Obituari: Vigo Joshua (2002-2026)

Perjalanan dari London menuju Glasgow pada malam hari sekitar pukul 9 (18/4) menjadi perjalanan yang tak pernah terduga. Keretaku mengalami penundaan (delayed) karena ada permasalahan jalur rel kereta yang sedang diperbaiki. Tentu saja, hal ini membuat perasaan cemas akan tertinggal subway dari pusat kota Glasgow ke flat tempat tinggalku. Di tengah perjalanan itu, Momo untuk pertama kalinya mengirimkan pesan sekitar pukul 2 pagi (19/4) yang mengatakan bahwa Vigo telah berpulang.

Dalam percakapan itu, aku masih tidak percaya. Begitu pula dengan Momo, ia berharap berita itu tidak benar adanya. Aku sontak berpikir jika benar adanya, apakah perbedaan waktu Glasgow dan Indonesia dapat memperlambat kematian seseorang. Semuanya terjadi begitu cepat. Ketika aku mencoba menghubungi Bang Agri, saudara Vigo, Ia belum dapat menjelaskan apapun. Ia hanya berharap masih ada mukjizat, sembari menunggu keberangkatan menuju Pekanbaru dari Jakarta dengan rute penerbangan paling pagi.

Sepanjang perjalanan menuju Glasgow bersamaan dengan perjalanan menuju Pekanbaru, kami berdua mencoba untuk menenangkan hati. Berharap semuanya tidak benar. Malam itu sungguh melelahkan. Hingga akhirnya, Bang Agri memastikan kematian Vigo dikarenakan henti jantung. Aku tidak perlu menjelaskan detailnya seperti apa. Vigo sedang berusaha hidup lebih baik dan lebih sehat. Ia bahkan tidak punya riwayat penyakit jantung.

Akhirnya, waktu Glasgow dan Jakarta bertemu. Aku tiba di Glasgow. Di hari yang sama, “19 April 2026” pun bertemu, dan hanya terbedakan jarak beberapa jam saja. Persamaan waktu ini menjadi ruang diskusi yang intens antara diriku, kolega di Fakultas, beberapa teman kerja Vigo saat di bekerja di gedung pusat, serta sahabat dekatnya. Mereka semua membicarakan bagaimana kehidupan Vigo yang dipenuhi dengan gairah muda penuh semangat. Vigo dikenal sebagai sosok yang selalu membawa senyum bagi sahabat-sahabatnya.

Memang demikian, Vigo lebih banyak tersenyum di depan banyak orang. Meskipun semua orang juga tahu kalau ada kalanya Vigo memendam permasalahannya sendiri. Jika mendengar cerita dari seluruh koleganya yang ada di Jogja, maka kamu akan bisa mengetahui seperti apa Vigo itu.

Aku dan Vigo tidak memiliki hubungan kekeluargaan. Marga atau kesukuaan kita pun berbeda. Namun, di Fakultas Filsafat sejak tahun 2021 aku mulai mengenalnya. Vigo banyak sekali membantu agenda-agenda fakultas saat itu. Terlebih lagi, aku yang baru saja menjadi dosen muda sangat terbantu dengan hadirnya Vigo, juga kawan-kawannya. Mereka memberikanku banyak gambaran tentang bagaimana cara mengajar yang baik untuk tipe generasi baru seperti mereka. Dari acara penerimaan mahasiswa baru, pameran publik, diskusi kolektif, sampai konser musik di Fakultas, Vigo yang lebih banyak memulai diskusi. Ada kalanya, kami ngopi bareng di Bonbin UGM, terkadang pindah ke BNI Cafe, Zoomia, Den Singo, atau Lamanide atau kemanapun.

Dari warkop ke warkop, Vigo membagikan banyak ceritanya. Tentang permasalahan di kampus sampai permasalahan sosial politik yang ada di negeri ini. Vigo selama hidupnya di kampus terlibat aktif dan sangat aktif dalam “proyek pergerakan” di berbagai bidang, baik sosial, politik, dan bahkan pendidikan. Aktivisme Vigo tidak main-main, terakhir kalinya, saat bencana sosio-ekologis melanda Sumatera, Vigo menjadi volunteer untuk terjun langsung di lapangan selama beberapa minggu. Ia menggalang dana dan bantuan untuk para korban banjir di sana. Bahkan tulisan opini kompasku terakhir bertajuk “Pedagogi Kegelapan” juga tidak terlepas dari obrolan kecil antara pengalaman Vigo di lapangan terkait kenyataan riil yang terjadi antara ketimpangan ekologis yang terjadi.

Bagiku Vigo tidak hanya menjadi salah satu mahasiswa terbaikku. Ia sudah ku anggap sebagai saudara dalam menulis. Dua tahun yang lalu, saat Vigo mulai sibuk dengan KKNnya. Kami punya proyek kecil-kecilan menyoal isu pendidikan futuristik di Indonesia. Terlibatlah kami menulis di BRIN bersama Bu Murti tentang Pendidikan 5.0. Tulisan yang terbit dari hasil obrolan ngalor-ngidul itu memberikan kesan yang mendalam bagi Bu Murti. Saat berita duka ini muncul, Bu Murti langsung menelponku menjelaskan perasaan dukanya. Ia mengatakan bahwa Vigo merupakan lulusan terbaik pada wisuda program sarjana Fakultas Filsafat periode keempat tahun 2025. Aku pun merasakannya, bagaimana dia membawakan speech  dengan menyentuh namun penuh harapan dan asa tentang masa depan lulusan filsafat.

Aku teringat kembali bagaimana akhirnya Vigo menjadi mahasiswa bimbingan skripsiku. Semenjak Vigo mengetahui akan kepergianku ke Glasgow untuk studi pada bulan Oktober 2025. Ia mengejarku. Menulis skripsi dalam satu semester sejak awal 2025. Ia bahkan mulai mengambil topik skripsi filsafat teknologi dan irisannya dengan teori yang digagas oleh Matteo Pasquinelli tentang kecerdasan buatan, pembagian kerja, dan masa depan buruh. Topik ini baginya menarik. Pun, aku masih ingat betul. Vigo berkenan masuk dalam diskusi yang sangat panjang antara aku dan Sosi ketika membahas Matteo dalam sesi Baca-Baca Random waktu itu. Ia mendengarkan beberapa percakapan kami dengan setiap sesinya sekitar 3 sampai 4 jam.

Vigo mempertahankan Skripsinya (01 Juli 2025).

Sosi pun ketika mendengarkan berita duka ini tak menyangka. Ia yakin bahwa Vigo bisa melangkah lebih untuk mengembangkan kerangka skripsinya. Itu pun sempat dilontarkan oleh Vigo ketika kami ngopi untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatanku ke Glasgow. Vigo menjelaskan semangatnya untuk melanjutkan rencana kehidupan jangka panjangnya. Ia ingin menjadi peneliti. Kalau perlu menjadi peneliti lintas disipliner. Aku pun yakin. Vigo sangat serius dengan mimpinya.

Begitu pula dengan asmara dan kehidupan pertemanannya yang dilanjutkan kehidupan sebagai pekerja itu sendiri. Ada kalanya Vigo bercerita kalau apa yang ia tulis di skripsi tentang buruh digital juga sedikit banyak mirip dengan perjalanan awal karirnya. Aku selalu senang kadang bisa mendengarkannya bercerita.

Ada satu grup yang di dalamnya kawan-kawan mahasiswa seperti Vigo. Aku namai akselerasionis. Harapannya bagi mereka yang mengejar skripsi bersamaku satu semester sebelum keberangkatanku ke Glasgow. Di grup itu, Vigo selalu membagikan banyak hal. Ia membersamai teman-temannya untuk dapat menyelesaikan skripsi sebaik mungkin. Kami semua membuat grup bimbingan skripsi itu justru lebih hidup sebab tidak melulu membicarakan hal teknis perskripsian. Hanya saja, berita duka ini membuat semuanya berubah. Terakhir kalinya, saat aku di Indonesia bulan Maret lalu, aku mencoba mengaktifkan grup itu sekali lagi dengan melemparkan basa-basi “maaf lahir batin”. Vigo menjadi orang yang pertama kali membalas pesanku. Dan malam ini, aku yang memberitahukan pertama kalinya di grup kepada kawan-kawannya tentang berita kepergiannya.

Selama hidupnya, Vigo sangat memperhatikan teman-temannya. Ia lebih banyak peduli pada orang lain dan memiliki jiwa solidaritas yang sangat kuat. Itulah sebabnya, ia selalu menolong orang lain terlebih dahulu. Ada banyak cerita tentang perjuangan dia untuk temannya dan keluarganya. Ketika menemui permasalahan tertentu, Vigo membagi kebuntuannya dengan senyum-senyum lebarnya. Aku sangat beruntung bisa mendengarkan ceritanya yag lebih panjang.

Ada kalanya ketika merasa lelah dengan sistem perguruan tinggi di Indonesia, mahasiswa seperti Vigo lah yang menghidupkanku kembali. Ruang kelas menjadi ruang kebebasan untuk belajar dan melatih pendisiplinan diri serta pikiran.

Untuk terakhir kalinya, Vigo sempat menemuiku untuk membicarakan tulisan terakhirku dengan Arya dan Kim. Kami menerbitkan satu jurnal tentang Sampah, Piyungan, dan Yogyakarta di Environmental Sociology, juga tidak terlepas dari insight yang diberikannya. Pengalaman Vigo meriset tentang bank sampah memberikan gambaran umum yang berarti bagi kami. Meskipun orientasi risetnya berbeda, Vigo memberikan warisan pemikiran dalam diskusi kecil itu yang mampu meyakinkanku untuk memperluas riset tersebut.

Ada satu naskah bunga rampaiku dengan Vigo yang sudah tertahan cukup lama pasca simposium dan konferensi pendidikan dengan kolaborasi BRIN 2025. Padahal, rencananya akan terbit di Routledge dalam waktu dekat. Sayangnya, semesta menunjukkan jalan yang berbeda. Aku belum bisa menunjukkan kepadanya hasil akhir karya kami.

Aku ingat betul sempat bergurau demikian kira-kira.

“Vigo kamu sehat-sehat, kalau kelak aku tua dan aku pergi duluan. Kamu yang bikinkan obituariku ya?” tegasku. Tetapi, Vigo hanya tersenyum seperti biasa. “Ngomong apa si kamu mas..?”, ucapnya.

Selamat jalan dalam damai, Vigo Joshua Pangaribuan (02 November 2002-19 April 2026). Kelak kita akan bersua kembali!

Glasgow, Minggu 19 April 2026.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.