(i)
Di kursi tengah, tepat sebelah meja barista Kelvin Pocket, aku mulai menyadari beberapa hal paling penting selama perjalanan studiku akhir-akhir ini, terutama terkait hubunganku dengan para pembimbing akademik (supervisors). Pagi ini, 5 Oktober 2026, suasana Glasgow kembali seperti semula: hujan rintik berkepanjangan, angin yang membelot, juga suasana latar belakang yang serba abu-abu sesuai dengan prakiraan cuaca di ponselku. Hari ini, serupa hari minggu pagi kemarin, tampaknya akan hujan sepanjang hari.
Lagipula, aku juga pernah menceritakan sebelumnya bahwa perjalanan studiku lebih banyak terjebak pada keputusan-keputusan non-akademis, seperti memilih dan berganti topik penelitian sampai pertimbangan untuk tetap bertahan di Glasgow atau memilih pindah ke Singapura, sebab kepergian pembimbing utamaku, Adam Bobbette. Singkatnya, Adam pergi meninggalkan Glasgow di tengah-tengah tahun pertamaku, lalu digantikan oleh Prof. Chris Philo. Tak disangka, Chris di bulan September 2026 harus pensiun sebagai guru besar emiritus. Artinya, aku harus mencari pengganti pembimbing keduanya. Beruntungnya, Prof. Simon Naylor bersedia menampung kegelisahanku. Artinya, saat ini, pembimbing utamaku adalah Simon. Simon terkenal sebagai sejarawan geografi. Teruntuk, curhatan tentang supervisi sudah aku tuliskan sebelumnya di laman refleksi tiga bulanan.
Hari ini, aku ingin menuliskan beberapa kesan-kesan personalku selama menjalani proses supervisi dengan Chris, dan juga mengapa ia menjadi salah satu figur intelektual yang benar-benar menginspirasiku untuk berani mengambil field penelitian baru, yang bahkan belum pernah aku jalani sebelumnya. Penelitianku saat ini akan lebih banyak berfokus pada geografi pengetahuan dan politik sains yang melibatkan pendekatan historiografi, tradisi lisan, dan penelitian berbasis arsip yang tersedia.
Alasan kuat mengapa aku berani mengambil penelitian tentang sejarah geologi meski sebagai mahasiswa geografi manusia, oleh sebab aku melihat apa yang dilakukan oleh Chris selama karier akademiknya. Selama 30 tahun berkecimpung di dunia akademik geografi, Chris melahirkan banyak karya-karya monumental bagi perkembangan geografi pemikiran di Glasgow, terutama di bidang metodologi. Terlebih lagi, semuanya terkuak ketika Chris menyampaikan valedictory, semacam pidato perpisahan, juga refleksi perjalanan akademiknya, di acara retirementnya pada hari Kamis, 24 September 2026.
Kala sore itu, aku baru saja mendarat bersama anak dan istriku di Glasgow sekitar pukul 2 siang waktu setempat. Sejujurnya, aku masih merasa sangat kelelahan saat itu. Perjalanan yang ditempuh lebih dari 25 jam dari Yogyakarta ke Glasgow itu tentunya membuat sekujur tubuhku terasa sangat lunglai. Seperti dipukuli oleh rezim diktator di novel 1984.
Melalui korespondensi email, aku sebenarnya sudah menyampaikan permohonan maaf apabila aku tidak dapat menghadiri momen paling menyenangkan dalam perjalanan akademiknya di Glasgow. Baik Simon maupun Chris sudah menyarankanku untuk sekadar istirahat sampai jet lag sepenuhnya teratasi dengan baik.
Oh! Tentu saja, itu tidak berlaku bagiku. Setelah istri dan anakku menyelesaikan makan siangnya di flat, lalu memutuskan untuk melepas rasa lelah dengan tidur siang, aku memutuskan untuk bergegas berangkat.
Sekitar pukul 4 sore aku jalan menuju The East Quadrangle Lecture Theatre, tempat di mana Chris akan menyampaikan pidato pensiunnya. Perjalanan dari tempat tinggalku ke kampus membutuhkan waktu sekitar 30-35 menit. Kondisi dingin dan kaki yang sedang beradaptasi dengan medan jalanan nampaknya dapat teratasi. Aku merasa seperti pulang kampung! Menghadiri acara ini menjadi hal yang menyenangkan, aku hanya penasaran saja. Seperti apa sih, prosesi refleksi pensiunan di Glagasow. Aku yakin tidak begitu formal acaranya. Lihat saja poster undangan acara yang dibuat oleh Chris di bawah ini.

Gambar 1. Poster undangan yang dibuat oleh Chris.
Poster acara ini dikirim ketika aku masih berada di Gorontalo pada akhir bulan Agustus lalu. Waktu itu aku melaporkan progres penelitian lapanganku. Di saat bersamaan, Chris justru mengirimkan poster ini. Aku hanya terheran-heran: Apa maksudnya? Tak ada foto, hanya bayangan tubuhnya di atas lapisan salju yang padat dengan jejak-jejak kaki. Lagi pula, aku juga tidak akan berusaha menginterpretasikan secara semiotik dan hermeneutik. Sejujurnya, aku sangat terkesan dengan usaha-usaha yang ia dilakukan. Mengundang kolega terdekatnya untuk menghadiri pidato terakhirnya, sebelum ia memutuskan untuk menjalani hari-hari pensiunnya.
(ii)
Aku tidak menyangka, acara ini dihadiri oleh lebih dari 70 orang, semuanya terdiri dari beberapa dosen dan peneliti senior, staf, mahasiswa, dan juga beberapa kolega-kolega di luar dari UofG. Pertama kali aku masuk ke ruangan itu, Chris menunggu di samping podium. Ia menghampiriku. Memelukku dan bertanya.
“Aku tidak menyangka kamu di sini? Bukankah hari ini kamu sampai di Glasgow kembali?” ucapnya, sembari menggelengkan kepalanya.
“Oh! Aku yang minta maaf, seharusnya anak istriku juga hadir di sini, menemui kakek Chris tampil secara akademik untuk terakhirnya…” sambil aku tertawa kecil.
Setelah itu, aku bergegas mencari tempat duduk yang tersedia. Semuanya sudah hampir penuh terutama bagian depan dan tengah kursi. Beberapa di antaranya masih ada kursi-kursi yang tersisa. Sayangnya, hanya di bagian belakang. Aku harus menerimanya. Di sini, tradisinya, siapa cepat dia dapat. Beberapa Profesor Emiritus juga hadir. Mereka duduk di samping. Rupanya sama seperti aku yang agaknya sedikit terlambat.
Aku duduk dengan sedikit tertunduk. Kepalaku agak pusing. Efek kurang tidur selama di Dubai sangat terasa. Jam biologisku juga masih sangat Indonesia bagian Barat. Tak aku sangka, Simon hadir. Kebetulan aku dan Chris beberapa hari sebelumnya, rasan-rasan, menduga-duga kalau Simon sangat sibuk untuk persiapan mahasiswa baru yang akan datang. Simon tersenyum dan heran melihatku hadir.
“Hei.. kenapa kamu di sini? Segera pulang jika sudah tidak kuat…” gumam Simon kepadaku.
“Benar, kamu tahu kan pintu keluar kalau kamu sudah lelah mendengarkan pidatoku yang tidak jelas nanti”, Chris menambahkan.
Acara dimulai.
Emma Laurie memberikan pidato pertamanya. Kesan dan pesan mendalam sebagai junior Chris sekaligus orang yang bekerja satu kantor dengan Chris. Saat ini Emma menjadi kepala The Human Geography Research Group (HGRG). Pusat studi yang dulunya juga pernah digawangi oleh Chris.
Emma menceritakan kepribadian akademis Chris sebagai orang yang sangat rigid dalam menganalisis teks-teks kajian geografi. Ia memang terkenal sebagai orang yang sangat teliti ketika membangun relasi dengan koleganya. Tiap detail harus dicermati secara runtut. Chris bahkan terkenal sebagai orang yang sangat menyenangkan jika diajak diskusi bahkan dari berbagai bidang. Kesan Emma juga serupa dengan apa yang aku rasakan. Chris dengan mudah mengarahkanku untuk tetap bertahan dengan ide-ide filsafatku. Tidak hanya itu, ia dikenal sebagai pengepul arsip-arsip sejarah geografi di Inggris dan seantero Skotlandia. Terlihat dari rak-rak arsip, manuskrip, dan buku di kantornya.
Di akhir pidato Emma, ia memutar satu video tentang kompilasi kesan para kolega, mahasiswa, dan keluarga dekatnya. Kami semua tertawa di ruangan itu. Melihat pesan dan kesan yang ditampilkan dipenuhi dengan lelucon-lelucon kecil tentang Chris. Semuanya sangat natural, mengalir begitu saja.

Gambar 2. Chris menyampaikan pidato perpisahannya.
Aku melihat wajah Chris dari kejauhan. Wajahnya mulai semringah. Ia melihat sekelilingnya. Seakan ada memori yang ingin ditinggalkannya. Tetapi ia juga bahagia di satu sisi. Selanjutnya, tiba kesempatan Chris untuk menyampaikan pidatonya tentang Out of Office: Reflections on an Academic Life.
Chris membuka pidatonya dengan menunjukkan kembali bagaimana secara metodis ia memperlakukan arsip-arsip dirinya sendiri. Ia mendokumendasikan dengan sangat detail, catatan-catatan saat ia berkuliah dari program sarjana (1983) sampai doktoralnya (1992) di departemen Geografi, University of Cambridge. Chris juga untuk pertama kalinya mengajar di departemen Geografi, University of Wales, Lampeter sejak Januari 1989 dan kemudian pindah ke University of Glasgow pada tahun Oktober 1995. Sejak 1995 sampai 2026, ia menghabiskan waktu dan kehidupannya di Glasgow. Ia juga mengaku mulai mempelajari tentang kepemimpinan ketika bertanggung jawab menjadi Kepala Departemen, Geografi dan Geomatika, University of Glasgow sejak April 2002 sampai Juli 2005.
Pria kelahiran 1960 itu menceritakan ketertarikan penelitiannya selama ini di bidang-bidang yang jarang disentuh bagi peneliti geografi pada umumnya. Ia sangat tertarik mempelajari tentang sejarah geografi kegilaan, kesehatan mental sampai politik dan institusi rumah sakit jiwa. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pendekatan geografi sosial, historiografi dan pengembangan teori geografi sampai geografi kontemporer. Chris juga sering dikenal sebagai Foucauldian-nya geografi.
Meskipun sebagai ‘superstar’ geografi kontemporer, Chris bagiku ialah sosok yang antik. Saking antiknya, ia tidak begitu peduli dengan pemeringkatan jurnal-jurnal bereputasi global. Ia bahkan tidak punya google scholar. Namun, ketika kita mencoba cari namanya, kita akan menemukan berjibun tulisan-tulisannya bertebaran. Setiap tahun ia pasti menuliskan sesuatu hal, entah tulisan esai, jurnal, sampai mengeditori berbagai kumpulan tulisan geografi yang kemudian ia jadikan satu menjadi semacam handbook untuk mempermudah pembaca geografi pemula. Hobinya yang antik ini bahkan ia ungkapan ketika terakhir kali ia menerbitkan bukunya berjudul Adorno and the Antifascist Geographical Imagination (2025), ia merasa bahwa apa yang ia lakukan masih jauh dari apa yang seharusnya ia dapat lakukan.
Chris juga menyadari kelemahannya. Ia bukanlah geografer pada umumnya. Di sinilah perasaanku semakin terjustifikasi ketika pertama kali bertemu dengannya. Seperti yang pernah aku sampaikan sebelumnya, menurutku ia lebih filsafat dan bahkan lebih sering berfilsafat jika dibandingkan denganku, yang hanya mengaku pernah belajar filsafat. Pengetahuan berfilsafatnya cukup lengkap, terutama tradisi sejarah pemikiran. Meskipun ia hanya berfokus pada geografi pengetahuan, pemikirannya tidak dapat dianggap sebelah mata. Chris juga mengungkapkan keterbatasannya sebagai geografer oleh sebab, ia lebih banyak menjelajahin manuskrip, teks, dan arsip daripada turun langsung ke lapangan.
“Geografiku ada di antara naskah-naskah, tulisan-tulisan, arsip-arsip, atau tumpukan buku yang jarang dijamah orang-orang saat di perpustakaan”, ucapnya.
Lalu, ia menambahkan kembali, “Geografiku, barangkali, geografi literasi, selama lebih dari 35 tahun, hidupku sudah kuhabiskan berkelana dari satu manuskrip ke manuskrip lainnya, sayangnya, aku tidak berkenala dari satu pulau ke pulau lainnya, dari satu lanskap ke banyak lanskap lainnya. Mungkin ini semacam geografi pemikiran”.
Sejenak aku terdiam.
Chris melihat sekeliling.
Aku masih berusaha untuk memproses apa yang ia katakan. Ketika aku baru saja lahir di dunia ini, Chris sudah menjadi profesor geografi termuda di Glasgow kala itu. Keputusannya untuk mengambil bidang geografi yang tidak lazim ini justru membawanya ke titik pertemuan ini.
Hobinya yang antik itu juga melahirkan satu buku yang cukup tebal sekitar 700an halaman hanya untuk menceritakan sejarah geografis tentang kegilaan di Inggris dan Wales pada tahun 1860an. Di kesempatan itu, ia menunjukkan arsip-arsipnya dan menunjukkan buku yang tebalnya seperti kitab antik itu, judulnya A Geographical History of Institutional Provision for the Insane from Medieval Times to the 1860s in England and Wales: The Space Reserved for Insanity (2004). Selain dari buku ini, Chris juga melahirkan beberapa buku-buku teks untuk mahasiswanya tentang metodologi penelitian geografi secara umum sampai panduan praktik geografi manusia.
Setelah ia menceritakan banyak hal, akhirnya Chris mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada para pendahulunya, para koleganya, staff universitas, dan yang terakhir para mahasiswanya.
“Terima kasih juga untuk semua orang yang telah bersabar menghadapiku selama ini, dan juga untuk para mahasiswa doktoralku yang akan aku tinggalkan setelah ini, juga yang terakhir, Rangga dari Indonesia.” Ia terdiam sesaat sambil menatapku.
Aku hanya kaget, dari sekian puluh orang yang hadir di sini, justru namaku yang disebut. Aku pikir itu hanyalah spontanitas Chris di acara itu. Sedangkan, aku yang sedang mengalami jetlag itu menjadi serba canggung. Aku cuma bisa tersenyum dan mengangguk saja. Inilah yang mungkin menjadi alasan, mengapa beberapa hari yang lalu ada salah satu mahasiswa yang menanyakan hal acak kepadaku.
“Apakah kamu murid Chris? Kamu meneliti tentang sejarah geologi kan?” seorang mahasiswi di ruangan PGR GES bertanya langsung kepadaku.
“Iya, kenapa kamu bisa tahu?” tanyaku terheran-heran. Aku pun tidak tahu siapa dia sebenarnya,
Lalu ia memperkenalkan diri dan menceritakan bahwa Chris sering menceritakan hal-hal yang sedang aku kerjakan kepada para koleganya. Aku cuma berpikir sederhana saja: Mungkin saja, seorang Indonesia yang mencoba hal baru, yang semuanya serba salah arah.
Sebagai penutup acara itu, salah satu kolega Chris, termasuk Prof. Ben Anderson dari University of Durham, memberikan kado kenangan untuknya. Semacam small gift, ketika dibuka, Chris langsung meneteskan air matanya. Aku tidak bisa melihat jelas, kado apa di dalamnya, sepertinya benda kecil yang menggemaskan–mungkin batu akik ajaib!
Kesan mendalam yang penuh emosional itu, ditutup dengan ungkapan rasa terima kasih dari Chris untuk semuanya. Lalu, Chris meminta kita untuk bersiap ke Room 311 untuk sekadar pesta makan malam.
Sayangnya, karena kondisiku yang sangat lelah, aku memutuskan untuk pulang ke flat segera. Aku segera menemuinya. Dia bilang kepadaku untuk tidak perlu khawatir. Di sini banyak orang. Ia memintaku untuk bertemu dengannya kembali pada hari Rabu minggu depan sebelum ia benar-benar pensiun dari kantornya.
(iii)
Pada hari Rabu, 30 September 2026. Hari itu menjadi hari terakhir Chris berkantor. Aku naik menuju kantornya dari ruang kerjaku sekitar naik tiga lantai. Ruang kerjaku di 304 sedangkan ruangan Chris di 522. Aku bertemu dengannya. Aku pikir Chris sudah cukup santai dan berleha-leha sejenak. Akan tetapi, justru ia terlihat masih saja sibuk menuliskan beberapa catatan dari jurnal-jurnal yang sedang ia kumpulkan. Ia masih saja seperti Chris yang biasanya, seorang pengepul jurnal-jurnal geografi terbaru. Membaca jurnal sudah seperti doomscrolling tanpa henti. Katanya, ia sudah ketagihan membaca jurnal sejak memulai karirnya di bidang geografi.
Spontan, aku meminta izin untuk mengambil fotonya dari dekat untuk aku tampilkan di blog pribadiku. Tapi dia malah berkata, tolong tuliskan dengan jelas ya, “Ini adalah orang tua menyebalkan itu!”, sambil tertawa kecil.
Sontak aku berkata, “Oh! Tentu saja tidak mungkin, tapi itu ide yang bagus, Chris…”

Gambar 3. Chris sedang fokus dan asyik dengan printilan jurnalnya.

Gambar 4. Tumpukan jurnal yang sempat ia editori.
Terlihat sekitar 15 menitan, ia sedang sibuk dengan meja kerjanya. Aku lebih memilih untuk memotret beberapa sudut ruangannya. Ruangnya sangat-sangat berantakan, namun juga tersusun rapi. Chris mengurutkan segalanya berdasarkan tahun, area studi, hibah, dan juga bentuk arsipnya.

Gambar 5. Rak arsip dan buku yang selalu menemai kerja-kerja akademik Chris.

Gambar 6. Salah satu sudut koleksi pribadinya.

Gambar 7. Saat itu, cuaca sedang gerimis mendung.

Gambar 8. Rak arsip-arsip publikasinya, di tengahnya terdapat fotonya bersama koleganya di Cambridge.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali memeluk dan menyapa kabarku. Menanyakan kembali bagaimana keadaan keluargaku ketika pertama kalinya datang ke Glasgow. Dan, semuanya baik-baik saja. Hanya perlu sedikit penyesuaian. Aku memberinya kado kecil untuknya. Semacam ucapakan farewell untuknya, yang disiapkan oleh istriku juga.
Chris lalu mengajakku untuk berjalan menelusuri Quadrangles dan berbelok turun menuju Coffee House Universitas. Ia mentraktirku kopi. Kami bertukar cerita. Semua cerita tentang Gorontalo dan Bandung aku sampaikan kepadanya. Aku pikir ini semacam bimbingan terakhir bersamanya.
Chris adalah Chris. Ia seperti “sesepuh” di school kami: sosok yang selalu ramah, mengayomi, tetapi juga selalu kritis terhadap teks yang ada di depannya.

Gambar 9. Sekitar akhir Oktober 2025 lalu, Chris memberiku dua karyanya tentang teori dan metode di bidang geografi sosial dan budaya. Saat itu, sejujurnya, aku sangat tertarik untuk membicarakan banyak tentang filsafat dan metode di geografi. Tetapi, proyek itu terhenti sejenak. Mungkin setelah menyelesaikan studi ini, aku akan mencobanya kembali.
(iv)
Keesokan harinya, aku bertemu dengan Simon Naylor. Aku dan Simon bertukar cerita tentang progres penelitianku. Simon, seperti biasa, ia mengkritisi pendekatan yang aku gunakan selama ini. Ia menyarankanku untuk lebih berani lagi melakukan improvisasi perluasan dan penajaman metodologi. Aku juga harus mulai memberikan batasan antara kelemahan, tantangan, dan kesulitan terdalam dari penelitianku. Kami berdiskusi panjang lebar tentang jenis-jenis metode riset lapangan, riset kearsipan, dan keterbatasan penelitian sejarah geografi. Tarikan geografi, pada akhirnya, menjadi penting untuk jangkar risetku.
Dengan demikian, aku harus mulai menggabungkan beberapa model pendekatan interdisiplin untuk menampung keterbatasan sumber arsip yang didapat, peluang pendekatan baru untuk menganalisis objek penelitian, dan atau lebih berani mengubah arah model penelitiannya. Begitulah sekiranya penelitian geografi sejarah yang tidak mengharuskan kita menjelaskan semua hal sekaligus. Hal-hal yang belum terungkap bukan berarti tidak dapat dibuktikan. Kerja-kerja penelitian geografi sejarah begitu terbatas sedangkan keluasan lapangannya tidak dapat diselesaikan hanya dari satu sudut pendekatan semata.
Aku menyadari kekurangan dari penelitianku ini. Simon mendorongku untuk lebih jujur apa adanya dengan apa yang sudah ku jalani selama kerja lapangan arsip di Indonesia. Aku pun akan menuliskannya untuk memudahkan pembaca disertasiku kelak terhadap lanskap sejarah politik dan latar belakang kondisi kearsipan di lapangan.
Sampai akhirnya, Simon menanyakan kembali soal kesiapanku untuk dibimbing hanya dengannya ke depan, tanpa Adam dan Chris. Pun, sejauh ini belum ada nama menggantikan keduanya. Mengingat Chris sudah tidak sepenuhnya aktif di kampus dan Adam telah pergi meninggalkan Glasgow, bulan Juli lalu.
“Apakah kamu masih ingin bertahan di sini?” Tanya Simon dengan tegas.
“Ummm, sepertinya…” Aku mendadak seperti orang linglung.
“Dan… apakah kamu benar-benar bahagia?” Ia menambahkan.
….