Sembilan Bulan Perjalanan

Tak terasa ya, sembilan bulan perjalanan sudah. Rasa-rasanya aku menulis ini setiap tiga bulan sekali. Sekilas serupa dengan tanggal waktu pencairan uang bulanan dari beasiswa Indonesia. Per tiga bulan. Itu pun terkadang terlambat, serupa pula seperti tulisan ini.

Jika kamu tahu musim panas tahun ini di Glasgow sangat aneh. Bayangkan saja ketika beberapa negara di Eropa mengalami gelombang panas ekstrem, Glasgow justru memilih untuk menurunkan hujan berhari-hari. Begitulah yang ku rasakan, akhir-akhir ini. Penuh ketidakpastian.

Aku menatap cermin sesaat setelah bangun tidur di bulan Juni. Yang aku rasakan hanya perasaan ambigu serba linglung. Entah apa yang sudah aku lakukan selama ini. Semakin aku pelajari, semakin tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Atau mungkin inilah fase yang dirasakan oleh mereka para mahasiswa doktoral ketika beranjak menapaki tahun keduanya. Entahlah!

(1)

Bulan Mei dan Juni adalah waktu ketika aku mulai mempersiapkan mental untuk menyelesaikan tugasku menjelang Laporan Progres Tahunan atau Annual Progress Report (APR). Ini adalah pekerjaan paling membosankan. Aku bertanya pada beberapa teman yang lebih rajin mengerjakan hal-hal administrasi dan birokrasi seperti ini. Rupanya ini mirip ketika Adam memintaku untuk pindah ke NTU, Singapura. Aku hanya berkata, sepertinya proses administrasi dan birokrasinya sangat rumit. Aku lebih baik di sini saja. Lagi pula aku masih bisa bersua dengannya meski hanya melalui jaringan digital.

Sekitar tanggal 14 Mei 2026, aku bertemu dengan Adam dan Chris. Kami mendiskusikan ulang tentang arah penelitianku ke depan seandainya Adam pindah ke Singapura. Tidak banyak hal baru yang kami sepakati. Hanya perubahan rencana penelitianku dan juga mencarikan pembimbing baru. Hal ini dikarenakan Chris hanya dapat menjadi pembimbingku sampai pertengahan September, selepas itu, Chris akan pensiun sebagai emeritus profesor.

Semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Namun sesekali aku merasa rindu dengan suasana di Jogja. Rasanya hidup sendiri di sini tidak banyak hal yang menarik. Lagi pula, aku yang pemalas ini lebih memilih untuk menghabiskan waktu mondar-mandir dari kos ke perpustakaan, begitu pula sebaliknya. Hiburanku sekadar menonton anime atau bermain playstation sesekali.

Di bulan itu juga, aku merasakan ada satu momen yang hilang. Tahun lalu, aku bahkan dapat merayakan ulang tahun Tara di usianya yang menginjak satu tahun. Kalau diingat-ingat lagi, di usia itu, Tara masih belum begitu mengenal Ayahnya sendiri. Dia masih seperti bayi yang gemoy yang menggemaskan. Akan tetapi, tahun ini, Ibunya yang merayakan hari ulang tahunnya bersama teman-temannya di family well-being Fisipol, UGM. Perayaan ulang tahun keduanya itu bertemakan mobil Macqueen.

Aku mendapatkan kiriman rekaman acara itu. Ia terlihat sangat bahagia. Hanya saja, Tara saat ini sudah mengenali wajahku dan namaku. Hal ini karena aku mencoba mempertahankan kebersamaanku dengannya meski hanya melalui ruang maya macam video call. Sayangnya, aku melewatkan lagi perayaan ulang tahun bersamanya oleh sebab perbedaan jarak dan waktu. Jika ia melihat pesawat, pasti ia akan berkata.

“Ayah.. ikut!”

Atau ketika ia melihat mobil berwarna putih berlalu. Ia akan menunjuk dan memanggil, “Ayah, Ayah!”.

Usia dua tahunnya mirip seperti perjalanan doktoralku yang mulai menginjak tahun kedua. Aku pun berencana untuk kembali ke Indonesia secepatnya tahun ini. Selain itu harus memulai penelitian lapangan, aku juga ingin merasakan lagi masakan favorit serupa nasgor babat, mie ayam, bakso, nasi padang, gudeg, juga soto.

Usia Tara saat ini menandakan dirinya yang sudah mulai mengenal dunia, mengenal siapa dirinya, dan mulai melangkah lebih jauh sebab kaki mungilnya sudah lebih berani untuk menapak. Berbeda denganku, aku justru merasakan di tahun kedua ini mirip layaknya bayi yang baru lahir. Aku masih sangat sulit untuk mengenali lagi objek penelitianku secara lebih jelas. Masih banyak yang harus aku pelajari sekali lagi. Hanya rasa penyesalan melewati satu tahun pertama tidak dengan sebaik-baiknya.

Pada tanggal 5 Juni 2026 siang hari itu. Mas Idham mulai memboyong dua koper jumbonya menuju bandara. Mas Idham sudah aku anggap seperti saudara dan kakak seperguruan silat sendiri. Bedanya ia mengambil studi Geografi Fisik dengan fokus kajian risiko bencana. Ia menjadi teman kos (flatmate) yang sangat baik. Ia sangat mahir memasak khas Sumatera. Apapun masakannya selalu enak bagiku. Kepulangannya ke Indonesia bukan tanpa sebab. Ia harus pulang karena keterbatasan waktu pembiayaan beasiswa dari Indonesia. Di sisi lain, ia akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya, terutama anaknya yang telah ia tinggalkan selama 4 tahun terakhir ini.

Mungkin ini juga menjadi alasan kenapa aku lebih merasa kesepian akhir-akhir ini. Biasanya ada Mas Idham yang sibuk memasak, mengerjakan disertasinya, atau menelepon anaknya untuk sekadar memberikan dongeng pengantar sebelum tidur. Tetapi, kadang aku juga menyangka bahwa jalan menyepi sering diambil oleh para pemikir gila. Jalan sunyi kalau kata Heidegger. Oh bukan! Lebih mirip kata Adam juga, “Pilihannya hanya buku, kesepian, dan keterasingan”.

(2)

Perasaanku yang tak karuan ini akhirnya mulai terjawab samar-samar di akhir bulan Juni sekitar hari Rabu, 24 Juni 2026. Waktu itu, cuaca cukup berawan tetapi terasa lumayan dingin. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Mencuci piring. Menyiapkan sarapan.

Sialnya, air mataku turun tanpa sebab.

Aku merasakan semacam kerinduan yang sangat kuat kepada almarhumah Ibuku.

Aku yakin ini hanya semacam akumulasi pikiranku yang kacau-balau oleh karena tekanan akademik yang aku (pula) ciptakan sendiri. Aku mencoba untuk menyangkal segalanya. Lagi pula, aku yakin aku sudah melewati proses berduka dua tahun lalu.

Aku mencoba menghubungi istriku atas ketidakwajaran yang terjadi. Satu jam sebelum APR, aku justru dilanda situasi yang sangat aneh. Istriku hanya menyarankanku untuk mengingat kembali alasan kuat mengapa aku berada di Glasgow hari itu. Pun, soal ikhas masih amatiran juga bak lirik lagu yang populer belakangan ini.

Benar adanya. Salah satunya sebab mungkin saja aku merasakan adanya harapan yang pernah dipasrahkan kepadaku oleh Ibuku. Aku yakin bahwa di kehidupan sebelumnya, ia memiliki impian untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih layak lagi. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia menghabiskan waktunya hanya untuk merawatku dan seluruh isi rumah kami. Tidak ada cukup waktu untuk dirinya sendiri bahkan memikirkan apa yang pernah menjadi mimpinya. Untuk berkuliah, untuk bekerja secara mandiri, mungkin.

Keterbatasan itu yang ingin aku wujudkan.

Di sisi lain, serba-serbi berita absurd dari Indonesia juga mengganguku. Apalagi tentang kepastian hukum yang hancur lebur. Ekonomi yang semakin hari semakin tidak karuan. Korupsi sebagai budaya keseharian. Militerisasi di segala aspek kehidupan sipil. Pun, kesalehan dijual murah untuk memenuhi hasrat politik jatah preman. Bagiku ini menjadi distraksi sosio-kultural yang menyebalkan.

Meski tubuhku di Glasgow, pikiran dan perasaanku masih serupa layaknya seorang Indonesia.

Mataku yang masih bengkak akibat tangis tak berprinsip itu menemaniku sampai di depan pintu ruang ujian APR. Pengujiku adalah Prof. Hester Parr (reader) dan Dr. Kate Botterill (chair). Mereka berdua menyambutku dengan ramah tamah. Tetapi tidak denganku. Aku yang masih mengatur nafas sebab terlambat sekitar 2 menit dari waktu yang sudah disepakati. Aku pun lupa untuk membuka catatan yang sudah aku siapkan semalaman.

Proses presentasi progres sampai tanya jawab antara penguji dan diriku berjalan sekitar satu jam. Hanya satu hal yang aku ingat dari pertanyaan terakhir mereka sebelum menutup proses ujian hari itu juga.

Are you happy with this project?”—Apakah kamu bahagia dengan proyek ini?

Baik Hester dan Kate beberapa kali menanyaiku soal kesehatan mental dan kadar kebahagiaanku. Mereka pun menanyakan bagaimana hubunganku dengan supervisor dan hal-hal apa saja yang akan aku lakukan setelah ini. Seperti biasa, mereka menyarankanku untuk sejenak berlibur. Semua hal sudah dilakukan, mulai dari mengubah proposal riset tiga kali sampai ketiadaan pembimbing lama. Mereka benar-benar mengapresiasi seluruh pekerjaan yang telah aku selesaikan.

Seusai ujian itu, aku dipersilakan keluar. Dan aku memilih turun melingkar menuju ke West Qudrangle kampus. Ketika aku keluar dari ruangan ujian, aku mendengarkan suara bagpipe dimainkan. Oh ternyata, di sudut pojok gedung kampus sedang ada perayaan wisuda. Musik yang dimainkan itu serasa menyambutku atas perayaan perjalanan tahun pertama.

Aku tersipu dengan tawa kecil. Tak berlangsung lama, beberapa teman-teman mahasiswa Indonesia berdatangan. Ada yang membawakanku sebatang cokelat dan seikat bunga-bunga sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan dari mereka. Aku padahal sudah berusaha menyembunyikan tanggal ujianku. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan selebrasi ini. Tetapi mereka memaksaku untuk menerimanya. Mereka bilang perayaan ini atas capaian hasil nilai ujian “A” dan juga pujian Excellent dari para penguji. Aku terima begitu saja, doa dan harapan baik ini.

**Komuk orang stress WKWK~

Esok harinya, aku menerima kabar baik dari Oxford Research Encyclopedia of Sociology bahwa artikelku telah terbit berjudul The Anthropocene. Aku tak habis pikir ternyata tulisan yang lahir dari proses jalur undangan via email ini akhirnya terbit. Meskipun aku tahu, ada beberapa jurnal yang masih dalam proses review yang harus aku selesaikan sampai akhir bulan September mendatang. Aku sudah pastikan aku harus selesaikan utang-utangku yang aku bawa dari Indonesia secepat mungkin. Aku ingin lebih fokus merawat kerja proyek studiku ini.

Satu minggu setelahnya, tepatnya pada akhir bulan Juni. Chris mengundangku untuk melakukan “ritual” bimbingan disertasi. Pada saat yang sama, Prof. Simon Naylor hadir. Simon kemungkinan besar akan menjadi pembimbing utamaku setelah Chris pensiun dan Adam pergi. Simon ialah seorang sejarawan geografi. Ia memiliki fokus pada kajian sejarah sains, teknologi, dan eksplorasi, yang fokus kajian sejarahnya di abad 19 dan 20.  Aku dihajar habis-habisan olehnya, terutama tentang kemampuanku dalam memahami “sains” dan juga hubungannya dengan sejarah yang ingin aku tulis.

Simon memberikanku banyak referensi tentang konteks perang dingin dan sains. Lagi pula, aku juga merasakan ada yang hilang dari objek kajian risetku. Walaupun aku mencoba mengkaji politik geologi di Indonesia, fokus konteks global pada saat itu juga menjadi sangat penting. Bersama Simon, aku mencoba mengubah arah penelitianku lebih sederhana dan lebih mungkin dilakukan. Dan musim panas saatnya aku menyiapkan rancangan etika penelitian lapangan. Selain itu, aku meyakinkan juga Chris dan Simon bahwa aku ingin menjalani penelitian ini dengan bahagia.

Di saat itu pula,

Chris menjawab dengan senyuman khasnya,

“Kami di sini bertugas hanya untuk mendukungmu secara penuh.  Apa yang ingin kamu kerjakan. Kerjakanlah. Jangan terlalu fokus pada ekspektasi kami yang berlebihan.”

“Semuanya ada dan kembali lagi pada dirimu”.

Spontan aku menjawab balik,

“Saya sepertinya ingin menjadi Ayah yang baik di kemudian hari”.

            “Kenapa tidak?”, balas Simon.

Rintik gerimis memadamkan tarian debu-debu di sekitar East Quadrangle. Jendela ruang kerja Chris mulai berkabut. Aroma tanah selepas hujan (petrikor) seketika menguap.  

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.