk mulai membiasakan pengelolaan sampah secara mandiri, ternyata justru menyisakan permasalahan yang semakin rumit. Sayangnya, perubahan kebijakan ini tidak mengubah bagaimana masyarakat mengelola sampahnya secara signifikan.
Permasalahan sampah urban selalu memutar pada permasalahan tumpukan sampah yang serampangan di bahu jalan, di depan pasar, di antara trotoar jalan, di samping pemberhentian TransJogja, sampai di seputaran fasilitas umum yang tentu saja mengganggu aktivitas keseharian masyarakat. Mereka ada di mana-mana dan selalu menghantui dalam berbagai penampakan dalam berbagai persepsi indrawi dari bau, rasa sampai visual. Di sisi lain, konflik perebutan wilayah lahan sampah semakin mencuat ketika adanya ketegangan antar desa yang saling mengklaim atau membatasi wilayah pembuangan sampah. Konsekuensi dari permasalahan ini mulai merambat ke arah yang tidak pernah dibayangkan, mulai dari munculnya permasalahan kesehatan publik, kultural, sosial, ekonomi, dan politik baru.
Gambar 2. Penumpukan Sampah di sejumlah Jalan Yogyakarta (Sumber: CNN/Antara, 2023).
Sampah menjadi sangat menarik untuk dipahami oleh kita—akhir-akhir ini. Sampah menjadi objek yang kepada dirinya memiliki ragam pemaknaan (Lih. Gille & Lepawsky, 2021). Ia pada konteks Dunia Utara selalu menarik diri(withdrawn) dan tidak pernah terlihat (invisible), Ia harus jauh dari pandangan kemajuan peradaban, sedangkan di Dunia Selatan sampah selalu mengada—ada dan menjadi bagian dari perkembangan pembangunan di sekitarnya. Sampah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Hanya saja, terkadang ia diakui atau dienyahkan begitu saja.
Tentu saja, saya tidak akan memperdebatkan bagaimana kebijakan pengelolaan sampah seharusnya, sikap hak dan tanggung jawab masyarakat menyoal pembuangan akhir sampah, hingga regulasi atau hukum tentang tata kelola sampah. Melalui esai ini, saya ingin merefleksikan ulang bahwa sampah secara fenomenologis memiliki eksistensi di antara “Ada” dan “Tiada”, Ia menjadi objek filsafat yang aneh(uncanny), misterius, dan selalu menarik dirinya sendiri meskipun dalam kehadirannya yang tidak terbatas. Sampah dapat menjadi kategori quasi-object, objek yang tidak pernah lengkap dan sempurna ketika dijelaskan atau dirasakan oleh manusia (Griffero, 2018).
Gambar 3. Tumpukan sampah di Kampung Joyudan, Kota Jogja (Sumber: Detik, 2024).
Tidak dipungkiri bahwa kajian filosofis tentang sampah, limbah, dan polusi sangatlah terbatas. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak masuk dalam kategori objek-objek (things) dalam pengalaman berfilsafat (Faber, 2014). Seolah-oleh berfilsafat hanya terbatas pada proses abstraksi tentang sesuatu yang ketat dan disiplin. Misalnya mempertanyakan tentang Ada, Ketiadaan, Kebenaran, Keadilan, dan sebagainya. Padahal, apabila ontologi yang merupakan sistem cabang filsafat utama sekaligus mengklaim dirinya sebagai studi tentang “Ada” (Lih. Macdonald, 2005), oleh karenanya kajian tentang sampah menjadi cukup penting. Alasannya sederhana sebab hari ini sampah menjadi bagian integral dari proyeksi masa depan bumi manusia itu sendiri. Sampah meskipun sering terabaikan “eksistensinya” pada level tertentu, “kehadirannya” diakui sebagai cara masyarakat mengimajinasikan tentang tatanan sosial yang maju dan beradab. Sampah menjadi representasi suatu peradaban manusia, Ia menorehkan harapan sekaligus kecemasan tentang masa depan bumi manusia.
Hauntologi Sampah
Ada beberapa alasan mendasar, mengapa saya memilih Hauntologi (Hauntology) sebagai fondasi kajian ketika menganalisis struktur onto-epistemologis sampah. Kajian filsafat terkait Hauntologi pernah dipopulerkan oleh Jacques Derrida melalui karyanya Specters of Marx (1993). Derrida mencoba merumuskan sebuah palingan baru dalam filsafat yang disebut sebagai spectral turn. Keresahan Derrida dalam memandang kritik eksorsisme yang digaungkan oleh Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992) tentang matinya komunisme di Dunia Barat. Padahal, ide tentang gagasan Marx tidak akan pernah mati—ia akan senantiasa menghantui (haunting) dan menjadi spektral di masa lalu untuk saat ini namun dalam keadaan yang absen, secara metaforik—hantu.
Gambar 4. Pembakaran Simbol Komunisme oleh FPI (Sumber: Antara/JakartaPost, 2016).
Ontologi spektral menjadi sangat ambigu sekaligus paradoksal sebab membicarakan antara yang ada (being) dan tiada (non-being). Derrida (1993, hal. 48) memperjelas kembali bahwa sesuatu hal menjadi spektralitas ketika kita meragukan keberadaannya secara aktual, ketika yang menjadikannya (sesuatu) itu mengada sekaligus absensi, tidak hadir, tidak aktual, virtualitas, dan bahkan seolah menjadi simulakrum secara umum. Hantu-hantu komunis menjadi anti-tesis dari keberadaan dunia non-komunis yang selalu menganggap ia eksis secara tidak penuh dan seharusnya tidak pernah ada. Padahal, adanya penyangkalan atas ‘hantu’ atau ‘spektral’ ini justru yang menandakan kemungkinan ambang batas manusia tidak pernah benar-benar mengalami atau memulai sesuatu sedari awal, selalu ada hantu-hantu yang (tidak terbatas) yang terlibat pada proses yang tidak pernah disadari.
Mark Fisher (2013) meradikalkan konsep Hauntologi Derrida dengan memosisikan spektralitas sebagai the agency of virtual, yang tidak hanya kehadirannya (present-ness) datang dari masa lalu untuk sekadar menghantui (haunting) tetapi justru akan selalu mengada di masa depan dalam bentuk yang sepenuhnya berbeda. Fisher mengajak kita untuk membayangkan bagaimana limbah nuklir bisa saja menjadi suatu entitas yang berbahaya atau bahkan bersahabat bagi perkembangan peradaban manusia. Untuk saat ini, suatu hal yang disebut limbah selalu berbahaya. Tanpa kecuali kita menjadikannya komoditas kapital yang realistik.
Gambar 5. Wilayah pinggiran Tanah Abang, Jakarta (Sumber: Kompas.com, 2017).
Sejalan dengan Fisher, Brian Thill (2015) mengungkapkan apa yang dimaksud sebagai limbah atau sampah akan selalu kembali kepada ‘sang pencipta’ atau manusia secara khusus. Hal ini tercermin dari udara kotor yang kita hirup setiap harinya, air yang penuh dengan kandungan mikroplastik, tanah yang telah tercemar limbah, dan tumpukan sampah dengan bau yang sangat menyengat. Mereka ada dan senantiasa hidup bersama kita. Sedangkan William Viney (2014) memandang bahwa sampah hanya menjadi ada, sebatas objek ia berkorelasi atau memiliki nilai-guna tertentu pada kehidupan manusia, selebihnya akan menjadi bayang-bayang dari kebudayaan manusia. John Scanlan (2005) menyebutnya spektralitas limbah bagi kemapanan dunia Barat. Kemapanan ini kemudian terurai kembali pergeseran dari nilai yang berguna dan teratur menjadi nilai yang semakin ambigu sekaligus terdevaluasi secara ontologis (Kennedy, 2007).
Gambar 6. Bantaran Kali sekitar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Sumber: Kompas.com, 2017).
Seruan devaluasi ontologis pada objek ‘sampah’ ini berkorelasi pada bagaimana masyarakat kapitalisme tingkat lanjut menyadari bahwa sampah adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan konsumerisme mereka. Sampah sekali pakai (disposability) lebih banyak menghantui masyarakat konsumerisme hari ini. Sampah menjadi permasalahan subjektivitas yang tidak hanya secara relatif membagi binaritas dirty-clean atau yang-kotor vs yang-bersih tetapi juga secara absolut mendorong adanya binaritas nilai-sampah. Meskipun dalam padanan Bahasa Indonesia, jika kita merujuk pada sampah (trash atau garbage) akan berbeda dengan residu atau sampah sisa (waste), sedangkan masyarakat kita masih berorientasi mengategorisasikan semua hal yang sudah tidak terpakai sebagai sampah—yang harus dienyahkan atau dibuang begitu saja ‘matter out of place’.
Sedangkan kondisi ontologis sampah menjadi semakin rumit ketika ia dijadikan sebagai objek dengan nilai-lebih minimum di mana bagi sebagian besar pemulung kategorisasi sampah ‘bersih’ yang mudah ‘terurai’ akan lebih bernilai daripada sampah yang sulit terurai. Katakanlah objek sampah plastik botol sekali pakai, tumpukan kertas laporan perusahaan, atau pakaian bekas yang dapat dijual kembali atau barang-barang vintage lainnya yang bernilai di luar nalar. Nilai sampah menjadi ambiguitas pada dimensi kapitalisme tingkat lanjut. Ia selalu hidup (being-with) dan menghidupi (living-with) kebudayaan kapitalisme baru. Kita mengodifikasi nilai sampah sesuai dengan hasrat pasar yang ada.
Gambar 7. Kuda Laut dengan Limbah, berlokasi di Sumbawa, Indonesia (Sumber: Hofman, NGC, 2017).
Timothy Morton (2013, 2019) dengan lantang menyebut Sampah dapat menjadi bagian dari pergulatan baru bagi filosof untuk menentukan objek non-manusia yang dapat dipertimbangkan ulang sebagai bagian dari kesadaran ekologis baru. Kesadaran ekologis ini hadir secara ko-eksisten, tidak hanya dalam pikiran tetapi juga dalam tindakan yang bersama-sama mulai menyadari adanya bagian penting dari determinasi non-manusia yang lambat laun tidak hanya menghantui sudut pandang manusia melainkan mampu mengubahnya. Bagi korelasionis objek yang ditentukan oleh subjek membuatnya menjadi riil atau nyata dalam dimensi aktual tetapi non-manusia (katakanlah objek sampah) mampu menjadi korelator (correlators) baru, yang tentu saja akan mengubah cara kita melihat realitas yang serba dualistik.
Sesuatu hal yang familiar belum tentu sama persis, terkadang ia hadir dalam ketidakhadirannya untuk menjadi sesuatu hal yang asing, aneh, dan misterius sebagai yang-lain. Subjektivitas kita sebagai kedirian tunggal dalam menerjemahkan dunia menjadi paradoksalitas baru. Sebagaimana Slavoj Žižek dalam film dokumenternya yang bertajuk Examined Life (2008) menunjuk jejak-jejak peradaban manusia tidak terlepas dari tumpukan sampah-sampah atau limbahnya sendiri. Kita sebagai manusia memulai sesuatu dari yang-artifisial daripada yang-alamiah. Secara ekologis, bentuk romantisasi naif menjadi penghalang utama kita memahami relasi tidak serasi dan tidak seimbang dalam totalitasnya yang justru tereksploitasi oleh manusia itu sendiri (Morton, 2018).
Memaknai Ulang Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer melalui Bumi Manusia(1980) menceritakan bagaimana dunia yang terbayang pasca-kolonial dimungkinkan, atau bagaimana Pram menceritakan lanskap lautan (sea) dan daratan (land) melalui Gadis Pantai (1987) di bawah situasi politik Jawa yang sangat feodalistik. Setiap zaman memiliki cara yang unik dan menarik untuk mengimajinasikan kehidupan sosial beserta bentang alam yang menyertainya. Hal tersebut serupa dengan apa yang dibayangkan oleh Gilles Deleuze dan Felix Guattari ketika melahirkan dua karya populer mereka, A Thousand Plateaus (1987) dan What is Philosophy (1994), yang kurang lebih merujuk tentang fondasi dasar geofilosofi (geophilosophy).
Gambar 8. Sampul Buku Deleuze Desert Islands (2004) tentang Imaji Kepulauan Manusia.
Dalam posisi ini, saya perlu untuk menginterpretasikan ulang apa yang dimaksud dengan geofilosofi. Geofilosofi dalam pandangan saya merujuk pada pemahaman baru yang terjalin dalam bingkai relasional antara manusia dengan [B]umi (Earth). Aspek geologis (geological turn) menjadi bagian dari sesuatu hal mengada, yang artinya ia ada bahkan sebelum aspek-aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya bekerja. Geofilosofi menjadi pendekatan filsafat baru yang terlepas dari tendensi antagonisme dan binaritas keilmuan antara ilmu geologi, teknik geologi, atau geografi itu sendiri. Semua hal yang diwacanakan selama masih di atas Bumi, itulah Bumi bagi semua termasuk manusia di dalamnya. Inilah langkah awal kita dapat merumuskan ulang seperti apa Bumi Manusia.
Imaji tentang Bumi yang nampaknya bersahabat tentu tidak selamanya dapat kita pertahankan. Morton (2019) pun dengan tegas menolak istilah romantisasi dan idealisasi atas alam yang stabil dan harmonis. Keseimbangan antara manusia dan alam nampaknya sangat ringkih dan rapuh. Sebagaimana kekuasaan kolonialisme dan imperialisme tidak dapat bertahan lama di wilayah-wilayah yang sangat rapuh atau dengan kondisi geografis yang sangat ekstrem. Hal tersebut juga pernah diungkapkan oleh Carl Schmitt Land and Sea: A World-Historical Meditation (1942) yang menjelaskan bahwa pertarungan perebutan kekuasaan wilayah laut lebih menyeramkan daripada perebutan kekuasaan di wilayah daratan. Manusia menjadi sangat lemah ketika berada di atas sesuatu yang tidak pasti—lautan yang penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian (uncertainty) inilah yang akan mendasari saya menelaah ulang hauntologi sampah.
Gambar 9. Peninjauan Ulang Reaktor Nuklir Pasca Bencana Fukushima, 2011.
Mari kita awali dengan posisi ontologis antara manusia dan alam pada bayang-bayang ke-sampah-an (waste-ness/trash-ness/garbage-ness) sebagai entitas yang objektif sekaligus abstrak. Sampah dalam jumlah yang luar biasa besar dapat berubah dari objek sederhana menjadi hiper-objek (hyperobject). Istilah hiper-objek yang digaungkan oleh Morton (2013) sebagai bentuk filsafat ekologi di masa depan menempatkan ciri khas futurontologis. Artinya, sampah akan senantiasa menghantui bukan berasal dari masa lalu (past) sebagaimana asumsi ontologis Derridean pada dekonstruksi spekatralitas pasca-kematian Karl Marx dan kebangkitan Komunisme di era neoliberal. Akumulasi global sampah yang setiap harinya bertambah dapat menjadi hiper-objek serupa dengan limbah nuklir atau sampah plastik yang mulai terdistribusikan sangat masif dalam dimensi spasial dan temporal.
Limbah nuklir bukan tidak mewaktu melainkan menjadi spektral bagi manusia di masa depan, ia hadir dalam ketidakpastian (Doeland, 2020). Ketidakpastian ini merujuk pada ketidakhadiran yang sifatnya non-lokalitas (non-locality) ketika kita membuang sampah botol plastik ke tempat sampah, tetapi setelahnya kita tidak secara langsung bertanggung jawab dengan limbah mikropastik yang dikonsumsi oleh ikan-ikan di laut. Hiper-objek membantu kita memahami realitas yang lebih besar dan luas tetapi bukan berarti tidak-terbatas (infinite). Mereka hadir dalam keterbatasan yang sangat besar di luar dari jangkauan persepsi dan kuasa manusia.
Ke-maha-besaran dari kolektivitas global sampah ini menimbulkan masalah perubahan iklim. Rujukan referensi semantik kita terhadap perubahan iklim juga semakin ambigu, aneh, dan kabur. Tidak adanya kepastian ketika kita membahasakan kondisi ontologi objek yang perjalanan lintas benua dan samudra dari mikropastik dan juga limbah nuklir. Lantas, bagaimana dengan limbah-limbah di luar angkasa? Akan ada momen kita beranjak dari bumi menuju permasalahan limbah lintas keplanetan. Atau realisasi sains-fiksi di mana manusia mulai memulai koloni baru di Mars dan Bulan. Menjadikannya Bumi Kedua! Atau suatu daya upaya ketidakmampuan manusia untuk hidup di Bumi Pertama. Percepatan Luar Biasa (The Great Acceleration) menjadi kebanggaan yang tak terkira bagi pencapaian mobilisasi manusia pasca-globalisasi baru. Titik balik ini diklaim sebagai landasan awal bagi gerak transisi skala waktu geologis baru, yakni zaman baru bagi manusia—epos Antroposen (The Anthropocene).
Mengapa harus melalui Antroposen untuk merumuskan hauntologi sampah sekaligus mendorong cara kita menerjemahkan Bumi Manusia (Baru)? Saya membaginya menjadi tiga poin utama, antara lain:
Pertama, mari kita berbicara Antroposen secara ilmiah. Berdasarkan hasil kesepakatan ahli geologi internasional di tahun 2024 bahwa hanya sekitar ¼ suara yang mendukung untuk meratifikasi Antroposen (Witze, 2024). Ketidakcukupan bukti geologis untuk memastikan kapan dan di mana (golden spike) Antroposen berada menjadi hambatan terbesar dari pembuktian Antroposen. Selain itu, tendensi Antroposen yang hanya berlaku secara lokal-diakronik daripada global-sinkronik juga meruntuhkan proyeksi transisi dari epos Holosen sebelumnya. Antroposen dicurigai sangat politis bagi mereka terbiasa bekerja pada bukti sedimentasi masa lalu, terlebih lagi Antroposen menempatkan manusia sebagai geological force. Bagaimana mungkin manusia menjadi objek kajian geologi? Artinya, Antroposen bukan lagi wacana geologi.
Saat ini, Antroposen lebih terbuka pada dimensi non-geologis atau pendekatan transdisipliner. Oleh sebab itulah, membicarakan Antroposen adalah membicarakan tiga dimensi kemewaktuan, di antara masa lalu, kini, dan masa depan. Dan juga, Bumi Manusia seperti apakah yang terbayang oleh masyarakat Antroposen?
Pertanyaan selanjutnya, pernahkah kita menjadi sebagai Antroposen? Linimasa kemewaktuan geologis di mana tepatnya kita menyebut diri kita sebagai manusia Antroposen? Apakah ketika pertama kali manusia menemukan api? Menjelajah dunia baru dan mengeksploitasi sumber daya alam? Menemukan sistem uap dan revolusi industri pertama? Perang dunia kedua? Globalisasi? Atau di era kecerdasan buatan baru? Semuanya menjadi sangat relatif tetapi juga menakutkan ketika kita membayangkan ada suatu entitas di masa depan, misal saja siber-humanoid dengan kecerdasan yang sangat canggih mengklaim tekno-fosil (techno-fossil) purba warisan manusia saat ini sebagai titik balik skala waktu geologi Antroposen. Artinya, apa yang dibayangkan oleh Fisher (2009) ketika kita justru lebih mudah membayangkan akhir dunia (the end of the world) daripada akhir dari kapitalisme.
Sifat konsumtif dan serba kekurangan inilah yang selalu dimanipulasi oleh kapitalisme sehingga kita tidak pernah dapat terlepas dari produksi sampah-sampah baru. Ironisnya, sifat elastisitas kapitalisme inilah yang akan selalu mempertahankan eksistensinya, meskipun harus menghancurkan alam ketika memproduksi limbah barang sekali pakai (disposal object). Atau, bisa jadi masyarakat Antroposen ialah akumulasi kolektif atas limbah antropogenik yang diproduksi dan direproduksi hanya oleh manusia semata. Artifisialisasi alam mengubah apa yang seharusnya diproduksi dan diproduksi. Valorisasi nilai atas sampah menjadi semakin penting terhadap pembuktikan epos Antroposen. Semakin kita bisa membuktikan sedimentasi terluar dan terbaru, yang ditinggalkan oleh jejak-jejak manusia, seperti mikro-plastik, polusi, limbah nuklir, sampai tekno-fosil.
Kedua, Antroposen merupakan perluasan hiper-objek atas aktivitas global antropogenik yang telah mengubah struktur permukaan geologis Bumi. Tidak hanya lanskap alam yang diubah tetapi juga redistribusi sosio-ekologis, antara manusia dan dimensi non-manusia. Berbagai mutasi virus dan penyakit baru bermunculan akibat dari daya percepatan mobilisasi manusia trans-nasional. Ketiadaan batas antara yang-alam dan yang-sosial mendorong pemahaman Bumi Manusia yang sepenuhnya berbeda. Alam sudah tidak lagi alamiah. Tidak ada artinya meromantisasi alam. Alam menjadi representasi dari ketidakhadiran (absence) atas familiaritas(familiarity) atas kondisi yang seharusnya menjadikan Bumi sebagai rumah yang layak dihuni. Ketidaknyamanan ini melahirkan ketimpangan antara ingatan, rasa berduka, sekaligus melankolia yang mendalam (Doeland, 2019). Apa yang dihadapi oleh masyarakat Antroposen dengan problematika sampah-sampah sebagai objek yang tidak sepenuhnya hadir, mereka tidak sepenuhnya tiada (nothing) melainkan hanya menjadi spektralitas yang misterius.
Gambar 11. Aksi Protes Perubahan Iklim di Jakarta (Sumber: Suara.com, 2021).
Kecemasan dan ketakutan tentang masa depan ekologis ini melahirkan berbagai politik tentang kematian. Sampah tidak hanya memiliki arti harfiah pada objek atau sesuatu hal yang tidak digunakan lagi. Sampah dalam kehidupan masyarakat juga berkonotasi negatif sebagaimana istilah ‘sampah masyarakat’ yang selalu menghantui bahkan bagi mereka yang sudah meninggal (Robins, 2022). Kasus The Moors Murders (1963) menjadi contoh yang menarik ketika masyarakat menolak jasad Ian Brady yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Tubuhnya meski sudah mati masih membawa memori yang sangat kelam bagi kelompok masyarakat di sekitarnya. Mereka menolak pemakaman walaupun terdapat surat wasiat dari mendiang Brady setelah menjalani hukuman penjara seumur hidupnya. Akhirnya, jasad Brady diam-diam dikremasi dan dilarung ke laut tanpa sepengetahuan banyak orang. Politik nekro (jasad) ini tidak hanya berlaku bagi manusia, bahkan fosil renik kehidupan purba dapat memberikan kekayaan dan kesejahteraan bagi segelintir orang dalam bentuk minyak mentah.
Ketiga, Antroposen menjadi lompatan kita untuk membicarakan geologi (di) masa depan. Selama ini geologi terpaku pada konstruksi Uniformitarianisme bahwa segala sesuatu yang ada saat ini merupakan representasi dari semesta keteraturan di masa lalu dan akan senantiasa suatu peristiwa terulang kembali. Konstruksi tentang masa depan yang masih tersembunyi tetapi dapat dibayangkan inilah yang perlu untuk direfleksikan kembali. Seperti apakah Bumi Manusia di masa depan? Tentang Kontrak Sosial dan Alam untuk Masa Depan Bumi dan Manusia seperti apakah yang seharusnya? Artinya, jika dimensi futuristik ini dapat diafirmasi maka status hauntologi sampah tidak lagi seperti halnya interpretasi Derrida yang terpaku pada peristiwa di masa lalu tetapi sebaliknya, sampah-sampah di masa depan yang tidak pernah tercerap atau teralami secara langsung inilah yang selalu menghantui. Jika kita ditanya kembali: apakah mungkin kita bisa selalu mengklaim sampah x ini milik a, atau sampah y ini sesungguhnya milik b setelah mereka ‘berpetualang’ dan ‘bersua’ dengan sampah-sampah lain di luar sana. Atau, sebagaimana argumentasi Hird (2016) bahwa fenomena sampah menjadi bentuk dari de-stratifikasi ratusan bahkan ribuan tahun mendatang yang ditandai dari sedimentasi baru sisa-sisa limbah industri yang mendorong adanya re-stratifikasi baru. Inilah titik balik epos Antroposen yang dibuktikan dari sedimentasi geologi yang berasal dari akumulasi global sampah.
Gambar 12. Kebakaran dari gas metana akibat cuaca panas ekstrim di TPA Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, Minggu, 17 September 2023 (Sumber: Tempo.co).
Dekomposisi objektivitas sampah ini tentu akan menarik beragam pertanyaan filosofis selanjutnya, terutama tentang dimensi epistemologis dan etika. Sampah industri berskala besar kita sebut sebagai polusi dan limbah yang mencemari lingkungan sekitar. Dampaknya menciptakan identitas sosial dan kultural baru. Secara epistemologis, pengetahuan non-manusia pada sampah ini tidak pernah cukup untuk dijelaskan hanya berdasar pada asumsi antroposentrik kuat (Hird, 2012). Perlu adanya etika kepedulian untuk menjelaskan ulang bahwa melalui sampah kita mampu untuk membaca realitas sosial dan kultural. Pemetaan status sosial ekonomi misalnya di mana orang miskin akan selalu mencari cara untuk mengubah ketidakbernilaian nilai dari sampah agar menjadi suatu komoditas yang kreatif secara sirkular, sedangkan kaum super kaya raya akan senantiasa mencari cara menjual sesuatu hal yang baru-terbarukan yang lebih ramah lingkungan serta bersertifikat hijau bumi sembari menyumbang polusi karbon terbesar untuk generasi mendatang. Inilah hauntologi sampah di masa depan, ketika ketidakadilan lintas generasi lahir dari ketimpangan akses ekologis berkeadilan bagi semua orang. Sampah di sisi lain dapat menghidupi orang-orang terlantar tetapi juga selalu menghantui untuk membunuh siapapun tanpa melihat siapa dan apa status sosialnya.
Gambar 13. Evakuasi korban longsoran sampah akibat di TPA Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 22 Februari 2005 (Sumber: Media Indonesia/Antara).
Kita dapat belajar dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang merupakan puncak dari peradaban manusia—di mana ‘kelas-kelas sosial seolah tiada’. Tidak ada pembeda dari satu sampah dengan lainnya. Mereka akan berkumpul begitu saja untuk berseru tentang kapan waktu yang tepat untuk membunuh Tuannya (manusia), entah kapanpun di saat kita mulai mengabaikannya begitu saja.
Bahan Bacaan
Deleuze, G., & Guattari, F. (1987). A thousand plateaus: Capitalism and schizophrenia. University of Minnesota Press.
Deleuze, G., & Guattari, F. (1994). What is philosophy? Columbia Univ. Pr.
Derrida, J. (2011). Specters of Marx: The state of the debt, the work of mourning and the new international (Repr). Routledge.
Doeland, L. (2020). Turning to the Specter of Waste—A Hauntological Approach. In R. Ek & N. Johansson (Eds.), Perspectives on waste from the social sciences and humanities: Opening the bin. Cambridge Scholars Publisher.
Faber, R. (Ed.). (2014). The allure of things: Process and object in contemporary philosophy. Bloomsbury.
Fisher, M. (2009). Capitalist realism: Is there no alternative? Zero Books.
Fisher, M. (2013). Ghosts of my life: Writings on depression, hauntology and lost futures. Zero books.
Fukuyama, F. (2006). The end of history and the last man (1st Free Press trade pbk. ed). Free Press.
Hird, M. J. (2016). The Phenomenon of Waste-World-Making. Rhizomes: Cultural Studies in Emerging Knowledge, 30. https://doi.org/10.20415/rhiz/030.e15
Kennedy, G. (Ed.). (2007). An ontology of trash: The disposable and its problematic nature. State Univ. of New York Press.
Macdonald, C. (2005). Varieties of things: Foundations of contemporary metaphysics. Blackwell Pub.
Morton, T. (2013). Hyperobjects: Philosophy and ecology after the end of the world. University of Minnesota press.
Morton, T. (2018). Being ecological. The MIT Press.
Morton, T. (2019). Humankind: Solidarity with non-human people (Paperback edition). Verso.
Robins, D. (2022). 5. (Dis)Posing of “Toxic Necro-Waste”: Managing Unwanted Ghosts. In M. Fiddler, T. Kindynis, & T. Linnemann (Eds.), Ghost Criminology (pp. 135–154). New York University Press. https://doi.org/10.18574/nyu/9781479885725.003.0006
Scanlan, J. (2005). On garbage. Reaktion Books.
Schmitt, C. (2015). Land and sea: A world-historical meditation. Telos Press Publishing.
Thill, B. (2015). Waste. Bloomsbury Academic, an imprint of Bloomsbury Publishing, Inc.
Toer, P. A. (1996). This Earth of Mankind. Penguin Books.
Toer, P. A. (2003). The girl from the Coast. Hyperion ; Turnaround.
Viney, W. (2014). Waste: A philosophy of things. Bloomsbury Academic.
Witze, A. (2024). Geologists reject the Anthropocene as Earth’s new epoch—After 15 years of debate. Nature, 627(8003), 249–250. https://doi.org/10.1038/d41586-024-00675-8