Glasgow dalam beberapa minggu ini sedang memasuki pertengahan musim panasnya. Sebagian besar mahasiswa memilih untuk menghabiskan waktu libur musim panas, sebagian kecilnya lagi memilih tetap bertahan di laboratorium atau di perpustakaan dalam rangka menyelesaikan disertasi atau tesisnya. Alhasil, suasana perpustakaan dan sekitar kampus terasa begitu sepi, selain para pekerja konstruksi yang sedang menyelesaikan pembangunan di beberapa titik perpustakaan.
Di lantai enam ujung perpustakaan menjadi tempat paling nyaman bagiku untuk sekadar berdiam diri, membaca, atau menelusuri arsip-arsip penelitian. Kebetulan, saat aku sedang mencoba menelaah kembali genealogi politik geologi (political geology) aku menemukan tulisan tak lazim di jurnal Geology vol. 13, no. 6 tahun 1985 yang mencoba menghubungkan antara politik dan lempeng tektonik. Umum, jurnal ini mengulas tentang perkembangan dan penerapan teori lempeng tektonik global yang mulai diterima pada saat itu. Sekitar tahun 1960-1970 menjadi tahunnya penerimaan teori lempeng tektonik secara global. Di sisi lain, perlombaan sains lintas benua di bawah geopolitik perang dingin mulai mencapai titik puncaknya.
Aku mencoba mengulik siapa penulis jurnal itu. Agaknya, sedikit susah mencari latar belakang lebih detail tentangnya. Yang aku tahu, penulisnya bernama Abel Ati Sadig (Juni, 1985), geolog asal Sudan yang bekerja di departemen geologi, Universitas Khartoum. Sependek pengetahuanku di tahun 1980an itu, Sudan sedang mengalami berbagai macam krisis mulai dari krisis ekologis—kekeringan, perang saudara, sampai kelaparan besar. Ratusan ribu korban jiwa berjatuhan dan jutaan orang harus mengungsi. Pada bulan April 1985, presiden Jaafar Nimeiri dikabarkan digulingkan oleh militer Sudan saat ia melakukan kunjungan kerja di Washington, Amerika Serikat.
Aku hanya berspekulasi sekilas, apakah latar belakang sosial politik di Sudan memengaruhi pandangan ontologis Abel ketika memberikan pola-pola analogi-metaforik politik lempeng tektonik. Singkatnya, teori lempeng tektonik menggambarkan bahwa permukaan Bumi terdiri dari berbagai macam lempeng yang sangat keras dan kaku, namun bergerak satu sama lain. Pola inilah yang diambil oleh Abel untuk menggambarkan dunia sebagaimana lempeng-lempeng politik yang saling bergerak satu sama lainnya. Mari kita lihat sekilas Gambar 1, bagi Abel terdapat dua jenis lempeng politik utama, yakni lempeng yang stabil dan tidak stabil.
Jika kita perhatikan kembali terdapat tiga jenis batas lempeng tektonik (boundaries): pertama, batas coupling yang terletak di antara salah satu lempeng super (super plates). Batas pertama ini digambarkan antara Amerika Serikat (US) dan Uni Soviet (USSR) serta lempeng-lempeng kecil yang menyertainya. Kedua, ada batas integration, yang artinya bentuk integrasi antara dua lempeng atau lebih, yang di antarnya memiliki corak lempeng yang lebih stabil. Ketiga, batas confrontation. Seperti namanya, batas konfrontasi ini memisahkan negara dan/atau lempeng yang lebih tidak stabil.
Ketidakstabilan suatu lempeng, menurut Abel, terjadi oleh karena (i) adanya gangguan di dalam negara-negara yang membentuk lempeng tersebut, (2) adanya banyak batas konfrontasi di antara negara-negara penyusun lempeng tersebut, dan (3) munculnya kepentingan kedua lempeng yang super politis—yaitu intervensi asing.
Abel sendiri membagi analogi teori lempeng tektonik menjadi dua kategori: (1) analogi distribusional dan (2) analogi evolusioner. Mari kita telisik kembali kategori pertamanya. Abel merujuk pada gambaran tentang ide besar teori lempeng tektonik yang menggambarkan di masa lalu semua benua-benua pernah bersatu dalam satu dataran yang sangat luas, yang sering dikenal sebagai Pangea. Sekitar 180 juta tahun yang lalu, Pangea ini terpecah menjadi dua benua: Laurasia (utara) dan Gondwana (selatan). Keduanya kemudian di percaya membentuk daratan modern sampai hari ini.
Analogi distribusi dari keterpisahan daratan modern ini juga mendorong kita melihat kembali bentuk kategorisasi atas “Dunia Ketiga” atau Third World yang menurut Abel hampir sebagian besar negara dunia ketiga bagian dari Gondwana. Artinya, secara metaforik, pergeseran benua memiliki peran dalam pembagian dunia menjadi wilayah selatan yang “miskin” dan wilayah utara yang “kaya”.
Dari sini, aku mulai melihat konteks geopolitik perang dingin yang juga mempengaruhi Abel dalam mendeskripsikan politik geologi saat itu. Betapa tidak, istilah Dunia Ketiga pertama kali muncul di majalah Prancis L’Observateur pada 14 Agustus 1952 yang ditulis oleh Alfred Sauvy, pakar demografi Prancis, menganalogikan golongan negara-negara yang mendukung Blok Barat (Dunia Pertama), Blok Timur (Dunia Kedua), dan negara non-blok atau tidak secara resmi memihak di antara blok tersebut (Dunia Ketiga). Mayoritas Dunia Ketiga digambarkan negara-negara yang baru merdeka dari penjajahan. Negara poskolonial seperti Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Sebagai catatan personal, aku melihat rujukan istilah ini juga berubah seiring runtuhnya Uni Soviet (1991). Pembagian istilah Dunia Pertama-Kedua-Ketiga mulai kehilangan relevansi geopolitiknya, dan mulai beralih membagi peristilahan negara maju (developed coutries), negara berkembang (developing contries), dan negara berpendapatan rendah atau menengah (low- and middle-income countries) atau pemilihan istilah Global Utara (Global South) tergantung konteks penggunaan tertentu. Meskipun istilah “kelas hirarkis” yang merujuk pada pembagian dunia-dunia ini, sampai kapanpun akan selalu menimbulkan konotasi dan penyederhanakan realitas yang cenderung dianggap “merendahkan”. Namun, kita perlu melihat sejenak konteks analogi yang digambarkan oleh Abel.

Abel percaya meskipun saat ini manusia memiliki kendali penuh pada politik dunia (geopolitik—tepatnya), lempeng tektonik memiliki peran yang tersembunyi. Kita dapat melihat kembali pada Gambar 1 di mana terdapat model dua lempeng “super” politik yang bersifat lebih stabil secara tektonik. Sedangkan hampir semua lempeng yang tidak stabil justru terletak di atau lebih dekat dengan batas-batas konvergen (zona subduksi—subduction). Selain itu, tingkat ketidakstabilan politik juga sangat berkaitan dengan jenis zona subduksinya—misalnya, jenis subduksi yang menyebabkan deformasi terbesar (tabrakan antarbenua) terjadi di wilayah Timur Tengah. Atau, kita dapat melihat pula negara-negara (seperti Chili, Peru, dan Ekuador) yang berada di sisi Pasifik Amerika Selatan (batas konvergen—convergent margin) cenderung kurang stabil dibandingkan negara-negara (seperti Brasil dan Argentina) yang berada di sisi Atlantik (batas pasif—passive margin).
Berbeda dengan lempeng Afrika yang lebih stabil secara tektonik, namun di dalamnya, menurut Abel, justru terdapat lebih banyak hotspot politik yang aktif (misalnya Chad, Namibia), ataupun yang tidak aktif (misalnya Uganda, Kongo). Analogi aktif atau tidak aktif ini merujuk pada struktur cincin geologis yang pembentuknya diyakini oleh adanya hotspot atau titik panas. Lantas, bagaimana dengan Asia atau Asia Tenggara seperti Indonesia? Sayangnya, Abel tidak menjelaskan lebih lanjut.
Terlepas dari keterbatasan analogi Abel, aku merasa justru titik-titik panas yang mendorong magma muncul ke permukaan melalui retakan pada batuan dengan suhu panas yang sangat besar disertai tekanan yang lebih rendah ini dapat dikaitkan dengan pembentukan lempeng kerak. Titik-titik hotspots dan posisi lempeng politik yang sangat rentan dan tidak stabil menjadi gambaran yang sangat utuh dalam membicarakan Indonesia saat itu. Sebagaimana tiga corak ketidakstabilan lempeng politik di atas, Indonesia memiliki semuanya dan di waktu bersamaan beberapa paralelitas sejarah—lempeng politik saling bertautan. Konflik yang muncul dari konfrontasi dalam, antara negara tetangganya—seperti Malaysia, dan bahkan intervensi asing—Amerika Sekitar melalui “Metode Jakarta”.

Bagian terakhir yang tak kalah seru, tapi terlalu singkat, ialah analogi evolusioner. Mari kita bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. Keduanya dimulai ketika dominasi rezim kolonial lahir, ketika lempeng (analogi negara) berada di bawah tekanan (3A). Akumulasi ketegangan ini lalu mengarah pada revolusi rakyat untuk melawan balik para penjajah, sebuah tahap yang menyerupai revolusi nasional (3B). Sayangnya, tahapan perpecahan “internal” dimulai (3C) ketika masyarakat mulai saling berperang, bahkan setelah para koloni dianggap telah lenyap. Alhasil, ketidakstabilan kondisi ini terjadi, dan kudeta pun saling terjadi. Para pemimpin kudeta mulai mendirikan rezim junta militer (3D), dan menyebabkan rakyat “menyebar”—spread dan “bergeser”—drift. Rezim diktaktor mulai berkuasa secara mutlak. Dominasi penuh dan menghabisi seluruh lawannya (3F).

Di berbagai negara pascaperang dunia, muncul kudeta balasan akibat akar balas dendam yang tak pernah usai, pun terjadi seperti halnya tumbukan dua massa benua besar, istilah geologinya obduksi. Pemilihan analogi obduksi ini diawali dengan penunjaman kerak samudra ke kerak benua, dan penunjaman ini dapat terjadi karena perubahan batas lempeng dari divergen menjadi konvergen. Abel menutup artikelnya pada kasus Nigeria, ketika penyerahan kembali kekuasaan militer kepada warga sipil, tidak menutup kemungkinan satu warisan militer akan terulang kembali.
Spekulasi-historis-politik ala Abel ini sangat jarang ditemui di kalangan geologi. Aku merasa bahwa apa yang ditulis oleh Abel ini juga tidak dapat terlepas dari konteks sosio-politik yang terjadi di Afrika, khususnya di Sudan. Di bawah bayang-bayang perang dingin dua lempeng politik super dan proyek kapitalisasi pembangunan global ini juga menjadi semacam sub-text atas perjuangan politis negara-negara pascakolonial, termasuk Indonesia. Indonesia dapat menjadi contoh berikutnya apabila kita mau menerapkan analisis metafora ala Abel. Setelah kolonialisme, lahirlah rezim yang men-nasionalisasi di berbagai aspek kehidupan, dilanjutkan dengan pemberontakan yang terus melingkar sampai akhirnya tunduk di bawah rezim otoritarian militer yang absolut. Meskipun, sudah direformasi sekalipun, siklus militerisasi kehidupan pun mulai bersemi kembali akhir-akhir ini.
Sayangnya, pemenang (kuasa rezim) yang menuliskan sejarahnya. Gerak lempeng tektonik terjadi sangat jauh di bawah kita (deep time), geraknya pun sekitar 6-10 sentimeter per tahun—tergantung arahnya. Lempeng di Indonesia, uniknya, bergerak ke semua arah, baik utara, barat, maupun tenggara. Sewajarnya (gerak ini) tidak ada yang absolut dan tunggal. Namun, lempeng politik justru mengalami kemunduran—alih-alih bergerak maju dan menjadi beragam, kita justru (dipaksa) mengalami kemunduran yang signifikan. Gerak lempeng yang sangat kosmopolit justru berubah menjadi sangat super-etnonasionalis. Horizontalisme gerak lempeng malah lebih dekat dengan konflik horizontal kemasyarakatannya. Atau, lebih sibuk pada hal-hal remeh-temeh daripada sumber hotspot masalahnya.
Lagi pula, pilihannya hanyalah beralih dari sistem satu-komando di bawah sistem multifungsi militeristik ke sistem yang serupa (Gambar 2). Ironisnya, apa yang dianalogikan oleh Abel (Juni 1985), yang seharusnya hanya berupa “imaji-spekulatif”, justru menjadi kenyataan dalam keseharian kehidupan kita.
Bacaan Lanjutan:
Konteks Perang Dingin:
Oreskes, Naomi, and John Krige, eds. Science and technology in the global Cold War. MIT Press, 2014.
Jones, Greta. Science, Politics and the Cold War. Routledge, 1988.
Artikel Abel:
Sadig, Abel Ati. “Plate tectonics and politics—A distributional and evolutionary analogy.” Geology 13, no. 6 (1985): 447-448.
Konteks Indonesia:
Bevins, Vincent. The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. PublicAffairs, 2020.
Simpson, Bradley R. Economists with guns: authoritarian development and US-Indonesian relations, 1960-1968. Stanford University Press, 2008.