Sebelumnya, aku sempat membagikan pengalaman tiga bulan pertamaku di Glasgow sebagai seorang pemula, sebagai seorang mahasiswa doktoral di School of Geographical and Earth Sciences, University of Glasgow. Bagiku, perjalanan ini adakalanya menjadi “beban sosial” yang melelahkan. Julukan seorang mahasiswa doktoral yang seolah-olah tahu banyak hal semakin meruntuhkan pandanganku tentang dunia akademisi. Sesekali, aku memikirkan untuk keluar dari akademisi (quit from academia).
Melewati tahun baru di negeri antah berantah seperti Glasgow menjadi pengalaman yang absurd bagiku. Manusia yang hidup tubuh dengan iklim tropis harus bejibaku dengan iklim musim dingin Glasgow. Alih-alih mendapatkan salju, Glasgow hanya memberikanmu hujan yang tidak pasti dibarengi kelabu langitnya.
Sekitar pertengahan Januari, aku memutuskan untuk memindah haluan proposal penelitian doktoralku lebih terfokus pada kajian politik geologi di Indonesia. Lebih tepatnya sejarah “pengetahuan” lempeng teknologi di Indonesia, mulai dari Van Bemmelen sampai teori global tektonik yang diadopsi oleh para geolog sampai hari ini. Keputusan ini terbentuk setelah apa yang telah aku tulis di catatanku sebelumnya. Perombakan dari ide filsafat Antroposen menjadi kajian bidang studi kritis kepulauan sampai ke sejarah sains (tektonik) di Indonesia. Mengubah tiga kali proposal adalah pekerjaan yang paling membosankan juga tidak menyenangkan sama sekali. Untungnya, aku dapat menyelesaikan tepat waktu.
Selama proses bimbingan dengan Prof Chris dan Adam, mereka memuji progresku yang lumayan cepat. Aku pun terheran-heran. Mereka pikir aku tidak liburan selama musim dingin. Aku kembali bertanya, bukannya ini biasa ya dilakukan oleh mahasiswa doktoral? Mereka mengembalikan pertanyaanku dengan jawaban sederhana. “Memangnya kamu tidak memikirkan kesehatan mentalmu?” jawab Prof Chris. Lalu, Adam menambahkan, “… memilih studi doktoral adalah belajar untuk melatih kedisiplinan diri pada hal-hal yang sangat membosankan, tidak bisa semua hal dikerjakan dalam semalam”.
Kedua jawaban supervisorku membuatku terpana sejenak. Antara bingung dengan etos kerja yang dibangun oleh para akademisi di sini atau semacam adanya jurang ketimpangan epistemik antara kebiasaan buruk akademisi Indonesia ketika menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu. Akademisi di Indonesia dianggap sebagai dewa barangkali. Mereka harus bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Akrobatik intelektual! Mereka harus memenuhi ekspektasi sosial, menjadi orang baik++, kalau bisa jadi orang yang harus peduli nusa dan bangsa, apalagi menjadi penyokong Tri Dharma (pengajaran, pengabdian, dan penelitian). Pokoknya manusia serba bisa. Seandainya Friedrich Nietzsche hidup di Indonesia mungkin dia memikirkan ulang konsep Übermensch-nya.
Selama Januari dan Februari, aku mengabiskan waktuku hanya dengan membaca artikel atau buku-buku tanpa kejelasan arah. Ambisiku yang tidak jelas ke mana harus dimulai dan diakhiri membuatku hanya seperti orang yang terjebak pada ketidakpastian. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Aku meminta izin kedua supervisorku untuk sekedar kembali ke Indonesia. Aku merasa sangat penuh tekanan mental, dan sulit untuk dijelaskan. Jauh dari keluarga. Ketidakpastian pikiran. Kebuntuan perihal gambaran peta riset di tahun kedua menjadikanku lebih memilih bermalas-malasan alih-alih bertempur dengan penuh gairah.
Padahal ada satu waktu kami, para diaspora Indonesia, memilih untuk menghabiskan salju terakhir Skotlandia di Aviemore dan Inverness sebagai destinasi Highland. Di sana ada salju. Sesekali juga berkunjung ke danau Loch Ness dan kastil Urquhart. Perjalanan itu setidaknya dapat mengobati rasa kekecewaanku atas buruknya sistem manajerial waktuku.
Aku memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia pada tanggal 27 Februari 2026. Aku mengatakan kepada supervisorku bahwa aku ingin memberikan kejutan kepada istriku. Dia pasti akan senang dengan kado kejutan di hari ulang tahunnya saat aku tiba di Indonesia. Aku sekilas lalu hanya izin kepada istriku akan kembali saat lebaran di bulan Maret 2026 nantinya. Perjalanan dari Glasgow ke Indonesia dimulai.
Selama perjalanan, aku tidak merasakan ada hal-hal yang aneh. Akan tetapi, setibanya aku di Jakarta. Berita mengejutkan itu datang dari seantero media sosial yang mengatakan telah terjadi perang Iran dan Amerika-Israel. Dunia penerbangan mendadak terjadi gejolak global. Sebagian besar penerbangan di Timur Tengah ditutup, termasuk Dubai. Dubai menjadi tempat transit terakhirku. Kurang lebih beberapa jam sebelum aku tiba di Jakarta. Semuanya terjadi begitu cepat. Media sosial melahirkan kepanikan akan spekulasi perang dunia ketiga.
Aku melanjutkan perjalananku dari Jakarta menuju Yogyakarta menggunakan kereta api malam. Aku masih tidak menyangka. Jikalau aku masih di Dubai dan terjebak di sana. Mungkin saja, kejutan yang aku siapkan untuk anak istriku gagal. Tidak lucu bukan? Niatan memberikan kejutan malah terjebak di Dubai karena perang yang serba mendadak.
Memang benar, pemimpin gila seperti Trump ini tidak ada habisnya membuat petaka di mana-mana. Seolah-olah dunia miliknya. Kolonialisasi masih saja terjadi. Bukti kalau perjalanan sejarah peradaban tidak banyak berubah sekalipun klaim kapitalisme tingkat lanjut selalu berbicara soal kesetaraan, demokrasi dan kesejahteraan. Klaim ini omon-omon kalau kata presiden kita itu. Atau, iya juga, itu berlaku buat mereka yang menguasai kapital, sisanya orang-orang kalah seperti kita semua. Yang hidupnya bergantung dari kekalahan orang lainnya juga.
Setibanya di Yogyakarta, aku dibantu mba Afa sekeluarga memberikan kejutan ke istriku. Semuanya berjalan dengan sempurna. Semuanya berakhir bahagia. Namun, aku harus segera bertolak ke Bandung dan Jakarta tepat dua hari setelah tiba di Jogja. Seminggu di Jakarta dan Bandung, aku melakukan pra-riset awal. Perjalanan ke Museum Geologi, Perpustakaan Geologi, bertemu dengan alumni, dosen, dan praktisi geologi ITB, juga tidak terlewat menelusuri naskah-naskah atau arsip geologi di beberapa perpustakaan di Jakarta-Bandung. Mencari dan membeli buku-buku bekas kuno tentang geologi. Itu semua aku kumpulkan sebagai bekal pulang kembali ke Glasgow. Setidaknya ada progres.
Email masuk. Adam mengingatkanku untuk slow down. Tidak perlu terlalu terburu-buru. Ada benarnya, esensi penelitian ialah penuh kehati-hatian sekaligus ketelitian. Dua minggu melakukan survei di Jakarta-Bandung-Yogyakarta tidak terasa. Dua minggu sisanya, aku habiskan untuk merasakan opor khas lebaran, bersosialisasi dengan warga kampung, ngobrolin duniawi di makam Ibu, dan juga mengemudi kendaraan dari Kebumen ke Kudus sebagai tradisi mudik lebaran. Semuanya menyenangkan. Benar-benar tidak terasa waktu di Indonesia.
Perjalanan kembali menuju Glasgow menjadi hal paling menegangkan. Akses penerbangan di Dubai tidak semudah sebelumnya. Status tunda (delayed) penerbangan sering terjadi. Perubahan gate masuk transit berubah tiap jam. Apalagi, Dubai menjadi salah satu silent airport yang tersibuk. Kita harus berburu waktu. Mengecek jam untuk memastikan penerbangan berikutnya. Selama perjalanan menuju Glasgow, aku mengalami perombakan waktu total dari maskapai Emirates. Alhasil, aku harus menginap di Dubai. Tidur di bandara dengan alarm peringatan serangan drone acak menjadi pengalaman tak terlupakan.
Musim semi menyambutku. Sinusku reda. Gejolaknya hanya muncul ketika aku berjibaku dengan udara di Indonesia. Memang hidung ini sangat pick me. Ada peristiwa yang tidak masuk akal di Glasgow. Kedatangan salju selalu terlambat di Glasgow. Minggu, 6 April 2026 Glasgow mengalami empat musim sekaligus. Kami bersiap di kala peringatan cuaca akan badai Dave. Di pagi hari, cuaca mendung tak karuan. Angin lumayan kencang. Beberapa temanku menjalani kegiatan di gereja seperti biasa. Tetiba hujan kencang disertai gumpalan salju turun. Sekitar satu jam Glasgow mengalami hujan salju yang lumayan lebat. Glasgow tertutup salju selama satu jam lebih. Ketika hujan salju mereda, semua orang keluar untuk berfoto mengabadikan momen langka itu. Namun, tiga puluh menit berlalu, hujan air disertai terik matahari menghilangkan salju yang berwarna putih itu. Jalanan menjadi licin tak karuan. Bagi beberapa orang yang bangun terlampau siang tidak akan percaya kalau Glasgow mendapatkan salju meski hanya satu jam. Empat perubahan cuaca terjadi hanya dalam satu hari. Gila!
Di sela-sela penyesuaian diri. Aku bertemu dengan Irfan. Irfan ialah mahasiswa doktoral di bidang Sosiologi, Univeritas Cambridge. Betapa mengerikan nama Cambridge itu. Dia datang ke Glasgow untuk mengajak berdiskusi dengan Adam terkait proyek PhDnya tentang pekerja dan pertambangan. Ada hal-hal yang terkadang Irfan rasakan dan mungkin saja aku. Bagian dari Russel Group Universities, baik Cambridge atau Glasgow, bagi sebagian orang: ekspektasi mereka terlalu tinggi. Irfan sesekali mengatakan, siapa saja bisa bersekolah di tempat ini. Hanya saja kesempatannya sangat minim. Aku juga pikir demikian. Betapa minimnya kesediaan beasiswa di negara kita. Pun jika ada syaratnya seabrek. Harus ini itu. Harus begini begitu.
Setelah bertemu Irfan, ngopi-ngopi tipis, aku melanjutkan bertemu dengan Adam. Melaporkan progresku di Indonesia. Ia mengingatkanku untuk persiapan laporan Progression tahunan. Waktunya sekitaran di bulan Juni-Juli. Sayangnya, bulan Mei menjadi waktu bimbingan terakhirku dengan Adam dan mungkin saja Prof. Chris. Adam memutuskan untuk pindah ke NTU, Singapura. Sedangkan, Prof. Chris menjadi emiritus profesor musim panas tahun ini. Ini menjadi momen seolah aku kehilangan orientasi penelitian. Pembimbing utama pindah. Pembimbing kedua menjadi emiritus. Cukup tertekan. Aku akan menceritakan dikemudian hari.
Pertengahan April, aku menuju London. Acara KAGAMA UK diagendakan. Aku tidak benar-benar menikmati London waktu itu. Museum yang terlalu padat dikunjungi oleh para turis. Beberapa tempat sangat ramai. Sepertinya keramaian bukan tempat yang tepat bagiku saat itu. Tiga hari di London aku habiskan dengan begitu saja. Sisanya, aku kembali ke Glasgow. Mendengarkan kabar duka dari salah satu mahasiswa bimbanganku, Vigo. Aku butuh waktu beberapa hari untuk menyelami proses berduka ini.
Hari ini, 25 April 2026, aku sedang menyiapkan progression-ku serta menyusun bahan untuk melanjutkan proyekku dengan Jonathan Kaplan. Jonathan seorang dosen filsafat di Oregon State University, Amerika Serikat mau menerimaku menjadi bagian dari program mentorship PSA (Philosophy of Science Association). Aku lumayan bersyukur karena mentorku sebelumnya terlampau sibuk haha. Ada harapan kecil-kecilan bersama Jonathan. Kami sepertinya ingin melihat kembali peluang membicarakan filsafat dan geologi.
Selain itu ada kabar gembira: pusat studi Antroposen sedang mencoba membuat agenda kecil-kecilan. Jika tertarik sila bergabung hehe. Membuat komunitas baca begini juga seru.
Oh ya, proses journaling seperti ini menjadi pola yang menyenangkan. Untuk kalian yang sudah membacanya mungkin terkesan too much personal. Tapi, setelah ku pikir-pikir, menuliskan setiap hari hal-hal yang ada dalam isi pikiran tidak terlalu buruk juga. Di dunia yang terlalu gila akan asupan berita-berita nirmanusia, kita selalu dituntut untuk baik-baik saja. Aku pikir aku tidak baik-baik saja. Tekanan mental, depresif, jadi kebiasaan hidup sehari-hari.
Selain itu, pilihan alternatifnya memasak juga menjadi pilihan baik untuk meredakan tekanan mental. Masakan ala-ala seperti rendang, gulai, atau sop menjadi saranaku melepas lelah seharian membaca buku-buku sejarah yang membosankan itu.
Aku akan terus mengulangnya. Menulis secara spontan seperti ini. Cuma dengan cara ini aku mungkin saja bisa terus hidup di dunia akademisi yang serba elitis, eksklusif, juga penuh kompetisi. Kata siapa, cendekiawan tidak hidup di atas menara gading. Adakalanya mereka lupa jika ada fondasi yang membangun menara tinggi itu. Si para buruh intelektual. Tak lain dan tak bukan: mereka sendiri.