Tiga Bulan Pertama di Glasgow

(i)

Tiga bulan pertama setelah kedatanganku di Glasgow, Skotlandia tidak banyak berubah selain harus beradaptasi dengan iklim yang menyebalkan.

Nampaknya aku sudah lebih baik. Buktinya aku mulai menulis catatan hidup acakku di sini. Memang lebih banyak tidak baik daripada baiknya. Bukankah begitu?

Nanti malam menjadi waktu pergantian tahun. Sepertinya aku memilih untuk berdiam diri di kamar sambil sesekali bermain gim, menonton sinema, dan membaca komik.

Mari kita ingat-ingat kembali apa yang sudah ku lakukan beberapa bulan terakhir. Ini sepertinya untuk semacam memamerkan hasil kerja-kerja akademik yang baru saja aku sadari ternyata jauh dari apa yang disebut sebagai kerja akademik sungguhan.

Sialnya, aku baru mengetahui itu setelah aku memulai studi ku di sini. Namun, aku perlu sekali lagi mengapresiasi apa yang sudah aku kerjakan setahun belakangan ini.

Perlu aku tekankan, kerjaku ini bukan kerja sendiri. Ada banyak pihak membantuku. Mulai dari mendiskusikan ide sampai merealisasikan dalam bentuk tulisan. Mereka ialah teman, kolega, dan beberapa mahasiswaku di Yogyakarta. Jadi, kerjaku ya kerja kolektif pada akhirnya.

Seingatku, aku sudah menulis 7 jurnal internasional, 4 jurnal nasional, 2 bunga rampai, 2 prosiding, dan juga 5 artikel di beberapa laman media juga 1 opini media massa.

Oh ya, ada juga satu esai untuk majalah baru, kami sebut Sensibilia, satu majalah yang diinisiasi oleh beberapa alumni filsafat. Kalian wajib menantikannya!

Aku juga menulis satu puisi aneh. Ini dampak dari suramnya Glasgow!

Selain itu, aku masih ingat pertama kalinya aku menjadi keynote speaker untuk suatu konferensi filsafat di Filipina. Aku merasa inferior sekali saat itu, jujur. Terlebih lagi, bahasa inggrisku yang pas-pasan pula. Juga, dua kali menjadi presenter di konferensi internasional. Bagian menjadi presenter biasa saja itu justru yang lebih menyenangkan.

Selain itu, aku juga diundang bersiniar ria—podcast—bareng Chronicles. Entahlah, hancur sudah muka ini tak kenal arah ngomong ngalor-ngidul. Memang aku tidak berbakat untuk berbicara penuh karisma, dan boro-boro mengajak banyak orang untuk melakukan revolusi. Pun, belum ada bayangan buat jadi hero, kan ku bilang, untuk sekadar menyelamatkan diri sendiri saja masih terbata-bata.

Sepertinya, aku bukan orang yang bisa diajak berkomitmen dengan hal-hal besar.

(ii)

         Mari ku kenalkan dua pembimbingku yang bersedia menerimaku di Glasgow. Entah apa yang memotivasi mereka. Tapi, aku merasa bersyukur memiliki dua pembimbing (supervisor) yang berbeda dalam merawat kegilaanku sebagai mahasiswa baru. Aku merasa untuk berjalan saja masih sulit, apalagi berlari.

         Pertama, aku kenalkan terlebih dahulu Profesor Christopher Philo. Kami akrab memanggilnya Chris atau kalau aku senang memanggilnya Eyang Philo. Mengapa Philo? Bagiku dia lebih filsafat daripada geografi. Mengapa tidak? Coba saja kalian buka google akademianya.

         Awalku menjajaki School of Geographical and Earth Sciences, di University of Glasgow, aku tidak berani sedikitpun menyapanya. Waktu itu, minggu kedua Oktober menjadi waktu untuk induction. Kegiatan ini serupa semacam perkenalan kampus dan sekolah kita akan belajar. Mengenali kehidupan kampus juga hiruk pikuk di dalamnya.

         Saat induction, aku harus melaluinya sendiri. Kedua pembimbingku sedang tidak ada di tempat. Bukan tanpa alasan, mereka berdua orang yang sangat sibuk. WKWK~

Untungnya, aku masuk ke dalam kelompoknya Profesor Deborah Dixon. Ya, seperti anak ayam tersesat. Tapi aku menikmatinya. Deborah menanyakan latar belakang dan arah penelitianku. Aku dengan yakin hanya menjawab, sepertinya saya ingin menulis tentang,

“Ya… ide pembeda antara dunia (world) dengan bumi (earth) dalam pembabakan kajian geologi Antroposen dan juga filsafat”.

“…Apa menariknya? Apa yang kamu kamu cari?”, balas Deborah.

“…..” seketika aku hanya terdiam. Aku merasa, iya juga ya, apa yang aku cari semuanya sudah jelas begitu saja. Tinggal aku cari literatur, ku duduk dan baca selesai. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang tertinggal.

Lalu, Deborah menarik seseorang dari bidang geologi murni. Ia memperkenalkan seorang geolog kepada ku. Deborah memintaku berdiskusi dengannya.

Saat itulah, ke-sok-maha-tahu-anku berbicara. Aku bahkan menduga-duga banyak hal tentang konsekuensi putusan kegalalan ratifikasi akhir Antroposen yang penuh dengan praduga politis dan sosiologis. Dengan entengnya, geolog itu menjawab, “Secara sederhana, karena ia (Antroposen) sangat minim bukti dibandingkan epos lainnya”. Lalu aku lanjutkan diskusi ini sampai berakhirnya sesi induction.

Satu minggu kemudian, aku akhirnya bertemu dengan Chris Philo. Saking takutnya terlambat aku mengetuk pintu 10 menit sebelum waktu yang kami sepakati, yakni 13.00.

Tok-tok-tok, aku mencoba mengetuk pintunya.

Chris menjawab,”Iya, silakan…”

Aku mencoba membuka pintu dan bilang, “Apakah saya boleh masuk?”

“Waduh! Kita masih akan berjumpa 10 menit lagi ya, ini saya selesaikan berkas kecil saja”.

…..

10 menit kemudian, tepat pukul 13.00, kami bertemu. Aku mencoba memperkenalkan diri. Aku bahkan bilang bahwa aku tidak punya pengalaman sebagai peneliti di bidang geografi apalagi geologi. Aku murni dari filsafat. Aku pun jujur aku tidak punya latar belakang ilmiah yang baik. Hidupku di akademia hanya dihabiskan untuk sekadar mengajar di Fakultas Filsafat. Jadi ya, hanya bisa membaca buku filsafat, tetapi belum berfilsafat.

Chris mengamati aku berbicara. Kakinya diangkat ke meja yang lebih pendek dari tinggi kursi yang kita duduki. Chris bertubuh besar dan tinggi. Bagi diriku yang pendek ini, melihatnya seperti algojo bagi para spekulatif sepertiku. Ku pikir dia akan memarahiku oleh sebab latar belakangku yang sangat jauh dari kata i-l-m-i-a-h.

Kami menghabiskan hampir satu jam berbicara tentang orientasi riset dan kehidupan minggu keduaku di Glasgow. Aku melihat Chris sebagai sosok yang lebih banyak mendengar, mengapresiasi, dan mencoba mencari titik temu dari hal-hal yang mungkin saja mustahil untuk dipertemukan.

Chris bahkan selalu bilang, mengapa dirinya menyukai filsafat karena ada hal yang ia percaya.

Thinking of thinking…”

Begitulah satu hal yang ia sampaikan kepadaku sembari mencari-cari buku tentang riset dan metode geografi. Aku sangat terkesan dengan rak bukunya. Isinya penuh dengan buku-buku filsafat kontemporer dan kontinental. Terlebih lagi, Chris ialah pembaca Michel Foucault yang baik. Semua riset-riset Chris hampir bersinggungan dengan geografi sejarah, politik, kuasa, sosiologi, dan bahkan rumah sakit jiwa. Chris meneliti cukup banyak terkait geografi “kegilaan”. Bahkan, di buku terakhirnya, ia mencoba melihat geografi imajinatif dalam proyeksi politik fasisme. Ia membangkitkan Adorno dari kuburnya!

Layaknya, eyang kakung. Chris berperan banyak sebagai pendengar. Ia juga sebagai supervisor keduaku. Menariknya, ia juga bercerita kalau anaknya pun masuk jurusan filsafat di University of Edinburgh.

Chris sempat pusing tujuh keliling. Ruangannya penuh dengan buku-buku. Menurutku bukunya terlalu banyak. Ia sempat berpikir juga bagaimana caranya membawa buku-buku filsafat dan geografinya ketika ia akan pensiun kelak. Musim panas tahun depan ia akan emeritus sebagai guru besar.

Aku mencoba menambahkan, “Artinya, itu petanda baik, bahwa buku-buku filsafatmu akan kamu wariskan kelak kepadanya”.

Ia tersenyum cukup lebar dan berkata.

“Aku pikir, ia tersesat di jalan yang benar”.

(iii)

         Sebulan kemudian, kami hanya berbicara melalui email dan sesekali bertemu saat weekly meeting di bawah naungan agenda Human Geography Research Group (HGRG) di kampus. Profesor Hester Parr menjadi penanggung jawab untuk HGRG. Aku pernah bertemu beberapa kali di acaranya Hester. Hester sesekali berbicara tentang masa depan HGRG. Terkadang ia merasa bahwa acara mingguannya ini begitu sepi dari peminat. Di pertengahan November aku berbincang banyak dengannya, dan di satu titik kami mendiskusikan tentang Seasonal Affective Disorder (SAD).

         Awalnya aku terheran-heran, mengapa Prof Hester berbicara banyak tentang hal-hal psikologis daripada geografis. Ternyata, riset Hester lebih banyak membicarakan hubungan antara geografi dan mental kognitif seseorang. Ia bahkan menyarankan aku untuk mencari pencahayaan yang lebih. Ia tahu betul bagaimana rasanya menjadi orang yang hidup di dunia penuh dengan cahaya matahari harus mengalami perubahan ekstrim secara mendadak.

         Dan memang benar apa yang ia katakan. Aku mengalami fase-fase yang sangat depresif. Kita semua tahu cuaca di Glasgow tidak dapat diprediksi. Satu jam panas cerah, satu jam hujan, satu jam kemudian gelap. Glasgow bagiku ialah kota hujan. Lebih banyak mengenal hujan, angin, dan badai.

         Jangan tanyakan kepadaku kalau aku sudah melihat Aurora akhir bulan lalu atau mengalami selancar salju atau membuat boneka salju yang lucu itu. Toh, di sini hanya ada hujan rintik berkabut saja.

Selesai bertemu Hester, aku melanjutkan untuk menghubungi Garfield Tait untuk menanyakan peminjaman laptop selama studi di sini. Mahasiswa di Glasgow berhak untuk meminta hotdesk komputer atau laptop selama berstudi doktoral. Tentunya, aku memilih laptop. Hematku karena lebih simpel saja.

Beberapa orang mengenal Garfield parubaya penjaga IT kampus. Jika kalian pergi ke ruangannya, ada poster kucing oyen gembul ikonik Garfield.  Ruangnya berada di gedung East Quad, University of Glasgow. Aku sering menyebutnya Gedung Pusat. Ya benar, di situ juga sekaligus School of Geographical and Earth Sciences berada. Layaknya gedung tua. Aku lebih memilih untuk bekerja di perpustakaan daripada di ruangan itu. Terlalu sendu dan galau, menatapi langit gelap, dentingan suara lonceng, burung gagak di setiap sore langit menuju pentang. Gedung itu selalu lebih cepat sepi dari pada bangunan-bangunan lain.

Tapi aku akan kembali, suatu saat, mungkin beberapa waktu ke depan setelah aku menemukan apa yang harus aku tulis. Oh ya, mengenai Garfield, ia adalah pribadi yang sangat serius, fokus dengan rangkaian perkakas komputernya. Ia tinggal sendirian di ruangan kecil penuh dengan komputer tua itu. Ku pikir aku akan sulit berbicara dengannya sebab sebagian orang bilang, Garfield sukar ditemui apalagi diajak bicara.

Aku memberanikan diri untuk mengetuk ruang kerjanya. Selang beberapa detik, ada suara orang di dalam. Aku pikir dia mempersilakanku masuk. Aku buka dan dia bertanya dengan logat Glaswegiannya. Aku seperti biasa nampak bengong. Ngang-ngong. Aku hanya bisa menjawab, “Saya pikir saya membutuhkan laptop untuk bekerja, oh ya, saya mahasiswa di sini, salam kenal”.

Dengan cekatan ia mengambilkan dus laptop baru di samping mejanya. Ia katakan, “baik saya siapkan untukmu… kamu tunggu saja di sini”. Seperti biasa, aku bingung dan canggung. Membayangkan hanya berdiam diri dan menunggu proses penginstalan yang mungkin saja lebih dari satu jam ini. Ada bayang-bayang bahwa orang ini sepertinya sukar diajak berbicara. Aku coba beranikan diri, “Glasgow dingin sekali ya…”.

Ia memandangiku dengan senyum tipisnya.

“Oh ya?”, “Lantas mengapa kamu masih menggunakan jaket tebalmu?, saya pikir ruangan ini sudah saya atur agar hangat”.

“Ehem, saya pikir masih cukup dingin, saya baru beberapa minggu di Glasgow, suhu di sini sangat berbeda dengan di Indonesia”.

Aku pikir obrolanku cukup aneh. Justru, di titik itulah karena kita berdua bosan akan diam dan saling memandang layar yang tak kunjung selesai mengunduh aplikasi untuk protokol awal laptop kampus itu. Spontan, ia malah bercerita banyak tentang pengalamannya pernah pergi ke daerah-daerah tropis. Ia merasakan kesulitan beradaptasi. Ia pikir aku akan lebih mudah untuk beradaptasi daripada dirinya. Ia dari lahir sampai setua ini hanya mengenal rasa dingin.

Aku tak menyangka, obrolan ini terlalu panjang akhirnya. Garfield menceritakan hobinya mengendarai motor. Setelah aku menunjuk beberapa poster motor-motor jadul yang ia pajang di ruangan kerjanya. Ia bercerita banyak. Mengenang masa lalunya sebagai bagian dari geng motor. Sayangnya, sekarang ia sudah tak bisa mengendarai motor akibat cedera kaki pasca kecelakaan motor. Spontan, aku coba mengajaknya untuk mencoba pergi ke Indonesia, untuk melihat banyak motor-motor aneh. Ia tertawa.

Sembari menunggu proses instalasi akhir, Garfield menceritakan banyak kepadaku tentang apa yang menarik dari Glasgow. Mungkin bagi sebagian orang Glasgow terlalu suram, namun baginya aku disarankan untuk pergi menjelajah, pergi ke museum dan tempat-tempat seni lainnya. Ia juga memperkenalkanku makanan tradisional khas Glasgow yaitu Haggis. Makanan ini semacam puding yang bahan dasarnya terbuat dari jeroan domba. Katanya, aku diminta untuk jangan membayangkan ketika akan memakannya. Pura-pura saja tidak tahu.

Sampai di sini, ia masih bercerita asal-usul makanan, macam Haggis itu, atau sajian keong di Paris. Ia percaya bahwa makanan tradisional itu akibat “kreativitas” teknik meramu makanan bagi kaum proletar pada masanya. Namun, sekarang komodifikasi makanan bisa mengubah citra makanan.

Lalu, kami mempunyai semacam kesepakatan bersama bahwa rasanya sulit mencari jenis makanan mana yang terbebas dari ide-ide kapitalisasi dan kolonialisasi hari ini. Namun, kami juga sepakat terkadang makanan bisa membawa perdamaian. Atau, revolusi juga dimulai dari hal yang paling materialis sekalipun, semacam minimal logistik dalam perut.

“… ku pikir laptopnya sudah selesai, silakan kamu coba”, kata Garfield.

“Ah ya, terima kasih Pak!”, aku juga menambahkan, “Ku pikir mengapa dalam cerita-cerita surgawi seperti Adam dan Hawa diajarkan untuk bagaimana cara makan yang baik dan benar, tidak bisa dipungkiri ya?”.

“… tapi begini, tapi mengapa masih banyak orang kelaparan di dunia ini ya, jika katakanlah makanan berlimpah, ke mana perginya semua makanan itu?”, Garfield dan aku saling pandang sembari mengerutkan dahi satu sama lain.

(iv)

         Selama bulan November, aku hanya melakukan diskusi secara daring dengan Adam Bobbette sebagai pembimbing utamaku. Aku benar-benar kacau sebab sepanjang dua bulan kami berdebat, aku dan Adam, kami tak kunjung menemukan titik temu.

         Singkatnya, aku telah mengganti topik risetku sebanyak tiga kali. Awalnya aku pikir, aku akan melakukan eksperimentasi metodis untuk memperkuat kajian metode geologi dan geografi. Selain itu, mempertemukan kajian filsafat dan non-filsafat (geologi/geografi) dalam wacana Antroposen ku pikir sangat menarik. Sayangnya, aku mengalami deadlock. Ku pikir apa bedanya aku di sini hanya mengandalkan pendekatan filosofis saja?

         Itu persis ketika aku bertemu dengan Adam di Jogja. Ia bicara kepadaku bahwa aku harus lulus tidak sebagai filsuf, melainkan sebagai geografer atau geolog. Jujur aku sangat terbebani dengan ekspektasi itu.

Adam bahkan sempat mempertanyakan kembali kesiapanku.

         “Apakah kamu merasa sudah bosan dengan Antroposen?”

         “Benar, aku sangat bosan dengan tema ini”.

         “Baik, bagaimana kalau kamu melupakannya saja?”

         “Akan aku coba, aku pikir aku harus mengalihkan pandanganku terhadap Antroposen”.

         Di sinilah aku mencoba eksplorasi baru tentang ide-ide pemikiran kepulauan, archipelagic thinking.

Posisi Adam yang sedang academic leave sehingga tidak hadir secara langsung di Glasgow membuatku harus memutar ide dan mencari titik temu. Akhirnya, aku memulai kajian baru di bidang island studies atau kajian pulau. Kajian ini sangat minim. Di geografi saja masuk sub-kajian baru. Selama bulan November aku mengikuti beberapa kelas fundamental, salah satunya master research. Di kelas itu, aku mempelajari banyak tentang metode-metode yang lazim digunakan di geografi.

Adam bahkan mencoba menghubungkanku dengan Farai Chipato. Farai ialah dosen dan juga peneliti Antroposen sekaligus pengkaji black geographies. Aku bertemu dengan Farai. Aku menceritakan semua kebuntuanku dalam mencari titik temu antara filsafat dan non-filsafat. Kami banyak berdiskusi antara pendekatan yang mungkin bisa dikaji untuk memahami asal-usul ide kepulauan di Indonesia, bagaimana tautan sejarahnya dari era kolonial sampai pascakolonial, dan bagaimana pendekatan ini mampu membawanya sampai ke kajian Antroposen. Farai terus mendorongku untuk melakukan pendekatan yang mirip dilakukan oleh David Chandler (Westminster) dan Jonathan Pugh (Newcastle), dengan alasan sebab mereka melahirkan ide tentang Anthropocene Island.

Benar yang dikatakan Farai, aku bisa belajar banyak dari mereka. Namun, aku menekankan kembali fakta bahwa kajian mereka yang berorientasi pada Karibia akan sangat berbeda jika ditarik ke kajian Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Sayangnya, aku tidak menemukan apa yang aku cari, karena aku sadari masih sangat abstrak dan jauh dari pendekatan yang lebih empiris daripada sebelumnya. Farai justru memberikanku buku yang ditulisnya tentang kajian ras dalam Antroposen.

Minggu demi minggu, aku mencoba mengumpulkan bukti-bukti, hasil bacaan tentang studi kepulauan. Berbagai sumber yang menyebutkan sejarah-sejarah. Mencoba membaca sastra tentang semangat eksplorasi kepulauan dan sebagainya. Sampai pada akhirnya, aku berhasil menuliskan tentang archipelagic thoughts.

Ini adalah tantangan Adam kepadaku. Aku harus menulis setidaknya 5000 kata dalam satu bulan dengan minimal referensi yang sangat terbatas, tidak lebih dari 10 rujukan. Aku tahu ini adalah caraku belajar banyak, harus lebih banyak membaca, membaca, dan menulis. Intinya, ini baru permulaan. Aku juga sadari betul bahwa kemampuanku membaca dan menulis sangatlah buruk. Untuk itulah, Adam menantangku dengan pendekatan ini. Mungkin saja, beberapa orang merasa apa yang lakukan oleh Adam sebagai supervisi sangat berbeda, penuh tekanan, dan kritik.

Sampai akhirnya, aku selesai menuliskannya.

Aku kirimkan ke Adam. Namun sepertinya, aku banyak melakukan kesalahan dalam menjelaskan ideku. Masih terlalu abstrak. Jauh dari kata mudah dipahami untuk banyak orang.

Inilah kegagalan pertamaku. Aku gagal meyakinkan ideku sendiri kepada Adam. Adam mempertanyakan banyak hal. Sayangnya, aku belum menemukan jawaban yang tepat. Aku masih saja terus menerus memberikan pendekatan yang lebih abstraksi alih-alih empiris. Lebih membicarakan normativitas daripada deskripsi-eksplanasi secara lebih terarah.

Awal Desember, menjadi awal yang buruk bagiku. Aku ingin menyerah saat itu. Ku pikir, aku tidak cukup baik untuk belajar di sini.

(v)

         Puncaknya, aku merasa aku gagal. Di sela-sela kebutuan ini. Aku ingat kalimat Farai sebelum mengakhiri percakapan singkat kami. Aku sempat bertanya tentang mengapa kamu mengajar di sini? Padahal kamu bukan seorang geograf. Farai menekankan, “Bagi saya yang berlatar belakang kajian sosial humaniora seperti ilmu politik tidak menjadi masalah, kita hanya perlu menyesuaikan diri saja”.

         Kalimat Farai menjadi tamparan bagiku. Apakah aku harus menjadi seorang geolog? Atau menjadi seperti geograf? Aku mencoba mempelajari semuanya. Ironisnya, hanya menjadi catatan-catatan yang tidak pernah benar-benar selesai. Aku hanya menuruti ego-kecilku saja. Untuk menjadi seseorang yang lain.

         Di minggu kedua, aku memiliki jadwal terakhir untuk bertemu dengan pembimbing kedua, Eyang Philo. Kami memilih kafetaria kampus sebagai tempat pertemuan untuk menutup tahun sebelum liburan musim dingin. Jika sebelumnya aku datang terlalu awal, kali ini aku datang terlambat lima menit dari waktu yang sudah disepakati. Aku berjalan cepat dari kos menuju kampus. Terlebih lagi, kampus Glasgow itu seperti perbukitan kecil, tidak terlalu tinggi tetapi cukup melelahkan jika harus berlarian kecil untuk naik ke atasnya. Saat itu, udara begitu dingin dan hanya kabut tebal yang menyelimuti kampus. Aku berasa hidup di dunia fiksi Silent Hill.  

         Kami bertemu dengan nafas terbata-bata. Aku takut bahwa ideku buruk lalu mungkin saja tidak dapat diterima olehnya. Namun, kata pertama yang keluar dari Chris justru,

         “Saya sangat senang membaca tulisanmu ini, kamu berhasil meyakinkanku soal Archipelagic Thoughts”.

         Aku yang mendengarnya hanya terheran-heran. Benarkah demikian?

Lalu kami memesan kopi di pagi yang dingin itu. Kami mendiskusikan ide-ide abstraksi ini. Chris sangat terkesan dengan pemikiran filosofisku. Bahkan aku bercerita kepadanya bahwa aku merasa gagal di school ini. Aku sulit mempelajari hal-hal teknis macam rumus geologis sampai pemetaan geografis. Aku ungkapkan perasaan apa adanya.

         Chris mendengarkan dengan seksama. Ia malah memberikanku pandangan yang berbeda.

         “Saya pikir kamu tidak harus menjadi geograf atau geolog. Jadilah filosof seperti apa adanya saja. Saya pikir kamu paham apa yang saya katakan sampai sini”.

         “Kamu bisa menggunakan pendekatan onto-epistemologi untuk memahami kajian-kajian di kampus ini. Kamu bahkan bisa coba untuk menelaah kembali bagaimana pandangan para geograf dan geolog di sini, kenapa tidak kamu coba?”

         Aku hanya terdiam. Aku sangat terharu pada saat itu. Tentu saja, aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku. Aku hanya merasa tervalidasi sesaat oleh perasaan ini.

         Aku pikir ini semacam hadiah natal dari Chris. Aku hanya agak sedih saja jika membayangkan musim panas tahun depan, Chris sudah tidak lagi mengajar di Glasgow. Ia akan pensiun, menjadi emeritus. Ia akan lebih banyak membaca buku filsafat sebagaimana ia katakan kedua kalinya.

         “Ingat, Rangga. Saya mencintai filsafat sepanjang karir akademisi ini sebab saya mencoba selalu memikirkan cara berpikir”.

         Satu jam berlalu dengan cepat. Seperti biasa, Chris ialah orang sibuk. Jadwalnya terlalu padat. Sebelum pergi, Chris memelukku.

         Aku hanya terdiam dan menahan rasa haru biru. Setelah ia pergi, pandanganku menjadi kabur. Semacam muncul kabut dari mataku.     

Eyang Philo mencoba ngepuk-puk pundak HAHA.

(vi)

         Meskipun perasaan percaya diri ini pelan-pelan muncul, sisa-sisa perjalanan depresi kecil sebab hidup dalam kesendirian membuatku memutuskan untuk menghubungi Adam.

         Aku akan memperkenalkan siapa si Adam ini. Adam Bobbette merupakan dosen politik geologi di Glasgow. Di Indonesia ia malah menjadi intelektual selebriti baru berkat bukunya yang diterjemahkan oleh Marjin Kiri, Denyut Nadi Bumi. Itu yang selalu aku katakan ke Adam. Terkadang, ia justru bercerita kepadaku bahwa ia tak suka banyak sorot kamera atau banyak orang bertanya kepadanya. Itu membuatnya sangat lelah.

         Jika orang mengenal Adam pribadi yang dingin, pendiam, tegas, dan lugas dalam berbicara. Aku mengenalnya sebelum pandemi COVID-19, tepatnya di sekitar tahun 2018 akhir. Saat itu, Adam sedang menyelesaikan proyek penelitiannya di Merapi. Temanku bernama Owi menjadi orang yang pertama kali memperkenalkan Adam kepadaku. Owi memiliki alasan sebab aku adalah orang yang iseng mempelajari perdebatan Antroposen. Pertama kalinya, aku memperkenalkan Adam ke Fakultas Filsafat. Aku memintanya untuk memberikan semacam seminar kecil di tahun 2019. Ia memberikan ceramah tentang onto-geologi. Saat itu, aku sangat terkesan dengan pemikirannya ketika menghubungkan antara problem geologis dengan pendekatan ontologis yang lebih luas.

         Ketika COVID-19 pecah, Adam pun kembali ke Australia untuk menyelesaikan tanggungan risetnya. Kami hanya berhubungan melalui email dan sesekali dengan WA. Pandemi membuatku lebih gila lagi. Aku harus menyelesaikan studi masterku. Ada banyak cerita di baliknya sampai akhirnya aku lulus dari studiku itu. Aku bilang ke Adam bahwa aku ingin mencoba mencari pekerjaan di Indonesia, mungkin menjadi peneliti atau pengajar. Adam tertawa. Ia bilang,

         “Kamu yakin menjadi dosen di Indonesia? Apakah kamu nanti ada waktu untuk menulis dan membaca?”.

         Saat itu, aku hanya bermodal percaya diri menjawab,

         “Aku pikir, aku bisa Mas! Lihat saja nanti ya!”

         Di saat bersamaan, Adam menjadi dosen di Glasgow. Ia mengajakku untuk melanjutkan studi saja di Glasgow atau memulai karir akademik di Glasgow. Namun, aku memilih menjadi dosen di Filsafat. Aku tahu bahwa menjadi dosen di Indonesia tidak terlepas dari urusan administrasi dan beban-beban sosial yang tidak terlihat lainnya.

         Aku pikir ada benarnya juga apa yang disangsikan Adam. Menjadi dosen di Indonesia akan sangat minim waktu membaca dan menulis. Namun, aku mencoba untuk pelan-pelan melawan, meski terkadang harus mengorbankan waktu tidurku.

         Adam mulai fokus dengan kehidupan barunya sebagai dosen di Glasgow. Begitu pula diriku. Sesekali, setahun sekali ketika Adam kembali ke Jogja. Aku bertemu dengannya. Hanya untuk sekadar untuk sama-sama meluangkan waktu untuk memberikan sumpah serapah lelahnya menjadi pengajar. Adam merasa kelelahan harus mengajar ratusan orang di kelas pengantar. Begitu pun aku, aku lebih merasa kelelahan dengan iklim dramatisasi seremonial akademik di Indonesia. Aturan baru, akreditasi baru, ahh sudahlah. Kita bahas di lain waktu, ya!

         Sebagaimana tertuang di kontrak kampus, aku harus segera mencari tempat untuk melanjutkan S3. Aku mencoba dua beasiswa. Satu beasiswa di Universitas Wina di bidang Filsafat dan satu lagi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) di tahun 2024. Saat itu, di tahun 2023, aku mulai mencari kampus. Aku mencoba menghubungi berbagai peluang untuk studi lanjut, mulai dari Belanda, Swiss, Jerman, dan Australia. Aku hanya memikirkan untuk mencoba ke Inggris setelah pencarianku buntu. Aku menghubungi dua kampus yakni University of Bristol, Inggris dan University of Glasgow, Skotlandia, Inggris. Keduanya sama-sama School of Geography. Aku mendapatkan kesempatan untuk kedua kampus tersebut. Namun, pada akhirnya, aku memilih di Glasgow bersama Adam. Alasannya mengapa? Akan aku ceritakan ke kalian lain waktu juga!

Satu bulan sebelum berangkat ke Glasgow, Adam sempat mampir ke Jogja kami menuju lereng Merapi.

         Singkat cerita, kedekatanku dengan Adam sudah cukup emosional. Aku merasa Adam itu seperti saudara kakak sendiri, like a brother. Jika Eyang Chris ialah pendengar yang afirmatif. Adam justru pembimbing yang sangat kritis dan kontra atas ide-ideku. Bukan untuk menjatuhkan melainkan untuk menguji secara konsisten ide besarkan. Tiga kali aku berganti haluan. Ini membuatku gila.

         Sampai akhirnya, aku meminta Adam untuk bertemu sesekali sebelum libur panjang natal dan tahun baru. Tiga hari sebelum natal, Adam mengajakku ke sebuah pub sekitaran kampus. Selama perjalanan aku hanya ingin membicarakan ide-ideku yang mengalami jalan buntu. Aku merasa agak sedikit gila waktu itu.

         Ketika kami bertemu, Adam memberikanku ide sederhana tentang pandangan dia soal kemungkinan teori lempeng tektonik pasca kemerdekaan di Indonesia. Entah mengapa, aku merasa ada kesamaan hal yang ingin aku bicarakan ke Adam. Aku ingin membicarakan soal keterbatasanku dalam riset ini, terutama tentang bantuan dana hibah penelitian dari penyelenggara beasiswaku.

         Aku bilang ke Adam, awalnya risetku akan berbicara tentang fundamental kajian archipelagic di Asia Tenggara dimulai dari Indonesia. Kita bisa mulai dari studi-studi arsip tentang jejak-jejak kolonial dan hubungannya dengan friksi awal mula kapitalisme global. Pulau-pulau wilayah jajahan kolonial awal merupakan bagian penting dari titik mulai akumulasi kapital awal sebelum era revolusi industrial. Proyek ini menjadi sangat ambisius. Kita bisa mulai menapaki jejak-jejak kepulauan kapital dari Banda, katakanlah. Atau kita coba bandingkan saja dengan kepulauan seribu yang sangat unik latar belakang sejarahnya.

         Tesis utamaku ingin membuktikan bahwa studi kepulauan Antroposen dapat kita mulai dari Asia Tenggara selain Karibia sebagaimana telah dilakukan oleh David dan Johnatan sebelumnya. Ku pikir ini menjadi kontribusi utamaku untuk perdebatan global kepulauan Antroposen. Bagaimana orang-orang poskolonial juga merasakan perubahan dunia dan bumi sekaligus akibat dari dampak perubahan sirkulasi kapital dan globalisasi. Aku mulai mempelajari sedikit banyak teori-teori kepulauan, oseanografi sampai ide tentang pendekatan abbysal geography.

         Tentu saja, ide ini tidak semudah dari bayanganku. Aku perlu lebih banyak sumber daya finansial. Lalu, aku memutuskan untuk membicarakan ini ke Adam. Tapi, aku terheran-heran, layaknya telepati tersembunyi. Adam memberikan ide untuk menganalisis dasar samudra dari tarikan teori lempeng tektonik di Indonesia melalui jalur patahan kedalaman Sunda-Jawa. Lalu ia memberikanku beberapa buku bapak geologi Indonesia, John A. Katili. Aku bergegas memotong obrolan ini.

         “Adam! Mengapa kamu bisa tahu kalau aku sedang buntu memikirkan pendanaan risetku? Padahal aku belum sempat bilang bahwa sepertinya aku akan lebih banyak kajian arsip, wawancara, dan studi lapangan singkat”.

         “Aku pikir risetku lebih sederhana dan lebih mudah untuk dilakukan”.

         “Aku merasa tugasku di sini hanyalah untuk belajar, setidaknya belajar bagaimana menulis dan membaca yang baik dan benar terlebih dahulu”.

         Adam dengan senyum ramahnya menjelaskan kembali pandangan dia tentang bukunya yang belum selesai. Aku lalu menambahkan sepertinya aku tertarik untuk melihat lebih jauh politik dan geologi di Indonesia pasca-kemerdekaan. Kita mungkin bisa lihat dari Katili, geolog pertama yang menerapkan teori lempeng tektonik dan bagaimana hubungannya dengan Orde Baru. Obrolan kami berlanjut. Ini kali pertama kami berbicara lebih banyak. Aku sangat mengamini hari itu, sampai akhirnya aku bilang ke Adam.

         “Mas, tahukah kamu? Aku membenci melakukan ini semua. Aku bosan membaca. Aku lelah harus kembali menelusuri hal-hal yang tidak pernah aku yakini. Aku bosan harus hidup terkurung di dalam kotak-kotak ruangan di flat atau sekadar hidup di perpustakaan setiap harinya”.

         Adam terdiam. Lalu ia menanyakan opiniku tentang iklim Glasgow.

         “Aku juga merasakan hal lain, aku merasa tidak cocok dengan Glasgow. Glasgow terlalu suram untukku. Aku hanya bisa hidup dengan matahari yang lebih panjang. Namun, aku hanya mencintai kultur seni di Glasgow, sisanya aku membencinya. Apalagi makanan! Tentu aku rindu makanan bertabur rempah di Indonesia, dan…”.

         Adam memotong pembicaraanku yang emosional itu. Ia malah memberikan jawaban yang jauh berbeda dari pada Eyang Chris. Layaknya saudara yang blak-blakan.

         “Kamu sudah benar, mas!”

         “… itulah menjadi akademisi, kamu akan lebih banyak merasa kesepian, merasakan kebosanan mendalam.”

         “Artinya, kamu sudah memulainya…”

         Aku terkesan dengan jawaban dia yang lebih realistis daripada memupuk banyak harapan palsu. Aku mengenal Adam adalah pribadi yang aneh. Aku katakan sekali lagi, ia adalah orang aneh.

         Betapa tidak, Adam dapat hidup berjam-jam untuk membaca dan menulis. Adam lebih mencintai buku-bukunya. Ia menolak untuk hidup bersosialisasi terlalu lama. Ia tipikal dosen yang selesai mengajar lalu mengunci diri di ruangannya. Ia lebih senang dan bahagia dengan menulis.

         Menurutku, Adam orang yang baik. Ia hanya memiliki kehidupan sosial yang berbeda. Adam juga meyakini banyak orang yang tidak suka dengan tindakannya. Namun, ia tidak begitu memedulikannya. Ia hanya fokus dengan apa yang ia cintai.

         Aku pikir lagi, orang seperti Adam pasti sulit diterima di iklim kampus di Indonesia. Kita bisa bayangkan, kampus-kampus di Indonesia lebih suka seremonial, suka kumpul-kumpul ngobrol ngalor-ngidul kagak jelas. Kalau nda gosip ya omong-kosong politik. Memutar di situ saja. Orang seperti Adam akan dianggap nda gaul atau kasarnya anti-sosial. Aku hanya membayangkan saja. Di Glasgow saja, ia mungkin dianggap aneh dan berbeda. Tapi aku mengerti sekali apa yang dia lakukan juga untuk kebaikan kampus. Ketika ia menulis, nama kampus akan muncul di jurnal-jurnal bereputasi atau penerbit dunia kelas wahid.

         Adam sangat serius dengan apa yang ia cintai. Apa yang dia pilih. Menjadi peneliti sekaligus menjadi pengajar. Bahkan untuk urusan waktu, Adam sangat penuh perhitungan. Lalu aku mencoba untuk meyakinkan ke Adam.

         “Memang benar… toh kita tidak bisa memaksakan semua orang harus menyukai kita. Apalagi sosial! Terkadang memang ya Mas, sosial itu suka memaksakan kehendaknya”

         Setelah berbincang cukup panjang, satu setengah jam terlewati. Kami merencanakan pertemuan selanjutnya di perjamuan makan malam Natal. Adam memelukku sambil berkata dengan keras di depan pub.

         “Semangat mas! Nikmati Glasgow, cobalah berpetualang, waktumu tidak banyak di sini…”

(vii)

         Malam natal tiba. Adam mengajak anjing kesayangnya Rennie untuk menemani diriku berjalan di sekitar daerah Partick. Aku mencoba menawarkan pembacaanku atas apa yang telah Adam sarankan beberapa hari lalu. Kami menemukan titik kesamaan. Lalu setelah beberapa kali putaran, kami kembali masuk ke flatnya.

         Pertama kali masuk, Candice menyapaku dengan hangat. Ia mempersilakanku duduk dan menawarkan minum kepadaku. Candice ini istri Adam. Ia adalah seorang penulis. Jika kalian pernah dengar bukunya berjudul Chinese Parents Don’t Say I Love you, ia adalah penulisnya. Lalu aku pikir memilih teh panas sebagai pilihan yang tepat.

         Candice memintaku untuk sedikit melihat almari di dapur. Ia menunjuk beberapa pilihan teko dan gelas. Aku terkejut karena ada seperangkat alat teh khas Jogja dengan desain warna hijau putih itu. Teko-teko tradisional benar-benar mengingatkanku akan Jogja.

         “Apakah kamu suka memasak Rangga?” Candice bertanya kepadaku.

         “Umm, aduh, aku tidak bisa memasak tapi okelah aku coba ya..” sambil berjalan ke dapur mereka. Adam sibuk mempersiapkan bumbu sementara Candice sibuk menata meja makan. Aku mencoba menghitung jumlah piring.

         “Kenapa ada lima piring? Bukannya kita hanya bertiga?”

         “Tentu tidak, malam natal ini akan ada dua teman Adam yang kemarin”

         “Oh, begitu…”

         Candice bertanya banyak hal. Aku mulai menyukai rumah Adam. Ada banyak kesamaan antara aku dan Candice menurut Adam.

         “Mas, kamu tahu tidak? Apa masakan kesukaanmu selama di Glasgow?”

         “Apa ya mas? Aku lebih memilih mencari nasi goreng di warung Korea atau membuat sendiri di rumah, tapi aku lebih suka mendadar telur”

         “Itu sama sepertiku, aku suka telur dadar juga”, sahut Candice.

         “Iya, aku hampir setiap hari memasak telur dadar, sebab memasak ini mengingatkanku pada almarhumah Ibu”, aku menjawab dengan spontan.

         Candice melajutkan ceritanya bahwa ia juga hampir setiap hari memasak telur dadar. Ia bilang itu sama seperti kesukaan Ibunya. Adam lalu menunjukkanku buku Candice itu.

         “Lihat mas, halaman cover nya saja telor, meski diceplok, hehe”, Adam menyela pembicaraan kami.

         Di tengah-tengah kehangatan obrolan kami bertiga. Suara ketukan pintu terdengar. Kedua teman Adam datang. Kami memulai jamuan makan malam, membicarakan dunia politik sampai membicarakan segala hal. Seperti biasa pula, Adam lebih memilih mondar-mandir mengurus dapur. Candice sesekali mendengarkan obrolan acak kami bertiga.

         Selama perjalanan pulang, aku membicarakan kembali rasanya bebek bakar ala-ala buatan Adam.

         “Tuan-nona sekalian, ini saya hanya buat dua bebek bakar yaa, satu untuk Rangga yang rindu dengan Yogya, dan satu untuk Anna yang memilih bebek”, ucap Adam sambil mempersilakan hidangnya.

         Aku bilang ke Adam, kamu cocok untuk membuka warung angkringan atau semacam Lamongan dengan varian bebek bakar spesial Glasgow ditambah dengan sambel. Kata Candice Adam juga suka membuat sambal. Ia terinspirasi selama tinggal di Jogja.

         Adam bilang dalam sebuah pesan.

         “Adalah ide bagus untuk rencana resign dari Glasgow dan membuat angkringan di Jogja”

         Aku jawab kembali,

         “Boleh tapi asal kamu tunggu aku selesaikan PhD!”

         Aku pikir tidak lucu dong, setelah Eyang Chris pensiun musim panas depan, Adam juga memilih pensiun dini dan membuka angkringan di sekitaran alun-alun Kidul. Waduh! Bisa jadi aku lebih tersesat haha.

(viii)

Lihat saja! Semua kembali ke basic kan?

         Beberapa jam lagi akan tiba malam pergantian tahun menuju 2026. Orang-orang di luar sana sedang menyalakan kembang api. Aku lebih memilih untuk tidur lebih awal dan mengunggah catatan kecil ini. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan ke kalian, termasuk bagaimana ceritaku bertemu dengan “bandar narkoba” yang aneh. Namun bukan sekarang, akan tiba waktunya nanti jika kita bertemu kembali.

         Selama tiga bulan di Glasgow aku berutang banyak oleh mereka semua yang terus aku repotkan. Di sini, aku memiliki grup perkumpulan anak-anak S3 di Glasgow, ada Shulhan, Fura, Ika, Ari, Tata, dan Atina. Mereka semua baik kepadaku. Tugas utamaku hanya menghabiskan makanan yang mereka buat. Sisanya, mungkin hanya merepotkan saja. Tapi aku senang, mereka menganggapku sebagai bagian dari keluarga di Glasgow selama empat tahun kedepan. Mereka memiliki tanggungan yang sama, baik secara akademis, hubungan dengan keluarganya sendiri, juga penuh dengan rintangan yang serupa atau malah mungkin lebih rumit. Namun, aku selalu berdoa untuk kebaikan mereka semua.

         Tidak hanya itu, ide disertasiku tidak datang tiba-tiba ada banyak orang yang aku ajak diskusi. Kita mulai dari Carl Olsson. Carl adalah filsuf dan geografer. Sekarang Carl bergabung dengan Centre for Anthropocene Studies and Geophilosophy (cas-geo.org). Suatu pusat studi non-profit yang sedang coba aku bangun bersama secara kolektif. Carl memberikan banyak ide perjumpan pengalaman dia sebagai seorang geograf yang lalu memutuskan untuk menjadi filsuf di akhir studinya. Selama berdikusi, Carl menyambut baik ide-ide obskurku untuk medekonstruksi pemikiran geografis. Kedepan akan lebih banyak hal seru lainnya yang ingin aku bicarakan dengannya.

         Lalu ada Raisa Kamila (mahasiswa doktoral di SOAS University of London). Aku sering memanggilnya Mba Raisa. Aku mengenalnya karena ia sebagai alumnus di Filsafat. Aku bertukar pikiran banyak tentang gagasan tentang orientasi kepulauan dan sejarahnya. Ia memberikan sudut pandang daerah Sumatera dan sejarahnya. Awalnya aku pikir ini sesuai dengan draft proyek keduaku, sebelum akhirnya berubah haluan. Saat ini, Raisa sedang disibukkan dengan penulisan akhir disertasinya. Terlebih lagi, Sumatera sedang dilanda duka mendalam. Ada banjir yang lebih banyak campur tangan kepentingan oligarki yang tak bertanggung jawab. Untuk saat ini, aku ingin memberikan jarak empati terlebih dahulu, hal ini tidak mudah tentunya, apalagi lemahnya tanggap bencana di negara kita.

         Tidak hanya Raisa, Geger Riyanto (Antropolog Universitas Indonesia) memberikan pandangan menarik soal tradisi dan kajian kepulauan. Sepanjang pertemuan daring, aku lebih banyak curhat tentang kiat-kiat kehidupan selama menjalani studi. Geger mendorongku untuk membaca arsip tentang kajian kepulauan di Jawa sebagai gugus dominan dan beberapa pulau di wilayah timur Indonesia. Pandangan Geger sedikit banyak mendorongku untuk melihat lebih jauh riset kepulauan dikemudian hari.

Di bidang sejarah, Nathanael Pribady (mahasiswa master Columbia University) sedikit banyak mengajakku diskusi untuk masalah keIndonesiaan akhir-akhir ini. Apalagi ketika Brian Melchior (mahasiswa doktoral di Princeton University) yang memiliki kajian minta sejarah intelektual Indonesia masuk melalui zoom kami, suasana diskusi lebih pecah lagi. Melalui Brian dan Nathan, aku mendiskusikan banyak hal, terutama mengenai kemungkinan besar titik temu ide soal pandangan kepulauan atau setidaknya sejarah pengetahuan geologis sepanjang pergulatan sejarah Indonesia.

         Tidak lupa pula, Sukianto Khurniawan, mantan dosen geologi Universitas Indonesia yang sekarang menyibukkan diri menjadi kurator seni. Suki lebih banyak membicarakan proyek paleontologinya. Dari Suki, aku mengenal Louie Buana (mahasiswa doktoral di Leiden University). Louie banyak mengajarkanku soal arsip-arsip kuno di Belanda. Awalnya aku pikir ini berguna untuk menelusuri kembali ide-ide lampau soal dimensi pemikiran archipelagic. Bagaimana ide kepulauan berubah dari zaman kolonial sampai kontemporer. Keduanya memberikanku pemahaman baru tentang kajian yang selama ini berputar di bidang sejarah dan antropologi. Filsafat apalagi geografi dapat masuk ke dalamnya. Setidaknya, menurutku melihat pemetaan pemikiran barunya.

         Di bidang hukum internasional, aku mencoba berbicara banyak dengan Aristyo Rizka Darmawan (mahasiswa doktoral di Australian National University). Aristyo memberikanku banyak buku-buku bacaan menarik mulai asal usul perdebatan UNCLOS sampai pandangan tentang archipelagic state. Sebelum bertemu Aristyo, aku mencoba menghubungi kembali konco satu perguruan silat. Bukan, maksudku kolega di UGM, tak lain dan bukan adalah Bachtiar W. Mutaqin, geograf andalan UGM. Bersamanya aku diarahkan untuk mulai memahami perbedaan secara ukuran geografis masing-masing pulau. Aku berpikiran anjuran meneliti kepulauan seribu menarik, selain secara administratif bagian dari Jakarta, kompleksitas budaya dan problematika di dalamnya tidak kalah seru untuk ditelusuri. Sayangnya, ide itu harus berakhir sebagai draft awal.

         Gerry van Klinken (KITLV) juga turut aku hubungi kembali. Perjumpaanku dengan Eyang Gerry sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Eyang Gerry aku menyapanya sekarang menjadi bagian dari cas-geo juga. Ia membantuku untuk membaca ulang sejarah pemikiran archipelagic. Beberapa arsip menarik aku dapatkan berkatnya. Kami juga memiliki proyek serupa di Bacaan Bumi di bawah naungan InsideIndonesia.

         Berbeda dengan Gerry, Fathun Karib yang sedang bekerja sebagai posdoktoral di Asia Research Institute, NUS ini justru menjadi “lawan” diskusiku tentang perkembangan Antroposen. Karib bahkan memiliki untuk melanjutkan regu baca bersama tentang kajian kepulauan di waktu yang akan mendatang. Sayangnya, aku masih belum bisa mengalokasikan tenaga dan waktuku yang tepat. Padahal draft kurikulumnya sudah siap.

         Ada banyak hal tidak selesai selama tiga bulan terakhir ini.

         Beberapa nama lain seperti teman-teman di Baca-Baca Random seperti Jagad, Sosi, Dyl, Albert, dan Bayu sedikit banyak menemaniku mengisi waktu setiap minggu untuk benar-benar membaca secara acak. Buku yang sedang kami baca Capitalism and Sea saat ini.

         Lebih sering lagi, aku mengontak Dyl untuk masalah kemampuan bertahan hidup di sini. Bukan tak mudah memang, Sosi memberikan pandangan visi yang menarik dalam melihat celah dari suatu isu ilmiah. Sedangkan Jagat menjadi pemantik diskusi menyoal laut dan seisinya. Selain itu, Albert dan Bayu lebih banyak mendengarkan progres dari cas-geo di tahun 2026. Kami ada rencana untuk membaca dari awal karya-karya Gilles Deleuze. Semoga terlaksana!

         Selama bulan November, ZeNo dan Antinomi sedang merajut majalah baru dan selama bulan itu juga, Kim dan Arya sedikit banyak berdiskusi denganku tentang kelanjutan tahap kedua tulisan kami di Environmental Sociology. Kami berharap segera ada putusan editorial yang baik.

Ada banyak hal-hal lain yang mungkin belum tertuang dalam catatan kecil ini, seperti hutang-hutang revisi jurnal dan sesekali harus meninjau tulisan orang lain yang harus ku selesaikan selama tiga bulan terakhir.  

(ix)

Akhirnya, aku selalu mengingat kembali dari mana aku berasal. Apa yang membuatku berjalan sampai sejauh ini.

         Aku selalu merindukan rumah, itu saja.  

         Aku merasakan bahwa ada dua orang yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan di sini. Meskipun aku lebih sering sakit-sakitan di sini. Walaupun Hester dan Adam menyarankanku untuk membeli VitaminL, lampu khusus penderita gangguan perubahan cuaca iklim sepertiku. Aku merasa lebih baik hanya dengan menatap cahaya artifisial ini.

         Ada kalanya aku membayangkan apabila seandainya Tara ada di sini, pasti dia akan sangat senang melihat bus dan berbagai kendaraan keren di sini. Mobil-mobil yang terparkir rapi dengan ragam warnanya. Aku ingat betul ketika Ainu mengajakku ke pusat kota, aku langsung membeli PS4. Aku hanya ingin mengobati rasa rinduku dengan si baby anthropocene itu. Jadi, aku pilih membeli Grand Turismo 7, sebuah gim simulator balapan. Hanya sekadar melihat mobil-mobilnya saja. Sama persis, virtualitas ketika aku mendadar telor, seolah-olah ada Ibu yang memasakan sarapanku. Terkadang, aku lebih banyak memikirkan keluargaku sendiri juga, saudara perempuanku atau keadaan bapakku di sana.

         Kekuatan terbesar lainnya, muncul di setiap jam-jam malamnya Glasgow dan paginya Indonesia. Sesekali dan hampir setiap hari, Cae menghubungkanku dengan Tara. Di balik itu semua, Cae adalah wanita yang hebat, terlampau bijaksana bagiku. Ia bahkan masih sempat mendengarkan keluh kesah juga celotehan absurdku. Terkadang sangat depresif bahkan. Dan di saat itulah, pilihanku untuk menuliskan Indonesia semakin kuat.

         Aku mengusulkan proposal baru kepada Adam. Bagaimana sejarah politik geologi di Indonesia mampu mendorong perubahan arah suatu negara. Mulai dari patahan Sunda-Jawa, nasionalisasi proyek kolonial, penerapan teori lempeng tektonik di era 1960an, juga mulai dari sejarah pergolakan geosains di Indonesia, sampai akhir aku mulai menyadari dua hal.

         Geologi di Indonesia, hanyalah berbicara pertambangan dan kebencanaan. Tidak lebih.

         Ide-ide tentang ground dan groundless ini akan menjadi pendekatan baru untuk memastikan pandangan politis kita sebagai bagian dari bangsa poskolonial yang selalu mengandalkan fetis akan keberlimpahan (abundance) sumber daya alamnya, namun sekaligus sedang mengalami kemiskinan (poverty) ekologis.

         Mungkin klaim ini cukup bold, namun sekali lagi, ini menurut keyakinan saya.

         *

         **

         ***

         Baru saja, Adam mengirimkan ku pesan singkat tentang proses dan progresku.

         “…Selamat tahun baru brother, 2026 is your year to grow into your own voice. You’re brilliant, you’re going to break new ground. I love and respect your humility and persistence and willingness to take risks. You’ve moved to Glasgow, so far away from friends and family and thrown yourself into another world, it’s unfamiliar and difficult, but you’ll learn so much from it as a scholar and a person. I’m so happy to be here for you as a guide at a distance. Semangat, the fire is in you 🌋.”

         Dan…sepertinya aku harus segera menyudahi tulisan ini.

Foto pertama sampai di Glasgow, hanya sebagai pengingat.

Terima kasih.

         ….23:42, 31 Desember 2025, Glasgow.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.