Apa benar Francis Bacon si Pencetus Teori Pergeseran Benua?

Di beberapa sesi membaca tentang sejarah teori continental drift, dalam bahasa Indonesia yang sering dikenal sebagai teori pergeseran benua, teori pengapungan benua, atau teori pergerakan benua, atau apa pun itu namanya, sering kali ditemukan hal yang menarik perhatianku sendiri terkait penyebutan orang pertama yang dianggap menaruh perhatian pada teori tersebut. Tak lain dan bukan adalah Francis Bacon dalam Novum Organum (1620). Karya ini dianggap sebagai salah satu karya filosofis terbaik Francis Bacon ketika mencoba mendorong metode ilmiah baru pada masanya dengan menekankan pentingnya peran pengamatan empiris, penalaran induktif, serta masalah kerancuan atau bias dalam mencari kebenaran yang termaktub dalam empat idola pikiran.

Gambar 1. Novum Organum Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Novum_Organum

Beberapa buku diktat geologi di Indonesia juga menyebutkan hal serupa, bahwa Francis Bacon memberikan inspirasi bagi asal-muasal teori ini yang kemudian dikembangkan hingga Alfred Wegener (1912). Tidak hanya itu, aku mencoba menelusurinya lebih lanjut dalam beberapa buku populer yang membahas perkembangan teori ini. Bahkan, Britanica.com  atau situs sains pop bebas di Google secara acak menyebutkan bahwa Francis Bacon menjadi pionir yang menaruh perhatian awal bahwa bentuk pantai timur Amerika Selatan dan pantai barat Afrika nampaknya sekilas cocok satu sama lainnya. Ide ini mirip seperti mencocokkan teka-teki (puzzle). Namun, perlu dicatat kembali bahwa Francis Bacon tidak pernah merumuskan teori ini secara lengkap. Hanya semacam paralelisme dari dua hal yang terlihat serupa. Jika kita membaca dengan teliti kembali Novum Organum maka kita hanya menemukan bentuk spekulasi ilmiah khasnya ditambah cara pembacaan para geolog kurang tepat saat itu.

Menurut Davies (1965) dalam korespondensinya di Geological Magazine menyebutkan adanya masalah utamanya terhadap kesalahan pembacaan para dosen, penulis, dan peneliti pemikiran Francis Bacon. Kekeliruan ini muncul bukan hanya karena pembacaan yang kurang cermat, tetapi juga karena gagasan awal teori ini selalu dijadikan pembuka quote favorit mereka (para pengajar) ketika membuka kelas atau menuliskan diktat perkuliahan, dengan mengaitkannya pada pandangan Francis Bacon tentang semesta dunia. Banyak yang percaya jika Francis Bacon mencoba menunjukkan kecocokan antara garis pantai Afrika dan Amerika Selatan saat itu. Dan, kekeliruan ini, ironisnya, terjadi secara turun-temurun. Bahkan, sedikit banyak dipercaya sebagai cikal bakal teori pergeseran benua yang memberikan inspirasi bagi lahirnya teori lempeng tektonik kontemporer.

Bentuk kedua benua itu memang benar disebutkan hanya sekilas. Mari kita coba buka kembali Aforisme XXVII Novum Organum, Buku II, di dalamnya sangat jelas bahwa Francis Bacon hanya membahas analogi dan kemiripan yang terjadi di alam semesta.

Salah satu contoh kalimat yang sering dirujuk juga mengarah pada bagian Novum Organum (XXVII, hal. 177), sebagai berikut:

But leaving such to themselves, similar instances are not be neglected, in the greater portions of the world’s conformation; such as Africa and the Peruvian continent, which reaches to the Straits of Magellan; both of which possess a similar isthmus and similar capes, a circumstance not to be attributed to mere accident.”

Again, the New and Old World are both of them broad and expanded toward the north, and narrow and pointed toward the south.”

Francis Bacon di sini mulai juga membandingkan pohon dengan cabangnya, paruh burung dengan gigi hewan, Dunia Baru dan Dunia Lama yang keduanya dianggap meruncing ke arah selatan. Kemiripan generalis inilah yang dianggap bagi para pembacanya menjadi pembanding teori dasar geologi modern. Padahal, ia sebenarnya tidak memberikan penjelasan apapun lebih lanjut terkait hal itu. Ciri metaforis yang disampaikan di XXXVI, juga serupa, seperti halnya bentuk “tanduk” di Afrika Timur dapat disamakan dengan ciri khas bentuk “bahu” di Brasil, begitu pula pandangan dia tentang pemetaan dunia berdasarkan bentuk peta dunia saat itu.

Melanjutkan Davies (1965), Rupke (1970) memberikan penjelasan menarik tentang cikal bakal teori ini sebelum abad ke-20. Lagi-lagi, peran Francis Bacon muncul sebagai pionir yang kemudian dianggap menginspirasi pemikiran generasi selanjutnya seperti François Placet, Alexander von Humboldt, Antonio Snider-Pellegrini, sampai Du Toit. Di lain hal, Rupke (1970) memberikan keterangan yang menarik. Jika kita merujuk pada semua klaim besar mereka tentang teori pergeseran benua saat ini, asumsi spekulatif mereka terbukti berlebihan. Bagi Rupke (1970), hanya Du Toit yang memiliki penjelasan yang memadai mengenai perkembangan konsep ini pada dunia geosains modern.  

Gambar 2. Rekonstruksi Snider (1858). Sumber: https://alchetron.com/Antonio-Snider-Pellegrini

Semangat Bacon tentang dunia baru (New World) dalam sains eksplorasi saat itu juga diperkuat oleh pengaruh pandangan teologis kuat (konsep penciptaan Alkitab) dan juga kuatnya ide katastrofisme ganda dari Antonio Snider-Pellegrini dalam bukunya La Création et ses Mystères dévoilés (1858). Padangan ini mempengaruhi bagaimana peristiwa banjir Nabi Nuh menjadi peristiwa terakhir dari serangkaian gejolak global. Ia berspekulasi bahwa selama proses pendinginan dan kristalisasi Bumi, massa benua terbentuk di satu sisi planet sehingga menciptakan ketidakseimbangan (Rupke, 1970, hal. 350).

Dari ketidakseimbangan ini, terjadilah letusan material dari dalam Bumi melalui retakan-retakan di antara benua sehingga kemudian mengangkat dan mendorong adanya benua Amerika ke posisi baru hingga keseimbangan Bumi pulih kembali, dan peristiwa ini terjadi secara tiba-tiba dalam sebuah kejadian katastrofik. Untuk mendukung pandangannya, Snider mengajukan bukti fisik seperti kecocokan garis pantai Afrika dan Amerika Selatan, kesamaan jenis batuan di kedua sisi Atlantik, serta ditemukannya fosil yang identik di kedua benua tersebut. Sebagai tambahan, ia menggunakan argumen historis seperti anggapannya bahwa Amerika adalah Atlantis. Ia bahkan membuat peta yang menunjukkan posisi benua sebelum terpisah. Namun, sepanjang abad ke-19, paham uniformitarianisme semakin menggantikan katastrofisme dalam pemikiran geologi, meskipun gagasan pergeseran benua masih sering dikaitkan dengan peristiwa bencana besar (Tarling & Tarling, 1971, hal. 11-12).

Singkatnya, pada era penjelajahan sains saat itu, peta dunia memberikan pemahaman yang unik bagi para peneliti. Bagi beberapa penafsirnya, seperti yang diungkapkan oleh Davies (1965), Bacon tidak dimaksudkan memberikan inspirasi tentang “teka-teki”, atau ketika kita coba buka kembali Novum Organum, kata puzzle pun tidak muncul. Namun demikian, para geolog saat itu, sebelum 1900an, tetap bersikeras mengaitkan Bacon sebagai pemberi inspirasi awal tentang teori pergeseran benua. Alhasil, pandangan ini menjadi common sense dalam sejarah teori geologi modern berkat legitimasi yang muncul dari kalangan komunitas ilmiah itu sendiri.

Memang benar, kesalahan teknis kecil ini tidak dapat dipungkiri. Saya pun sepakat dengan Tarling dan Tarling (1971) bahwa kesamaan interpretasi acap kali muncul dari ketidaksengajaan tanpa observasi lebih lanjut. Di sisi lain, Oreskes (1999) menunjukkan bahwa debat antara Charles Schuchert (1858–1942) dan Alfred Wegener (1880–1930) menjadi pembuktian bagi Wegener untuk melahirkan teori global baru tentang pergerakan benua. Wegener sendiri merasa terinspirasi oleh pemikiran Francis Bacon, yang menekankan bahwa pengetahuan harus dibangun dari fakta-fakta empiris yang konkret, bergerak dari hal-hal kecil menuju kesimpulan yang lebih besar.

There are and can exist but two ways of investigating and discovering truth. The one hurries on rapidly from the senses and particulars to the most general axioms, and from them, as principles and their supposed indisputable truth, derives and discovers the intermediate axioms. This is the way now in use.” (Aforisme XIX, hal. 15).

Terlepas dari pandangan Francis Bacon saat itu dan bagaimana para pembacanya menyelami semangat penelusuran ilmiahnya, perlu diketahui bersama bahwa peran pemetaan geografis juga memberikan pandangan yang beragam (dan unik) bagi pembacaannya, dari mitos monster laut, rangkaian bencana besar, kutukan para dewa, kontroversi temuan fosil purba naga bersayap, hingga pergolakan pemikiran dari vertikal ke horizontal dalam gerak geologis Bumi. Dengan demikian, politik geologi dan sejarahnya selalu menarik untuk diperbincangkan dari berbagai sudut pandang.

Bacaan Lanjutan

Bacon, F. (1620/1901). Novum Organum (J. Devey, Ed.). P. F. Collier & Son, New York.

Davies, G. L. (1965). Francis Bacon and continental drift. Geological Magazine102(4), 347-347. doi:10.1017/S0016756800053498

Oreskes, N. (1999). The Rejection of continental drift: Theory and method in American earth science. Oxford University Press.

Rupke, N. A. (1970). Continental drift before 1900. Nature227(5256), 349-350.

Tarling, D. H., & Tarling, M. P. (1972). Continental drift: A study of the Earth’s moving surface. Penguin.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.